Kamis, 29 Maret 2012

Ketahanan Pangan di Tengah Ekstrimitas Iklim

Oleh : Arfanda Siregar.

Sebagai negara yang dilewati oleh khatulistiwa, serta diapit oleh dua
samudera dan dua benua, Indonesia tidak hanya memiliki tanah yang mengandung berbagai zat hara yang bisa menyulap "tongkat" menjadi tanaman.
Indonesia juga terpengaruh oleh ekstrimitas iklim. Sulit, bahkan hampir mustahil memerkirakan pola cuaca yang bakal terjadi di seluruh wilayah Indonesia yang memanjang dari Sabang sampai Merauke. Apalagi di tengah derita bumi yang digempur pemanasan global (global warning) kian lengkaplah perubahan iklim (climate change) di negeri ini.

Salah satu dampak nyata yang mengancam adalah ketahanan pangan. Di tengah ketidakpastian dan perubahan iklim membuat ketahanan pangan negeri ini kian rapuh dihantam oleh berbaga bencana alam yang sangat bergantung dengan perubahan cuaca yang terjadi.

Penurunan Produktivitas

Tahun 2010 lalu menjadi bukti tak terbantahkan ekstrimitas cuaca/iklim telah membuat kalang kabut dunia pertanian. Banjir yang merendam lahan pertanian yang berujung pada kerusakan tanaman dan meningkatnya risiko kekeringan (el nino) maupun kebanjiran (la nina) merupakan pengaruh langsung dari ekstrimitas iklim.

Perubahan iklim yang ekstrem, yang menurunkan hujan sepanjang tahun jelas mengkacaubalaukan prakiraan musim tanam dan panen, sistem distribusi pasokan benih dan hasil panen menjadi kacau balau, hingga menggerus sistem Ketahanan Pangan Nasional.

Seperti beberapa wilayah di Jawa, musim hujan yang ekstrem membuat areal padi menjadi puso (gagal panen). Pada wilayah pesisir perubahan iklim berpengaruh kepada nelayan, saat turun ke laut menjadi terbatas karena besarnya gelombang menyebabkan hasil tangkapan ikan dan hasil laut lain menjadi menyusut.

Sementara itu, di NTB dan NTT pengaruh musim kering yang berubah berpengaruh besar pada produksi pertanian yang ada. Akibat kekeringan membuat petani di daerah tersebut tak mampu menggarap lahannya, terpaksa mencari perkerjaan sampingan sebagai buruh kasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) membuktikan di tengah panjangnya musim hujan di tahun 2010, produksi padi hanya 66,68 juta ton gabah kering, jauh dibawah target perkiraan produksi. Produksi kedelai turun 7,13 persen atau turun 69.497 ton dari tahun lalu. Kondisi yang sama menimpa komoditas pertanian lainnya.

Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa peningkatan suhu udara di atmosfer sebesar 5ºC selalu diikuti oleh penurunan produksi jagung sebesar 40 persen dan kedelai sebesar 10-30 persen. Sementara itu, peningkatan suhu 1-3ºC dari kondisi saat ini menurunkan hasil padi sebesar 6,1-40,2 persen. Pengaruh ini juga terlihat pada tanaman kacang-kacangan yang mengindikasikan kaitan antara penurunan curah hujan sebesar 10-40 persen dari kondisi normal dengan penurunan produksi sebesar 2,5-15 persen. Data lainnya terkait dengan cekaman kekeringan memberikan informasi bahwa el nino yang terjadi pada tahun 1997 dan 2003 menyebabkan menurunnya hasil padi sebesar 2-3 persen. Penurunan tersebut dapat menjadi lebih ekstrem apabila el nino dibarengi dengan peningkatan suhu udara.

Perlu Strategi

Pepatah terkenal mengatakan bahwa "iklim tidak mengenal tapal batas". Hal itu berarti mengendalikan cuaca bukan pekerjaan mudah, hampir mustahil dilakukan. Sampai saat ini, kemampuan manusia mengendalikan iklim masih sangat minim. Iklim merupakan komponen ekosistem dan faktor produksi yang sangat dinamik dan sulit dikendalikan dan diduga. Manusia hanya mampu mengantisipasi dengan meminimalkan dampak buruk ketidakpastian iklim.

Padahal, keberhasilan ketahanan pangan sangat bergantung dari kondisi cuaca. Bagaimana mungkin panen terjadi kalau hujan terus menerus membombardir sawah. Kegagalan panen tidak melulu disebabkan oleh kealpaan petani, iklim yang tak bersahabat sering kali meluluhlantakkan jerih payah petani.

Oleh sebab itu, langkah-langkah strategis perlu dilakukan demi menyelamatkan ketahanan pangan.

Pertama, diversifikasi pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam ketahanan pangan. Tidak menggantungkan diri kepada makanan pokok yang rentan terhadap pengaruh cuaca dapat dilakukan dengan melakukan penganekaragaman pangan (diversifikasi konsumsi pangan) merupakan salah satu aspek penting dalam ketahanan pangan.

Kita pasti menyepakati bahwa padi merupakan komoditas yang lekang di panas dan layu di hujan. Melakukan terobosan dengan beralih memakan makanan pokok yang tahan terhadap segala cuaca, seperti singkong, pisang, dan sagu harus segera dimulai.

Kedua, mengembangkan usaha tani komoditas unggulan sebagai "core of business" serta mengembangkan usaha tani komoditas lainnya sebagai usaha pelengkap untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam, modal, dan tenaga kerja keluarga serta memperkecil terjadinya resiko kegagalan usaha. Contoh bentuk komoditas unggulan ini adalah Jagung Agropolitan di Provinsi Gorontalo, Padi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Provinsi Sulawesi Utara.

Ketiga, pemanfaatan air hujan secara efisien melalui pemanenan air hujan (rain water harvesting) dan air banjir (flood water harvesting). Alih teknologi pemanenan air, seperti pembuatan embung dan dam parit harus segera dilakukan kepada petani kita yang masih tradisionil.

Keempat, sadar lingkungan ketika bertani. Banyak tingkah laku petani kita yang tidak bersahabat dengan alam, seperti membenamkan jerami atau bahan organik mentah ke dalam tanah tergenang (emisi gas CH4) dan menempatkan pupuk urea dalam keadaan teroksidasi (emisi gas N2O) dan memilih varietas padi yang mempunyai emisi kimia tinggi. Kebiasaan buruk bertani tanpa pengetahuan malah menjadi penyebab penipisan ozon yang memicu perubahan iklim.

Kelima, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) oleh petani, antara lain berupa perangkat lunak (software) Sistem Informasi Iklim yang berisi database iklim yang berkelanjutan. Database iklim harus selalu diperbaharui. Setiap perubahan iklim yang terjadi sepanjang waktu harus terdokumentasi agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai analisis iklim yang umumnya membutuhkan data seri dalam periode tertentu. Karenanya, pengayaan dan pemutakhiran data iklim yang didukung oleh sistem pengamatan harus berkelanjutan dilakukan.

Pembuatan Sistem Informasi Iklim tersebut juga harus mampu mengakomodasi interaksi antar unsur, kondisi iklim suatu lokasi yang saling berkorelasi dengan lokasi lainnya, baik skala lokal (meso) dan regional maupun global (makro). Untuk menghasilkan sistem informasi iklim dan analisis risiko iklim yang efektif dan akurat dibutuhkan data iklim dari berbagai stasiun pengamatan iklim yang saling melengkapi dan bersifat sinergis.

Agar dapat mengejawantahkan strategi tersebut dibutuhkan komitmen pemerintah mengalokasikan dana yang lebih besar kepada dunia pertanian. Dana tersebut, bukan saja digunakan untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang tak menentu, tapi juga digunakan untuk dana penelitian perubahan iklim. Bagaimanapun keberhasilan ketahanan pangan tak dapat dipisahkan dari kesuksesan lembaga penelitian membuat terobosan-terobosan baru yang mampu melepaskan berbagai persoalan yang mengancam kesuksesan program ketahanan pangan kita, terutama dari ancaman iklim yang ekstrem itu. Semoga.

Penulis Dosen Politeknik Negeri Medan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar