Minggu, 27 Mei 2012

Petani Memilih Konversi daripada Bertahan Jadi Petani Sawah

Medan. Tingginya konversi lahan pertanian yang terjadi saat ini ternyata juga tidak terlepas dari peran petani itu sendiri. Banyak petani yang lebih memilih untuk melakukan konversi lahan sawahnya ke komoditas lain yang dianggap lebih bernilai jual tinggi, semisal kelapa sawit. Peneliti dari Yayasan Bina Keterampilan Pedesaan (Bitra), Iswan Kaputra , Kamis (24/5) di ruangannya Jalan Bahagia By Pass, Medan mengatakan, tingginya laju konversi lahan pertanian umumnya disebabkan masifnya roda pembangunan properti. "Ini sangat mengkhawatirkan, bisa-bisa lahan yang produktif untuk pertanian semakin habis," katanya.

Di Serdang Bedagai (Sergai) misalnya, ia pernah melakukan penelitian kepada sebanyak 80 petani yang mana ditemukan 8 orang atau 10 %nya lebih memilih untuk melakukan konversi ke pertanian atau perkebunan, khususnya kelapa sawit. Ini bukannya tanpa alasan, menurutnya, perkebunan kelapa sawit bisa jauh lebih menguntungkan daripada persawahan.  Apalagi, jika menilik luasan lahan persawahan petani yang sempit sulit untuk mendongkrak pendapatan petani lebih tinggi. "Dengan lahan yang kurang dari 0,5 hektare, petani kesulitan keluar dari kemelut," katanya.

Dikatakannya, untuk bertani sawah, petani harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi. Pendapatan yang diperolehnya saat panen nyaris tidak mencukupi menutupi biaya produksi dari awal penanaman, perawatan, pemupukan sampai masa panen dan pemasaran. "Adapun keuntungan tidak seberapa," katanya.

Lain halnya jika lahan persawahan yang dikelola petani selama ini, menurutnya pendapatannya akan menjadi lebih tinggi jika diganti dengan pertanaman monokultur. Kelapa sawit menjadi komoditas favorit petani yang hendak melakukan konversi karena jaminan keuntungan yang panjang sejak usia produktif hingga berusia 25 tahun.
Selain kelapa sawit, kata Iswan, komoditas perkebunan lain yang menjadi incaran petani adalah karet karena dinilai lebih menguntungkaan daripada sawah.

Menurutnya, ada hal penting yang tidak boleh dilupakan, di antaranya bahwa pertanaman monokultur bukannya tanpa risiko. Kelapa sawit menyerap cukup banyak air dalam pertumbuhannya. Sementara karet lebih sedikit. Namun yang juga penting diperhatikan adalah secara alamiah pertanaman monokultur berpengaruh terhadap keseimbangan ekologi. "Sistem monokultur, khususnya untuk kelapa sawit ini akan membuat suhu menjadi lebih panas," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar