Senin, 31 Januari 2011

Resep Makanan : Kue Ubi Balut Gula


Bahan-bahan :
  • 150 gr ubi jalar, kukus hingga matang, kupas, haluskan
  • 75 gr tepung terigu
  • 1/8 sdt garam
  • 2 sdm gula pasir
  • 2 sdm air
  • 600 ml minyak goreng untuk menggoreng
Cara membuat:
  • Campur ubi jalar, tepung terigu, dan garam. Uleni hingga kalis. Ambil satu sendok makan adonan, bentuk bulat berlubang di tengah seperti donat. Lakukan hingga adonan habis.
  • Panaskan minyak goreng, goreng hingga matang. Angkat dan tiriskan.
  • Campur gula pasir dan air di atas wajan antilengket, masak hingga gula mengental. Masukkan kue, aduk hingga seluruh bagian terbalut gula. Angkat.
  • Tata di atas wadah saji yang bernuansakan perayaan Imlek.

Untuk 4 porsi

Nilai gizi per porsi:
  • Energi: 207 Kkal
  • Protein: 3,4 gr
  • Lemak: 5,6 gr
  • Karbohidrat: 37,0 gr

Berita Pertanian : Petani Cabai Kundur Gagal Panen Akibat Banjir

Karimun, Kepri. Sejumlah petani Kundur, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau gagal panen akibat lahan perkebunannya kebanjiran sejak tiga hari lalu.

Jali, petani cabai di Desa Tanjungsusup, Kecamatan Kundur, Senin mengatakan, sedikitnya lima ribu batang tanaman cabainya gagal panen karena terendam air setinggi satu meter.

``Ini memang musibah besar bagi saya. Saat ini tanaman itu masa panen,`` katanya.

Sebelum banjir dia sudah memanen, namun jumlahnya masih kecil. Sedangkan sisanya gagal dipanen menyusulnya banjir yang dipicu guyuran hujan dengan curah tinggi.

``Cabai yang sudah dipanen hanya senilai Rp2,5 juta. Sisanya yang belum dipanen mencapai Rp60 juta,`` katanya.

Anwar, petani lain mengungkapkan sedikitnya tiga ribu batang tanaman cabainya rusak terendam air.

``Bagaimana mau panen, seluruh areal perkebunan terendam. Sedangkan cabai yang hendak memasuki masa panen membusuk akibat jamur,`` katanya.

Sementara itu, banjir juga mempengaruhi petambak ikan lele, Auzar yang mengaku tambak ikan miliknya berubah menjadi danau akibat banjir. Ikan lele yang berada dalam tambak hanyut terbawa banjir.

``Entahlah, bang. Sudah nasib saya padahal bulan depan mau panen. Nilai hasil panen puluhan juta rupiah,`` ucapnya.

Hujan dan banjir juga mengakibatkan ratusan hektare tanaman karet tidak bisa dipanen.

Raja Zuriantiaz, warga Kundur mengatakan petani karet tidak bisa panen karena pohon karet basah.

``Getah yang dipanen tidak boleh bercampur air. Sedangkan lahan perkebunan juga terendam,`` katanya. (ant)

Minggu, 30 Januari 2011

"Raja" Kopi Luwak

Lampung. Gunawan Supriadi (41) pernah memiliki reputasi yang buruk. Pada masa lalunya, ia dikenal sebagai ”preman” yang menguasai sejumlah lahan perparkiran di Liwa, Lampung Barat. Namun, kini, warga lebih banyak mengenalnya sebagai pengusaha kopi luwak yang disegani.

Gunawan merupakan salah satu produsen kopi luwak di Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat, dengan merek dagang Raja Luwak. Kopi luwak yang dihasilkan lewat pemeliharaan luwak di pekarangan rumahnya kini mampu menembus kafe-kafe mewah di Jakarta dan sejumlah kota besar di Tanah Air.

Bahkan, kopi luwak yang dihasilkan dari ”kampung” ini menjelma sebagai komoditas termasyhur di dunia. Bekerja sama dengan sejumlah eksportir, kopi luwak yang dihasilkan itu kini dinikmati pencinta kopi di beberapa negara, antara lain, Korea, Jepang, Hongkong, dan Kanada.

Kopi luwak produksi Gunawan telah menambah khazanah kekayaan kopi-kopi eksotis Nusantara. Di mata dunia internasional, kopi luwak asal Indonesia, khususnya dari Liwa, memiliki reputasi teramat baik, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kopi termahal dan terlangka di dunia.

Di luar negeri harga bisa mencapai Rp 5 juta-Rp 8 juta per kilogram dalam bentuk bubuk. Bandingkan dengan biji kopi Hacienda dari Panama dan kopi St Helena, Afrika, yang masuk di dalam jajaran kopi dunia termahal dengan harga masing-masing Rp 1,5 juta dan Rp 1 juta per kg. Gunawan menjual kopi luwak dalam bentuk bubuk dengan harga tidak lebih dari Rp 600.000 per kg.

Nilai tambah

Selain mengharumkan nama daerah, bagi Gunawan, hal yang lebih penting adalah keberadaan kopi luwak dapat memberikan nilai tambah, yaitu penghidupan yang lebih layak bagi dirinya dan para perajin atau produsen kopi luwak lainnya. Pada gilirannya, para petani kopi juga bisa lebih terangkat kesejahteraannya.

”Usaha macam ini kan bisa menyejahterakan masyarakat yang penghidupannya rata-rata masih morat-marit. Petani (kopi) pun jadi punya uang tambahan di musim belum panen. Mereka tidak kesulitan harus menjemur dulu kopi di musim (ekstrem) ini,” ujar Gunawan.

Ketua kelompok perajin kopi Raja Luwak ini sekarang membina dan mengoordinasikan 10 produsen kopi luwak lainnya di Gang Pekonan, Way Mengaku, Liwa. Sebagian besar di antara mereka adalah para pemula yang tidak memiliki pasar ataupun merek dagang sendiri.

”Saya menampung sebagian kopi dari mereka, lalu membantu menjualnya, terutama jika kebetulan ada pesanan yang besar,” ujarnya. Setiap perajin diharuskan menyetor 5 kg kopi luwak dalam bentuk brenjelan (masih berupa kotoran) dan pemotongan hasil keuntungan.

Iuran-iuran ini memiliki banyak fungsi, di antaranya bantuan pinjaman permodalan, termasuk untuk membeli kandang dan luwak. Gunawan berpikir sebaliknya jika dibandingkan banyak produsen kopi luwak yang berpandangan bahwa usaha itu lebih baik dimonopoli mengingat kerasnya persaingan.

Liwa akan dikenal sebagai sentra kopi luwak budidaya. Pada gilirannya, Gunawan berharap usahanya juga akan menyelamatkan luwak yang populasinya sempat terancam akibat diburu dan dibunuh. ”Luwak ini dahulu sering dianggap hama karena suka menghabisi kopi. Di kebun-kebun (kopi), mereka diracun pakai Timex (racun babi),” kisah Gunawan.

Gunawan mulai menekuni usaha kopi luwak sekitar tiga tahun lalu. Itu berawal dari hobinya memelihara hewan-hewan liar, salah satunya luwak. Dua luwak pertamanya diberi nama Inul dan Adam, mengambil nama pasangan penyanyi dangdut beken dan suaminya. Waktu itu, luwak-luwak ini hanyalah dipelihara.

”Luwak-luwak saya ini kemudian sering dipinjam seorang kawan. Ia minta izin mengurus dan memberi makan kopi. Lalu, anehnya, kotorannya kok dikumpulkan. Penasaran, saya lalu minta kenalan saya mengeceknya ke internet, apakah kotoran luwak bisa dijual?” ungkapnya menceritakan pengalamannya merintis usaha kopi luwak.

Dari penelusurannya, ia kemudian memperoleh informasi bahwa di China, 0,5 kg kopi luwak bubuk dihargai Rp 3,2 juta. Dia melihat ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Gunawan ketika itu masih bekerja serabutan. Kadang sebagai petugas satpam, kadang mengumpulkan uang parkir dari pasar-pasar. Ketika itu dia memiliki 16 anak buah.

Gunawan kemudian meminta anak buah dan jaringannya mencarikan luwak sebanyak-banyaknya untuk dipelihara dan mencoba memproduksi kopi luwak. Namun, pada awal usahanya, dia terganjal persoalan pemasaran. Ia terpaksa menawarkan dagangannya dari pintu ke pintu kafe dan hotel-hotel.

”Saya membawa langsung kopinya. Luwak yang masih kecil dan jinak pun saya bawa. Itu agar mereka percaya kopi ini asli. Bukan sekadar bicara (menawarkan) di internet,” ujarnya.

Perlahan, usahanya berkembang. Jumlah luwak yang dipeliharanya bisa mencapai 60 ekor saat musim kopi. Namun, saat ini yang dipelihara hanya 26 ekor. Sebagian luwak dia serahkan kepada perajin lainnya dan dilepasliarkan ke alam. Rata-rata ia memproduksi 20 kg kopi bubuk dan 2 kuintal bentuk brenjelan tiap bulan.

Sempat masuk sel

Kini, setelah perlahan mulai mapan, dia meninggalkan pekerjaan lamanya sebagai koordinator parkir. ”Usaha ini jauh lebih aman dan menjanjikan, terutama untuk masa depan saya dan keluarga,” tutur pria yang sempat dua kali masuk sel akibat perselisihan soal parkir ini.

Dari hasil usahanya itu, kini ia bisa membeli sebuah kendaraan dan tengah membangun kafe kopi luwak di rumahnya di Way Mengaku.

Usaha kopi luwak yang ditekuninya bersama belasan warga Way Mengaku lainnya merupakan suatu bentuk kemandirian ekonomi masyarakat. Mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran, semuanya dilakukan mandiri, tak ada bantuan dari pemerintah ataupun pengusaha swasta.

”Dulu pernah ada pengusaha kaya dari Korea mau ikut usaha, memberikan bantuan modal. Saya sempat ditawari menjadi manajer, tetapi kami sepakat menolak. Kami khawatir nanti justru ’ditendang’. Meskipun kadang sulit, setidaknya ini usaha sendiri. Daripada kita ’dijajah’ asing lagi,” ujar Gunawan

Berita Pertanian : Harga Gabah Merosot Tajam, Petani Rugi

JEMBER. Harga gabah di tingkat petani di Jember dalam sepekan terakhir ini merosot sangat tajam. Saat ini harga gabah berkisar Rp 2.600-Rp 2.700 per kilogram. Padahal, tanaman padi masih banyak dan belum genap 10 persen yang sudah dipanen dari area secara keseluruh sekitar 80.000 hektar.

Harga gabah dengan kadar air 25 persen dan hampa kotoran atau gabuk tidak lebih dari 10 persen, oleh pedagang, dibeli Rp 3.000 per kg. "Sekarang masih belum panen raya harga sudah anjlok seperti itu, padahal panen raya sebulan lagi," kata Endro Handoko di Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Jember, Minggu (30/1).

Pekan lalu harga gabah kering panen dengan kadar air 25 persen masih Rp 3.100 per kg dan harga gabah berkualitas 0 persen gabuk saat itu Rp 3.700 per kg. Alasan merosotnya harga, menurut pedagang atau pengusaha penggilingan padi, disebabkan anomali cuaca karena akhir-akhir ini dirundung mendung dan hujan. Akibatnya, pedagang dan pengusaha penggilingan padi sulit menjemur gabah.

Sekelompok petani menduga penyebab merosotnya harga gabah karena pemerintah telah menerbitkan izin impor beras. Kemudian pasar menjadi jenuh sehingga terjadi penurunan harga menjelang panen raya.

Bambang Mujianto, petani Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Jember, mengaku terpukul dengan merosotnya harga gabah yang sangat drastis ini. Lima hari lalu ia telah menjual tanaman padi di lahan seluas 1,2 hektar dengan sistem ijon seharga Rp 18 juta. Uang muka sebagai tanda jadi telah diterima sebesar Rp 3 juta.

Setelah tersiar harga gabah jatuh, pedagang itu merevisi harga pembelian secara sepihak sehingga Bambang mengaku dirugikan. "Walau jengkel, akhirnya disepakati harga menjadi Rp 15,3 juta," kata Bambang.

Fauzan, pedagang beras grosir dan eceran di Pasar Tanjung, mengaku juga sangat terpukul karena harga beras merosot drastis. "Harga beras turun rata-rata Rp 200-Rp 300 per kg. Simpanan beras di gudang dibeli dengan harga lama. Kami rugi," kata Fauzan.

Harga beras kualitas super turun dari Rp 8.000 per kg menjadi Rp 7.800 per kg, kualitas medium dari Rp 7.500 per kg menjadi Rp 7.200 per kg, kualitas di bawah medium juga anjlok dari Rp 6.800 per kg menjadi Rp 6.500 per kg. (kompas)

Berita Pertanian : Industri Kelapa Minta Ekspor Dihentikan

JAKARTA - Pelaku industri kelapa olahan nasional mendesak pemerintah untuk melarang ekspor buah kelapa (kelapa bulat). Pasalnya, saat ini, industri mulai kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku dan dikhawatirkan akan menurunkan utilisasi pabrik.

Direktur Utama salah satu pemain di industri pengolahan kelapa, Sambu Group Tay Juhana mengatakan, apabila ekspor tidak bisa dihentikan, maka pihaknya meminta pemerintah untuk menerapkan bea keluar (BK) ekspor.

Dalam surat permohonannya kepada Menko Perekonomian pada 25 November 2010 lalu, Tay menjelaskan, akibat kekurangan pasokan bahan baku, utilisasi pabrik hanya 64,3 persen pada 2009.

"Dalam beberapa tahun terakhir, kami merasakan kesulitan mendapat bahan baku kelapa bulat. Akibatnya, kapasitas produksi tidak optimal. Berdasarkan pengamatan, diduga sebagian kelapa bulat (harmonized system/HS 0801.19.00.00) diekspor ke Malaysia tanpa dilengkapi dokumen dengan benar. Setiap bulan, sekira 15-20 juta butir kelapa bulat dijual ke Malaysia," kata Juhana dalam salinan suratnya di Jakarta, akhir pekan ini.

Menurut Tay, seharusnya kebutuhan kelapa bulat dari Sambu Group pada 2009 mencapai 840 juta butir per tahun. Namun, kata Tay, dia hanya bisa mendapatkan 540.192.000 butir. Maka dari itu, pihaknya mengusulkan agar pemerintah menerapkan BK kelapa bulat Rp200-Rp300 per butir atau per kilogram (kg). Tay mencontohkan, Filipina dan Srilanka telah menerapkan kebijakan yang melarang ekspor kelapa bulat.

Sementara itu, Marketing Development Officer Asian and Pacific Coconut Community Amrizal Idroes mengatakan, apabila ekspor kelapa bulat terus berjalan, maka industri pengolahan nasional tidak akan berkembang.

"Itu potensi kehilangan nilai tambah. Kami minta ekspor kelapa bulat dibatasi. Kami juga meminta pemerintah memperhatikan infrastruktur di daerah produsen kelapa. Karena tersebar, distribusi ke industri yang terpusat di Jawa dan Sumatera jauh," kata Amrizal.

Asisten Deputi Urusan Perkebunan dan Hortikultura Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud dalam surat jawaban atas permohonan Direktur Utama Sambu Group menyatakan, penerapan BK kelapa bulat akan dikomunikasikan dengan instansi terkait. Namun, menurut Musdhalifah, penerapan BK bukan satu-satunya instrumen untuk membatasi eskpor kelapa.

“Yang dapat diupayakan, penertiban dokumen pengangkutan kelapa ke luar negeri dan meningkatkan daya tarik pasar di dalam negeri," tutur Musdhalifah.

Lebih lanjut Amrizal menjelaskan, industri berbasis daging kelapa di Indonesia terdiri atas beberapa sektor yakni minyak kelapa, santan cair dan bubuk, kelapa parut kering, dan kopra dengan produk jadi orientasi ekspor.

Selain itu, kelapa bulat juga digunakan untuk memproduksi coconut based activated carbon untuk penjernihan air dan memisahkan emas dari kandungan lain, filter rokok, serta bahan baku industri farmasi.

Amrizal memperkirakan, Indonesia mempunyai sekira 20 pabrik industri berbasis kelapa, di mana tujuh di di antaranya berlokasi di Sumatera, delapan di Sulawesi Utara, satu di Sulawesi Tengah, dan pulau Jawa.

Amrizal mengungkapkan, produksi kelapa bulat Indonesia sekira 16,5 miliar butir atau setara Rp12,37 triliun pada 2009 dari seluruh Indonesia. Devisa yang dihasilkan dari komoditas ini adalah sekira USD600 juta-USD1 miliar.

Dia menambahkan, pada minggu ini, harga kelapa bulat internasional berdasarkan referensi Bangkok adalah USD35 sen per kg. Sedangkan, harga minyak kelapa naik menjadi USD2.200 per ton per Jumat 28 Januari dibandingkan minggu lalu yang sebesar USD1.009-USD2.005 per ton. (SI)

Berita Pertanian : Bibit Padi Wisanggeni Temuan Jumari Segera Dipatenkan

Surabaya. Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur (Jatim) segera mematenkan bibit padi Wisanggeni temuan Jumari, petani asal Kabupaten Ngawi, yang sempat dipamerkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika melakukan kunjungan kerja ke Sidoarjo pada 14 Januari 2011.
"Tahun ini kami segera mematenkan bibit padi Wisanggeni," kata Kepala Dinas Pertanian Jawa Timyr (Jatim) Wibowo Ekoputro di Surabaya, Kamis (27/1).
Bibit padi varietas terbaru itu dinilai tepat untuk dikembangkan pada saat anomali cuaca karena memiliki ketahanan terhadap hama dan tahan rebah saat hujan, banjir, dan angin kencang. Wisanggeni merupakan terobosan petani biasa tanpa campur tangan lembaga riset.
Wibowo menjelaskan bahwa Wisanggeni mampu menghasilkan gabah kering panen seberat tujuh sampai delapan ton per hektar. "Ini juga salah satu kelebihan Wisanggeni. Oleh sebab itu, potensi varietas padi baru ini harus segera dipatenkan," katanya.
Sejumlah keunggulan pada benih padi ini kini masih menjadi perhatian Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPSBTP) Propinsi Jawa Timur di Madiun.

BPSB TPH bersama Dinas Pertanian Ngawi saat ini sedang mengusulkan Wisanggeni pada BPSB Pusat untuk diteliti sebelum dipatenkan. Rencana mematenkan padi yang bisa dipanen empat kali dalam setahun itu mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jatim Soekarwo.

Benih padi Wisanggeni merupakan hasil ekperimen Jumari dari sekitar 20 benih padi lokal. Waktu itu, Gabungan Kelompok Tani Mulyo yang diketuai Jumari mendapat kiriman sekitar 20 varietas benih padi lokal dari balai benih.

Setelah itu satu per satu dicoba hingga akhirnya menghasilkan benih padi Wisanggeni yang lebih tahan hama dan tahan roboh saat cuaca buruk melanda.

Nama Wisanggeni diambil dari nama anak kedua Jumari yang masih berusia sekitar lima tahun. Selain tahan hama dan tahan roboh, hasil panen dari benih Wisanggeni ini dinilai juga lebih besar dibandingkan benih padi lainnya.

Ini terbukti dari perbedaan jumlah batang produksi bulir padi dari satu rumpun tanaman padi. Satu rumpun tanaman dari benih Wisanggeni memiliki 20-30 batang, sedangkan tanaman padi lainnya di bawah 20, sehingga, hasil panen petani juga bertambah setiap hektarnya.

Jumari telah mengajukan 11 varian benih padi Wisanggeni ke Dinas Pertanian Kab Ngawi dan Satker BPSB Jawa Timur di Madiun. Dari benih nomor 1 hingga nomor 11 itu, hanya nomor 5 yang gagal karena kurang layak. Benih nomor 1-6 untuk kategori usia tanam pendek, dan benih nomor 9-11 untuk usia tanam sedang.

Tanaman padi dari benih Wisanggeni nomor 1-6, bisa menghasilkan enam sampai tujuh ton gabah per hektare dengan usia tanam 90-95 hari. Sementara itu Wisanggeni nomor 9 yang paling diunggulkan, bisa menghasilkan 9-10 ton gabah per hektar dengan usia tanam mencapai 100-110 hari.

Saat ini, benih padi Wisanggeni telah ditanam sejumlah petani di atas lahan seluas 500 hektar di wilayah Kabupaten Ngawi, Madiun, dan Nganjuk.

Hasil panen pun lebih besar dibanding padi jenis lain yang rata-rata tujuh hingga delapan ton gabah per hektare, sedangkan masa munculnya malai atau batang produktif berbulir padi. Untuk Wisanggeni nomor 1 hingga nomor 6 sekitar 50 hari, sementara Wisanggeni nomor 9 di atas 50 hari. (ant)

Berita Pertanian : Cabe Impor Hanya Pengaruhi Jabodetabek

Bandung. Cabe impor yang memasuki sejumlah pasar di Jakarta dan Jawa Barat hanya menurunkan harga di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

"Cabe impor diindikasikan masuk, namun tidak banyak berpengaruh terhadap harga cabe di Jawa Barat, kecuali di kawasan Jabodetabek memang turut menurunkan harga cabe di sana," kata Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Jawa Barat Ferry Sofyan Arief di Bandung, Sabtu.

Menurut Arif, kehadiran cabe impor di pasar-pasar di Jawa Barat hanya berpengaruh dalam penambahan stok, namun tidak mempengaruhi harga di pasar.

Dia menyebutkan cabe impor tidak mengancam harga di tingkat petani yang sebenarnya tidak terlalu tinggi.

"Kenaikan harga cabe hanya terjadi di tingkat distribusi, sedangkan di tingkat petani tidak terlalu tinggi. Kenaikan harga cabe tidak banyak menguntungkan petani," katanya.

Berkaitan dengan cabe impor, Sofyan mengatakan khususnya cabe rawit seharusnya tidak perlu ada impor. Kendati begitu dia mengakui pasokan cabe dari sentra pertanian di Jawa Barat menurun, sementara petani Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih fokus memenuhi permintaan lokalnya masing-masing.

"Pasokan dari Jatim dan Jateng menurun dalam beberapa minggu terakhir ini, namun sekarang sudah mulai pulih. Pasokan juga sudah mulai meningkat dari petani di Bandung dan Ciamis," katanya.(antara)

Jumat, 28 Januari 2011

Berita Pertanian : Kakao Basah Diserbu Pedagang

PRINGSEWU. Sebulan terakhir ini petani kakao di wilayah Pringsewu diuntungkan dengan maraknya pedagang membeli kakao basah yang baru dipetik. Kondisi ini sangat menguntungkan petani di saat cuaca mendung terus dan hujan tiap hari.

Menurut M. Setiawan, petani kakao dari Pekon Sukoyoso, Kecamatan Sukoharjo, sejak satu bulan terakhir ini banyak pedagang pengumpul keliling mencari biji kakao baik itu kering ataupun basah. Bahkan, biji kakao yang baru dipetik dari kebun lalu dikupas bisa langsung dibeli.

Dia mengakui harga kakao basah lebih rendah antara Rp7.000 hingga Rp9.000/kg, bergantung pada kualitas biji. Bahkan para pedagang pengumpul yang berkeliling setiap pagi tidak lagi meneliti biji kakao petani yang basah, asalkan harga cocok langsung dibayar.

M. Setiawan menambahkan jika dilihat dengan harga biji kakao kering atau jemuran setengah hari panas, harganya jauh lebih murah. Harga kakao jemuran setengah hari panas Rp13 ribu�Rp15 ribu/kg, bergantung pada kualitas biji. Bahkan kalau kering mati bisa mencapai di atas Rp20 ribu/kg. Namun, dengan cuaca yang setiap hari mendung dan hujan, tentu tidak memungkinkan petani menjemur biji cokelatnya hingga kering. Bahkan jika sehari tidak kering apalagi kena hujan, biji akan rusak dan hancur sehingga harga menjadi sangat rendah.

Pedagang Antre

Pemantauan Lampung Post, di beberapa kecamatan di Pringsewu: pembelian biji kakao basah sudah terjadi di mana-mana, antara lain Banyumas, Adiluwih, dan Pringsewu. "Bahkan sudah menyeluruh di Pringsewu," kata warga setempat.

Demikian pula harga biji kakao basah di Pekon Bumiarum, Kecamatan Pringsewu, sudah laku sejak satu bulan terakhir ini. Para petani juga terlihat tidak lagi bingung menjemur biji kakao meskipun mendung bahkan hujan.

Yono, warga setempat, sejak sebulan lalu tidak pernah lagi menjual biji kakao kering. Sebab, baru saja dijemur, pedagang sudah datang dan langsung membelinya. "Memang harganya murah, Rp8.000 hingga Rp9.000/kg. Namun, saya sangat tertolong dengan lakunya buah biji kakao basah sehingga tidak lagi direpotkan dengan menjemur hingga kering atau setengah kering. Apalagi sekarang hampir tiap hari turun hujan," kata Yono. (LP)

Berita Pertanian : Anggaran Minim, RI Tidak Mungkin Bisa Swasembada Beras

ilustrasi Foto: Koran SI

DENPASAR - Kebijakan pemerintah yang hanya mengalokasikan anggaran di sektor pertanian sebesar Rp16 triliun atau dua persen dari total APBN, sulit diharapkan bisa membawa Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 2011.

Minimnya anggaran untuk pertanian untuk tahun ini yang hanya Rp16 triliun atau tidak lebih dari dua persen dari total APBN yakni sebesar Rp1.200 triliun, sangat disayangkan Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Fadli Zon. Berdasar perhitungannya, untuk bisa memajukan pertanian di Indonesia, maka minimal anggaran pertanian harus dinaikkan hingga 15 persen sehingga mampu mengoptimalkan sektor pertanian, bukan malah sebaliknya.

"Bila sektor pendidikan meningkat hingga 20 persen, kenapa sektor pertanian harus berada dibawah dua persen," kata Fadli disela-sela Musda keenam HKTI Bali di Gedung Wisma Sabha, Denpasar, Jumat (28/01/2011).

Menurut dia, peningkatkan anggaran di sektor pertanian mutlak diperlukan sebab hingga saat ini sebagain besar rakyat Indonesia menggantungkan hidupnya di pertanian bahkan berdasar catatannya saat ini jumlah petani mencapai 50 hingga 70 persen dari jumlah penduduk.

Kecilnya anggaran tersebut kata dia menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia belum mampu merumuskan kebijakan pertanian secara nasional terkait Swasembada beras.

Dia menunjukkan bukti pada tahun 2010 lalu, Indonesia ternyata belum mampu mewujudkan swasembada beras. Bahkan yang terjadi untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok dalam negeri, kegiatan impor beras mencapai 1,8 juta ton.

Ditambahkan Fadli, suatu kali usai Menteri Pertanian memaparkan bahwa kegiatan impor beras jumlahnya sekira 600 ribu ton, namun setelah HKTI mengontak organisasi petani di Vietnam, ternyata angkanya jauh lebih tinggi sebesar 1,8 juta ton.

Masih tingginya impor beras itu, sambung dia, tentunya menjadi beban tersendiri karena kebijakan nasional pertanian Indonesia belum tepat sasaran. Peningkatan angka impor beras tersebut sangat berbeda dibanding data versi pemerintah sebab sifatnya lebih politis.

Tingginya angka impor beras tersebut dinilai karena pemerintah belum mampu membuat manajemen beras yang baik dan terintegrasi, kondisi itu diperparah dengan Kebijakan anggaran pertanian juga tidak mendukung.

"Pemerintah belum mampu mengintegrasikan kebijakan pertanian, misalnya pupuk untuk pertanian berada dibawah Kementerian Perindustrian, Irigasi dibawah Kementerian PU dan kebijakan lainnya," ujar dia.

Kebijakan yang tidak terintegrasi merupakan sumber kegagalan pemerintah dalam pembangunan pertanian. Selain itu, tantangan dihadapai pertanian Indonesia adalah anomali cuaca yang tidak menentu belakangan ini mengakibatkan produk pertanian merosot serta melonjaknya harga barang pertanian.(SI)

Berita Pertanian : Cabai Impor Mulai Masuk Jawa Barat

BANDUNG. Seiring melambungnya harga cabai di pasaran, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat mulai mendapatkan laporan masuknya cabai impor. Terakhir, Pemprov Jabar menerima informasi merembesnya cabai impor dari Thailand dan China di Pasar Caringin, Bandung, Jawa Barat.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Provinsi Jabar Ferri Sopwan di sela-sela Seminar Ekonomi Malaysia-Indonesia yang digelar Ikatan Setia Kawan Malaysia-Indonesia (ISWAMI) di Bandung, Jawa Barat, Jumat (28/1).

"Kalau banyaknya sih kita tidak ketahui. Tetapi kita mendapatkan informasi sekitar dua minggu lalu dari teman-teman Pasar Caringin. Di Pasar Caringin, sudah masuk cabai impor. Kita tidak bisa tahan itu, demand-nya tinggi," ujar Ferri.

Ia mengatakan dari sisi harga, cabai impor Thailand dan China relatif lebih murah ketimbang cabai lokal. Apabila cabai impor seharga Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram, cabai lokal bisa mencapai Rp70 ribu sampai Rp80 ribu.

"Jadi, beberapa pedagang itu mencampur cabai impor dan cabai lokal. Sehingga harganya bisa sampai Rp60 ribu per kg. Di bawah yang lokal," tutur Ferri.

Untuk itu, Ferri bekerja sama dengan dinas pertanian setempat menghimbau masyakart untuk menanam pohon cabai, terutama cabai rawit, di pot-pot rumah untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga, untuk situasi genting seperti ini tidak perlu ada produk impor yang masuk.

"Tetapi apa mau dikata, demand para pedagang dan rumah makan itu tetap tinggi untuk cabai," tukasnya. (media indonesia)

Berita Pertanian : Petani tidak Pedulikan HPP (Harga Pembelian Petani)

JAKARTA. Keputusan pemerintah yang tidak menaikkan harga pembelian petani (HPP) gabah dan beras disambut dingin kalangan petani. Mereka beranggapan keputusan itu menunjukkan pemerintah tidak pernah berniat memperbaiki nasib petani.

"Ada tidaknya HPP kami sudah tidak peduli karena selama ini berbagai kebijakan pemerintah berdampak positif terhadap petani. Bila gabah atau beras dikuasai pedagang itu hal wajar karena petani harus mencari sendiri cara untuk mensejahterakan diri," ujar Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan, Winarno Tohir, Jumat (28/1).

Menurutnya, anggapan pemerintah bahwa kenaikan HPP bisa berdampak turut menunjukkan orientasi pemerintah yang cenderung hanya peduli pada sektor makro dan mengingkari kondisi yang terjadi pada petani. "Inflasi selalu jadi hirauan meski sesungguhnya kenaikan HPP itu tidak akan otomatis menaikkan kesejahteraan petani karena harga-harga juga akan turut naik," ujarnya.

Karena itu, imbuhnya pemerintah harus bertanggung jawab bila pada akhirnya kontribusi dari beras hasil produksi petani tidak maksimal menyumbang terhadap ketahanan pangan.

"Kami harus realistis bila pedagang menawarkan harga yang lebih mahal, tentu akan kami jual ke pedagang. Bila setelah itu harga terus melonjak, jangan salahkan petani," ujarnya.

Ia memperkirakan, meski saat ini mulai memasuki masa panen yang akan mencapai puncaknya pada Maret mendatang, tidak akan membantu kecukupan stok beras nasional.

"Bahwa ada pengaruh perubahan iklim global harus disadari itu. Bila target pemerintah 70 juta ton beras untuk tahun ini ini terpenuhi, pertimbangkan juga pengaruh iklim ini. Produksi akan berkurang antara 5%-10% (3,5 juta-7 juta ton). Jangan cari pembenaran dengan menyebut panen petani gagal," pungkas Winarno. (media indonesia)

Berita Pertanian : Menkeu Terbitkan Aturan Penurunan BM Impor Pangan

Jakarta. Menteri Keuangan menerbitkan peraturan menteri yang menetapkan penurunan bea masuk impor produk dan bahan pangan, bahan baku pakan ternak serta pupuk hingga nol persen.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, di Jakarta Jumat menyebutkan, Menkeu menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.011/2011 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor.

"Ini menindaklanjuti instruksi presiden pada raker pelaksanaan pembangunan 2011 di Jakarta dan dalam rangka mengatasi dampak peningkatan harga pangan dan energi dunia," kata Bambang.

PMK tersebut berlaku sejak tanggal 24 Januari 2011 sampai dengan 31 Desember 2011 dan akan dievaluasi dua bulan sebelum jangka waktu berakhir. PMK ini merupakan perubahan kelima atas PMK Nomor 110/PMK.010/2006.

Perubahan tarif bea masuk dalam PMK Nomor 13/PMK.011/2011 dilakukan terhadap 57 pos tarif.

Pembahasan usulan perubahan tarif bea masuk dilakukan dengan melibatkan instansi-instansi teknis terkait yaitu Kementerian Koordinator Perekonomian, Kemenperin, Kementan, Kemendag, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kemenkeu.

Penurunan bea masuk atas impor biji gandum dilakukan untuk mengurangi dampak kenaikan harga biji gandum dunia.

Pengenaan bea masuk 5,0 persen terhadap impor biji gandum selama ini dinilai akan meningkatkan harga tepung gandum dan produk turunan tepung gandum.

"Peningkatan harga ini dikhawatirkan akan menurunkan daya beli masyarakat dan juga akan berdampa terhadap inflasi," kata Bambang.

Penurunan bea masuk kedelai dilakukan atas dasar belum terpenuhinya kebutuhan kedelai oleh petani dalam negeri. Padahal kedelai merupakan bahan baku untuk produk tahu dan tempe yang sebagian besar dilakukan industri kecil.

Sementara itu penurunan tarif bea masuk bahan baku pakan ternak dilakukan untuk meningkatkan efisiensi biaya produksi ternak, khususnya unggas.

Komponen biaya produksi ternak sebagian besar terdiri dari biaya untuk pakan ternak sehingga penurunan tarif bea masuk diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi yang akhirnya meningkatkan produksi ternak nasional.

"Upaya ini diharapkan juga mendorong peningkatan konsumsi daging unggas yang sebesar 4,8 kg/kapita/tahun yang masih jauh lebih rendah dibanding Malaysia sebesar 38 kg/kapita/tahun," kata Bambang.

Sedangkan penurunan tarif bea masuk produk pupuk karena pupuk merupakan salah satu komponen penting yang digunakan dalam pertanian.

Sampai saat ini, beberapa produk pupuk masih harus diimpor, seperti kalium dan phospat. Karena itu, penurunan tarif bea masuk pupuk merupakan upaya untuk mendukung peningkatan produksi bahan pangan.

Pada Desember 2010, Menkeu juga menerbitkan PMK Nomor 241/PMK.011/2010 tentang penetapan sistem klasifikasi barang dan pembebanan tarif bea masuk atas barang impor (perubahan keempat atas PMK Nomor 110/PMK.010/2006).

PMK ini mengubah 2.165 pos tarif dari 8.751 pos tarif untuk produk-produk pertanian, perikanan, farmasi, industri manufaktur, industri agro, industri berbasis teknologi tinggi dan industri kecil dan menengah.

Rinciannya sebanyak 1.248 pos tarif akan dinaikkan sementara 917 pos tarif akan diturunkan. Termasuk yang diturunkan adalah beras hingga Rp0 per kg.

Pembebanan tarif bea masuk untuk beras itu terhitung sejak 22 Desember 2010 hingga 31 Maret 2011. (antara)

Selasa, 25 Januari 2011

Berita Pertanian : Menko Perekonomian Dukung Petani Gagal Panen Dapat Asuransi

Jakarta. Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan, rencana pemberian asuransi bagi petani yang gagal panen merupakan ide yang baik. Namun, itu harus di­lakukan perhitungan kembali.

“Itu ide bagus tapi harus dihi­tung lagi karena sekarang juga pemerintah akan membantu pe­tani kok,” ujar Hatta di kan­tornya, kemarin.

Bantuan yang diberikan peme­rintah itu, kata dia, bisa melalui asuransi atau bantuan langsung kepada yang mengalami gagal panen. Yang jelas, pemerintah tetap akan memberikan bantuan bibit dan pupuk. Itu untuk me­ngurangi beban petani yang mengalami gagal panen.

Hatta mengatakan, peme­rin­tah sudah mencadangkan 2 juta hek­tar untuk lahan pangan. Un­tuk jangka menengahnya, pe­me­rin­tah akan memikirkan apa­kah Ba­dan Usaha Milik Negara (BUMN) akan bekerja sama dengan swasta atau menyatukan Ba­dan Usaha Mi­lik Daerah (BUMD) dengan BUMN.

Ditanya apakah pemerintah akan membuat BUMN pangan seperti yang diusulkan DPR, Hatta mengungkapkan, peme­rintah sudah mempunyai BUMN pangan seperti Sang Hyang Sri terkait bibit. Selain itu, juga ada BUMN pupuk.

Meski begitu, dia mengakui pemerintah belum mempunyai BUMN pangan khusus untuk menanam padi. “Tapi jangan kira PT Perkebunan Nusantara (PT­PN) tidak terkait pangan, ada juga,” ungkapnya.

Menurut Hatta, sebelum mem­buat BUMN baru, pemerintah akan melihat dulu kerja sama swasta dan BUMN. Selain itu, pemerintah juga akan mem­per­kuat stok dan ca­dangan daerah.

“Jadi, beri kepercayaan daerah kembangkan ketahanan pangan masing-masing. Kalau ketahanan pangan daerah kuat, maka agre­gat nasional kuat,” jelasnya.

Ketua Umum PAN ini ber­ha­rap, jangan semua masalah di­sen­tralistik dianggap tidak baik. Makanya, untuk mengatasi pa­ngan daerah harus dikuatkan. “Trans­fer dana ke daerah terkait pangan sedang disusun usulan,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Hatta, peme­rintah menyiapkan dua Instruksi Presiden (Inpres). Pertama, untuk ansipasi perubahan iklim dan kedua, terkait pasokan pupuk.

Terkait Harga Pembelian Pe­merintah (HPP), pemerintah su­dah melakukan pembenahan ra­faksi (pemotongan harga ba­rang), sehingga Perum Bulog bi­sa mem­beli dalam kualitas ber­bagai ma­cam barang dan harga.

Meski begitu, dia meminta Bulog tidak berhenti pada pem­belian beras dan gabah saja. Jika ada selisih, pemerintah bisa saja memberikan insentif karena punya dananya.

Hatta menegaskan, tidak akan ada HPP baru. Tapi, tetap me­miliki fleksibilitas untuk mem­beli harga di atas itu.

Bekas anggota DPR ini menga­takan, pemerintah tidak akan mengeluarkan Inpres baru untuk itu. Sebab, dalam Inpres yang lama sudah diberikan kewe­nangan melakukan penyesuaian di luar ketentuan itu.

“Kita lakukan koordinasi tiap minggu, kita lihat Bulog. Pem­beliannya itu seperti apa, karena kita ingin melindungi petani,” paparnya.

Hatta mengatakan, kenapa ke­bijakan ini tidak dilakukan tahun lalu, karena Bulog takut membeli di atas HPP akan me­lang­gar In­pres. Makanya, ke depan harga akan mengikuti kualitas.

Sebab itu, Bulog sekarang me­miliki 4 daftar kualitas harga. Ada kemungkinan kualitas padi m­e­nurun pada saat musim kemarau.

Hatta menambahkan, jumlah stok beras per Maret 2011 sudah mencapi 1 jutaan, karena beras im­pornya masuk. “Sementara kita sudah tidak mengimpor lagi karena melihat perkembangan aram (angka ra­ma­lan). Akan tetapi kita memiliki komitmen G to G (Government to Govern­ment) dengan negara-negara pengekspor,” tan­dasnya. (RM)

Berita Pertanian : Penghapusan BM Impor Pangan Kebijakan Panik

Penghapusan BM Impor Pangan Kebijakan Panik

KEBIJAKAN menghapuskan bea masuk (BM) komoditi pangan dinilai tidak akan menyelesaikan masalah kenaikan harga pangan. Pasalnya, dengan penghapusan bea masuk itu, pemerintah bakal melakukan impor pangan yang bisa merugikan petani.

Ketua Komisi VI DPR Air­langga Hartato menilai, peng­hapusan bea masuk impor ko­mo­diti pangan hanya bertujuan un­tuk menekan laju inflasi. Pa­da­hal, langkah itu tidak akan menye­le­saikan masalah krisis pangan.

“Bentar-bentar impor. Emang­nya impor jalan keluar yang ter­baik,” sindir Airlangga yang di­sampaikan di DPR, kemarin.

Menurut dia, pemerintah seka­rang panik karena terus me­lon­jak­nya harga pangan akan ber­dam­pak laju inflasi. Sementara, inflasi karena pangan tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia.

Sayangnya, pemerintah me­nilai dengan menghapuskan BM dan penguatan rupiah serta in­terest (bunga) akan me­nor­mal­kan harga dan menekan laju in­flasi. Padahal, langkah tersebut akan menghancurkan ekonomi riil.

Politisi Partai Golkar ini me­ngatakan, yang seharusnya dila­kukan pemerintah adalah mem­perbaiki suplai pangan, bukan meng­hapus BM pangan. Dengan memperbaiki suplai, pe­merintah dapat menurunkan harga dan membantu ekonomi riil.

“Saya melihat kebijakan pe­merintah sekarang ujungnya se­lesai dengan impor. Mereka ber­pikir pada saat kita meng­impor barang per­soalan inflasi selesai, namun daya saing juga selesai,” sentilnya.

Airlangga menegaskan, seha­rusnya pemerintah membantu sek­tor riil, bukannya mem­bu­nuh­nya dengan melakukan impor. Selain itu, langkah pemerintah menghapuskan BM untuk me­ning­katkan stok pangan akan terkendala. Sebab, negara-ne­gara sumber pangan juga terkena kri­sis dan tidak menye­diakan ba­han untuk diekspor.

“Contohnya Thailand, mereka juga mengalami krisis pangan sehingga mengurangi ekspor berasnya,” katanya.

Untuk meng­atasi persoalan pa­ngan ini, lanjut Airlangga, cara­nya dengan meningkatkan pro­duksi. Misalnya membuka lahan baru untuk pertanian dan me­ngem­bangkan infrastruktur pertanian.

“Jika hanya fokus ke impor ti­dak akan selesai. Sebab, jumlah de­mand pangan ke depan akan te­rus naik mengikuti per­tum­buhan jumlah penduduk,” jelasnya.

Anggota Komisi VI DPR Nas­ril Bahar juga mengingatkan, jangan sampai kebijakan peng­hapusan BM impor komoditi pa­ngan yang diterapkan justru berdampak pada berkurangnya petani melakukan penanaman be­rikutnya. Ini sebagai akibat dari kompetisi harga antara barang impor dan produksi lokal.

Menurut dia, yang perlu diper­tanyakan adalah siapa yang di­un­tungkan atas penghapusan BM impor ini, apakah petani, importir atau masyarakat. Sebab itu, pe­merintah harus transparan berapa defisit pangan Indonesia. “Bera­pakah kekurangan dari cadangan pangan kita. Ini harus jelas,” ujar Nasril.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pengha­pusan BM pangan sudah diputus­kan dan sekarang ada di Kemen­terian Keuangan (Ke­menkeu) tinggal masalah ad­ministratif

Menurut Hatta, ada sekitar 59 komoditi pangan yang diha­pus­kan BM-nya. Sementara, untuk beras penerapan BM nol persen hanya diberlakukan sam­pai Ma­ret atau April 2011.

“Kalau selesai semua di Maret, ya Maret selesai,” ujar Hatta di kantornya, kemarin.

Hatta menegaskan, pemerintah mengambil keputusan impor pa­ngan jika keadaan pangan dalam negeri tidak me­mung­kinkan. Jadi, bukan berarti pe­me­rintah akan impor terus. “Peme­rintah ingin har­ga pangan stabil dan inflasi ter­kendali,” ujar Hatta.

Selain itu, pihaknya juga akan menyelesaikan program food estate. Untuk bentuknya adalah kawasan pertanian. Selain itu, juga akan ada pembangunan in­dustri penunjangnya

Sebelumnya, Menteri Per­da­gangan Mari Elka Pengestu me­ngatakan, pemerintah sepakat menghapuskan BM 59 ko­moditi pangan untuk menjaga ke­tahanan pangan dan lonjakan harga pa­ngan. 59 pos tarif itu mencakup kelom­pok komoditi pangan gan­dum, kedelai, bahan pakan ternak dan bahan pupuk.(RM)

Bisnis Anggrek Tak Lekang Oleh Zaman




Bisnis tanaman hias tak ubahnya seperti tren mode. Pada saat jenis mode tertentu ngetren, saat itulah banyak peminatnya. Namun tak demikian dengan anggrek. Budidaya anggrek tidak pernah sepi. Tidak mengenal tren, seperti tanaman hias lainnya. Walaupun hanya datar-datar saja, namun bisnis anggrek tetap hidup dan tumbuh sepanjang masa.

Siapa yang tidak mengenal anggrek? Variasi bunganya bermacam-macam dan sosoknya cantik mempesona siapa saja yang melihatnya. Eksistensinya sebagai tanaman hias di Indonesia sudah cukup lama. Itu karena tanaman anggrek sudah dikenal, kira-kira sejak 200 tahun lalu dan sejak 50-an tahun terakhir mulai dibudidayakan secara luas.

I Komang Jhon Sanjaya, salah seorang penghobi anggrek asal Gianyar, Bali menyebutkan, selama ini anggrek memiliki pasar stabil dan harganya juga terus naik. Hanya saja memang sama halnya seperti tanaman hias jenis lainnya, harga tergantung dari spesies dan jenis anggrek.

Secara umum, kata Jhon , Indonesia merupakan habitat asli sekitar 6.000 spesies dari total 26 ribu spesies anggrek yang ada di dunia. Berarti spesies anggrek di Indonesia mencapai hampir 25 persen dari jumlah spesies di dunia. Hanya saja, dalam berproduksi dan berbisnis, di Indonesia masih kalah dengan negara Asia lainnya yang sudah banyak mendatangkan devisa dari anggrek.

“Secara umum, di Indonesia tanaman anggrek banyak terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera, Papua dan Bali . Namun, sampai saat ini hampir sekitar 80 persen lebih petani anggrek di Indonesia masih ketergantungan dengan bibit impor untuk pembudidayaannya,” tutur Jhon.

Menurut Jhon, itu adalah akibat dari belum adanya perhatian pemerintah dalam pengembangan kultur jaringan untuk mendapatkan jenis anggrek baru dengan warna yang menarik dibandingkan impor. “Padahal, pengembangan tanaman anggrek merupakan peluang bisnis yang besar, karena harga di pasaran tidak pernah anjlok seperti tanaman hias lainnya,” katanya.

Dia lantas mengungkapkan, bibit anggrek yang diimpor penghobi Indonesia adalah spesies anggrek asli Indonesia yang dikembangkan secara profesional dan besar-besaran di negara lain. Thailand, kata John, mengembangkan anggrek melalui sistem kultur jaringan, sehingga mampu menghasilkan anggrek yang bersifat identik dengan induknya.

Karena itu, lanjut Jhon, pembudidaya anggrek di Thailand mampu memenuhi permintan anggrek dengan berbagai macam warna dan bentuk sesuai pesanan konsumen. “Nah, bibit (dari Thailand) itulah yang kemudian dikembangkan oleh pengusaha anggrek di Indonesia,” bebernya.

Usaha Turun Temurun

Seperti kata Jhon, anggrek memang berbeda dibanding tanaman hias jenis lainnya. Harga anggrek di pasaran tak pernah anjlok, sehingga bisnis tanaman hias jenis ini mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama.

Hal itu mendapat pengakuan dari Johan, pengelola sekaligus pemilik kios anggrek Sanggrila di lantai I Pasar Petisah, Medan, Sumatera Utara. Pemuda berusia 27 tahun itu mengatakan, bisnis yang dia kelola itu sudah berjalan hampir 30 tahun lebih, melampaui usianya sendiri, namun hingga kini tetap stabil.

Johan mengungkapkan, bisnis anggreknya itu merupakan bisnis keluarga yang dirintis ayahnya, Ahok, sejak tahun 1980-an. Berawal dari hobi, Ahok menjajal usaha di bidang anggrek dengan membiakkan bibit puluhan jenis anggrek yang dia beli dari Jakarta, di atas lahan seluas 500 m2, di pekarangan rumahnya

“Kebanyakan bibit anggrek tersebut merupakan bibit anggrek impor dari Bangkok yang masuk ke Indonesia melalui agen di Jakarta, lalu dibiakkan bapak sampai akhirnya berhasil begini,” ujar Johan.

Memang tidak mudah, menjalankan bisnis anggrek. Di saat-saat awal merintis usaha itu, Ahok harus banting tulang memasarkan hasil kebunnya tersebut, dari rumah ke rumah. Namun kini, usaha keluarga itu telah memiliki dua outlet anggrek, satu di Pasar Petisah dan satu lagi di samping rumah tinggal mereka di daerah Skip Ujung, Sambu Baru, Medan.

“Sejak usaha ini dijalankan orangtua saya, perkembangannya meski tidak drastis yang pasti tidak pernah menurun. Bisa dikatakan bisnis anggrek tidak akan pernah mati selagi dikelola dengan profesional,” ujar Johan meski tak mau mengungkapkan, berapa kisaran pendapatan keluarganya dari usaha itu.

Anak kedua dari empat bersaudara keturunan Ahok itu mengatakan, selama ini hasil kebun anggrek mereka banyak diserap pasar di Aceh dan Pekanbaru. Mereka juga memasok pasar tanaman hias di beberapa daerah di Sumatera seperti Padang dan Lampung.

Bicara soal omzet, Johan mengakui bahwa harga bunga anggrek tidak pernah melambung tinggi seperti usaha lainnya. Harga tergolong netral sehingga tidak ada musim untuk memetik keuntungan lebih pada musim-musim tertentu. Meskipun diakuinya, jumlah penjualan bisa lebih meningkat pada musim-musim lebaran dan tahun baru.

Untuk harga juga cukup bervariasi, beda jenis beda harga. Untuk anggrek Dendrobium biasa dijual dengan seharga Rp 30.000 per batang. Anggrek lokal dijual dijual dengan kisaran Rp 50.000 per batang, anggrek impor Rp 70.000 per batang, dan anggrek jenis Cattleya Rp 120.000 per batang. Sedangkan untuk anggrek jenis Vanda dijual dengan kisaran Rp 130.000-Rp 150.000 per batang.

Peluang Ekspor

Prospek bisnis anggrek tak hanya cerah di pasar domestik, peluang anggrek Indonesia di pasar lura negeri cukup benderang. Minat masyarakat Jepang akan tanaman anggrek Indonesia meningkat setiap tahun.

Tahun 2010 lalu, permintaan dari negeri para Samurai itu meningkat sampai 30% dari tahun 2009. Pertumbuhan angka ekspor anggrek dari Indonesia ke Jepang antara 2009-2010 tersebut, lebih tinggi dibanding antara 2008-2009 yang hanya sekitar 15%.

Para penggemar anggrek asal Jepang menyukai anggrek Indonesia karena lebih bervariasi dan tahan lama. Anggrek incaran mereka adalah jenis Dendrobium yang menyokong 34% total ekspor anggrek ke Jepang, Oncidium Golden Shower (26%), Cattleya (20%), Vanda (17%), serta anggrek lainnya (3%).

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Anggrek dan Tanaman Hias Indonesia (Aspathias), Enny Boediardjo, menyatakan, tahun 2009, ekspor anggrek mencapai 1,08 juta kilogram dengan nilai mencapai USD 27 juta atau sekitar Rp 243 miliar.

Nilai total ekspor anggrek pada 2009 itu, meningkat sekitar 10% pada 2010. Sementara ekspor anggrek Indonesia ke Jepang, rata-rata mencapai sekitar 107.760-107.800 kg atau senilai USD 2,5 juta (lebih kurang Rp 22,5 miliar) per tahun.

Selain Jepang, tujuan ekspor lainnya adalah Taiwan 250.916 kg, Belanda 14.167 kg, dan Singapura 18.170 kg. Permintaan juga datang dari Korea Selatan, Pakistan, Hong Kong, Amerika Serikat, dan India.

Ekspor anggrek Indonesia dilakukan dalam tiga jenis, yakni benih, tanaman dan bunga potong. “Anggrek kita diminati karena Indonesia memiliki sepertiga jenis anggrek dunia,” terang Enny, September tahun lalu. Menurut Enny, saat ini di Indonesia hidup sekitar 4.000 jenis anggrek. Salah satu yang terpopuler adalah jenis Dendrobium. Pada krisis keuangan 2008, bisnis anggrek sempat goyah. Pasalnya, daya beli turun sehingga permintaan dunia juga merosot tajam. Tapi, kini permintaan mulai pulih.

Haryadi, salah satu pengusaha anggrek yang membuka toko di Sentra Taman Anggrek Ragunan (TAR) membenarkan cerita Enny. Pengusaha yang juga petani anggrek ini menuturkan, dari satu hektare produksi tanaman anggreknya, sekitar 45% di ekspor ke Jepang dan Singapura. Sedang sisanya dijual di Ragunan.

Dia juga menyatakan, kendati jumlahnya tidak banyak, terjadi peningkatan permintaan anggrek setiap tahun. “Setiap tahun langganan saya pasar Jepang. Bahkan tahun ini saya dan pengusaha anggrek di sini akan berekspansi ke Belanda,” katanya. Sejauh ini, anggrek milik Haryadi yang paling diminati adalah jenis Vanda Douglas. ins


Analisa Usaha Anggrek

Analisa usaha tani bibit anggrek botolan hasil perbanyakan secara generatif di laboratorium dihitung berdasarkan asumsi:

- Harga autoklaf dan peralatan laboratorium adalah Rp 15.000.000, dengan masa pakai 5 tahun.

- Harga entkast kayu Rp 1.000.000 dengan masa pakai selama 5 tahun.

- Harga 10 tanaman induk @ Rp 200.000: Rp 2.000.000, dengan masa produksi 5 tahun.

- Satu kali produksi (1 tahun) menghasilkan 5000 botol dengan harga Rp 25.000/botol.

- Harga berlaku di DKI Jakarta tahun 2005.

1. Biaya

a. Biaya tetap

- Sewa laboratorium dan rak selama 1 tahun: Rp 2.400.000

- Penyusutan autoklaf dan peralatan laboratorium: Rp 600.000

- Penyusutan Laminair air flow cabinet: Rp 500.000

- Penyusutan tanaman induk: Rp 200.000

- Tenaga pembibit 1 orang @ Rp 2.000.000/bln: Rp 24.000.000

- Tenaga kerja laboratorium 2 orang @ Rp 500.000/bl: Rp 12.000.000

- Biaya tidak terduga: Rp 2.000.000

Total Biaya tetap: Rp 41.700.000

b. Biaya tidak tetap

- 6.000 botol kosong @ Rp 1000: Rp 6.000.000

- Media dan kemikalia (36 x Rp 2.00.000): Rp 7.200.000

Total Biaya Tidak tetap: Rp 13.200.000

Total Biaya = Biaya tetap + biaya tidak tetap

= 41.700.000 + Rp 13.200.000

= Rp 54.900.000

2. Perhitungan Keuntungan

a. Pendapatan

Pendapatan diperoleh dari produksi bibit botolan sebanyak 5.000 botol x Rp 25.000: Rp 125.000.000

b. Keuntungan = Pendapatan - Total biaya

= Rp 125.000.000 - Rp 54.900.000

= Rp 70.100.000/tahun

= Rp 5.841.000/bulan

3. Kelayakan usaha

BEP = total biaya 54.900.000 : total produksi 5.0000 = 10.980

sumber: Yuni Astuti, Staf Pengajar Fak. Manajemen Agribisnis UMB

Berita Pertanian : Kembang Ubah Kulit Jagung Jadi Souvenir Menarik

Lubuk Pakam. Sebagian besar masyarakat kita sepertinya belum memanfaatkan keberadaan kulit jagung. Setiap musim panen tiba, kebanyakan para petani membuang kulit jagungnya begitu saja, meski ada juga yang menjadikannya sebagai pakan ternak.Tapi tetap saja banyak kulit jagung yang terbuang percuma.

Namun tidak demikian halnya dengan Kembang. Wanita berusia 33 tahun ini justru menjadikan kulit jagung sebagai sumber penghasilan yang luar biasa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Di tangan Kembang kulit jagung merupakan bahan baku kerajinan tangan untuk dijadikan berbagai souvenir maupun aksesoris berupa bross, jepit rambut, kerabu, bunga tangkai, bunga ranting dan kotak antaran untuk pertunangan/perkawinan.

Selain itu, wanita bertubuh padat yang mengerjakan seluruh kerajinan tangan di rumahnya Jalan Pembangunan II Desa Sekip Lubukpakam ini juga menerima pesanan kotak sarung tenunan,bahan baju dan dasi. Hanya saja, karena masih kekurangan modal, kerajinan yang baru dimulai tiga tahun ini masih belum mampu mengembangkan usahanya lebih besar lagi, sehingga kerajinan tangan itu baru dikerjakan jika ada pesanan.

Maka tidak heran jika ada konsumen yang ingin membeli aksesoris dengan jumlah besar harus di pesan minimal satu bulan sebelumnya. “Membuat berbagai aksesoris kan cukup rumit, sehingga membutuhkan kesabaran dan ketelitian agar hasilnya lebih baik. Jadi kalau saya punya tambahan modal, saya bisa stok barang, termasuk menambah tenaga kerja,” kata wanita yang masih single ini, Selasa (25/1).

Hal itu diungkapkannya ketika Kepala Dinas Koperasi dan UKM Deliserdang Hj Syarifah Alwiyah menyambangi rumahnya. Kembang jugamengatakan ingin mendirikan galery kecil yang sudah lama didambakannya.

Kata Kembang, permintaan kerajinan tangan hasil karyanya itu bukan saja datang dari Deliserdang dan Medan saja tapi juga sampai ke Tapanuli Selatan. Banyaknya pemintaan itu, menurut Kembang, karena hasil kerajinan tangannya jauh lebih indah dan cerah dibandingkan dari Pulau Jawa yang warnanya agak kusam.

Biasanya, permintaan aksesoris mengalami peningkatan mulai bulan Maret hingga menjelang bulan Ramadhan. Sementara kotak sarung tenun, bahan baju dan kotak dasi mengalami permintaan yang cukup pesat awal Januari sampai dengan Desember.

“Saya juga sudah ikut berbagai pameran baik di tingkat Deliserdang maupun Sumatera Utara. Baru-baru ini juga Ketua Dekransda Deliserdang Ibu Hj Anita Amri Tambunan telah memberikan bantuan alat cetak, sehingga mempermudah saya menentukan bentuk aksesoris,” paparnya ramah.

Menyangkut bahan baku kulit jagung, Kembang mengaku tidak mendapat kesulitan karena dimana ada petani yang panen jagung ia langsung turun ke lokasi. Malah saat ini ia telah memiliki stok untuk satu tahun.

Terhadap harga, ia mengatakan bervariasi tergantung bentuk dan ukurannya. Untuk bross besar Rp 10.000 per piece,sedang Rp 8.000 dan kecil Rp 5.000, jepit rambut Rp 13.000, bunga tangkai Rp 8.000 dan bunga tangkai ranting Rp 10.000 per piece.

Dikatakan, proses pemutihan dan pengeringan daun jagung memerlukan waktu dua hari sedangkan sampai proses pembuatan memakan waktu satu minggu. Kembang juga mempraktikkan cara pembuatan bunga dari kulit jagung. Namun ketika ditanya penghasilannya perbulan, Kembang hanya melempar senyum tanpa mau membeberkannya. “Pokoknya cukuplah untuk kebutuhan hidup,” ucapnya.

Menanggapi masalah permodalan, Hj Syarifah menyebutkan kalau pihaknya sudah memfasilitasi untuk mendapat batuan modal bina lingkungan dari Jamsostek di Kecamatan Tanjungmorawa. “Proposalnya sudah kita layangkan dan saat ini sedang di proses. Kita juga berharap dalam waktu dekat ini bantuan itu sudah bisa cair,” katanya. (antara)

Berita Pertanian : Pemerintah Ganti 4.007 Sapi Korban Merapi

Yogyakarta. Pemerintah telah mengganti sebanyak 4.007 ekor sapi korban bencana erupsi Gunung Merapi di empat kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

"Realisasi alokasi dana yang dikucurkan pemerintah untuk penggantian ternak sapi korban erupsi Merapi sebanyak itu mencapai Rp35,9 miliar," kata Koordinator Tim Identifikasi Penanganan Ternak Korban Merapi Ida Tjahajati di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, alokasi dana tersebut telah didistribusikan ke empat kabupaten, yakni Kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Magelang (Jawa Tengah).

"Dana itu membengkak Rp10 miliar dari jumlah yang telah disiapkan sebelumnya sekitar Rp25,5 miliar untuk 3.000 ekor sapi. Di lapangan ditemukan banyak sapi yang mati, sehingga jumlahnya meningkat menjadi 4.007 ekor sapi," katanya.

Ia mengatakan sapi yang mati tidak diganti dengan uang, tetapi dengan sapi hidup yang telah dibeli dengan dana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Dana tersebut diambil dari dana BNPB yang sebelumnya dialokasikan untuk pembelian sapi hidup sebesar Rp100 miliar," kata Direktur Rumah Sakit Hewan (RSH) Prof Soeparwi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Namun, menurut dia, dana sebesar itu tidak terserap seluruhnya karena peternak kebanyakan tidak menjual sapinya, karena daerah tempat tinggal mereka sudah dalam kondisi aman dari bahaya erupsi Merapi.

"Selain wilayah sudah aman, juga karena sapi-sapi mereka sehat setelah ditangani tim `task force` penanganan ternak korban erupsi Merapi yang telah dibentuk oleh Kementerian Pertanian dan didukung tim kesehatan Posko Medik Veteriner RSH Prof Soeparwi," katanya.

Ia mengatakan dari dana Rp100 miliar yang disiapkan pemerintah tersebut, sampai saat ini hanya digunakan sekitar Rp35,9 miliar untuk alokasi pembelian sapi hidup dan penggantian sapi yang mati.

"Alokasi dana pemerintah untuk pembelian sapi hidup yang disiapkan sebesar Rp100 miliar, ternyata hingga kini hanya digunakan Rp35,9 miliar," katanya. (antara)

Berita Pertanian : PDIP Tekankan Pentingnya Pembangunan Desa

JAKARTA. Indonesia membutuhkan model pembangunan baru untuk mengurangi ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial, sekaligus mewujudkan pemerataan pembangunan. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melihat model pembangunan desa sebagai hal tepat dan basis utama dalam pembangunan bangsa.

Model pembangunan yang pas untuk Indonesia harus bersifat dari bawah ke atas (bottom Up) sehingga keberagaman kekayaan bangsa dapat dikelola secara maksimal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dengan membuka ruang partisipasi publik seluas-luasnya, tidak sebagai obyek pembangunan, tapi juga subyek utama pelaku pembangunan.

"Kepala desa adalah sebagai ujung tombak pembangunan nasional. PDIP melihat pentingnya pemahaman bahwa pembangunan desa itu penting. Kalau semua permasalahan diselesaikan secara serius di desa-desa, niscaya tidak akan ada masalah di tingkat nasional," tegas Ketua DPP PDIP Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah Komarudin Watubun, saat memberikan sambutan dalam pelantikan Departemen Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah PDIP, Selasa (25/1).

Agar model pembangunan berbasis desa tersebut dapat berjalan secara optimal, PDIP akan memperjuangkan undang-undang tentang pemerintahan desa sebagai payung hukum untuk memperkuat posisi desa dalam sistem penyelenggaraan negara. (media indonesia)

Berita Pertanian : Budidaya Jamur Merang Kardus Prospektif

Cirebon. Budidaya jamur merang menggunakan media kardus sangat prospektif karena permintaan di pasar cukup besar, sementara petani yang menekuni bisnis tersebut sangat sedikit, kata pengurus Kelompok Tani Nelayan Andalan Kota Cirebon Abdurrahman Fatahilah.
"Karena itu, pihaknya secara terus-menerus menyediakan waktu bagi petani yang hendak mengikuti pelatihan dengan materi cara-cara bercocok tanam jamur dengan media kardus," katanya di Cirebon, Senin (24/1).

Saat ini tidak kurang dari 700 alumni pelatihan jamur kardus dari seluruh Indonesia. "Alumni yang tekun biasanya akan terus mengusahakan jamur merang kardus tersebut dengan bukti mereka meminta bibit kepada kami," katanya.

Pelatihan itu sendiri dipatok dengan harga Rp300 ribu/orang dalam satu hari. "Meteri satu hari sebenarnya sudah bisa untuk menjadi petani jamur," katanya.

Ada juga paket mingguan dengan harga Rp1,5 juta untuk lima hari, katanya. Salah seorang petani jamur asal Sumedang Januar mengatakan, kendala utama adalah biaya yang tergolong besar dan budidya jamur tidak bisa sekali jadi.

Januar, yang mengaku sudah setahun menekuni budaya jamur merang menggunakan kardus mengatakan modal pertama adalah membuat "kumbung" atau tempat khusus budidaya jamur.

Biaya satu "kumbung" ukuran dua kali empat meter persegi sekitar Rp10 juta termasuk membeli media kardus 80 kilogram dan bibit sekitar 16 botol plastik.

Tetapi dalam 40 hari bisa menghasilkan antara 48 hingga 56 kilogram jamur. "Dengan harga jamur Rp15.000 per kilogram, maka akan dihasilkan sekitar R750 ribu hingga Rp840 ribu sekali panen," katanya.

Ia terus menekuni budidaya jamur setelah mendapat bimbingan dari salah seorang yang menemukan dan mengembangkan jamur merang dengan media kardus dari Cirebon yakni Enjo Suharjo.

"Saya akan terus mengembangkan jamur merang tersebut karena di Sumedang permintaan cukup besar yakni sekitar satu kuintal per hari, sedangkan saya baru bisa memasok antara 10 dan 15 kilogram," tambahnya. (antara)

Berita Pertanian : Cabai China Pun Menyerbu Indonesia


JAKARTA. Sudah dua pekan terakhir cabai rawit merah impor dari China dan Thailand menyerbu pasar Jakarta dan sekitarnya. Para pedagang mencampur rawit impor yang harganya lebih murah dengan rawit lokal untuk menekan harga cabai, yang di pasar Depok mencapai Rp 120.000 per kilogram.

Rum (50), Nuryanto (28), Rudy (29), dan Totok (25), pedagang yang ditemui di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (24/1/2011), mengatakan, serbuan rawit impor ke pasar induk sudah berlangsung sejak dua pekan lalu.

Menurut mereka, harga rawit merah dari Thailand yang berukuran kecil Rp 55.000 per kg, sedangkan yang lebih besar Rp 40.000-Rp 45.000 per kg. Para pedagang cabai yang membeli rawit dari para pedagang besar di pasar induk mencampur rawit Thailand dengan rawit merah lokal yang harganya masih Rp 90.000 per kg. Dengan demikian, harga jual rawit merah oplosan di tingkat konsumen bisa ditekan.

Rudy dan Rum mengatakan, konsumen paling menggemari rawit merah lokal. Mereka lebih baik tidak makan rawit kalau rawitnya dari jenis lain, seperti rawit hijau dan rawit putih. Itu sebabnya, sejak harga rawit merah melambung, pasar rawit dari semua jenis melemah.

Untuk membangkitkan pasar rawit, para pedagang menengah dan pengecer kemudian mencampur rawit merah lokal dengan rawit merah Thailand yang berukuran kecil.

”Itu sebabnya, rawit caplak (rawit merah Thailand) yang kecil lebih mahal harganya daripada rawit caplak yang besar. Rawit caplak yang besar tidak bisa disamar dalam rawit merah campuran, sedangkan rawit caplak yang kecil bisa,” ujar Rudy.

Pedagang pengecer, Herianto (42), mengaku menjual rawit merah campuran seharga Rp 85.000 per kg. ”Saat ini jauh lebih menguntungkan berdagang rawit merah campuran,” katanya.

Pedagang cabai di Pasar Cengkareng, Jakarta Barat, Sumiyatun, mengatakan, rawit merah China dijual Rp 60.000 per kg, sedangkan rawit merah lokal dijual Rp 80.000 per kg.

Di Pasar Kramat Jati, rawit hijau dari Wonosobo, Jawa Tengah, dijual Rp 35.000 per kg, sementara rawit putih (rawit berwarna krem kekuningan) dijual Rp 37.000 per kg.

Masih tinggi

Di Depok, kemarin, harga rawit merah mencapai Rp 120.000 per kg. Berdasarkan pengamatan Kompas, bentuk rawit merah ini sama dengan rawit merah Thailand dan China. Saat ditanya mengenai kemungkinan ini, para pedagang menjawab tak tahu. Meski demikian, mereka memastikan bahwa rawit merah itu produksi tanaman lokal.

Harga cabai rawit merah di Depok pada tiga hari sebelumnya masih mencapai Rp 90.000 per kg. Para pedagang pengecer tidak tahu apa pemicunya sehingga harga cabai rawit merah kembali melambung.

”Saya terpaksa menjual dengan harga ini karena harga dari bandar Rp 110.000 per kg,” tutur Wiji (38), pedagang bumbu di Pasar Depok Jaya, Kota Depok, Jawa Barat, Senin.

Menurut Wiji, rawit merah yang dia jual itu kualitas super sehingga harganya tinggi. Hal itulah yang membuat Wiji tak berani menjual bahan pokok tersebut dalam jumlah besar. Dalam sehari dia hanya berani menjual 1 kilogram rawit merah.

Hanya berjarak kurang dari 1 kilometer, di Pasar Kemiri Muka, Depok, Senin sore, harga cabai rawit merah Rp 100.000 per kg. Pedagang Pasar Kemiri Muka, Anis (50), yang menjual 3 kg cabai rawit merah, mengaku, cabai yang dia jual dari kemarin belum juga habis.

Anis menjual rawit yang berbeda jenis dengan pedagang lain, tetapi harganya sama dengan harga cabai rawit merah. ”Saya tidak tahu ini cabai dari mana. Saya beli di sini (Pasar Kemiri Muka) dari bandar dan saya jual di sini juga,” kata Anis.

Harga rawit merah lokal di Pasar Cengkareng masih berkisar Rp 80.000 per kg. Adapun cabai merah keriting dijual Rp 50.000 per kg, turun dari semula Rp 58.000 per kg. (kompas)

Agar Gula Darah Tetap Stabil

Para penderita penyakit diabetes mellitus usia lanjut harus menerima kenyataan pahit. Saat usianya sudah uzur dan hidup dalam serba keterbatasan, mereka masih harus mengatur pola hidupnya.

Masalahnya, mengubah kebiasaan atau rutinitas yang telah dilakukannya selama masa produktif, jelas bukan pekerjaan mudah. Tapi, demi kelangsungan hidup yang lebih baik, para penderita diabetes mellitus usia lanjut harus bisa melakukannya.

Berikut ini ada sejumlah pilar yang perlu diperhatikan para penderita diabetes mellitus dan kerabatnya. Pertama, rajin mengikuti penyuluhan. Penyuluhan ini tidak hanya ditujukan kepada penderita saja, melainkan pendamping hingga anggota keluarga.

Penyuluhan dapat diberikan oleh dokter, perawat, ahli gizi, serta pekerja sosial yang berinteraksi dengan penderita diabetes mellitus tipe 2. Selain pola hidup sehat, materi penyuluhan juga menyajikan teknik berkomunikasi dengan para penderita usia lanjut.

Tentu, berkomunikasi dengan pasien berusia uzur harus penuh kesabaran. "Pendekatan dengan pasien lansia tak mudah, apalagi bagi mereka penderita diabetes yang sudah ada gangguan kognitif," terang Mulyadi Tedjapranata, Direktur Klinik Medizone.

Salah satu cars efektif berkomunikasi dengan lansia penderita diabetes mellitus adalah membentuk grup kecil. Interaksi yang terjadi dalam grup itu bisa membangkitkan semangat mereka untuk terus menjalani hidup sehat.

"Setidaknya, mereka tidak merasa sendiri dan mentalnya tidak turun. Selain itu, mereka juga akan terpacu dengan keberhasilan penderita lain yang sukses menjalani hidup sebagai penderita diabetes mellitus," kata Mulyadi.

Kedua, perencanaan mengonsumsi makanan. Perencanaan makan pada penderita diabetes berusia lagjut bukan pekerjaan mudah. "Jangan lupa, mereka akan lebih sensitif, apalagi kalau ada komplikasi penyakit lain, seperti hipertensi," terang Suhanto, Kepala Bidang Pelayanan Medis RS Mediros, di Jakarta.

Perencanaan makan itu bertujuan untuk mencapai sekaligus menjaga berat badan penderita lansia pada posisi ideal berdasarkan indeks metabolisme, yakni 22 hingga 25 pada pasien laki-laki dan 18 sampai 24 pada pasien perempuan.

Bila ada komplikasi dengan penyakit lainnya, asupan serat perlu diperhatikan. Umumnya, asupan serat yang baik antara 23-25 gram per hari. Bisa juga diselingi dengan pemberian vitamin dan mineral yang cukup. Untuk itu, pasien harus berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

Pemberian, serat per hari ini terbagi dalam tiga porsi makan, yakni sarapan sebesar 20%, makan siang 30%, dan makan malam 25%. Ini masih bisa ditambah makan ringan dengan total 10% sampai 15% dari porsi makan. "Jangan lebih dari itu," tandas Mulyadi.

Komposisi makanan yang seimbang menahan penyakit diabetes mellitus tak semakin parah. Komposisi makanan yang seimbang bagi penderita lansia, yakni karbohidrat 60% - 70%, protein 10%- 15%, dan lemak 20% sampai 25%.

Jumlah kalori tentu disesuaikan dengan kebutuhan seorang lansia tiap harinya. Biasanya, 24 hingga 35 kebutuhan kalori basal (KKB) merupakan rentang yang ideal bagi mereka. "Ditambah aktivitas penderita 10% - 30% dari kalori basal," tandas Mulyadi.

Ketiga, latihan jasmani. Bagi penderita diabetes mellitus lansia, jangan latihan jasmani tidak perlu terlalu berat. Jalan kaki atau lari kecil selama 30 menit adalah kegiatan olahraga yang disarankan.

Manfaat latihan jasmani dapat meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki kesegaran kardiovaskular, memperkuat otot dan tulang, mengurangi obesitas, memperbaiki kadar gula darah, mengurangi kebutuhan obat, dan memperbaiki masalah psikososial.

Keempat, penggunaan obat hipoglikemik oral (OHO). Yang termasuk OHO, misalnya obat golongan sulphonilurla generasi pertama hingga tiga, seperti daonil dan amaryl, serta golongan biguanid, seperti glucophage. (KONTAN)

Berita Pertanian : HKTI Tolak Pembebasan Bea Pangan Impor

Padang. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menolak rencana pemerintah membebaskan bea masuk pangan impor, karena dinilai merugikan negara.

"Kebijakan membebaskan bea masuk pangan impor tersebut selain akan merugikan negara karena kehilangan pendapatan dari bea masuk juga mengancam nasib dan masa depan petani Indonesia," kata Ismed Hasan Putro, Ketua Bidang Perdagangan DPN HKTI, periode 2010 -2015.

Rencana pemerintah yang disebut sebagai upaya membendung harga pangan agar tidak terus melonjak tersebut dipandang Ismed sebagai tergesa-gesa dan terkesan panik.

"Kebijakan membebaskan bea masuk pangan selain akan merugikan negara karena kehilangan pendapatan dari bea masuk juga mengancam nasib dan masa depan petani Indonesia," katanya.

Padahal negara liberal dan propasar seperti AS, Jerman dan Jepang saja sangat melindungi petaninya.

"Harus ada langkah komprehensif, tranparan serta tetap memperhatikan kepentingan nasional khususnya nasib para petani," katanya.

Pemerintah, sebutnya, perlu terlebih dahulu jujur dalam soal stok beras nasional dan jangan mengimpor demi kepentingan para pemburu rente.

Pemerintah, katanya lagi, juga perlu jujur mengenai siapa yang diuntungkan oleh kebijakan membebaskan bea masuk gandum. Dia menengarai sekelompok importir dan produsen mie kemasan yang mengekspor ke berbagai negara, termasuk Afrika, diuntungkan oleh kebijakan ini.

"Lantas bangsa dan negara ini harus mensubsidi bangsa-bangsa lain. Kebijakan pembebasan bea masuk pangan selain tidak bijak juga akan merugikan negara," katanya (antara)

Berita Pertanian : DPD: Relokasi Korban Merapi ke Perkebunan Sawit Kaltim

Jakarta. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Kalimantan Timur Luther Kombong mengusulkan agar penduduk yang terdampak letusan Gunung Merapi direlokasi ke area-area perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur.

"Mereka nantinya menjadi bagian pola inti-plasma, terutama pengungsi yang tidak lagi memiliki sumber penghidupan," ujarnya ketika membaca Laporan Kegiatan Anggota DPD asal Kalimantan Timur di Sidang Paripurna DPD, Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Dia mengatakan, setiap kepala keluarga (KK) menerima 2 hektar dengan gaji di atas Upah Minimum Regional (UMR). Istrinya bisa juga kerja di perkebunan. "Mereka akan diperlakukan manusiawi," katanya.

Selain itu, ada juga tunjangan seperti kesehatan dan pendidikan atau bonus lainnya serta fasilitas perumahan atau fasilitas lainnya bagi karyawan pimpinan (staf), karyawan pelaksana atau karyawan biasa.

Gaji, tunjangan, bonus, perumahan dan fasilitas lainnya tersebut bisa menjadi pertimbangan pengungsi Gunung Merapi untuk bekerja. Menurut Luther, jika 100 dari 200 perusahaan perkebunan di Kalimantan Timur menerima 50 KK, maka total 5.000 KK bisa direlokasi ke Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Luther mengaku, gagasannya sempat diutarakan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Radjasa dan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi saat bersama rombongan di Seoul, Korea Selatan, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 (The Group of Twenty) pada 11-12 November 2010.

"Pak Presiden sangat responsif. Beliau bilang, `ide bagus, tolong DPD tindaklanjuti`. Pak Sudi juga mengingatkan saya, karena Pak Presiden mengulanginya waktu bicara dengannya," ujarnya.

Untuk merealisasikannya, kata dia, DPD RI harus bekerjasama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Bila berhasil, relokasi akan mendukung revitalisasi perkebunan, yaitu program pemerintah untuk mempercepat pengembangan perkebunan melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan.

Area terdampak sekitar Gunung Merapi, menurut Luther, jangan lagi dijadikan sebagai area kegiatan manusia. "Lebih baik dikosongkan. Dijadikan sebagai kawasan hutan melalui program reboisasi yang pembiayaannya dibantu negara-negara yang `concern` mencegah global warming. Jika dikembalikan seperti awal, kawasan hutan menjadi sumber air yang mendukung siklus hidrologi," katanya.

Wakil Ketua DPD Laode Ida (Sulawesi Tenggara) dan Wakil Ketua DPD sekaligus Ketua Tim Task Force DPD RI Gusti Kanjeng Ratu Hemas, menunjuk Luther mengkoordinasikan realisasinya.

Sedangkan I Kadek Arimbawa, anggota DPD asal Bali menyatakan dukungannya atas ggasan itu. Hanya saja, dia mengingatkan agar realisasinya dimatangkan bersama kementerian atau instansi terkait. "irip masalah tahun 1963 setelah letusan Gunung Agung di Bali. Penduduk di sekitarnya ditransmigrasikan ke Lampung. Di sana mereka berhasil," katanya.

Berdasarkan laporan kegiatan Gusti Kanjeng Ratu Hemas selaku anggota DPD asal DIY, mencatat bahwa letusan Gunung Merapi mengakibatkan dampak langsung yang besar terhadap kegiatan ekonomi, seperti di empat kecamatan, yaitu Turi, Pakem, Cangkringan dan Ngemplak. Pertanian salah satu pendukung kegiatan ekonomi yang paling terpukul. "Dampak langsungnya terutama di kecamatan yang radiusnya hingga 20 kilometer dari puncak Gunung Merapi," katanya.

Dampak tidak langsungnya adalah terhadap kegiatan jasa, perdagangan dan industri yang kait-mengait dengan kegiatan ekonomi. Misalnya, kegiatan 900 dari 2.500 usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Sleman untuk sementara terhenti, karena kebanyakan mengolah hasil peternakan, holtikultura dan kerajinan.

Selain itu, 3.913 pedagang di pasar tradisional diperkirakan rugi Rp3,2 miliar. Di sekitar lereng Gunung Merapi banyak diperuntukan sebagai desa wisata.(antara)

Senin, 24 Januari 2011

Berita Pertanian : Perubahan Iklim Pengaruhi Produksi Kakao Bantaeng

Bantaeng, Sulsel . Perubahan iklim yang cukup ekstrim berpengaruh terhadap produksi kakao Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, dari kondisi normal 600 Kg/Ha, menurun menjadi 300 - 400 Kg/Ha.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bantaeng Muhammad Hero di Bantaeng, Senin, mengatakan, dari 9.000-an Ha luas lahan perkebunan kakao yang ada, hanya sekitar 5.000-an Ha yang produktif.

Ia berharap, kendala iklim secepatnya berakhir sehingga produksi kembali normal. Japan International Coorporation Agency (JICA) telah menyatakan minatnya untuk membantu pengembangan komoditi kakao Bantaeng.

Keinginan untuk membantu tersebut ditandai kunjungan Kepala Perwakilan Kantor JICA Makassar Nakagawa ke Bantaeng (19/1). Pada kunjungan tersebut, tamu dari Negeri Matahari terbit itu didampingi Tim Leader JICA untuk Proyek Perindustrian Sulsel Takuya Okada.

Menurut Nakagawa, keinginan untuk bekerjasama dan membantu daerah yang memiliki potensi merupakan komitmen JICA. Karena itu, pihaknya masih akan melakukan pertemuan intensif dengan Pemda Bantaeng untuk membahas sejumlah komoditi yang memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut.

JICA diharapkan membantu daerah di bidang teknologi pengembangan kakao, termasuk kemasan dan pemasarannya, baik melalui pameran nasional maupun internasional.

Untuk memantapkan rencana tersebut, sebagai langkah awal, JICA akan memantau berbagai komoditi yang memungkinkan untuk dikembangkan.

JICA juga akan mendatangkan tenaga ahli (expert) untuk membantu petani meningkatkan pengetahuan bercocok tanam sehingga produksinya bisa maksimal dengan kualitas yang baik, tambah Takuya Okada.

Bila kerjasama berjalan sesuai rencana, diharapkan tahun 2012 Bantaeng sudah bisa mengolah sendiri produksi kakaonya. Minimal dalam bentuk setengah jadi, jelas Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah.

"Kita optimistis melalui kolaborasi antara Pemda Bantaeng dengan JICA, industri pengolahan bisa dilakukan karena JICA akan mendatangkan tenaga ahlinya di bidang hortikultura, pengembangan buah serta pengolahan hasil," terang bupati. (antara)

Lowongan Kerja Pertanian Januari 2011 (2)

1. PT. MEGA HIJAU BERSAMA
adalah Perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, yang berkantor pusat di Jakarta dan memiliki areal perkebunan di wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur. Saat ini Perusahaan kami sedang membutuhkan tenaga-tenaga muda yang berkompetensi untuk mengisi posisi sebagai berikut :

1. TRAINEE FIELD ASISTANT (TR-ASK)
Kualifikasi :
- Laki-laki usia minimal 25 tahun
- Lulusan S1 Pertanian (fresh graduate are welcome to apply)
- Pengalaman kerja minimal 1 tahun (lebih disukai)
- Dapat berkomunikasi dengan baik (Inggris dan Indonesia)
- Dapat mengoperasikan komputer (terutama MS-Excel)
- Bersedia ditempatkan di areal perkebunan.

2. SURVEYOR (SUV)
Kualifikasi :
- Laki-laki usia maksimal 40 tahun
- Lulusan min. D3 Sipil / Agro (min IPK : 2.75)
- Pengalaman terakhir min. 5 tahun di perusahaan Perkebunan Sawit
- Dapat mengoperasikan komputer terutama menggunakan software pemetaan
- Bersedia ditempatkan di wilayah Sumatera Selatan


3. ASISTEN KEPALA (ASKEP)
Kualifikasi :
- Laki-laki usia maksimal 35 tahun
- Lulusan S1 PertanianPengalaman kerja min. 2 tahun sebagai Asisten Kepala
- Dapat mengoperasikan komputer (MS Office)
- Dapat berkomunikasi dengan baik (Indonesia dan Inggris)
- Bersedia ditempatkan di areal perkebunan

Kirimkan lamaran, CV beserta foto dalam format
MS Office 1997 – 2003 max. 200KB

ke :juanita@megahijaubersama.co.cc
atau

T. MEGA HIJAU BERSAMAWISMA ADR

LANTAI 6JL. PLUIT RAYA 1 NO. 1JAKARTA UTARA 14440
UP. HRD

Lamaran paling lambat kami terima tanggal 25 Januari 2011, tuliskan kode posisi yang dilamar pada subject email Anda.



2. Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Nasional di Riau
membutuhkan pegawai untuk posisi :

1. Asisten Teknik PMKS (kode : AT)
- Pendidikan minimum Diploma III Mesin, usia max. 35 tahun
- Pengalaman kerja min. 3 tahun di PMKS

2. Asisten Kebun (kode : AK)
- Pendidikan minimum S-1. Pertanian, usia max. 27 tahun
- Pengalaman kerja min. 1 tahun sebagai Asisten Kebun

3. Pengawas Bangunan (kode : PB)
- Pendidikan minimum D III Teknik Bangunan/Sipil, usia max. 27 tahun
- Pengalaman kerja min. 3 tahun sebagai Pengawas Bangunan

Persyaratan Umum :

- Mampu mengoperasikan MS.Office
- Bersedia ditempatkan di kebun
- Sehat jasmani dan rohani
- Surat Lamaran, CV, Ijazah terakhir, Traskrip Nilai, Fotocopy KTP, Pasphoto terbaru

Diterima paling lambat tanggal 5 Pebruari 2011, dikirim ke :
PO.BOX 1263 JKS 12012



3. DIPA GROUP

DIPA group merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang importir, marketing dan distribusi produk farmasi serta perlengkapan medis, mengundang profesional muda yang dinamis dan berdaya juang tinggi untuk bergabung sebagai :

- MEDICAL REPRESENTATIVE
- ACCOUNT EXECUTIVE
- BUSSINESS EXECUTIVE

Kualifikasi :
  • Pria/wanita max. 32 tahun
  • Min. D3 semua jurusan. Diutamakan dari jurusan Farmasi, Pertanian, Peternakan, Kimia dan MIPA
  • Diutamakan memiliki pengalaman min. 2 tahun pada bidang yang sama
  • Bersedia ditempatkan di wilayah Medan dan Banda Aceh
Jika anda memenuhi kualifikasi di atas, silakan mengirim Surat Lamaran, CV, Ijazah, Transkrip Nilai, fotocopy KTP, pasphoto terbaru ke :

DIPA GROUP
Jl. Kebayoran Lama No. 28 Jakarta Selatan 12210 atau recruitment@dipa.co.id



4. Company Confidential

Kami adalah Perusahaan Export di Cengkareng bergerak dalam bidang perikanan, membuka peluang bagi tenaga kerja berdedikasi dan bermotivasi tinggi. Perusahaan kami telah beroperasi lebih dari 15 tahun menyediakan hasil laut ke pasar international. Hasil laut yang kami sediakan melingkup hasil alam dan budidaya.

Sarjana Perikanan / Biologi
(Tangerang)

Responsibilities:

  • Monitor dan mengenal stok sebelum pengiriman
  • Memilih stok untuk pengiriman
  • Riset, mempelajari dan berinovasi

Requirements:

  • Wanita/Pria
  • Pendidikan min D3 / S1 jurusan Perikanan/Pertanian/Kelautan/Biologi
  • Fresh Graduate atau berpengalaman dalam bidang sejenis
  • Menguasai MS Excel dan MS Words
  • Berbahasa Inggris tulis dan lisanMampu bekerja dalam tim atau secara individu.
  • Bersedia bekerja di Cengkareng (dekat Bandara Soekarno Hatta).

Kirim surat lamaran ke:

P.O.BOX 6613 JKPWK, JKT 10350C
atau
Email: syshrd.dept@gmail.com

Minggu, 23 Januari 2011

Secangkir Stroberi Ajaib Melangsingkan


BUAH satu ini tak hanya segar bila dimakan atau tampak cantik bila dijadikan topping cake Anda. Tanpa sadar, banyak manfaat yang Anda dapatkan bila rajin mengonsumsi buah beri ini. Mulai dari memutihkan gigi hingga menghindarkan kita dari penyakit kardiovaskular.

Mari kita ketahui beberapa di antara banyaknya manfaat stroberi:
1. Kaya antioksidan
Karena kaya antioksidan, tak mengherankan bila buah ini sangat cocok untuk menghindarkan risiko terkena penyakit kardiovaskular seperti kanker. Antioksidan juga akan menghambat proses penuaan dini sehingga kita pun akan terlihat awet muda. Selain itu, antioksidan pada stroberi juga akan menetralisasi efek negative radikal bebas dalam tubuh sehingga imunitas meningkat dan kita akan terhindarkan dari berbagai jenis bakteri penyebab influenza.

2. Kaya kalium
Stroberi juga kaya akan kalium, mineral yang membantu mengatur elektrolit dalam tubuh sehingga menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Selain itu, ada pula asam folat sebagai salah satu zat peningkat produksi sel darah merah.

3. Kaya vitamin C
Vitamin C pada stroberi tergolong lebih tinggi daripada buah jeruk. Zat ini sangat berguna dalam memerangi beberapa jenis kanker dan menekan kadar kolesterol berlebih. Stroberi juga mengandung vitamin B2, B5, B6, tembaga, dan magnesium. Buah ini juga mengandung asam lemak omega, dan serat.

4. Memutihkan gigi
Yang tak disadari, stroberi juga bias memutihkan gigi. Zat asam dalam buah ini bias menghapus noda dari gigi. Coba iris satu atau dua potongan stroberi dan gosokkan pada gigi dan gusi. Hal ini akan menghilangkan tartar, memperkuat, dan menyembuhkan gusi.

5. Mentah lebih sehat
Meskipun bisa diolah dan dipadukan dengan berbagai jenis makanan, sebaiknya stroberi dimakan mentah untuk mendapatkan manfaat maksimalnya.

6. Menjaga berat badan
Stroberi juga bias membantu program diet Anda karena buah ini hampir bebas lemak. Studi menunjukkan bahwa satu cangkir stroberi hanya mengandung 0,6 gram lemak. Stroberi juga mampu merangsang metabolisme dan menekan nafsu makan. Karena itu, berat badan pun terjaga dan hormon tubuh berfungsi dengan baik. (prita daneswari)

Berita Pertanian : "Jejak UFO" di Persawahan Sleman, Yogya Jadi Tontonan



TRIBUNJOGJA.COM/HENDI KURNIAWAN

Foto crop circle di areal persawahan Berbah, Sleman, DI Yogyakarta yang diduga tempat pendaratan UFO.

SLEMAN . Pola geometris yang tiba-tiba muncul di areal persawahan Desa Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman, mengundang berbagai tafsiran. Jauhari (34), warga Kebondalem, Madurejo, Prambanan, Sleman, mengaitkannya dengan fenomena UFO.

Fenomena unidentified flying object (UFO) memang kerap dihubungkan dengan munculnya pola geometris di berbagai negara. Entah benar atau tidak, Jauhari mengaku takjub menyaksikan peristiwa langka di persawahan yang terletak tak jauh dari Bandara Internasional Adisucipto ini.

Ia pun rela jatuh bangun mendaki ke puncak Gunung Suru yang jalannya licin untuk melihat pola itu secara keseluruhan. Jauhari tak sendirian karena ada banyak warga yang menyaksikan fenomena unik pertama di wilayah Yogyakarta, atau bahkan kemungkinan pertama di Indonesia itu.

"Ini seperti fenomena pendaratan UFO yang sering dibahas di televisi, tapi saya tidak tahu apakah benar adanya. Hanya Allah yang tahu sebabnya," ucapnya kepada Tribun di lokasi, Minggu (23/1/2011) sore.

Sebatas yang ia lihat, Jauhari tak mendengar keterangan apa pun terkait terbentuknya pola misterius itu, termasuk suara gemuruh seperti yang didengar oleh saksi mata Basori.

Yudi, pemuda Desa Rejosari yang pertama kali melihat pola itu di sawah, juga mengaku tak mendengar suara apa-apa. Padahal, Yudi nongkrong di depan rumah Basori sampai pukul 03.00.

"Bahkan semalam tidak ada hujan atau angin. Tahu-tahu tadi pagi sudah terbentuk pola ini (lingkaran) di tengah sawah," imbuh Yudi. (Tribun Jogja)

Berita Pertanian : Capek Diadu Terus, Ayam Jago Bunuh Tuannya


WEST BENGAL - Mungkin ini pembalasan bagi seorang penyabung ayam yang memaksa jagoannya terus bertarung. Si penyabung ini tewas dengan leher tergorok oleh ayam jagoannya sendiri.

Terdengar agak aneh memang. Tetapi itulah yang Singrai Soren, si penyabung ayam, yang tewas di kaki ayam aduan, Kamis (20/1/2011) pekan lalu, di desa Mohanpur, West Bengal.

Desai, salah satu teman Soren, menuturkan bahwa ayam jago itu sebenarnya sudah beberapa kali mencoba kabur dari arena sabung. Namun Soren selalu mendorongnya untuk terus bertarung. “Rupanya ayam itu marah dan langsung menyerang Soren dengan pisau yang dipasang di kakinya,” kata Desai.

Ayam jago biasanya diberi waktu istirahat paling tidak satu jam setelah bertarung sebelum memulai pertarungan berikutnya, kata Desai. “Para pemilik ayam biasanya cukup puas dengan upah dari para penjudi dan mendapat bangkai ayam yang mati untuk dimakan. Tapi Soren memaksa ayamnya bertarung lagi hanya dalam beberapa menit,” katanya.

Para polisi berusaha mencari dan menangkap ayam itu untuk kemudian dilucuti pisau di kakinya. Namun mereka tidak yakin bisa menemukannya, karena kemungkinan besar ayam yang sudah empat kali menang itu disembunyikan pemilik ayam lain untuk dipertarungkan lagi. (surya)

Berita Pertanian : Pemerintah Siap Susulkan Penggantian Sapi Merapi

SLEMAN. Menteri Pertanian, Suswono, menyatakan bahwa pemerintah siap menyalurkan dana susulan untuk penggantian ternak sapi milik warga yang mati akibat bencana erupsi Gunung Merapi yang selama ini belum terdata dan mendapatkan ganti.

"Ternak sapi yang mati akibat bencana Merapi yang belum terdata dan diganti, bisa disusulkan untuk mendapat ganti karena saat ini dana pengganti sapi korban erupsi Merapi masih tersisa Rp 5 miliar," kata Suswono saat menyerahkan bantuan sapi perah di Dusun Ngipiksari, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Minggu (23/1/2011).

Menurut dia, pemerintah sebenarnya menyiapkan dana penggatian ternak sapi tersebut sebesar Rp 100 miliar, tetapi, Kementrian Pertanian hanya mengajukan Rp 35 miliar. "Dana yang diajukan tersebut hingga saat ini telah terpakai untuk mengganti sapi sebesar Rp 30 miliar sehingga masih ada sisa Rp 5 miliar," katanya.

Ia mengatakan, para peternak yang sapinya mati namun belum terdata bisa segera membuat laporan dan akan segera diproses. "Jika proses selesai, maka kami akan langsung membuat rekening tambahan untuk penggantian ternak sapi. Namun, saya tanya terus ke Bupati Sleman, ternyata tidak ada data susulan," katanya.

Sedangkan, ia mengemukakan, bantuan sapi perah yang disalurkan ini merupakan sapi milik warga lereng Merapi yang dibeli pemerintah. "Setelah dipelihara dengan baik, ternyata sapi yang sempat stres sudah bisa pulih kembali. Sapi ini dulu waktu dievakuasi masih hidup. Ada 291 ekor yang kami beli dan sehat semuanya. Makanya, banyak peternak Merapi yang tidak menjual sapinya dan ingin dipelihara sendiri," katanya.

Ia mengatakan, diharapkan para peternak agar membuat kandang sapi komunal karena akan sangat menguntungkan bagi peternak itu sendiri. "Jika sewaktu-waktu Merapi kembali erupsi, maka akan mudah dievakuasi dan dipelihara kembali. Meskipun semua tidak berharap adanya erupsi namun semua juga perlu waspada dan mengantisipasi sebaik mungkin," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, selain Menteri Pertanian, hadir juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Menkokesra Agung Laksono, Mensos Salim Segaf Aljufri dan Wakil Menteri Pekerjaan Umum. (kompas)