Kamis, 15 September 2011

Eko tingkatkan ekonomi petani Karanganyar dengan SRI

Bagi Eko Istiyanto tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat petani Indonesia sejahtera. Karena itulah, dia kemudian mengajak petani Karanganyar dan beberapa kabupaten lain di Jawa Tengah untuk memakai teknik SRI dalam bertanam padi. Dia berharap, dengan SRI penggunaan pupuk kimia bisa semakin berkurang.

Sebagian besar pertanian di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, sangat bergantung pada penggunaan pupuk kimia untuk mempertahankan tingkat produktivitas. Para ahli pertanian melihat, penggunaan pupuk kimia tanpa penyeimbang pupuk organik akan menurunkan tingkat kesuburan tanah sehingga bisa memicu penurunan hasil panen dari tahun ke tahun.

Kekhawatiran inilah yang kemudian mendorong Eko Istiyanto untuk terus menyosialisasikan penggunaan pupuk organik atau pupuk kompos dalam pertanian tanaman padi di daerah Karanganyar, Jawa Tengah. Mengemban tugas sebagai Direktur Pusat Pengembangan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan, Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Foundation, Eko berkeinginan untuk memberdayakan petani sehingga memiliki tingkat penghasilan lebih tinggi.

Untuk itu, sejak 2004 lalu, Eko mengenalkan metode pertanian padi SRI atau System of Rice Intensification ke petani Karanganyar. Tidak hanya Karanganyar, Eko juga bergerilya di delapan kabupaten lain di Jawa Tengah, seperti Sukoharjo, Surakarta, Boyolali, Demak, Pati, Grobogan, dan Sragen.

Eko mengklaim, SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktivitas padi. Teknik SRI dilakukan dengan mengubah sistem pengelolaan tanaman padi. Jika biasanya tanaman padi membutuhkan banyak air, dengan SRI, yang penting tanah harus lembap untuk bisa ditanami padi.

Eko menjelaskan, air yang tergenang akan menghambat masuknya nutrisi dari sinar matahari ke tanah. "Pola tanam ini menjadi solusi bagi lahan pertanian yang kesulitan air," katanya. Selain menghemat air, SRI juga mengharuskan petani lebih banyak memakai pupuk organik dibandingkan dengan pupuk kimia buatan pabrik.

Upaya Eko mengenalkan SRI tak sia-sia. Sebagai petani tulen, dia juga telah merasakan manfaat teknik SRI dalam peningkatan produktivitas padi di sawahnya. Dengan masa tanam yang sama dengan metode penanaman konvensional, metode SRI terbukti berhasil meningkatkan hasil panen padi rata-rata 50% . "Bahkan di beberapa tempat meningkat 100%, menjadi 8,5 ton sampai 10 ton per hektare," katanya. Asal tahu saja, metode bertanam biasa menghasilkan padi rata-rata 6,5 ton per hektare.

Tak hanya meningkatkan produksi, SRI juga dapat memangkas biaya produksi hingga sebesar 30%. Jika biasanya petani membutuhkan dana tanam hingga panen Rp 5 juta sampai Rp 6 juta per hektare, dengan menggunakan metode SRI bisa berhemat hingga Rp 1,8 juta. "Ini karena lebih banyak menggunakan pupuk organik," tambahnya.

Biaya produksi yang lebih rendah juga disebabkan pemakaian bibit yang lebih sedikit. Jika biasanya satu hektare lahan membutuhkan 50 kg bibit, dengan SRI hanya membutuhkan sekitar 10 kg sampai 15 kg bibit.

Dengan tingkat produksi yang tinggi namun biaya yang rendah, Eko menghitung petani akan mampu mengantongi hasil panen sebesar Rp 10 juta sampai Rp 13 juta per hektare.

Walaupun sudah terbukti, upaya Eko untuk mengenalkan SRI ke petani di Jawa Tengah tak selalu mulus. "Susah mengubah kebiasaan lama berupa metode tumpang sari dan pupuk kimia ke penggunaan pupuk organik," katanya.

Untuk meretas kendala itu, bagi Eko, satu-satunya jalan hanya dengan membuktikan keunggulan metode SRI ini kepada petani. Untuk itu, Eko merekrut kelompok petani di Karanganyar untuk menerapkan metode ini. Melalui bukti, akhirnya banyak petani di kabupaten lain di Jawa Tengah yang meniru teknik SRI ini.

Saat ini sebanyak 320 orang petani menjadi binaan LPTP. Mereka ini tersebar di delapan kabupaten di Jawa Tengah. "Gerakan ini didasari keinginan kami agar petani lebih sejahtera dan tidak tergantung dengan pupuk kimia," katanya.

Eko berharap, suatu hari nanti petani di Indonesia akan memiliki tingkat ekonomi yang lebih baik. Karena itu, selain bertanam padi menggunakan metode SRI, Eko juga mengembangkan pembuatan bahan bakar briket dari kotoran sapi.


Teknik SRI

Metode SRI, sejatinya mudah dilakukan petani. Pertama, tentu harus menyiapkan bibit dengan merendam selama dua hari. Kedua, bibit kemudian ditabur dalam wadah berisi tanah dan pupuk organik dengan komposisi satu banding satu.

Setelah 15 hari, bibit bisa dipindah ke sawah. "Dalam memindahkan bibit harus sesegera mungkin dan hati-hati agar akar tidak putus dari batangnya," kata Eko.

Jarak tanam antar bibit agak renggang, yakni sekitar 20 cm sampai 25 cm. Lebarnya jarak tersebut memungkinkan akar berkembang tanpa harus berebutan nutrisi dengan tanaman lain, sehingga pertumbuhan padi menjadi optimal. Untuk pemupukan, metode SRI mensyaratkan pemupukan dengan pupuk organik.

Untuk pengairan, maksimal hanya dua cm dari batas tanah. Pada periode tertentu air harus dibuang dan tanah harus dikeringkan sampai pecah. "Kelemahan metode SRI adalah potensi tumbuhnya gulma atau rumput," urai pria berusia 36 tahun ini.

Dengan kelemahan ini, yang harus dilakukan petani adalah proses penyiangan sejak usia tanam 10 hari. Proses ini diulang dua sampai tiga kali dengan interval 10 hari sekali. (KONTAN)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar