Senin, 23 April 2012

Hingga Kini, Jeruk Karo Belum Bisa Diekspor






















Medan
. Hingga kini, jeruk Berastagi Sumatera Utara (Sumut) belum mampu menembus pasar ekspor. Selain banyaknya serangan hama lalat buah, produksi jeruk yang tidak seragam dari besar dan warna membuat kalah bersaing dengan jeruk luar negeri. Pelaksana tugas (Plt) BBI Kutagadung Berastagi, Jonni Akim Purba mengatakan, meski jeruk merupakan salah satu komoditas hortikultura andalan di Sumut, namun buah ini tidak sanggup menembus pasar ekspor. Kondisi ini membuat petani enggan mengembangkan tanamannya sehingga harga jual juga masih rendah meski biaya produksi mencapai Rp 70 juta per hektare.

"Selama ini jeruk kita masih dijual ke pasar domestik seperti ke Medan, Pekan Baru, Batam dan Jakarta. Kalau dari luar negeri permintaan ada saja, tapi produksi kita belum sesuai dengan yang diinginkan pasar tersebut," ujarnya kepada wartawan di Medan, Senin (23/4).

Dikatakannya, kualitas produksi jeruk lokal belum sesuai yang diinginkan pasar ekspor seperti besar dan warna buah yang tidak seragam atau jauh berbeda dengan produksi jeruk dari luar negeri. Ditambah lagi, tanaman jeruk lokal masih mengenal musiman sehingga produksi tidak bisa kontinu.

Kendala lainnya, tambah Akim, serangan hama lalat buah membuat buah jeruk tidak bagus dalam penampilan dan produksinya yang menurun. Dimana serangan hama ini merupakan momok menakutkan untuk petani lokal, karena pengendalian hama tersebut membutuhkan biaya tinggi dan perhatian ekstra dari awal tanam hingga pasca panen.

Menembus pasar luar atau menghasilkan buah sesuai yang diinginkan pasar luar ini, kata Akim tidak terlalu sulit untuk petani, asalkan harga jual tinggi dan pemasaran jelas. Karena, petani untuk mendapatkan produksi berkualitas harus menambah modal sebesar 1,5 kali lipat dari biasanya yang mencapai Rp 70 juta perhektare.

"Biaya tambahan itu untuk pengendalian hama, bibit dan perawatan lainnya sehingga buah yang dihasilkan seragam dan sesuai diinginkan pasar," jelasnya.

Selain pengendalian serangan hama lalat buah ini, ia juga menyatakan, tanaman jeruk yang sudah tua atau tidak berproduktif dengan usia rata-rata 20 hingga 25 tahun harus segera diremajakan atau sekitar 25% dari total luas areal tanaman jeruk di Tanah Karo sekitar 2.000-an hektare sudah tidak produktif. "Tanaman itu harus diganti baru. Karena tanaman tua ini dapat menjadi inang penyakit," jelasnya.

Petani Jeruk di Brastagi, Sadrah menyatakan, produksi jeruknya masih menembus pasar domestik dengan harga jual mengikuti mekanisme pasar. "Harga saat ini Rp 7.000 perkg, ini memang tinggi dan hanya bisa dijual ke Sumatera hingga Jawa. Kalau ke luar negeri belum ada yang pesan dan kita tidak sanggup memenuhi keinginan pasar tersebut," akunya.

Untuk serangan hama lalat buah, lanjutnya, belum dapat dikendalikan sehingga banyak petani yang enggan mengembangkan tanaman jeruk ini bahkan banyak yang beralih ke komoditas lain. Sebab, untuk mengendalikan hama itu membutuhkan biaya besar dan perawatan sehingga produksi tetap bertahan dan banyak.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Sumut Darwinsyah mengatakan pemasaran jeruk lokal sudah menembus pasar ekspor, yakni ke Singapura dan Malaysia. Namun memang, kualitas dan kuantitasnya belum banyak yang dapat memenuhi permintaan pasar international. “Ini karena petani belum dapat memproduksi buah jeruk secara massal sesuai permintaan. Namun, jeruk hasil olahan yang diekspor sudah banyak,” tandasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar