Sabtu, 03 September 2011

72 Persen Penduduk Miskin Berasal dari Sektor Pertanian

JAKARTA. Direktur Analisis dan Perkembangan Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suharyanto mengatakan jumlah kemiskinan terbesar sebanyak 72% berasal dari masyarakat yang hidup dari sektor pertanian. Pendapatan mereka rata-rata masih sangat rendah dan cenderung stagnan.

"Salah satu karakteristik yang penting dari kemiskinan adalah mereka terbanyak tinggal di perdesaan. Selama ini tidak ada kebijakan penanggulangan khusus di pertanian. Padahal kita sudah beri peringatan, upah buruh petani nyaris tidak bergerak dari Rp37 ribu per hari, sekarang Rp39 ribu per hari," kata dia di Jakarta, Jumat (2/9).

Data BPS menunjukkan, rasio gini pada 2010 sebesar 0,331 atau turun dari tahun lalu sebesar 0,357. Namun penurunan rasio gini hanya terjadi di perkotaan dari 0,362 menjadi 0,352 sedangkan di perdesaan meningkat menjadi 0,297 dari 0,288.

Kecuk juga mengingatkan jumlah orang hampir miskin di Indonesia yang mencapai 27,14 juta jiwa atau 11,29% dari jumlah penduduk Indonesia. Hal tersebut juga patut diwaspadai.

"Anggaran pemerintah besar untuk turunkan kemiskinan sekitar Rp86 triliun, tapi 2010 turun kok lamban. BPS berulang-ulang bilang, jumlah hampir miskin harap diperhatikan juga, jangan yang miskin selamat tapi yang hampir miskin malah berjatuhan," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini mengungkapkan, saat ini masih terdapat 131 kabupaten tertinggal dengan angka kemiskinan jauh di atas rata-rata kemiskinan nasional. Rata-rata kemiskinan nasional mencapai 14,2%, adapun rata-rata angka kemiskinan di daerah tertinggal (DT) masih mencapai 22,68%.

Beberapa kabupaten tertinggal, lanjut Helmy, bahkan memiliki rata-rata jumlah penduduk miskin di wilayah mereka hingga lebih dari 30%. Mereka antara lain Kabupaten Teluk Bintuni (51,9%), Kabupaten Supiori (50,7%), Kabupaten Aru (38,8%), Kabupaten Sumba Barat (35,4%), dan Kabupaten Sampang (31,9%).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar