Senin, 26 September 2011

Peluang Usaha Pertanian : Emping berkembang berkat usaha Sumini













SENTRA EMPING MELINJO, KLATEN


Desa Kuncen di Kabupaten Klaten adalah salah satu sentra produksi emping melinjo. Lebih dari 100 perajin memproduksi emping melinjo dengan peralatan yang masih sederhana. Marak sejak 1980-an, Sumini membawa keberhasilan usaha emping melinjo sehingga ditiru penduduk desa.

Klaten adalah salah satu kabupaten yang terletak di antara Yogyakarta dan Surakarta atau Solo. Selain terkenal sebagai salah satu lumbung padi di Provinsi Jawa Tengah, Klaten juga memiliki produk unggulan lain, yaitu emping melinjo.

Sentra produksi emping melinjo di Klaten terletak di Desa Kuncen, Kecamatan Ceper. Dari ibu kota kabupaten, Kuncen berada sekitar 10 kilometer ke arah Solo. Cukup mudah untuk menemukan lokasi sentra pembuatan emping melinjo ini, letaknya cukup strategis berada di pinggir sebelah kiri Jalan Raya Yogya-Solo.

Di Desa Kuncen, kurang lebih ada 100 perajin emping melinjo. Mereka memproduksi emping di rumahnya masing-masing dengan menggunakan peralatan tradisional dan sederhana.

Walau menjadi sentra industri emping melinjo, kondisi Desa Kuncen tak jauh beda dibandingkan dengan desa lain di Jawa Tengah. Hanya saja, di rumah-rumah penduduk biasanya memiliki bagian lain untuk memproduksi emping melinjo.

Tempat produksi tersebut dibuat semi permanen dari anyaman bambu serta berlantai tanah. "Membuat emping melinjo menjadi kegiatan sehari-hari," kata Tri Wijilestari, salah satu perajin emping, sambil terus sibuk menjemur emping basah di atas anjang atau anyaman bambu.

Hampir di seluruh pinggir jalan Desa Kuncen, berjejer anjang berukuran 1 meter (m) x 1 m. Anjang tersebut dipakai untuk menjemur melinjo yang sudah digepengkan. Kegiatan produksi emping melinjo di sentra ini memang masih dilakukan secara rumahan atau home industry. Para perajin masih mengandalkan anggota keluarga inti untuk membuat emping. Kalau pun mempekerjakan karyawan, biasanya mereka hanya merekrut tetangga sendiri.

Seperti keempat karyawan Tri yang semuanya masih tetangga dekat. Mereka memproduksi rata-rata 30 kg emping melinjo tiap hari. Dengan harga jual per kilogram mencapai Rp 28.000 sampai Rp 29.000, menurut Tri, perajin emping di Desa Kuncen rata-rata bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 20 juta setiap bulan.

Omzet yang diraih para perajin cukup membantu ekonomi masyarakat yang kebanyakan bergantung pada pertanian. "Usaha ini bisa dikerjakan di sela-sela kesibukan bertani," ujar Tri. Bahkan untuk mendukung perkembangan usaha pembuatan emping melinjo, saat ini para perajin emping melinjo mendirikan kelompok usaha emping melinjo bernama Mekar Sari.

Tri menceritakan, usaha pembuatan emping melinjo Desa Kuncen mulai marak tahun 1980-an. Saat itu ada salah satu warga yang berhasil berbisnis emping melinjo, namanya Sumini. Sebelum mendirikan usaha sendiri, Sumini dulunya merupakan karyawan pabrik pembuatan emping di Solo. "Saya capek jadi pekerja, akhirnya saya putuskan berhenti dan membuat emping sendiri," ujar Sumini.

Sumini mengajak para tetangganya untuk membantu membuat emping. Melihat keberhasilan Sumini membuat dan memasarkan emping melinjo sendiri, banyak masyarakat desa mengikuti.

Karena itulah kebanyakan perajin emping melinjo Desa Kuncen dulunya adalah pekerja Ibu Sumini. "Saya dulunya juga hanya pekerja biasa," kata Inuk Saminem, salah satu perajin di Desa Kuncen. Ia memutuskan untuk memulai usaha sendiri setelah beberapa tahun berselang bekerja di Ibu Sumini.

Walaupun jumlah pengusaha emping melinjo di Desa Kuncen semakin bertambah, namun tiap perajin memiliki pangsa pasar sendiri-sendiri. Contohnya Tri, setiap satu minggu sekali ia mengirim emping melinjo mentah ke pasar-pasar di Klaten. Ada 10 pelanggan yang siap untuk menampung produksi emping Tri dengan permintaan bervariasi mulai 10 kg hingga 40 kg. "Kita tidak ada rebutan lahan," ungkapnya.

Bahkan menurut Tri, jika ada warga yang produksinya berlebih, antar perajin saling bantu penjualan. Sebab, dengan jumlah produksi yang terbatas, permintaan permintaan di pasaran banyak.


Jaga stok bahan baku agar laba tidak layu

Dengan harga jual cuma Rp 28.000-Rp 29.000 per kilogram (kg), perajin hanya bisa memetik laba Rp 4.000 per kg. Namun, keuntungan yang tak seberapa itu bakal terkikis habis bila perajin tak pandai-pandai menyediakan stok bahan baku di saat paceklik biji melinjo.

Menjadi perajin emping melinjo merupakan pekerjaan sambilan yang bisa menjadi tumpuan penghasilan bagi warga di Dukuh Metukan, Desa Kuncen, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dan kebanyakan perajin emping melinjo itu adalah ibu rumah tangga.

Di sana, para ibu rumah tangga mengolah biji melinjo menjadi emping seusai membantu sang suami menggarap sawah. Meski pekerjaan sambilan, ibu-ibu ini tampak serius menggarap emping melinjo. Lihat saja, agar pekerjaan lebih fokus, mereka sengaja mendirikan bilik kecil dari bambu sebagai "pabrik" pengolahan melinjo.

Seperti yang dilakukan Tri Wijilestari. Perajin emping melinjo asal Kuncen ini membuat bilik persis di sebelah rumahnya. Tujuan Tri membuat bilik agar lebih konsentrasi dalam memproduksi emping. "Kalau ada tempat sendiri, kami juga bisa lebih fokus bekerja," terang Tri.

Dengan modal Rp 1 juta, Tri membangun bilik sederhana itu. Di bilik itulah Tri memproduksi emping dibantu beberapa pekerja yang masih tetangganya sendiri.

Nah, agar kerja mereka lebih efektif, Tri pun membuat pembagian tugas, yakni ada pekerja yang khusus mengupas kulit melinjo, menyangrai melinjo, hingga menggeprak hasil sangraian melinjo itu menjadi emping.

Untuk memproduksi emping melinjo terbilang sederhana. Biji melinjo harus disangrai terlebih dahulu dengan menggunakan pasir agar kulit arinya terkelupas. Setelah itu, biji melinjo dibentuk menjadi emping dengan cara digeprak hingga pipih. "Mengepreknya butuh alat bantu," kata Inuk Saminem yang juga perajin emping melinjo di Kuncen.

Alat bantu mengeprek biji melinjo itu terbuat dari besi berbentuk alu yang beratnya 3 kilogram (kg)- 3,5 kg.

Setelah biji melinjo digeprak, selanjutnya di jemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Setelah itu baru dikemas dalam plastik dan dipasarkan.

Ketekunan perajin membuat emping melinjo itu sempat dilirik pemerintah. Sebagian perajin pernah mencicipi bantuan pemerintah berupa kompor, wajan serta anyaman bambu berbentuk kotak berukuran 1 meter 2. "Bantuan modal yang belum ada," ungkap Tri.

Sama dengan bisnis lainnya, perajin emping melinjo juga mengalami masa susah. Terutama saat pasokan biji melinjo menipis sehingga membuat harga bahan baku membubung. Agar tetap bisa produksi, biasanya perajin harus selalu siap dengan stok bahan baku. Kalau tidak punya stok, perajin tentu harus keluar ongkos lebih besar untuk membeli biji melinjo.

Padahal, harga emping melinjo cuma Rp 28.000-Rp 29.000 per kg. Setelah dikurangi ongkos produksi, perajin biasanya mengantongi laba bersih sebesar Rp 4.000 per kg.

Namun saat harga biji melinjo melejit, keuntungan yang diperoleh perajin menipis. Bahkan, sebagian perajin pernah merugi karena biaya produksi tak sepadan dengan harga jual. "Kami sulit naikkan harga karena pembeli sudah langganan," ujar Tri.


Bentuk paguyuban untuk perkuat modal



Para perajin emping itu tak cuma rajin menggeprak buah melinjo. Sebagian dari mereka juga aktif berorganisasi dengan membentuk paguyuban Mekar Sari. Sayang, dari 100 perajin emping, hanya 25 orang saja yang ikut bergabung dalam paguyuban Mekar Sari.

Seiring makin banyaknya jumlah perajin emping melinjo di Dukuh Metukan, Desa Kuncen, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, perajin pun berinisiatif membentuk organisasi pada 2001 lalu. Organisasi perajin ini mereka beri nama paguyuban Mekar Sari.

Dengan paguyuban ini, para perajin emping ini terbantu dari sisi permodalan. "Kalau ada anggota yang membutuhkan dana, paguyuban siap membantu," kata Sumini, Ketua Paguyuban Mekar Sari.

Namun, lebih penting dari soal modal adalah rasa persaudaraan di antara perajin terpelihara dengan adanya paguyuban ini. Sayangnya, dari sekitar 100 warga yang memproduksi emping melinjo, hanya 25 orang saja yang ikut bergabung.

Inuk Saminem, salah satu anggota paguyuban Mekar Sari ini menilai, dengan adanya paguyuban koordinasi lebih mudah. Alhasil, jika ada bantuan, sasarannya pun lebih jelas.

Paguyuban ini tidak mengikat anggota soal jumlah produksi atau penyeragaman harga. "Susah kalau dibatasi seperti itu," terang Inuk.

Seminggu sekali, para perajin ini selalu mengadakan pertemuan. Mereka juga dikutip iuran wajib sebesar Rp 2.000 per minggu, untuk kas organisasi.

Dari uang kas inilah, bantuan permodalan mengalir. Tentunya nilainya juga tak seberapa. Tetapi setidaknya mengurangi kesulitan perajin memperoleh modal.

Masalahnya, bantuan modal dari paguyuban itu tak pernah cukup bisa perajin sedang menghadapi kurangnya pasokan bahan baku.

Meski populasi tanaman melinjo di Klaten masih tinggi, namun tetap belum bisa mengimbangi permintaan industri emping. "Produksi emping lokal sangat terbatas, sehingga kami sering membeli melinjo dari Banten," ujar Tri Wiji Lestarai, perajin emping.

Kondisi inilah yang memberatkan para produsen emping ini. Jika harga biji melinjo asli Klaten hanya Rp 9.000 per kilogram (kg), harga biji melinjo dari Banten bisa lebih mahal Rp 3.000.

Pasokan bahan mentah dan sulitnya permodalan, sejatinya memang kendala utama para perajin itu. Padahal industri rumahan emping melinjo ini adalah pekerjaan yang banyak menyerap tenaga kerja. Lihat saja, mulai dari panen melinjo, pengupasan kulit buah, proses pembuatan emping, pemasakan (oven) dan pengemasan hingga pemasaran, semuanya memerlukan tenaga kerja dalam jumlah yang tidak sedikit.

Itulah sebabnya, petani berharap, pemerintah mau campur tangan membentu kesulitan para perajin emping ini. Selain bantuan teknis berupa cara memproduksi emping yang lebih baik dan lebih higienis, para perajin itu jelas membutuhkan bantuan permodalan. Setidaknya ada petunjuk bagaimana cara memperoleh modal kerja itu.

Tanpa modal yang memadai, perajin jelas bakal kesulitan mengembangkan usaha. "Seperti saya yang membutuhkan modal tambahan untuk mengantisipasi kenaikan harga biji melinjo," keluh Tri.

Ya, begitulah nasib perajin di negeri ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar