Rabu, 09 November 2011

Melihat Pertanian dari Sisi Pariwisata

Oleh : Muhammad Gunari.
Kita negeri agraris dengan tanah yang tak hanya subur tapi juga indah. Dengan topografi daerah yang bergunung-gunung, berlembah dan memiliki banyak kawasan pantai, memungkinkan hamparan tanaman di lahan pertanian kita menciptakan pemandangan yang cukup indah. Di Sumatera Utara, pemandangan indah pertanian atau perkebunan itu dapat dilihat, misalnya, perkebunan teh di Simalungun, perkebunan karet di Asahan, pertanian sayur di Tanah Karo, Samosir atau hamparan padi yang sering dikunjungi bangau-bangau putih di Deliserdang, Sergai dan lainnya.

Selain menghasilkan pangan dan komoditi andalan, potensi agrowisata sektor pertanian belum banyak digarap. Ada beberapa warga mengusahakan lahan pertaniannya menjadi obyek wisata. Contohnya, beberapa pemilik lahan sawah di kawasan Delitua Kabupaten Deliserdang, kini tidak menanam padi lagi karena telah mengusahakan sawahnya menjadi kolam pancing. Beberapa petani di Tanah Karo ada yang menjual buah kepada wisatawan untuk memetik dari kebunnya secara langsung.

Dibanding luasnya lahan dan banyaknya ragam komoditi pertanian kita, agrowisata kita belum menawarkan banyak pilihan. Selain pilihannya sedikit, agrowisata belum dikemas secara baik.

Mewujudkan obyek wisata agro sehingga banyak diminati wisatawan tentu membutuhkan kreativitas dan pengelolaan yang baik.

Seorang petani yang ingin mengembangkan wisata agro di kebunnya, tentu tidak cukup dengan hanya mengajak wisatawan memetik sendiri hasil kebunnya. Sentuhan kreativitas harus dilakukan dengan memanjakan wisatawan dengan cara memenuhi layanan yang mereka butuhkan.

Gampangnya, ketika orang berwisata tentu sedang ingin rekreasi, bersantai dan sedang ingin dimanjakan hidupnya dengan berbagai aktivitas menyenangkan dan kemudahan memperoleh kesenangan yang dibutuhkan. Ketika wisatawan mengunjungi kebun pertanian tentu tidak sekadar ingin merasakan bagaimana rasanya memetik buah dari kebun layaknya kebun sendiri. Mereka juga ingin menikmati suasana yang kebutuhan itu bisa dipenuhi dengan menyediakan berbagai fasilitas di kebun, misalnya, tempat-tempat beristirahat, taman bermain dan tentu saja kuliner yang menyediakan menu khas berkaitan dengan tema obyek wisata agro yang dikunjungi. Alangkah berkesannya bila kita berkunjung ke kebun durian, di sana bisa menikmati suasana bersama keluarga layaknya kebun sendiri bersantai di pondok-pondok menikmati suasana kebun sambil memesan kolak durian atau masakan lainnya sesuai dengan komoditas kebun yang dihasilkan.

Ada ragam pertanian kita yang tentu saja bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan petani dengan memberi inspirasi mereka membuka wisata agro dengan tema khusus yang disesuaikan dengan jenis tanaman. Para petani maupun pengelola wisata bisa berkreativitas dengan mendesain paket-paket wisata agro bertema khusus, misalnya, wisata kebun jeruk, durian, apel, mangga, rambutan atau tanaman holtikultura yang menjual sayur mayur.

Tentu saja diperlukan investasi untuk menarik wisatawan. Di sinilah dibutuhkan investor yang memiliki kecintaan terhadap pertanian dan memiliki kemampuan serta kepedulian dalam rangka mengangkat kesejahteraan petani kita melalui sub sektor agrowisata.

Perkebunan

Lahan pertanian bukan satu-satunya potensi agro wisata kita. Perkebunan kita yang luas, sudah lama memberi inspirasi investor melirik wisata agro di daerah ini. Mungkinkah perkebunan dapat dikembangkan sebagai obyek wisata yang dapat memancing minat wisatawan? Jawabnya, pasti bisa!

Menjadikan perkebunan sebagai obyek wisata alternatif memang bukan satu hal aneh dan baru lagi. Beberapa lokasi perkebunan teh di lereng perkebunan yang sejuk di Jawa Barat sudah lazim dijadikan tempat tujuan rekreasi. Bagaimana dengan Sumatera Utara yang konon banyak memiliki perusahaan perkebunan pemerintah dan swasta.

Tentu saja kita tidak dapat mengesampingkan potensi ini. Udara perkebunan yang sejuk dan bersih dari polusi amat cocok untuk kegiatan wisata sambil olahraga: lintas alam atau cross country, rally, outbound, napak tilas dan sebagainya. Menyusuri alam perkebunan dengan kendaraan pribadi, trail atau jib menimbulkan kesan tersendiri. Tentu saja, sekali lagi untuk menarik wisatawan, para pengelola bisnis wisata dalam mendesain wisata agro butuh kreativitas.

Pesona alam perkebunan merupakan tawaran yang menarik buat negara-negara yang tak memiliki perkebunan semacam itu. Konon warga Eropa yang sudah lanjut usia sering mengunjungi beberapa lokasi perkebunan di daerah ini. Mereka tidak lain keluarga mantan penguasa zaman kolonial di perkebunan tersebut. Kabarnya, motif mereka sekadar ingin bernostalgia atau menelusuri jejak perjalanan sejarah orangtua atau kakek buyut mereka.

Dengan demikian semakin menguatkan keyakinan kita untuk menjadikan perkebunan sebagai obyek wisata. Tidak hanya pesona alamnya yang khas, untuk pasar Eropa perkebunan memiliki latar belakang sejarah yang unik. Fakta ini dapat kita lihat sebagai asset pariwisata dengan pasar negara-negara khusus bekas penjajah republik ini.

Karena itulah beberapa bangunan kuno peninggalan zaman kolonial pantas dipertahankan. Seni arsitektur bangunan kolonial yang antik itu dengan nilai sejarahnya merupakan asset yang layak diabadikan sebagai komoditas wisata.

Di Medan ada Kantor Pos Besar Medan, Titi Gantung Medan dan sebagainya. Sementara di beberapa perkebunan kita masih dapat menyaksikan bangunan tua peninggalan zaman Belanda, mulai bangunan bangsal, gudang, sampai bangunan rumah administratur kebun.

Di beberapa perkebunan, kompleks perkantoran kebun dengan fasilitasnya merupakan lokasi wisata menarik. Di kantor Direksi PTPN II Tanjungmorawa misalnya, dilengkapi dengan lapangan golf, lapangan tenis dan taman rekreasi.

Dengan demikian, mengembangkan obyek wisata di perkebunan merupakan sebuah alternatif. Tentu saja masih banyak yang harus dibenahi, baik kemasan maupun melibatkan peran pihak lain, misalnya mengajak even organizer untuk mengemas acara sehingga banyak orang bisa berbondong mendatangi perkebunan. Agenda-agenda olahraga maupun budaya bisa dijadikan daya tarik untuk menggaet wisatawan datang ke perkebunan.

Penulis peminat masalah lingkungan, pariwisata, pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar