Kamis, 22 September 2011

Peluang Usaha Pertanian : Bisnis Bunga Masih Merekah





















TIDAK
semua orang berani memutuskan keluar dari pekerjaan yang mapan dan mendapatkan penghasilan tetap. Namun, itulah yang dilakukan Rosita Suwardi Wibawa yang kini terbukti tidak keliru membuat keputusan untuk terjun menjadi wirausahawan.

Meski dianggap kurang populer, Rosita memutuskan berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan BUMN yang didambakannya sekian lama. Ibu tiga orang anak ini pun terbilang berani untuk mencoba menjadi florist, mendirikan usaha karangan bunga yang terbilang sudah banyak pemainnya.

Akan tetapi, satu hal yang membuatnya percaya diri adalah sistem yang dipakai dalam menjalankan bisnis bunga. Dia menggunakan konsep business opportunity berupa franchise yang dianggapnya terbilang baru di Indonesia. Selain menjual rangkaian bunga untuk kalangan korporasi atau pun individu, Rosita memperkaya bisnisnya dengan beragam kegiatan formal atau pun nonformal yang tentu saja berkaitan dengan tanaman dan bunga-bungaan.

Dengan ini, jaringan bisnis rangkaian bunga Rosita semakin berkembang. Rosita mulai mendirikan usaha karangan bunga yang dinamakan "Tar A Porter" di daerah Tangerang pada awal 2010 lalu. Setahun kemudian, tepatnya Februari 2011, dia menawarkan kemitraan usaha ini untuk mengembangkan jaringan di seluruh Indonesia.

Pada tahun pertamanya dia sudah memiliki standard operating procedure (SOP) tersendiri berdasarkan pengalaman usaha di bidang penyewaan tanaman hias dan karangan bunga segar di kurun waktu 2003-2005. Di tahun keduanya, perempuan yang juga bergelar magister kenotariatan itu menduplikasikan usaha melalui business opportunity.

Saat ini sudah ada empat mitra cabang yang dibukanya. Di tahun kedua ini pula dia mengembangkan cara pengolahan limbah berdasarkan hasil riset sederhananya. Tujuannya, Tar A Porter harus membuat limbah bunga menjadi bernilai ekonomis seperti potpourri atau bunga kering yang dijadikan bahan aroma terapi. Ketertarikannya terhadap usaha bunga dimulai Rosita 2003 silam.

Saat itu alumnus Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) ini merintis usaha sendiri berbendera “Rumah Daun” dengan bisnis utama penyewaan bunga. Bermodalkan Rp250 ribu, dia mendapatkan order pertama dengan menyewakan tanaman hias. Dari sana order bunga hiasnya terus berkembang dan mendapatkan klien perusahaan-perusahaan besar seperti Mitsubishi, Medco Energi, Bank Niaga,Auto Mall, Plaza, hingga pusat perbelanjaan seperti Plasa Semanggi.

Namun, setelah usahanya berjalan selama dua tahun, tiba-tiba kesabarannya teruji. Suaminya, Wibawa Prasetyawan, harus melanjutkan studi ke Inggris. Karena waktu persiapan hanya sedikit dan belum mempersiapkan manajemen untuk meninggalkan usahanya, Rosita merelakan menjual usaha beserta asetnya.“ Rasanya seperti menjual bayi sendiri,” ujarnya.

Rosita dan keluarga hidup di Inggris selama kurang lebih dua tahun.Di Negeri Ratu Elizabeth itu dia bekerja bergantian dengan suaminya karena harus menjaga anak-anak.Di samping bekerja, Rosita beruntung bisa mengambil kursus singkat di salah satu sekolah fashion terbaik di London, yaitu Central Saint Martin College, tempat desainer Alexander Mc Quinn dan Stella Mc Cartney belajar mode.

Hasil studinya di London diakuinya sangat berperan dalam mengenali taste dan kualitas desain dalam setiap rangkaian bunganya. Tak heran jika setiap rangkaian bunganya memiliki gaya dan model menarik konsumen. Sepulangnya dari Inggris, Rosita mendampingi suami keliling tugas di luar Jakarta.

Selama itu pula dia akhirnya merapat kepada teman-temannya yang menjadi pengusaha sekaligus mengambil Magister Kenotariatan di Universitas Airlangga. Barulah setelah suami kembali dinas di Jakarta, dia merintis kembali usaha dengan bendera Tar A Porter. Dua hari setelah membangun Tar A Porter Flower pada akhir Februari 2010, order datang bertubi- tubi dari klien-klien lamanya ketika masih mengelola Rumah Daun.

Berbekal pengalaman sebelumnya, pada tahun pertama Tar A Porter membuat SOP yang mendasari profesionalitas kerja karyawannya. Adapun, sistem business opportunity yang dikembangkannya memungkinkan mitra kerjanya menduplikasikan usaha dengan tujuan menjamin kualitas mutu dan desain produk bunga dari Tar A Porter.

Saat ini Tar A Porter Flower mempunyai empat cabang yakni di Alam Sutera (www.- taraporter.com/alamsutera), BSD (www.taraporter.com/bsd), BSD The Green (www.taraporter. com/bsd-thegreen) dan Jakarta Pusat. Ke depan, impiannya ingin memberikan servis dan kualitas terbaik di bidang bunga dan variannya.

Adapun, pengembangan potpourri diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada produk impor dari Jepang, India, China dan Thailand. “Dengan mengolah potpourri sendiri, Tar A Porter berharap dapat memberikan sumbangsih untuk Indonesia,” tukasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar