Kamis, 29 Maret 2012

Peluang Usaha Pertanian : Budidaya Salak Madu










Salak madu menjadi favorit petani

Budidaya salak madu kian marak. Banyak petani melirik varietas baru dari salak pondoh ini karena harganya yang mahal. Tanpa rasa sepet, salak ini memiliki rasanya yang manis. Omzet petani pun berasa manis di kantong, yakni berkisar antara Rp 36 juta hingga Rp 72 juta sekali panen.

Siapapun tentu sudah tidak asing dengan buah salak pondoh yang banyak dihasilkan di daerah Yogyakarta. Tapi mungkin belum banyak yang tahu kalau belakangan daerah ini juga menghasilkan varietas baru buah salak, yakni salak madu.

Salak madu memiliki keunggulan dibandingkan salak lainnya, termasuk salak pondoh. Salak madu yang berasal dari Sleman, Yogyakarta ini memiliki ukuran lebih besar dibandingkan ukuran salak pada umumnya.

Buah ini dinamakan salak madu karena rasanya manis seperti madu. Jadi tidak ada rasa sepet seperti banyak ditemukan pada buah salak pada umumnya. Daging buahnya juga tebal dengan tekstur lembut. Selain itu, kandungan air pada salak ini lebih banyak dari salak biasa.

Karena berbagai kelebihannya itu, harga buah salak ini jauh lebih mahal dari salak biasa. Jika harga salak biasa di tingkat petani hanya Rp 2.000 per kilogram (kg), dan salak pondoh Rp 5.000 per kg, maka harga salak madu mencapai Rp 15.000 per kg. Sementara harga di pasaran sekitar Rp 35.000 per kg- Rp 40.000 per kg.

Homsinum, petani salak madu asal Sleman, Yogyakarta mengklaim, salak madu pertama kali ditemukan orang tuanya bernama Rameli. Varietas baru dari buah salak ini baru ditemukan beberapa tahun silam. "Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu di tengah tanaman salak pondoh orang tua saya ada dua salak yang tumbuh berbeda," ceritanya.

Perbedaannya ada pada ukurannya yang lebih besar dan rasanya juga lebih manis seperti madu. "Salak madu memiliki pasar yang menjanjikan saat ini," ujar Homsinum.

Salak tersebut kemudian dikembangbiakkan dan akhirnya terkenal dengan sebutan salak madu. Saat ini, Homsinum bersama orang tuanya membudidayakan salak madu di lahan seluas dua hektare (ha).

Menurutnya, salak madu bisa dipanen dua kali dalam setahun. Panen raya biasanya terjadi di bulan November dan Maret. Masa panen raya ini berlangsung dua minggu lebih. Saat panen raya, ia bisa memanen 24 kuintal atau 2.400 kg dalam dua minggu.

Dari situ, omzetnya mencapai Rp 36 juta sekali panen, atau Rp 72 juta dalam dua kali panen dalam setahun. Bila tidak sedang panen raya, ia tetap bisa memanen 50 kg dalam dua hari, dengan omzet minimal Rp 12 juta per bulan.

Mansur Mashuri, asal Turi, Sleman, Yogyakarta juga mulai fokus membudidayakan salak madu. Meski pasarnya belum seluas salak pondoh, Mansur sudah memasarkan salak madu ke beberapa wilayah, seperti Malang, Riau, dan Kalimantan. Selain buah, ia juga menjual bibit salak madu, dengan harga Rp 65.000-Rp 100.000 per batang." Omzet saya sekitar Rp 60 juta sekali panen," ujarnya.

Mari panen salak madu asal pasokan air cukup

Salak madu termasuk jenis salak unggul dengan ukuran lebih besar dan rasa yang lebih manis. Karena kelebihannya itu harga salak madu lebih mahal dibandingkan salak lainnya, termasuk salak pondoh. Makanya, banyak petani melirik varietas baru dari buah salak ini.

Apalagi, budidaya salak madu ini tidak begitu sulit. Menurut Homsinum, salah seorang petani salak pondoh asal Yogyakarta, salak madu bisa dikembangbiakkan dengan cara mencangkok dari induk pohon salak madu.

Menurutnya, budidaya salak madu dengan cara mencangkok lebih baik ketimbang budidaya dari biji. Dengan mencangkok dari pohon induknya, maka hasil buah salak madu sama dengan hasil buah induknya.

Menurut Homsinum, salak madu cocok ditanam di daerah pegunungan yang lembap. Dengan banyak mendapatkan air, salak ini akan memiliki buah lebih lebat.

Pencangkokan salak madu dapat dilakukan pada tunas baru yang muncul dari pohon induk. Butuh waktu selama empat bulan setelah dicangkok baru muncul tunas. Lalu tunas tersebut dipotong dan dimasukkan dalam polybag selama dua bulan sebelum ditanam di tanah. Selama di polybag akan terlihat bibit yang memiliki akar kuat dan bisa menjadi bibit unggul. Sementara bibit yang akarnya lemah akan mati. "Biasanya 90% bibit bertahan dan sisanya mati," jelas Homsinum.

Selama masa pembibitan di polybag, sebaiknya perlu diberikan pupuk kandang supaya bisa bertumbuh dengan cepat. Setelah dua bulan, petani dapat memindahkan salak madu dari polybag di lahan dengan jarak tanam sejauh 1,5 meter.

Sebaiknya, salak madu mendapatkan sinar matahari yang cukup dan disiram tiga kali dalam seminggu. Dua tahun setelah ditanam, salak madu sudah bisa mulai panen. Dalam satu tangkai bisa menghasilkan hingga dua kilogram buah salak.

Biasanya sejak menghasilkan bunga sampai matang, membutuhkan waktu selama enam bulan. Dari petani, harga buah salak madu dibanderol mulai dari Rp 15.000, sementara di pasaran harganya bisa melonjak hingga Rp 40.000 per kg.

Mansur Manshuri, petani dan pembibit salak madu lainnya menambahkan, salak madu cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 400 meter - 600 meter di atas permukaan laut. Adapun jarak tanam ideal salak madu 2,5 meter.

Dengan jarak itu, setiap pohon bisa menghasilkan buah hingga 5 kg. Sementara di lahan yang luasnya 1.000 meter persegi, sebaiknya ditempatkan minimal lima orang yang tugasnya mengawasi secara rutin perkembangan tanaman, seperti pemberian pupuk kandang, pengairan dan penyiangan.

Salak madu sangat baik ditanam di musim kemarau. Sebab, risiko terserang hama dan penyakit lainnya lebih rendah. "Tapi pastikan tetap mendapat pasokan air yang cukup," ujarnya.
(KONTAN)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar