Jumat, 30 Desember 2011

Distribusi Mahal Hambat Pengembangan Sektor Pertanian

Semarang. Analis ekonomi dan keuangan Ryan Kiryanto menilai, mahalnya distribusi atau logistik produk dalam negeri menghambat pengembangan sektor pertanian, seperti pemasaran buah-buahan lokal. "Aspek logistik yang mahal ini menyebabkan ongkos angkut jeruk China lebih murah dibanding ongkos angkut dari Pontianak. Ini salah satu problem pertanian tidak "growth" (tumbuh-red)," katanya di Semarang, Rabu malam (28/12).

Hal tersebut diungkapkannya di sela diskusi bertema "Regional Economic Outlook 2012" dan media gathering PT Bank Negara Indonesia (BNI) Kantor Wilayah Semarang yang digelar di Hotel Gumaya Tower, Semarang.

"Penjualnya bilang itu jeruk Vietnam. Bentuknya kecil-kecil mirip jeruk baby, namun warnanya hijau. Rasanya memang enak, manis, dan bijinya juga sedikit. Apa Indonesia kekurangan jeruk sampai harus mengimpor?," katanya.

Menurut Ryan yang juga Head of Chief Economist PT BNI itu, persoalannya ternyata ongkos logistik yang mahal membuat buah-buahan produk lokal justru jatuh lebih mahal di pasaran dibandingkan buah-buahan impor.

Kalau pemerintah tidak segera mengatasi persoalan distribusi ini, kata dia, akan banyak petani buah yang beralih profesi jadi pedagang buah, karena bertani produk buah lokal tidak kompetitif dengan buah-buah impor.

"Begini, petani buah lokal tentu akan berpikir, daripada membudidayakan buah lokal yang pasarnya tidak kompetitif dengan buah impor, lebih baik menjadi pedagang buah impor yang dianggap lebih menguntungkan," katanya.

Kenyataan itu, kata dia, sudah terjadi di kalangan petani kentang lokal yang beberapa di antaranya kini memilih beralih profesi menjadi pedagang kentang impor, sebab kentang impor lebih murah dan banyak dicari.

"Kalau seperti ini, lagi-lagi yang diuntungkan petani luar negeri. Sementara petani kita tidak bisa bersaing dengan petani asing yang pengelolaan pertaniannya efisien dan ongkos logistiknya lebih murah," katanya.

Ia mengakui, sektor pertanian dalam arti luas memang masih menjadi salah satu sektor terpenting Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, namun harus dibenahi dan lebih dikembangkan, termasuk nilai tambah komoditas. "Selain kebijakan riil pemerintah terkait aspek distribusi, industri pertanian harus dibenahi, misalnya bagaimana menambah nilai jual, jangan dijual "gelondongan" saja. Pengemasannya juga harus lebih baik," kata Ryan. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar