Kamis, 02 Desember 2010

DNA PENCIUMAN LALAT BUAH

by : Sciencedaily

Suatu penelitian baru mengidentifikasi potongan sel DNA gen lalat buah yang dapat mengaktifkan atau menonaktifkan penciuman sehingga membuka jalan bagi penolak serangga yang lebih baik.

Dengan mengacu pada "hidung" lalat buah, ilmuwan Yale telah menemukan sebuah penolak serangga baru yang dapat mengurangi penyebaran penyakit menular dan kerusakan pada tanaman pertanian. Hal ini dikarenakan untuk pertama kalinya mereka meneliti bagaimana mengaktikan atau mengnonaktifkan sekelompok gen yang digunakan dalam membedakan bau sehingga membuka kesempatan menemukan pengendalian serangga yang baru. Sama halnya dalam pengembangan obat baru, peneliti dapat menciptakan zat yang membuat tanaman dan orang-orang "tak terlihat" oleh serangga. Serangga akan menyerang seseorang atau tanaman kemungkinannya menjadi jauh lebih kecil jika kemampuan penciumannya salah, seperti halnya dengan nyamuk akan terganggu oleh bahan aktif dalam penolak serangga, DEET yang memiliki bau asam laktat. Temuan ini dilaporkan dalam edisi 2010 September jurnal Genetics.

Menurut Carson Miller, seorang peneliti yang bekerja Departemen Molekuler, Seluler dan Perkembangan Biologi di Yale University, "Salah satu pertanyaan mendasar dalam biologi adalah, bagaimana sel memilih gen mana yang diaktifkan atau harus non aktifkan? Dengan mempelajari syaraf penciuman lalat buah, kami berharap dapat mempelajari bagaimana sel membuat pilihan-pilihan, serta untuk mengembangkan penolak serangga lebih efektif berdasarkan penciuman bau."

Para ilmuwan mempelajari empat gen dari sekelompok gen reseptor bau di lalat buah. Gen ini mampu membuat lalat memiliki kemampuan untuk mendeteksi aroma yang berbeda. Bagian DNA di depan gen ini berisi informasi yang cukup untuk memberitahu lalat bagaimana mengaktifkan gen pada sel tertentu. Miller membuat gen pelapor penciuman buatan sebuah gen reseptor pada aturan DNA untuk mengendalikan uji gen yang dapat dengan mudah dimonitor perkembangannyai. Dalam sebuah gen reporter yang diciptakan, masing-masing berisi kurang dari aturan DNA yang berlaku. Tujuannya adalah untuk menentukan bagaimana lama waktu terpendek pada batasan aturan namun masih bisa mengontrol pengujian gen normal. Ini membantu Miller dalam mengidentifikasi di mana elemen kontrol yang penting tersebut terletak pada peraturan DNA , dan bagaimana mengaktifkan atau menon aktifkan gen di dalam sel tempat yang membutuhkan pada tempatnya masing masing.

"indera penciuman bau adalah kelemahan bagi banyak serangga," kata Mark Johnston, Editor Kepala jurnal GENETICS, "dan semakin kita belajar tentang reseptor bau maka akan memudahkan dalam melibatkan mereka untuk penanggulangan hama penyakit serangga dan kehancuran tanaman. Penelitian ini merupakan langkah maju dalam melakukan identifikasi mekanisme sangat selektif dari 'gen penciuman bau'

Sumber : Deptan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar