Rabu, 27 Maret 2013

Di Pasaran Tinggi, Harga Cabai di Petani Tetap Rendah


Medan. Meskipun harga cabai merah mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp 15.000 per kilogram menjadi Rp 35.000 per kilogram, sejumlah petani justru tidak menikmati keuntungan atas tingginya harga tersebut. Bahkan, di tingkat petani harga yang berlaku saat ini sangat rendah dan merugikan petani. "Kalau di sini, sejak beberapa minggu ini rendah sekali. Merugi kami," kata Ucok, petani cabai merah di Dusun I Desa Pematang Jering Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara, saat dihubungi lewat telepon, Senin (25/3).

Ia menjelaskan, harga cabai merah bisa berubah setiap hari tanpa diketahui petani penyebabnya. Umumnya petani hanya mengikuti harga yang sudah ditentukan tengkulak yang datang membeli cabai merah petani langsung ke ladangnya.

Posisi petani yang lemah tersebut berlangsung sejak lama dan petani tidak bisa berbuat banyak. "Daripada tidak terjual sama sekali, lebih baik dijual dengan harga yang ditetapkan mereka saja lah," katanya.
Link

Dicontohkannya, Rabu kemarin, harga cabai merah jatuh pada harga yang sangat rendah yakni Rp 5.000 per kg. Dengan harga tersebut, petani sama sekali tidak mendapatkan keuntungan. Bahkan petani tidak bisa mendapatkan modalnya kembali. Untuk hari ini saja, cabai merah untuk kelas 1 (terbaik) hanya laku terjual dengan harga Rp 8.000 - Rp 9.500 per kg.

Harga tersebut, menurutnya akan terus menurun sesuai dengan kelasnya. Sementara itu, petani hanya akan mendapatkan untung jika harga jual di tingkat petani sebesar Rp 15.000 per kilogram. "Kemarin modal Rp 5 juta untuk lahan 4 rante dan produksi 1 ton, kalo harganya rendah seperti ini, jangankan untung, modal saja tidak akan balik," katanya.

Selama ini, cabai merah petani selain dipasarkan ke daerah sekitar, juga dipasarkan ke Jambi, Padang, Kerinci, Bagan Batu juga ke Medan. Khusus untuk Medan, menurutnya pemasarannya kurang menguntungkan karena harga cabai yang diberikan sangat rendah. "Banyak alasannya, katanya dia sudah mendapat pasokan dari Berastagi atau Kabanjahe, ataupun dengan alasan transportasi yang harus dikeluarkan untuk mengangkut cabai merah dari sini (Batu Bara-red) ke Medan," katanya.

Petani lain di Desa Tanjung Kubah, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batubara, Indra mengatakan, harga cabai merah yang kerap turun dan merugikan petani harusnya menjadi perhatian pemerintah untuk lebih cepat mengambil tindakan. Pasalnya, petani sudah dibuat sulit dengan cuaca yang bisa berubah dengan sekejap. "Takutnya, harga cabai terus jatuh, produksi juga jatuh, petani tak bisa apa-apa," tambahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar