Senin, 26 Desember 2011

Peluang Usaha Pertanian : Bunga krisan kian mekar menjelang akhir tahun












Permintaan bunga krisan terus naik dari tahun ke tahun, terutama menjelang Natal dan tahun baru. Di saat seperti itu, omzet pekebun bisa mencapai Rp 40 juta. Selain untuk penghias halaman atau ruang tamu, bunga krisan mempunyai banyak kegunaan.

Bunga krisan atau seruni yang memiliki nama ilmiah Chrysantheum adalah jenis tanaman hias yang banyak dicari menjelang perayaan Natal. Berasal dari wilayah Eropa dan Asia Timur, krisan mulai dikembangkan di Indonesia sejak 1940-an.

Tak hanya dipakai untuk hiasan Natal, krisan juga bermanfaat untuk mengusir nyamuk. Inilah sebabnya, walau bukan bunga jenis baru, krisan masih banyak dicari masyarakat.

Salah satu pembudidaya bunga krisan adalah Rudi Kurniawan, pemilik PD Dwi Putri Flora di Pasuruan, Jawa Timur. Mulai menanam krisan sejak 2000, Rudi mengaku, permintaan dari tahun ke tahun terus meningkat.

Bahkan, Rudi sudah mengaku kewalahan memenuhi kebutuhan dalam negeri. Padahal, dia ingin mengekspor bunga ini. "Dari dalam negeri saja permintaan krisan sudah sangat banyak," kata pria berusia 44 tahun ini.

Rudi menambahkan, cara menanam dan merawat krisan sebenarnya cukup mudah. Hanya saja petani harus telaten melakukan perawatan supaya bunga bisa tumbuh dan berbunga dengan baik.

Saat ini Rudi memiliki lahan seluas satu hektare dengan 450.000 batang krisan di atasnya. Rudi menanam sekitar 16 varietas krisan. Dari 16 varietas itu, mayoritasnya adalah krisan jenis spray. Krisan jenis ini dianggap lebih menguntungkan karena setiap batang pohon bisa menghasilkan lima hingga 10 tangkai bunga.

Pasar terbesar krisan dari kebun Rudi ada di Jawa Timur, Bali, Makassar, dan wilayah timur Indonesia lain. Rudi mengaku menghindari menjual krisan wilayah Indonesia barat. "Ongkos kirim lebih mahal," katanya.

Untuk setiap batang krisan, Rudi menjual seharga Rp 900 kepada pedagang eceran. Namun pengecer bisa mendapat untung lumayan karena harga di konsumen bisa mencapai Rp 1.400 per batang. Tiap bulan setidaknya Rudi bisa menjual 40.000 krisan.

Dengan jumlah penjualan sebanyak itu, Rudi mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp 40 juta per bulan. Penjualan akan semakin tinggi di saat-saat tanggal penting Jawa, Islam, dan China, termasuk saat Natal. "Di akhir tahun juga meningkat karena banyak resepsi pernikahan yang butuh bunga," ujarnya. Oh, ya, masa panen raya krisan berlangsung antara September hingga Januari.

Selain Rudi, Tubagus Rahman di Semarang, Jawa Tengah, juga membudidayakan krisan. Memulai usaha sejak 2007, lelaki 40 tahun ini mengungkapkan berbagai keunggulan krisan. Selain bisa digunakan sebagai tanaman hias di pelataran rumah maupun bunga potong, krisan juga bisa menjadi obat penurun panas dan penghasil racun serangga.

Seperti halnya Rudi, Tubagus mengaku, permintaan krisan meningkat pesat menjelang akhir tahun. Di saat seperti sekarang ini, Tubagus setidaknya bisa menjual 20.000 batang krisan dengan harga Rp 1.000 per batang. Di bulan seperti ini, omzet Tubagus bisa mencapai Rp 20 juta per bulan. "Kalau tidak ada momen khusus, paling cuma dapat omzet Rp 12 juta," ujar pemilik UD Kramat Jaya ini.

Tubagus banyak menjual krisan kepada pengecer bunga di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia belum berani memasarkan krisan dari kebunnya ke Jakarta karena pesaing sudah banyak. Apalagi sentra krisan kebanyakan berada di Jawa Barat.

Ketelitian dan ketelatenan, kunci perawatan

Tak hanya indah, budidaya krisan juga menguntungkan. Perawatan tanaman asal Belanda ini mudah, namun butuh ketelitian dan telaten. Selain hama dan penyakit yang bisa menghambat pembungaan, penyiraman air harus benar-benar pas takarannya.

Bunga krisan merupakan tanaman yang berkembang baik di ketinggian 600 meter (m) hingga 800 m di atas permukaan laut. Tanaman ini juga cocok di daerah dengan curah hujan yang cukup.

Suhu udara terbaik untuk iklim tropis seperti Indonesia adalah antara 200 Celcius (C) hingga 260 C. Tanaman ini membutuhkan kelembapan yang tinggi untuk awal pembentukan akar bibit. "Antara 70% hingga 95%," ujar Tubagus Rahman, pemilik UD Kramat Jaya.

Meski membutuhkan banyak air, krisan tak tahan terhadap terpaan air hujan. Alhasil, di daerah yang curah hujannya tinggi, petani harus menanamnya di dalam bangunan rumah plastik.

Sementara itu, pada proses pembungaan, krisan membutuhkan cahaya yang lebih lama, yakni dengan bantuan cahaya dari lampu pijar. Penambahan penyinaran yang paling baik adalah tengah malam antara pukul 23.00 hingga 01.00, dengan lampu berdaya 150 watt.

Media yang ideal untuk krisan adalah tanah bertekstur liat, berpasir, subur, gembur dan memiliki drainase yang baik. "Derajat keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman sekitar 5,5-6,7," tambah Tubagus.

Ia mengingatkan, hama dan penyakit yang bisa menyerang tanaman ini, seperti ulat tanah yang memakan dan memotong ujung batang tanaman muda, sehingga pucuk dan tangkai akan terkulai.

Untuk mengendalikannya, harus disemprot dengan insektisida. Ada juga hama tungau merah yang memiliki gejala daun akan menjadi kuning kecokelatan, terpelintir dan menebal. Untuk mengatasinya, bagian yang terserang dipotong kemudian tanaman yang belum terkena disemprot pestisida.

Adapun untuk penyakit, ada virus kerdil. Virus ini menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, tidak membentuk tunas samping dan menyebabkan warna bunga jadi lebih pucat. Cara penanggulangannya adalah mencabut tanaman yang sakit dan menyemprotkan insektisida untuk pengendalian virus.

Rudi Kurniawan, pemilik PD Dwi Putra Flora juga mengingatkan, penanganan tanaman ini butuh ketelatenan. Tanaman yang berumur satu hingga dua minggu, sebaiknya disiram dua kali sehari. Bila sudah lebih dari dua minggu, tanaman pun cukup disiram sekali sehari. "Jika air terlalu banyak, maka bunga tak akan mekar sempurna," ujar Rudi.

Selain itu, petani harus memilih bibit yang tepat. Ada dua macam bibit yang beredar: bibit lokal dan impor. Tingkat kematian bibit impor lebih rendah ketimbang bibit lokal. Namun, harganya lebih mahal. Harga bibit lokal Rp 175 per batang, sedangkan bibit impor Rp 225 per batangnya.

Bibit dapat ditanam setelah berumur 2 minggu. Lahan seluas satu hektare biasanya bisa menampung 450.000 batang. Bunga krisan pun bisa dipanen tiga bulan kemudian.

Rudi mengatakan, jika ia biasa melakukan penanaman setiap minggu dengan jumlah 10.000 hingga 15.000 batang setiap kali penanaman. Sedangkan, panen bisa dilakukannya setiap hari dengan jumlah 2.000 hingga 3.000 batang tiap kali panen. "Dalam sebulan setidaknya saya bisa menghasilkan hingga 4.000 ikat bunga," ujar Rudi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar