Sabtu, 05 November 2011

Mentan Berharap Petani Mampu Jadi Penangkar Benih

Pasuruan. Menteri Pertanian (Mentan), Suswono berharap para petani mampu menjadi penangkar benih dan memproduksi pupuk secara mandiri, karena potensinya cukup tersedia. Hal itu diungkapkannya saat panen raya padi hibrida varietas Sembada 168 di Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (3/11).

Mentan mengakui, budidaya padi dengan menggunakan bibit hibrida sempat menimbulkan pro-kontra. Ada yang menolak, ada juga yang menerima. Bagi yang menolak, kata Mentan, karena pernah terjadi bahwa budidaya padi dengan menggunakan bibit hibrida sempat hasil panennya menurun.

Namun bagi yang menerimanya, seperti para petani di Desa Ngerong yang menggunakan bibit hibrida sembada 168 terbukti mampu meningkatkan hasil panen.

Mentan menjelaskan, budidaya padi dengan menggunakan bibit hibrida jika ditangani secara intensif, mulai dari pemberian pupuk, ketersediaan air, serta pengawalan terhadap hama dan penyakit mampu menghasilkan diatas 10 ton per hektarnya.

Namun Mentan mengingatkan, bahwa ketersedian bibit padi hibrida harus mampu dicukupi dari dalam negeri sendiri sebab jika bibit hibrida tergantung dengan luar negeri, maka akan sangat riskan.

Dikatakan Suswono, budidaya secara intensif kini juga menghadapi persoalan perubahan iklim, serta perkembangan aneka hama dan penyakit. Karenanya diperlukan bibit yang adaptif terhadap perubahan iklim, serta kebal terhadap hama dan penyakit. “Selain bibit, budidaya secara intensif yang paling penting lagi adalah pengawalan terhadap hama dan penyakit,” jelas Mentan.

Interaksi antara petani dan penyuluh sangat penting, sehingga jika ada hama dan penyakit bisa segera dilaporkan. "Kegagalan panen bisa terjadi juga karena keterlambatan informasi adanya hama dan penyakit," katanya.

Mentan juga mengingatkan, padi atau beras merupakan komoditas penting terhadap pertumbuhan ekonomi bangsa sehingga ketersediaan pangan diharapkan jangan sampai bersumber dari impor.
Untuk itu Mentan meminta kepada para bupati dan walikota untuk tetap menjaga lahan pertanian teknis jangan sampai dikonversi untuk kepertluan non pertanian. Apalagi, lanjut dia, Jawa Timur yang merupakan lumbung pangan harus tetap dipertahankan.

Disebutkannya, pengeluaran petani terbesar adalah untuk belanja pangan, khususnya beras sekitar 60%. Untuk itu Mentan meminta agar para orang tua juga mengajari anak-anaknya untuk memakan aneka karbohidrat non beras, seperti pisang, singkong atau jagung, untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar