Minggu, 06 November 2011

Berita Pertanian : Urea pun Dipoles Pink




















Tidak saja perusahaan yang beralih dari PT Pusri ke PT PIM. Tapi atas nama keamanan dan tepat sasaran ke petani, maka urea yang selama ini dikenal berwarna putih dipoles sedemikian rupa. "Urea sekarang tidak lagi putih tapi sudah pink (merah jambu)," kata Kepala Penjualan Wilayah (KPW) PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Aliussani, Kamis sore pekan lalu.

Program pewarnaan pupuk urea bersubsidi tersebut menurut Ali, bukan atas kemauan mereka (PIM), tapi sesuai dengan Surat dari Dirjen Program Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) No 712/SR.130/B.5/8/2011.

Dikoordinasikan oleh PT Pusri dengan Kementan dalam hal ini Direktorat Jenderal PSP. Isinya antara lain, produsen pupuk segera memproduksi urea berwarna untuk Tahun Musim Tanam (TMT) 1 Oktober 2011. Kemudian, warna urea untuk bersubsidi adalah pink. "Dan, per 1 Januari 2012, diharapkan tidak ada lagi urea putih bersubsidi di lapangan," jelasnya.

Jadi, lanjut Ali, dalam masa transisi ini, masih akan ditemui lagi produk urea berwarna putih. Itu berarti penyaluran urea putih yang masih ada untuk kebutuhan subsidi diprioritaskan. "Tapi, kita harapkan, stok urea putih sudah habis pada tanggal 31 Desember mendatang. Sehingga 1 Januari 2012, urea yang disalurkan ke petani diharapkan semuanya sudah berwarna pink," paparnya.

Lantas apakah pewarnaan tersebut berdampak negatif terhadap tanaman maupun lingkungan? Menurut Ali, sifat pewarna yang dilakukan pada urea sama sekali tidak akan mengganggu pertanaman begitu juga dengan lingkungan. Sebab, pewarna yang diberikan adalah bubuk pigmen dari bahan organik yang dicampurkan ke dalam larutan anti caking sehingga tidak berhamburan ke lingkungan.

Dengan kata lain, zat warna yang diberikan ramah lingkungan, pelarutan urea berwarna dalam air tidak menyebabkan air berubah warna secara signifikan serta tidak menimbulkan gejala toksisitas terhadap tanaman. "Untuk pewarnaan ini telah dilakukan uji laboratorium oleh masing-masing produsen pupuk," ucap Ali.

Tidak hanya itu, kandungan hara yang terdapat di dalam urea juga tidak berubah atas pewarnaan tersebut. Artinya, kadar nitrogen (N) nya tetap 46%. "Secara spesifikasi urea pink ini adalah unsure N nya 46%, kadar air (maksimal) 0,5%, kadar biuret (maksimal) 1%, bentuk prill, ukuran butir 90% minimum 1 - 3,55 mm dan warna pink," paparnya.

Sosialisasi

Menyahuti perubahan baik manajemen dari PT Pusri ke PT PIM maupun warna dari putih ke pink, Kepala Dinas Pertanian Sumatera Utara (Sumut) M Roem melalui Kabid Pengelolaan Lahan Air dan Sarana Prasarana Adam Brayun Nasution, pihaknya sudah melakukan sosiasliasi.

"Sosialisasi telah kami lakukan ke seluruh dinas kabupaten/kota di Sumatera Utara begitu juga dengan petani. Mudah-mudahan sejauh ini belum ada masalah," kata Adam didampingi Kasie Sarana Pertanian Nurhijjah, Selasa pekan lalu.

Adam mengatakan, untuk warna pupuk urea yang kemungkinan masih ada stok lama yakni berwarna putih dan karung berlabelkan PT Pusri diharapkan habis didistribusikan hingga akhir Desember mendatang. Sehingga per Januari 2012, pupuk urea yang beredar ke petani sudah milik PT PIM.

Pihaknya juga berharap Komisi Pengawas Pupuk Pestisida (KP3) kabupaten/kota dapat melaksanakan pengawasannya mengingat saat ini sudah memasuki musim tanam.

Terhadap realisasi penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian mulai Januari hingga September 2011 menurut Adam sudah di atas 50% dari alokasi SK Gubsu No 12/2011.

"Kecuali untuk NPK dan organik, realisasinya masih sangat kecil. Karena bagi petani hal yang paling pokok dan harus ada tersedia adalah pupuk urea, SP -36 dan ZA," terang Adam.
Apalagi untuk pupuk organik, menurut Adam penerimaan petani hingga September 2011 masih sangat rendah masih berkisar 20%. Itu disebabkan, petani belum terbiasa menggunakan pupuk organik. "Petani kita belum terbuka hatinya untuk menggunakan pupuk organik, petani masih terfokus pada tiga jenis pupuk itu tadi, yakni urea, SP-36 dan ZA," katanya lagi.

Lantas bagaimana dengan alokasi untuk tahun 2012? Menurut Adam, pihaknya telah membuat usulan rencana kebutuhan pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian yang meliputi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan untuk tambak udang tahun 2012.

"Berdasarkan hasil pertemuan Evaluasi dan Perencanaan Kebutuhan Pupuk tahun 2012 tanggal 14 - 16 September 2011 di Yogyakarta, maka rencana alokasi kebutuhan pupuk bersubsidi tahun 2012 Propinsi Sumatera Utara sebesar 565.000 ton," jelasnya.

Angka itu terdiri dari Urea sebanyak 250.000 ton, SP-36 sebanyak 40.000 ton, ZA 60.000 ton, NPK 155.000 ton dan Organik 60.000 ton. "Dengan kata lain ada peningkatan sekira 1% dibanding tahun lalu sebesar 537.640 ton," ujarnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar