Kamis, 09 Februari 2012

Berita Pertanian ; Jeruk Medan Harus Dikembangkan















Medan
. Jeruk asal Berastagi, Kabupaten Karo atau yang lebih dikenal dengan jeruk Medan merupakan buah yang masih stabil dalam hal produktifitas. Karena itu, perlu pengembangan maksimal untuk menjaga agar tidak terpuruk.

Hal itu dikatakan Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim saat memberikan sambutan pada ‘Acara Sinkronisasi Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Hortikultura tahun 2012 dan Perencanaan tahun 2013 Wilayah Barat’, di Hotel Grand Aston City Hall, Selasa (7/2).

Menurutnya, dengan memberikan perhatian lebih maka jeruk Medan akan tetap ada. “Sebagai salah satu produk hortikultura unggulan di Sumatera Utara, masih lebih baik nasibnya jika dibandingkan dengan jeruk asal Garut yang sejak beberapa tahun lalu terpuruk dan hingga kini sulit dibangkitkan.

Maka itu, jeruk Medan harus dijaga, dan program Sekolah Lapangan Pertanian Tanaman Terpadu (SL- PTT), harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan komoditas tersebut," katanya.

Hasanuddin juga menjelaskan bahwa hortikultura selama ini hanya dianggap sebagai komoditas ke sekian setelah komoditas pangan seperti padi. Hal tersebut bisa dilihat dari anggaran pengembangan hortikultura di tahun 2012 mencapai Rp 580 miliar untuk seluruh kabupaten di Indonesia.

Menurutnya angka tersebut kecil karena di satu sisi pemerintah mendorong agar sektor hortikultura meningkat dan memiliki daya saing di pasaran nasional maupun internasional. Namun di sisi lain, jika anggaran tersebut dibagikan ke seluruh kabupaten akan sangat kecil dan tidak akan memenuhi kebutuhan. "Bisa saja di kabupaten tertentu hanya akan mendapatkan anggaran dalam jumlah ratusan juta yang mana itu tidak akan cukup," ujarnya.

Begitupun kata Hasanuddin, pelaku hortikultura masih bisa bekerjasama dengan pihak lain misalnya perbankan. Di samping itu, dalam pemilihan varietas hortikultura yang dapat berdaya saing, menurutnya tidak boleh ragu jika harus mengganti vartietas yang dianggap lebih memiliki nilai ekonomi.

Menurutnya, dalam mengembangkan hortikultura dalam skala besar, tidak boleh dipusatkan dalam satu tempat saja karena hal ini dapat menjadi bumerang khususnya saat terjadi panen bersamaan akan menurunkan harga komoditas tersebut.

"Intinya, bagaimana petani bisa jeli melihat situasi sehingga penghasilannya dari sektor hortikultura bisa meningkat," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar