Senin, 26 Desember 2011

Lahan kritis Gunungpati jadi surga durian

Semarang. Lahan kritis seluas 139,6 hektare milik Pemerintah Kota Semarang, di antaranya di Kelurahan Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, kini telah berubah menjadi kebun durian montong dan surga bagi pecinta kuliner.

Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraini bersama rombongan dan Wali Kota Semarang Soemarmo melakukan panen perdana durian, di tiga kelurahan yakni Mangunsari, Gunungpati, dan Nongkosawit, Sabtu.

Dalam panen raya tersebut, ia mengambil durian yang sudah masak dengan cara memotong tali yang mengikat buah durian dari dahannya.

Untuk mengambil buah durian, pengunjung ke wilayah itu tidak harus naik pohon karena memang ketinggian pohon durian hanya berkisar dua hingga tiga meter dan rata-rata buah berada di dahan bagian bawah, sehingga terkadang harus membungkuk untuk memetiknya.

Rata-rata satu pohon durian di Kelurahan Nongkosawit bisa berbuah hingga 10 buah dengan potensi buah mencapai 60 buah.

Diah menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan kritis tersebut bagian dari program konservasi lahan Semarang atas dan pengentasan kemiskinan yang mendapat bantuan dari Japan Social Development Fund (JSDF) sebesar 1,2 juta dolar Amerika Serikat dan dana pendampingan dari APBD Kota Semarang Rp1,3 miliar.

"Program bantuan ini baru di Semarang sebagai `pilot project` karena pemerintah kota setempat dapat menyediakan lahan kosong," kata Diah.

Diah mengatakan setelah mendapatkan bantuan dari JSDF (program tahun 2005-2007), nantinya akan diteruskan dengan anggaran dari Kementerian Dalam Negeri dan terlebih dahulu dievaluasi.

Dalam kesempatan sama, Wali Kota Semarang ,Soemarmo, mengatakan bahwa pemanfaatan lahan kritis tersebut bagian dari penanggulangan kemiskinan.

"Petani yang sebelumnya tidak mengetahui cara menanam durian, hanya menjadi petani penggarap serta tidak bekerja dilatih dan difasilitasi untuk menanam durian," katanya.

Selain di Kelurahan Gunungpati, lahan kritis yang kini sudah dijadikan lahan bermanfaat seperti untuk kebun durian, rambutan, dan kelengkeng tersebar di lima kecamatan yakni Kecamatan Gunungpati (seluas 84,86 hektare).

Kemudian di Kecamatan Ngaliyan (5,8 hektare), Tembalang (5,6 hektare), Banyumanik (10,52 hektare), dan di Kecamatan Mijen luas lahan sebanyak 32,82 hektare.

Gunungpati Semarang dijadikan agrowisata durian montong

Dinas Pertanian Kota Semarang menargetkan daerah Gunungpati menjadi kawasan agrowisata durian montong, sehingga pengunjung dapat memetik dan menikmati durian di kebun setempat.

"Targetnya tidak muluk-muluk, ekspor durian montong, tetapi nantinya akan dijadikan kawasan agrowisata," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Ayu Entys di Semarang, Jumat.

Ayu Entys mengatakan harapannya nantinya para wisatawan atau masyarakat yang berkunjung di Gunungpati dapat memetik durian. Apalagi buahnya sangat besar.

"Memang tidak semua pohon. Ada juga yang tidak besar karena petani `eman-eman` (sayang) membuangnya. Padahal ada aturannya misalnya tidak semua buah dibiarkan dan tidak boleh bergerombol agar bisa menjadi besar," katanya.

Panen pertama durian montong, kata Ayu Entys akan dimulai pada Sabtu (24/12) oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraeni, Direktur Pengairan dan Irigasi Bappenas Donny Azdan, Kasubdit Anggaran Kementerian Keuangan Indra Satiya, dan Wali Kota Semarang Soemarmo.

Ia menceritakan bahwa Gunungpati merupakan salah satu dari lima kecamatan yang mendapatkan bantuan dari Japan Social Development Funds untuk menggarap lahan kritis untuk dimanfaatkan di antaranya ditanami durian dan pohon jati.

Dari lima kecamatan tersebut terbagi dalam 43 kelompok dan empat kecamatan lainnya yakni Tembalang, Mijen, Ngaliyan, dan Banyumanik.

"Petani sudah menunggu empat tahun hingga akhirnya dapat panen durian montong. Jadi sebelumnya para petani mendapatkan pelatihan, mengikuti studibanding, mendapatkan bibit hingga pupuk," katanya.

Panen pertama ini, tambah Ayu Entys, merupakan bagian dari evaluasi pemberian bantuan sekaligus pembelajaran untuk para petani.

"Sasaran utamanya bukan untuk menjadikan masyarakat kaya, tetapi lebih untuk membuat mereka mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain," katanya.
(ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar