Kamis, 07 Februari 2013

Harus Ada Tim Pengamat Gugur Buah Jeruk Karo

Medan. Penurunan produksi jeruk di Kabupaten Karo harus menjadi masalah bersama. Petani tidak bisa bekerja sendiri menghadapi masifnya serangan lalat buah. Namun, muncul dugaan bahwa penyebab terpuruknya produksi jeruk tidak hanya disebabkan lalat buah.
“Harus ada tim yang mengamati terjadinya gugur buah sebelum waktunya,” kata Koordinator Pengamat Hama Penyakit (PHP) Karo, Rabu (6/2) di Medan.

Umumnya kata dia, orang memahami keterpurukan produksi jeruk di Karo karena serangan lalat buah. Padahal, yang terjadi adalah banyak buah yang jatuh lebih cepat dari waktu pembusukannya di dahan.

“Mengetahui penyebab terjadinya gugur buah sangat penting karena berkaitan dengan langkah penanganannya. Jika penanganan yang diberikan mulai dari perangkap, obat-obatan, dan perlakuan lain dikhususkan untuk lalat buah sementara ada penybab lain yang tidak bisa diselesaikan dengan penanganan yang diberikan, tentunya akan menjadi sia-sia,” jelasnya.

Faktor lain seperti iklim yang seringkali berubah kata dia, sangat mungkin menyebabkan buah jeruk jatuh lebih cepat dari waktunya. "Nah, setelah jatuh lalu membusuk, dibiarkan menjadi tempat berkembang biaknya hama lain, salah satunya lalat buah," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Pengendalian Hama Penyakit Medan Johor, Utema Silan, mengatakan, tidak semua buah jeruk yang gugur disebabkan lalat buah. Penyebab lainnya adalah mati ranting, busuk tangkai buah, dan penggerek buah.

Dikatakannya, lalat buah merupakan hama yang menjadi perhatian secara nasional untuk dikendalikan secara cepat agar jeruk tidak punah. Dalam satu buah jeruk yang diserang lalat buah didalamnya terdapat 4 - 5 ekor lalat buah baik jantan maupun betina.

Lalat buah betina bisa menelurkan 1.200 – 1.500 butir di dalam buah jeruk. Dari jumlah tersebut yang bisa menetas sekitar 800 butir jantan dan betina. "Itu dari satu buah saja, bisa dibayangkan berapa banyaknya jika petani tidak mau menerapkan pola perawatan yang sehat," katanya.

Di Sumut sendiri, lanjutnya, pengendalian lalat buah sudah dilakukan sejak 2002, dengan total pertanaman jeruk di Kabupaten Karo saat itu mencapai 11.700 hektare, 8.900 hektare merupakan tanaman produksi dan 2.800 hektare tanaman muda. Luas serangan lalat buah mencapai 426,50 hektare.

"Di tahun 2012, pengendalian lalat buah kita pusatkan di 4 kecamatan yang merupakan sentra produksi jeruk di Karo, yakni di  Kabanjahe, Tiga Panah, Merek, dan Simpang Empat, dengan luasan 50 hektar," tambahnya. (mb)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar