Senin, 26 Desember 2011

Bertani, Kok Semakin Mahal Saja ?!














Musim tanam setiap tahun sangat berarti karena menandai petani untuk mulai mengolah sawahnya. Benih padi, pupuk yang murah, dan air irigasi berkecukupan merupakan modal utama budidaya tanam padi. Benih dan pupuk harus ditebus dengan uang, sedangkan air irigasi adalah anugerah alam.

”Iklim ekstrem ternyata menyebabkan biaya tanam padi, kok, semakin mahal. Air melimpah kalau tak mengalir ke sawah, ya, perlu tambahan biaya supaya mengaliri sawah,” kata Maskur, petani di Dusun Angin-angin, Desa Buko, Kecamatan Wedung, Demak, Jawa Tengah, pekan lalu.

Tahun ini, sawah Maskur termasuk lahan yang kurang beruntung. Pasalnya, bendung karet dekat sawahnya di Sungai Kanal Kumpulan jebol. Petani bertubuh tinggi kurus itu ketika ditemui di sawahnya sedang mengawasi 10 buruh tani sawah seluas 4.500 meter persegi.

Perempuan buruh menanam benih padi, sedangkan laki-laki buruh membantu menarik tumpukan benih padi ke tengah sawah dengan karung. Genangan air di sawah hanya 10 sentimeter, padahal semestinya 20-30 sentimeter agar benih dijamin tumbuh dan aman dari hama tikus.

Sawah Maskur, seperti hamparan sawah lain di Kecamatan Wedung, Mijen, dan Bonang, adalah potret lumbung gabah di Demak. Lumbung ini bisa memasok lebih dari 100.000 ton gabah per musim. Sawah-sawah itu berada di sepanjang aliran Sungai Kanal Kumpulan, sungai andalan pertanian yang airnya berasal dari sisa irigasi Waduk Kedungombo, Boyolali.

Ia menuturkan, modal tanam padi pada musim kali ini sekitar Rp 1,8 juta. Itu di luar iuran menyedot air melalui genset sebesar Rp 1 juta. ”Biaya tambahan itu baru kali ini terpaksa diusahakan meski harus utang kepada juragan beras,” ujarnya mengeluh.

Upah buruh tani pun naik Rp 5.000 per orang. Upah perempuan buruh yang musim lalu Rp 10.000 kini menjadi Rp 15.000 dan upah laki-laki buruh mencapai Rp 30.000. Jika ditambah uang rokok, biaya upah 10 buruh tani minimal Rp 225.000.

Kendati hanya berjarak 150 meter dari Sungai Kanal Kumpulan, sawah Maskur tak terjangkau air. Pasalnya, sawah-sawah itu terhalang tanggul sungai yang berfungsi sebagai jalan desa. Letak hampir semua sawah lebih rendah, 1-2 meter dari permukaan sungai

Sekretaris Dharma Tirta Wedung Dulhadi mengatakan, petani terpaksa mengeluarkan dana tambahan tanam padi menyusul jebolnya bendung karet yang sudah lebih dari 15 tahun berfungsi membendung aliran Sungai Kanal Kumpulan.

Fungsi bendung itu, saat elevasi air naik karena curah hujan, tidak semua air terbuang ke laut, tetapi limpasannya mengalir ke kanal-kanal di kiri dan kanan sungai. Kanal itu merupakan saluran tersier irigasi bagi pengairan sawah.

”Dengan memanfaatkan air di kanal, irigasi untuk pertanian padi yang jauh dari sungai tercukupi. Ketika bendung jebol, air sungai langsung terbuang ke laut,” kata Dulhadi.

Mencegah hama tikus

Kerusakan bendung, menurut Ketua Kelompok Tani Prima Karya, Desa Kenduren, Muhfid, memicu pembengkakan biaya tanam padi. Kelompoknya mengelola 160 hektar sawah di utara sungai. Lahan-lahan itu jauh dari sungai sehingga kalau tak ada pasokan air akan telantar.

”Sawah tidak sepenuhnya mengandalkan air hujan. Air hujan cepat meresap di sawah, tetapi pasokan irigasi tetap jadi andalan,” ujar Muhfid yang mengkoordinasi 125 petani anggota.

Mengingat kebutuhan air hanya bisa dicukupi dari beroperasinya mesin penyedot air, petani pun terpaksa iuran membeli mesin penyedot. Pengadaan mesin Dongfeng 10 PK itu seharga Rp 8 juta.

Mesin tersebut beroperasi dua kali seminggu. Sekali sedot berdurasi 24 jam untuk mengairi 15 hektar lahan. Untuk keperluan layanan mesin itu, kelompok tani ini membayar dua pekerja minimal Rp 6 juta per tahun.

Muhfid menuturkan, untuk mencukupi irigasi sawah di empat blok saja, biayanya sekitar Rp 20 juta. Biaya besar ini belum termasuk biaya budidaya padi Rp 3,5 juta-Rp 4,5 juta per hektar.

Biaya itu meliputi sewa traktor Rp 500.000-Rp 600.000 per musim, biaya tanam Rp 600.000, ongkos pupuk Rp 600.000-Rp 700.000, pembelian benih Rp 50.000, obat-obatan Rp 300.000, serta biaya cadangan. ”Kalau sawahnya sewa, ya, tinggal nambah. Harga sewa sawah per hektar Rp 10 juta-Rp 12 juta setahun,” katanya.

Tambahan biaya cukup besar itu, ujar Sanudi asal Desa Dagan, belum tentu menjamin panen padi bagus. Rata-rata sawah di daerah tersebut menghasilkan minimal 6-7 ton gabah kering giling. Persoalannya, tanaman padi muda menjadi sasaran empuk hama tikus. Kalau sawah tergenang air, tikus naik ke tanggul, lalu petani mudah membasminya.

”Benih padi dipindahkan ke hamparan sawah itu saat umur 30 hari. Setelah ditanam, hama tikus beraksi. Tikus menyerang malam hari, bisa sampai puluhan tikus di sawah iring-iringan anak itik,” kata Sanudi.

Untuk mencegahnya, ada petani yang terpaksa memagari sawahnya dengan pagar seng dalam satu blok seluas 53 hektar. Ongkos pemasangan pagar sebesar Rp 70 juta itu ditanggung petani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar