Jumat, 30 Desember 2011

Kementan Keluarkan Kalender Tanam 2012

Jakarta. Kementerian Pertanian (Kementan) mengeluarkan kalender tanam 2012 untuk memberikan panduan operasional bertanam padi terutama menghadapi perubahan iklim.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian, Kementerian Pertanian Haryono di Jakarta, Rabu (28/12) mengatakan, perubahan iklim seperti perubahan pola curah hujan, tidak menentunya musim kemarau seringkali menyebabkan kacaunya pola tanam dan aktivitas petani.

Menurut dia, dampak perubahan iklim sangat signifikan terhadap produksi pertanian bahkan dapat mengakibatkan gagal panen karena meningkatkan ancaman kekeringan, banjir dan organisme pengganggu tanaman (OPT). "Oleh karena itu kami menerbitkan kalender tanam yang selengkapnya dengan data terbaru," katanya pada Peluncuran Kalender Tanam 2012.

Dikatakannya, kalender tanam tersebut akan diperbaiki setiap musim dan diperbarui setiap dua bulan sekali dengan data terbaru dan kecocokan unsur hara dari tiap provinsi di Indonesia.

Kalender tanam memberikan informasi yang lengkap bagi petani, tambahnya, yang mana panduan operasional tersebut ditetapkan pada level masyarakat, dan kecamatan. Namun, karena setiap dua bulan diperbaiki, maka kalender tanam ini tidak bisa di-print out dan hanya akan ditampilkan di "website" atau situs Kementan saja. "Ini bisa diakses melalui website saja karena biaya akan sangat mahal jika dalam bentuk cetakan mengingat tiap dua bulan diperbaiki," katanya.

Haryono menambahkan, kalender tanam lebih diperuntukkan bagi para penyuluh pertanian dan pemangku kebijakan di daerah mengingat petani banyak yang belum mengenal dunia internet. Begitupun, tidak menutup kemungkinan bagi petani yang telah melek teknologi untuk melihat langsung ke situs Kementan. "Idealnya lebih ke bahasa petani, nantinya penyuluh pertanian yang bertugas menyampaikan kepada petani mengenai cara tanam sesuai ciri khas tanah di daerah tersebut," katanya.

Ia berharap, kalender tanam ini bisa diterapkan dalam waktu dekat ini dengan pengawalan ketat dari Kementerian Pertanian. "Peneliti harus jadi satu dengan penyuluh dan petani, penerapannya nanti kita pantau, tiap propinsi maupun kabupaten, bisa dicek. Kami jamin agar peran penyuluh bekerja dengan baik," katanya.

Peneliti Balitbang Kementerian Pertanian Eleonora Runtunuwu memaparkan kalender tanam tahun ini juga dibuat berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Di dalamnya terdapat rekomendasi mengenai kebutuhan benih, pupuk, dan daftar wilayah pertanian yang rawan bencana.

Menurut dia, kalender tersebut sudah tersedia pada 6.501 kecamatan, 467 kabupaten, 33 propinsi, tujuh koridor di Nusantara. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar