Kamis, 29 Maret 2012

Ongkos Produksi Pertanian Kian Mahal bila BBM Naik

Jakarta. Anggota Komisi IV DPR RI Rofi Munawar meyakini kenaikkan harga BBM bakal berdampak pula pada naiknya ongkos produksi pertanian yang memberatkan para petani. "Buruh tani di sejumlah tempat di Kabupaten Bandung saja sudah mulai menaikkan tarif atau upah harian mereka menyusul kenaikan harga kebutuhan pokok dan rencana kenaikan harga BBM," ujarnya di Jakarta, Rabu (28/3).

Apalagi pada saat panen raya seperti sekarang ini, menurut dia, petani juga akan membutuhkan sarana transportasi untuk mengangkut gabahnya ke pasar, yang otomatis seluruh kenaikan biaya transportasi juga akan dibebankan kepada petani itu.

Sebelum kenaikan harga BBM, ia menambahkan, biaya produksi per petani mencapai rata-rata Rp5 juta dengan estimasi 1 hektare menghasilkan 7 ton gabah. Biaya tersebut belum termasuk transportasi dan upah buruh tani yang turut naik rata-rata 15-20 persen pada saat ini. "Kita tidak dapat membohongi diri sendiri, kenaikan harga BBM akan membuat petani ‘berteriak’ walaupun pemerintah akan memberikan kompensasi berupa bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM)," ujarnya.

Menurut Rofi, pada dasarnya seluruh petani dan juga nelayan akan lebih memilih tidak dinaikkan BBM dibandingkan diberi BLSM oleh pemerintah.

Lebih lanjut Rofi mengatakan keyakinannya bahwa jumlah masyarakat miskin akan semakin bertambah akibat kenaikan BBM. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat penduduk miskin di Indonesia sudah mencapai 4,1 juta kepala keluarga dan jika ditotal jumlahnya bisa mencapai 16,4 juta jiwa.

Menurut BPS, definisi penduduk miskin adalah mereka yang hanya berpenghasilan Rp233 ribu per bulan, atau Rp7.000 per hari. "Pemerintah mengatakan bahwa jumlah penduduk miskin menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Padahal pemerintah hanya menghitung keluarga berdasarkan jumlah penghasilan yang di bawah Rp7.000 per hari," ujarnya.

Setelah harga BBM dinaikkan dan ada dampak lanjutan berupa kenaikan berbagai bahan pokok, maka masyarakat yang berpendapatan Rp10 ribu ke bawah akan mudah tergelincir kepada kemiskinan. Karenanya, ia menyesalkan sikap pemerintah yang tetap bergeming tidak mau mengubah keputusannya menaikkan harga BBM di tengah berbagai pilihan solutif yang ditawarkan berbagai pihak.

"Berbagai masukan telah disampaikan kepada pemerintah. Namun sejauh ini pemerintah selalu bertahan dengan pendapatnya. Padahal ada jutaan petani dan nelayan miskin yang semakin menderita jika kebijakan ini jadi diberlakukan," ujarnya. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar