Senin, 11 Juni 2012

Petani Harus Didukung Tingkatkan Produksi dan Kualitas

Medan. Ratusan ton sayuran dari berbagai jenis beredar di pasaran di Kota Medan dan sekitarnya. Dan, ratusan juta rupiah uang berputar dari rantai perdagangan sayuran antara petani dengan pedagang dan kemudian berakhir kepada pembeli. Karenanya, untuk bisa memenuhi kebutuhan sayuran dan persaingan, harus ada peningkatan produksi dan kualitasnya.
Hal tersebut dikemukakan salah seorang petani kol di Sigarang-garang Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Bremen Sitepu, Jumat (8/7) di Medan.

Menurutnya, Tanah Karo sebagai kawasan penghasil tanaman hortikultura sudah lama dikenal dengan produknya yang sangat banyak dan mudah didapatkan di pasar Sumut ataupun sekitarnya. Namun, jumlah produksinya bisa dikatakan menurun seiring dengan tingkat kesuburan tanah yang menurun. "Itu yang saat ini dirasakan petani Karo sekarang ini," katanya.

Ia menjelaskan, setiap harinya, dari pukul 20.00 banyak mobil pick up pengangkut sayuran yang datang untuk membeli sayuran dari petani untuk dijual di pasaran lokal maupun keluar kota, salah satunya Medan. "Ratusan ton sayuran dikeluarkan dari sini, ratusan juta berputar dari sayuran di sini, tapi sepertinya petani terus kesulitan," ujarnya.

Dikatakannya, dari biaya produksi, petani harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit untuk kebutuhan benih, pupuk, dan tenaga. Selama ini, cukup banyak beredar pupuk kimia yang terpaksa dibeli petani guna memompa produksi karena diyakini pupuk tertentu dapat menunjang produksi.

Untuk jangka pendek menurutnya produksi memang terpompa namun dalam jangka yang lebih panjang justeru merusak tanah yang bisa ditandai dengan berkurangnya kadar kesuburan. "Petani sayur ini dijepit dua kali, pertama produksi yang menurun, kedua kesuburan tanah yang berkurang yang ujungnya sayuran kami sulit menembus pasar yang lebih luas," katanya.

Menurutnya, jika saat ini impor sayuran Sumut cukup tinggi menandakan bahwa produksi dari petani tidak memenuhi pasaran meskipun ratusan ton keluar dari ladang petani setiap harinya. Selain itu hal tersebut juga menandakan bahwa banyak hal yang harus dikerjakan semua pihak yang peduli dengan kondisi petani.

"Petani kesulitan meningkatkan produksi karena kesuburan tanahnya yang berkurang, dipupuk tanahnya rusak, sayuran yang dipetik juga tak bisa menembus pasar internasional karena residu pupuk kimia yang tertinggal," tambahnya.(MB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar