Senin, 30 Januari 2012

Gawat, Teh Indonesia Terus Merosot!

Oleh : Dedy Hutajulu.

Gawat! Ironi teh di negeri rempah-rempah ternyata masih terus berlanjut. Kompas edisi14 Januari 2012 menurunkan ulasan di halaman utama tentang nasib teh di tanah air yang terus terpuruk, mulai dari segi budidaya, volume produksi yang dipengaruhi semakin menyempitnya lahan areal perkebunan teh akibat dipinggirkan oleh sawit dan sayuran, sampai daya saing ekspor teh yang kian rendah.
Padahal diakui, peranan komoditas teh dalam perekonomian Indonesia sangatlah strategis. Di zaman penjajahan kolonial Belanda saja, industri teh ini mampu menyerap 1,5 juta tenaga kerja dan menghidupi sekitar 6 juta jiwa. Tentu, setelah lepas dari jerat perbudakan dan penindasan dipastikan industri teh akan mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi berjuta-juta orang dan menghidupi berlipat-ganda dari masa sebelumnya.

Selain itu, teh telah menyumbang devisa bersih sekitar 178 juta Dolar AS pada tahun 2010. Sedang rentang tahun 1997 sampai 2001, industri teh menyumbang sekitar 110 juta dolar AS per tahun. Ini menandakan bahwa tak terbantahkan bahwa teh sudah menjadi pilar ekonomi sekaligus bagian budaya bangsa ini selama berpuluh-puluh tahun.

Sedikit informasi, cerita teh di Indonesia berawal dari Andreas Cleyer. Tahun 1648, ia membawanya ke Indonesia sebagai tanaman hias di daerah Batavia (sekarang disebut Jakarta). Lalu, berpuluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1728, perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), membawa biji teh dan buruh China ke Pulau Jawa.

Tahun 1828, Jacobson membawa benih teh dari Jepang ke tanah air dan membudidayakannya. Sejak itu, usaha perkebunan teh mulai berkembang pesat. Apalagi karena memberi keuntungan besar bagi pemerintahan Hindia Belanda. Sampai-sampai Gubernur Van Den Bosch menetapkan tanaman teh sebagai salah satu komoditas sistem cultuur stelsel (tanam paksa). Sejak itu pula bisnis teh di tanah air yang dikuasai Belanda merajai pangsa pasar dunia karena teh dari Hindia Belanda dikenal memiliki keistimewaan dan keunggulan.

Kondisi geografis tanah Jawa Barat yang subur begitu mendukung perkembangan usaha perkebunan teh. Maka, pada tahun 1936 tercatat dari 293 perkebunan teh di Indonesia, 247 perkebunan di antaranya berada di Jabar. Sayangnya, dalam 10 tahun terakhir, agrobisnis teh mengalami penurunan luas areal dan volume produksi.

Padahal, tahun 2003 produksi teh nasional bisa mencapai 169.000 ton tetapi tahun 2010 turun menjadi 129.200 ton. Penurunan produksi terjadi karena konversi lahan teh ke lahan sawit dan sayuran. Luas areal tanam juga turun dari 157.000 hektar tahun 1998 menjadi 124.400 hektar tahun 2010 (Kompas, 14/1). Ini sangat disayangkan!

Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian pada tahun 2002 menunjukkan bahwa luas areal kebun teh di Indonesia sudah mencapai 157.000 hektar yang terdiri atas perkebunan teh milik BUMN sekitar 49.000 hektar, swasta 43.000 hektar, dan petani 66.000 hektar. Sekitar 70 persen perkebunan teh berada di Jawa Barat, tanah Pasundan.

Sedangkan tahun 2009, dari 123.506 hektar kebun teh di Indonesia sebesar 78,2 persen atau 96.652 hektar di antaranya berada di Jawa Barat. Produksi teh Jabar mencapai 111.721 ton atau 71,2 persen produksi teh Indonesia yang mencapai 156.901 ton. Luas kebun teh rakyat di Jabar tercatat 49.651 hektar atau 51,3 persen dari total kebun teh di Jabar, 31 persen PTPN, dan sisanya perkebunan swasta.

Dari sini kelihatan jelas bahwa teh merupakan komoditas ekspor Indonesia andalan dari Jawa Barat. Sayangnya, kita belum piawai menguasai pangsa pasar dunia. Pangsa nilai ekspor teh Indonesia dari seluruh jenis teh pada tahun 2001 mencapai 3,9 persen. Dari data penguasaan pangsa nilai ekspor seluruh jenis teh tersebut, Indonesia merupakan negara pengekspor teh terbesar pada urutan keenam di dunia setelah India (18,9%), China (17,1%), Kenya (7,9%), Inggris (7,9%), dan Uni Emirat Arab (4%). Dengan harapan, sedikit kerja keras lagi akan menaikkan posisi tawar Indonesia lebih maju di tahun berikutnya.

Sayangnya, antara harapan dan kenyataan terpaut jauh. Kita tak konsisten memajukan industri teh tanah air. Pemerintah tak mendukung sepenuhnya kerja keras para pekebun teh di Jabar. Akibatnya, pangsa nilai ekspor teh Indonesia menurun drastis. Jika dibandingkan dengan tahun 1997 yaitu mencapai 5,4 persen. Terpaut jauh di tahun 2001 yang hanya mencapai skor 3,9.

Periode 2002 sampai 2010 jelas makin menurun seiring menyempitnya areal perkebunan, melemahnya semangat budidaya, dan lemahnya distribusi serta daya saing ekspor di dunia. Indonesia tertinggal dari Sri Lanka yang mampu mencapai skor 14 (tahun 1997) dan skor 15 (tahun 2001) atas pangsa nilai ekspor dari seluruh total jenis teh. Padahal, Sri Lanka tidaklah lebih subur dari tanah kita.

Yang lebih menyedihkan, pertumbuhan ekspor teh Indonesia jauh di bawah pertumbuhan ekspor teh dunia, bahkan mengalami pertumbuhan negatif (-0,0259), komposisi produk (-0,032), distribusi (-0,045), dan daya saing teh sangat lemah yang tercermin dari angka faktor persaingan yang negatif (-0,211). Ini mengerikan sekali. Angka-angka semakin bernilai negatif semakin buruk sementara pertumbuhan ekspor teh dunia standarnya: 0,029. (Jurnal Agro Ekonomi, Volume 23 No.1, Mei 2005: 1-29).

Fluktuasi volume ekspor dan harga teh kita yang selalu lebih rendah. Dan rendahnya harga itu jauh dari apa yang dicapai Sri Lanka. Persoalannya bukan hanya terletak pada aspek budidaya, tetapi pengabaian pemerintah dalam membangun masyarakat pertehan Indonesia. Pemerintah selama ini tidak sepenuh hati menyokong masyarakat pertehan, khususnya Jawa Barat.

Apabila kemerosotan ini terus terjadi, dan tak segera cermat diresponi, buntutnya bisa berujung kehancuran teh Indonesia. Tentu, dampaknya akan sangat besar. Bukan hanya ribuan petani kehilangan pekerjaan, atau jutaan pekerja perkebunan kehilangan penghasilan, tetapi negara secara keseluruhan juga akan mengalami kerugian yang sangat besar.

Ini harus diwaspadai. Teh tidak melulu soal tanaman untuk diminum. Tidak juga soal budidaya. Tetapi ini soal pewarisan semangat. Sebagai bagian dari budaya dimana kita pernah berjaya dalam industri perkebunan teh. Kalau kelak punah apa yang akan kita ceritakan kepada generasi kita? Apa lagi gunanya disebut negeri rempah-rempah tapi keok di teh? Kemana muka bangsa ini disembunyikan?

Penulis aktif di Perkamen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar