Jumat, 16 September 2011

Berita Pertanian : Pemerintah Harus Dukung Hortikultura Sebagai Subtitusi Beras












Jakarta
.Pemerintah diminta lebih tegas dan mendukung upaya menjadikan produk hortikultura sebagai subtitusi pangan selain beras dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional. "Masih banyak kendala yang harus diselesaikan bersama antara pemerintah dan produsen kalau ingin menjadikan produk hortikultura sebagai subtitusi beras menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia," kata Ketua Asosiasi Produsen Benih Hortikultura Indonesia (Hortindo), Afrizal Gindow di Jakarta, Kamis (15/9).

Afrizal mengatakan, komoditas seperti jagung dan pisang bisa menjadi substitusi beras, sedangkan untuk sayuran dan buah-buahan menjadi pelengkap dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

Sebelumnya dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional Kadin Indonesia mengundang Hortindo, praktisi industri hortikultura serta Dirjen Hortikultura Kementrian Pertanian dalam diskusi yang diselenggarakan Rabu (14/9).

Afrizal mengatakan, pemerintah sejak awal 2010 seharusnya telah mempersiapkan program pengembangan hortikultura sebagai subtitusi beras.

Dia mengingatkan, siklus perkembangan varian tanaman hortikultura lebih cepat dibandingkan padi sehingga membutuhkan riset yang kuat untuk mengasilkan bibit unggul yang tahan penyakit dan kuantitas produksi yang lebih baik.

"Kalau tanaman padi membutuhkan waktu lima tahun sebelum ditemukan varietas baru yang lebih baik. Sementara, untuk hortikultura hanya dalam hitungan bulan sudah bisa ditemukan jenis yang lebih unggul," ujar dia.

Afrizal juga mengungkapkan salah satu kendala yang membutuhkan dukungan pemerintah dalam pengembangan bibit unggul terkait biaya investasi yang tinggi. Untuk itu, pemerintah seharusnya lebih terbuka kepada investor asing di sektor hortikultura dengan tujuan agar tingginya biaya investasi untuk teknologi dapat diatasi.

Persoalan lain pemerintah haruslah mulai menyediakan lahan di dekat sentra perdagangan untuk ditanami produk hortikultura sehingga dapat mengurangi kesulitan transportasi.

"Seperti buah jeruk Indonesia selalu dianggap lebih mahal dibandingkan jeruk asal Cina. Hal itu semata-mata dipicu persoalan transportasi yang menjadi pekerjaan rumah untuk diselesaikan," ujar Afrizal.

Studi Asian Foundation menunjukkan biaya transportasi di Indonesia bisa mencapai US$0,34 per kilometer padahal standar Asia US$0,22 per kilometer, jelas Afrizal.

Afrizal mengatakan Hortindo juga mendorong penerapan teknologi rumah plastik sebagai pelindung untuk meningkatkan produksi. Ia mencontohkan, cabai yang tidak diberi pelindung hanya sanggup dipanen 1-2 kali setahun sedangkan yang diberikan pelindung bisa mencapai 3 kali dalam setahun.

"Kalau dari sisi pendapatan tanaman cabai yang diberikan perlidungan untuk ukuran luas 1 hektare bisa menghasilkan Rp24-34 juta, sedangkan yang tidak dilindungi hanya mengasilkan Rp10-12 juta saja," kata Afrizal.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Hasanuddin Ibrahim mengatakan, Indonesia sudah saatnya memiliki produk-produk hortikultura unggulan untuk dikembangkan sehingga tidak lagi tergantung impor.

Menurut dia, produsen benih unggul hortikultura seperti PT East West Seed Indonesia (Ewindo) diharapkan menghasilkan produk unggulan seperti kita memiliki mangga Indramayu atau Thailand yang memiliki durian montong.

Kendala transportasi, menurut dia, merupakan persoalan yang harus dipecahkan untuk pengembangan hortikultura, faktanya perdagangan di dalam negeri Indonesia jauh lebih mahal dibanding luar negeri. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar