Selasa, 22 Mei 2012

Kesuburan Tanah Pengaruhi Produksi Kopi

Medan. Kesuburan tanah merupakan faktor penting dalam dunia pertanian. Jika unsur hara yang sangat dibutuhkan bagi tanaman kurang, pertumbuhannya tidak akan optimal, seperti halnya pada tanaman kopi. “Jadi, harus ada pengelolaan terhadap kesuburan tanah secara berkelanjutan agar produksi kopi sesuai yang diharapkan,” kata dosen ilmu konservasi tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) Abdul Rauf dalam Lokakarya Nasional Keseimbangan Hara dan Pengelolaan Kesuburan Tanah Berkelanjutan Pada Kopi Arabika di Sumatera Utara dan Aceh yang diselenggarakan di Aula Supratman Fakultas Pertanian USU, Selasa (22/5).

Rauf mengatakan, untuk memacu pertumbuhan dan produksi, kesuburan tanahnya harus dikelola sedemikian rupa sehingga dengan komposisinya yang ideal bibit  bermutu yang ditanam di lingkungan tersebut lebih optimal. "Unsur hara yang terkandung di dalam tanah harus memenuhi persyaratan untuk pertumbuhan tanamannya," katanya.

Dikatakannya, dalam pengelolaan hara yang baik dan dapat mempertahankan keberlanjutannya dapat dilakukan dalam 2 tahap, yakni peningkatan unsur hara sampai ke tingkat yang diperlukan tanaman dan tahap lainnya adalah pemeliharaan unsur hara yang tinggi untuk mempertahankan kadarnya dengan pemberian pupuk dengan dosis yang cukup.

Di samping itu, menurutnya terdapat juga faktor-faktor umum yang harus dipertimbangkan dalam pengelolaan hara dan pemberian pupuk, di antaranya ketersediaan fosfor, nitrogen hilangnya amoniak, perkembangan akar tanaman, kondisi air tanah, tingkat pertumbuhan tanaman dan kondisi alam. "Pemberian pupuk yang tepat waktu di awal musim dan di akhir musim, sementara pemupukan di musim kemarau harus disiram agar pupuk larut dan mudah diserap tanaman," ujarnya.

Menurutnya, pupuk yang paling baik bagi tanaman adalah pupuk organik, bisa berupa mulsa yang berasal dari daun-daun, serasah sekitar tanaman kopi, rumput hasil penyiangan, hasil pemangkasan  pohon pelindung, serta daging buah kopi yang mengering. "Diberikan diawal dan akhir musim hujan dengan cara menumpuk di sekitar batang kopi setebal 15 cm," katanya.

Ia menerangkan, pentingnya mengetahui pengelolaan hara pada tanaman kopi secara
berkelanjutan ini untuk mengantisipasi jika terjadi gejala kekuranganan unsur hara. Misalnya, daun muda yang mulanya berwarna hijau berubah menjadi hijau pucat karena kekurangan unsur nitrogen (N). Sementara jika kekurangan unsur fosfor (P) pada daun tua, tulang daun berwarna kuning terang dan dalam waktu lama akan sedikit tersisa yang berwarna hijau. "Ditambah lagi dengan bercak kecoklatan yang menjadi tanda matinya sel jaringan daun yang dapat melebar," katanya.

Sikstus Gusli, salah seorang pengajar ilmu fisika  tanah dari Universitas Hasanudin yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, selama ini banyak petani yang kurang dalam melakukan pemupukan secara tepat dalam jenis, dosis dan frekuensinya. Padahal, pemupukan  merupakan suatu keharusan untuk dilakukan.

Pemupukan itu sendiri, harus dibarengi dengan pemeliharaan pelindung, manajemen pengelolaannya. "Pemupukan yang benar pasti dapat meningkatkan produksi kopi secara optimal," tambahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar