Senin, 12 Maret 2012

Petani Sulit Tutupi Biaya Produksi
















Akibat Importasi Kentang Tinggi

Medan. Semakin tingginya importasi kentang ke Sumatera Utara membuat petani semakin kesulitan untuk menutupi biaya produksi yang terus membengkak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut menunjukkan, volume importasi kentang ke Sumut 56,840 ton dengan nilai US$ 55,573. Importasi ini berasal dari China dan Bangladesh. Akibat tingginya volume impor ini membuat harga kentang khususnya di tingkat petani hanya sekitar Rp 2.200 per kg, jauh di bawah harga sekitar September 2011 yang mencapai Rp 5.500 per kg. "Harga ini sangat murah sehingga tidak bisa menutupi biaya produksi," ujar Kepala BBI Kuta Gading Karo, Akim Purba, di Medan, Jumat (9/3).

Ia mengatakan, luas tanam kentang di wilayah Karo yang merupakan sentra kentang di Sumut sekitar 1.100-an ha dengan produksi 18-20 ton per ha. "Produksi masih cukup bagus. Namun dengan harga yang sangat murah membuat petani selalu kesulitan untuk menutupi biaya produksi pada masa tanam berikutnya," katanya. Bahkan, sejumlah petani harus mencari pembiayaan untuk menutupi biaya produksi. Sebab petani tetap menanam kentang dengan volume yang sama setiap masa tanam.

Ia berharap, pemerintah membantu petani dengan membatasi impor sehingga akan membangkitkan sentra kentang untuk terus berproduksi. Apalagi, impor kentang yang banyak dari China dan Bangladesh ini bukan hanya beredar di kota-kota besar, namun juga hingga kota kecil yang notabene sebagai wilayah pertanian yang menghasilkan komoditas kentang.

BPS mencatat, total importasi sayur-sayuran yang didalamnya termasuk kentang mengalami peningkatan hingga 48,43% pada periode Januari hingga Desember 2011 dibandingkan tahun yang lalu dengan periode yang sama, di mana nilainya meningkat menjadi US$ 29,077 juta dibandingkan periode yang sama pada tahun 2010 sebesar US$ 14,995 juta.

Kasie Statistik Niaga dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Hafsyah Aprilia, mengungkapkan, komoditas sayur-sayuran impor sudah lama masuk di Sumut dan termasuk dari 25 golongan barang impor. Selain nilai impor, volume impor sayur-sayuran juga mengalami kenaikan dari 27.696 ton menjadi 36.378 ton di tahun ini. "Volumenya memang tetap tinggi.

Meski secara month to month (mtm) ada terjadi penurunan karena dipengaruhi harga," ucapnya.
Ia mengatakan, angka importasi kentang yang sangat besar ini harusnya menjadi perhatian semua pihak untuk mengendalikan peredaran sayur-sayuran khususnya kentang impor di Sumut.

Petani Kian Terpukul

Sementara itu, kalangan petani kentang di sejumlah sentra seperti di Kabupaten Karo dan Simalungun mengaku sangat terpukul dengan tingginya importasi kentang saat ini, sebab kentang produksi lokal harganya di pasaran menjadi anjlok.

"Tentu hal itu membawa dampak yang sangat buruk terhadap produktivitas kami," kata Anton Harahap, salah satu petani kentang di Berastagi saat dihubungi, Jumat (9/3).

Dikatakannya, saat ini sebagian besar petani kentang di sana mulai enggan meningkatkan angka produksi lantaran kentang lokal akan kalah saing dalam hal harga dengan kentang impor yang terus masuk. Percuma petani memproduksi kentang dalam jumlah banyak karena hasil akhirnya tak laku di pasaran karena lebih mahal dibanding harga kentang impor.

Saat ini, kata dia, rata-rata petani kentang di sana bisa menghasilkan kurang lebih 800 kg kentang per hektare. Angka tersebut masih tergolong cukup rendah lantaran petani belum bisa mendapatkan bibit unggul dalam jumlah banyak. Kalaupun ada, tambahnya, harga bibit unggul saat ini masih sangat mahal sehingga petani masih menggunakan bibit kualitas rendah yang harganya relatif lebih murah. Akibatnya, produktivitas rendah.

Selain itu, biaya operasional petani saat ini masih sangat tinggi karena petani kesulitan memperoleh pupuk yang harganya kian mahal dari waktu ke waktu. Alokasi pupuk bersubsidi untuk petani oleh pemerintahpun dinilai masih sangat minim.

Pantauan di sejumlah pasar di Medan, saat ini harga kentang cenderung mengalami penurunan seiring pasokan yang melimpah khususnya kentang impor. Kini, kentang impor dijual dengan harga Rp8.000 per kg sedangkan kentang lokal masih dipatok pada kisaran harga Rp9.000 hingga Rp10.000 per kg.

Rosmalia, salah satu pedagang di Pusat Pasar mengatakan, saat ini pihaknya terpaksa memasok kentang impor untuk memenuhi permintaan konsumen yang kian meningkat. "Pasokan kentang lokal masih sedikit, apalagi harganya lebih mahal sehingga kami lebih memilih menjual kentang impor untuk memenuhi permintaan konsumen," katanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar