Selasa, 30 April 2013

Wagimin, Petani Rimbang yang Tak Pernah Bimbang

Langkat. Banyak petani sayur yang kondisinya memprihatinkan saat ini akibat banyak faktor, di antaranya harga jual yang tidak sebanding dengan biaya tanam, pemupukan, perawatan tanaman maupun pembelian pestisida. Tetapi petani yang mengembangkan tanaman rimbang (cepokak) mereka tidak pernah bimbang akan  anjloknya harga maupun tingkat kematian tanaman tersebut. “Harga jual rimbang saat ini lumayan bagus. Kami menolak ke penampung paling rendah Rp 9.000 per kilogram. Memang harga sebelumnya mencapai Rp 12.000 per kilogram.

Saat ini mengalami penurunan menjadi berkisar Rp 9.000 – Rp 10.000 per kilogram,” kata Wagimin ( 55), seorang petani rimbang di dusun  Kelantan  Desa Pasar Rawa Kecamatan Gebang, Langkat ketika ditemui

Menurut petani rimbang yang pernah meraih sukses ini, keberhasilan menanam rimbang dikarenakan ketekunan dan menjiwai tanaman  tersebut.

“Jika selama ini banyak petani yang kurang beruntung dengan tanaman rimbang, dengan alasan mati ketika tanaman berusia 4 bulan, mereka menduga unsur hara pada tanah tidak cocok untuk tanaman rimbang. Itu salah besar,” kata Wagimin.

Perlu diketahui, kata dia, rimbang merupakan tanaman liar di hutan dan semak belukar, yang biasa tumbuh dengan sendirinya akibat biji buah rimbang dibawa burung dan hewan pemakan buah-buahan.

Tetapi tanaman liar itu bisa dikembangkan, jika perawatannya cukup, sepohon rimbang jika sudah berusia 3-4 bulan bisa memproduksi buah rimbang hampir 1 kilogram untuk sekali panen.

Artinya, setiap 10 hari buah rimbang yang ada dalam satu pohon bisa dipanen antara 6 – 9 ons. Karena bunga dan putik rimbang terus muncul tanpa henti dan tidak mengenal musim. Asal saja, tanaman rimbang diperoleh dari hasil stek.

Untuk keberhasilan tanaman lanjut Wagimin, pohon rimbang yang subur dan menghasilkan banyak buah, bisa dipotong batang mudanya untuk disemaikan dalam polybag yang sudah berisi tanah gembur bercampur dolomit dan kotoran ternak.

Setelah tumbuh setinggi 25 centi meter atau selama 1 bulan, bisa dipindah ke lahan yang sudah disediakan.

“Perawatannya ringan, dan jangan terlalu banyak  menggunakan pupuk kimia, usahakan pupuk kandang. Tetapi penyemprotan pada daun menggunakan pupuk daun dan racun hama jangan sempat terlambat, setiap pekan harus dilakukan penyemprotan,” terangnya.

Sebab lanjut Wagimin, daun pohon rimbang sangat disukai berbagai macam hama dan ulat. Jadi, kalau petaninya lalai, daun akan kering, tergulung dan layu serta gundul, hingga menuju kematian.

“Jika ini terjadi masih bisa diselamatkan dengan menghentikan pemberian pupuk pada batang atau akar tanaman, tetapi berikan penyemprotan meyeluruh pada pohon rimbang.

Sepuluh hari kemudian daun akan bertunas dan bercabang baru hingga mengeluarkan bunga dan putik buah. Asalkan jangan lupa melakukan penyemprotan dan perawatan rutin. Tanaman rimbang bisa bertahan hingga 4 tahun,” jelasnya.

Dengan jumlah tanaman 100 pohon saja, jika satu pohon menghasilkan rata-rata 6 ons, setiap sepuluh hari bisa panen 60 kg, sekali jual bisa berpenghasilan Rp 500 ribu.

Berarti jika sebulan berpenghasilan Rp 1,5 juta. “Jika ada lahan seluas 8 rante kan tanaman rimbangnya sudah bisa mencapai 350 pohon lebih, maka petani itu bisa meraup uang sebanyak Rp 5 juta setiap bulannya. Petani kelapa sawit saja tidak sampai demikian penghasilannya,” ungkap Wagimin.
, Senin (29/4).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar