Tampilkan postingan dengan label gagal panen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gagal panen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2011

Berita Pertanian : Petani Sawit Terancam tidak Panen akibat Banjir

MUKOMUKO. Seluas 150 hektare kebun sawit petani di Desa Tanah Harapan, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, terancam tidak bisa dipanen selama tiga bulan akibat terendam banjir.

"Ratusan tanaman sawit yang terancam tidak bisa menghasilkan selama tiga bulan itu karena usianya masih muda dan baru mau berbuah pasir," Kata Kepala Desa Tanah Harapan, Kecamatan Kota Mukomuko Atral di Mukomuko, Sabtu (5/11).

Dari total luas areal perkebunan sawit di desa itu, kata dia, yang paling parah terendam banjir dan diprediksi sulit berbuah seluas 150 hektare. Karena tanaman sawit yang baru berbuah pasir itu berada sepanjang bantaran Sungai Selagan.

Menurut dia, air Sungai Selagan merupakan sumber utama terjadinya banjir yang merendam tanaman sawit warga sekitar. Hujan deras terus-menerus mengguyur daerah itu sejak Rabu (2/11) sampai Jumat (4/11).

Jika sampai tiga hari kedepan hujan masih saja mengguyur daerah ini khususnya di desa tersebut, petani tidak saja terancam tidak panen selama tiga bulan tetapi berpeluang merusak tanaman tersebut.

"Tanaman sawit yang lama terendam itu dengan sendirinya rusak dan otomatis petani akan mengalami kerugian yang sangat besar karena tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk memulai membuka kebun sampai panen," kata dia.

Sedangkan, komoditas tanaman pertanian lain yang terendam banjir, menurut Atral, belum didata dan dilaporkan oleh pemiliknya ke perangkat desa.

"Kami baru dapat laporan tanaman sawit yang terendam, kalau tanaman pangan dan pertanian lain belum dilaporkan," kata dia.

Sementara itu, sampai saat ini hujan masih saja mengguyur daerah ini, dan membuat warga kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.

"Warga terpaksa bertahan di dalam rumah dalam kondisi cuaca hujan seperti saat ini," kata Atral.

Selain seluas ratusan hektar tanaman sawit di desa itu yang terkena banjir, kata dia, sekitar sembilan rumah warga juga ikut terendam air.

Namun, air yang merendam rumah warga itu saat ini mulai surut dan pemiliknya sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.

Sebelumnya, Kepala Bidang Penyelenggaraan Penyuluhan pada Badan Pelaksanaan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Kabupaten Mukomuko Jumadi mengatakan, seluas 80 hektar tanaman jagung petani tiga desa di Kecamatan Lubuk Pinang terendam banjir.

Puluhan hektar tanaman jagung petani yang terendam banjir itu mulai usia 15 hingga 60 hari.

Seluas puluhan hektar luas areal tanaman jagung yang terendam banjir itu berada di Desa Arah Tiga seluas 10 hektare, Desa Tanjung Alai 20 hektare, dan Desa Sumber Makmur 40 hektare.

Rabu, 03 Agustus 2011

Berita Pertanian : Pemerintah Siapkan Antisipasi Gagal Panen Rp380 Miliar

Jakarta. Pemerintah menyiapkan anggaran untuk membantu para petani terhadap kemungkinan gagal panen atau puso dan sebagai antisipasi ketersediaan pangan hingga akhir tahun sebesar Rp380 miliar.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa seusai rapat koordinasi di Jakarta, Rabu, menjelaskan anggaran tersebut diambil dari dana stabilisasi pangan yang telah ditetapkan dalam APBN sebesar Rp2 triliun.

"Kita akan menggunakan dana stabilisasi bahan pangan pokok kita yang sekitar Rp2 triliun tersebut dan yang baru kita gunakan saat ini untuk memberikan bantuan kepada petani yang mengalami puso kira-kira Rp380-an miliar," ujarnya.

Hatta menjelaskan anggaran tersebut telah bertambah dalam APBN Perubahan sekitar Rp600 miliar sehingga total keseluruhan pemerintah mencadangkan dana sebesar Rp2,2 triliun untuk menjaga ketersediaan pangan.

"Sehingga kita sekarang masih memiliki sekitar Rp2,2 triliun, dan ini nanti yang akan kita gunakan maksimal untuk stabilisasi harga pangan pokok," ujarnya.

Pemerintah juga mempertimbangkan untuk memberikan raskin ke-13 pada Desember mendatang yang diperkirakan sebagai bulan paceklik pangan.

Menurut Hatta, saat ini berdasarkan pantauan dari 66 kota di Indonesia ada beberapa harga kebutuhan pokok yang mengalami penurunan seperti cabai rawit, bawang merah, gula pasir, minyak goreng curah, minyak goreng kemasan serta minyak goreng umum.

Namun, pemerintah juga melakukan upaya stabilisasi harga karena masih ada kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan yaitu daging ayam ras, daging sapi dan kedelai.

Untuk itu, sebagai upaya agar stok pangan cukup tersedia dan harga tidak mengalami kenaikan di atas 5 persen menjelang Lebaran maka pemerintah akan terus melakukan operasi pasar dan menyediakan pasar murah yang bekerjasama dengan pemerintah daerah serta perusahaan besar terkait program CSR. (ant)

Selasa, 19 April 2011

Berita Pertanian : Akibat Hujan Es, Tanaman Jeruk Terancam Gagal Panen

Berastagi. Hujan es yang terjadi Sabtu (16/4) sekitar pukul 16.25 Wib di Desa Lingga Julu Kecamatan Simpang Empat, membuat para petani jeruk kehilangan produksi.

Salah seorang petani jeruk yang mengalami kerugian akibat hujan es tersebut, Join Ginting kepada pada MedanBisnis di ladangnya, mengatakan, kondisi jeruk mereka pada Minggu (17/4) berubah warna menjadi kehitaman (lembam). Padahal, kondisi buah jeruk sudah mulai membesar. “Melihat kondisi buah jeruk yang kehitaman itu, sepertinya tidak akan bisa pulih seperti sediakala. Kalau itu terjadi, petani jeruk di Desa Lingga akan mengalami kerugian yang cukup besar. Karena buah jeruk sudah besar,” jelasnya.

Peristiwa yang sama juga banyak di alami para petani, bahkan ada juga yang mengalami di luar Desa Lingga Julu, seperti di Desa Dukumsiroga. Dari penelusuran MedanBisnis di beberapa lokasi buah jeruk yang terancam gagal itu bisa menjapi puluhan ton. Belum lagi yang terjadi pada sayuran kol, dan beberapa macam jenis tanaman yang siap panen yang terkena hujan es tersebut menjadi busuk.

Rabu, 30 Maret 2011

Berita Pertanian : Gagal Tanam Padi, Transmigran Pergi

Bangka Selatan. Program transmigrasi yang memanfaatkan lahan gambut di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ditinggalkan sebagian besar transmigran. Pemicunya, lahan yang disiapkan tak cocok untuk padi dan buruknya sistem irigasi.

Kegagalan bertani membuat sebagian transmigran memilih pergi kembali ke kampung asal. Hanya sebagian kecil yang bertahan di lokasi transmigrasi dan bekerja pada tambang timah ilegal. Sementara, sebagian perempuan membuat atap nipah.

”Saya sudah bertahun-tahun membuat atap nipah. Dulu kalau tahu dapat lahan seperti ini, mungkin kami tidak mau berangkat,” ujar Kasini, transmigran asal Purwokerto, Jawa Tengah.

Kepala Dusun II Desa Bangka Kota, Kecamatan Simpang Rimba, Sutarwin mengatakan, transmigran di desa itu ditempatkan secara bergelombang pada 1992 hingga 1996. ”Setiap desa disediakan untuk 100 keluarga,” ujarnya di Toboali, ibu kota Kabupaten Bangka Selatan, Selasa (29/3).

Total transmigran setempat sebanyak 300 keluarga. Mereka berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali. Setiap keluarga memperoleh 0,75 hektar lahan sawah bekas rawa dan 1 hektar berupa hutan. Namun, akses ke lahan 1 hektar itu baru dibuka beberapa bulan terakhir. ”Tanahnya terlalu asam, tak bagus untuk padi. Sekarang lahan itu kami pinjamkan ke perkebunan sawit. Kami dapat ganti akses jalan dan bibit sawit untuk ditanam di lahan satu lagi,” kata Sutarwin.

Di Batu Betumpang, jaringan irigasi belum menunjang persawahan. Akibatnya, sawah tak dapat pengairan cukup. ”Banyak sawah ditinggalkan karena tak dapat air,” ujar Sujana, transmigran di Batu Betumpang.

Pemprov Kepulauan Bangka Belitung (Babel) berencana membuka 10.000 hektar sawah di Batu Betumpang. Sebagian sawah akan dikelola transmigran. Sisanya dibagikan kepada warga setempat.

”Pengadaan lahan sedang menunggu izin Kementerian Kehutanan karena sekitar 6.000 hektar ada di kawasan hutan. Kami telah mengusulkan perubahan peruntukan,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi Babel Nazalyus.

Permukiman telantar

Di permukiman transmigran pada lahan eks program Pengembangan Lahan Gambut (LPG) di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, sebagian rumah juga ditelantarkan. Transmigran menjual rumah, lalu pulang ke daerah asal. Di Desa Petak Batuah, Kecamatan Dadahup, misalnya, sejumlah rumah tampak kosong, tertutup, dan tak terawat.

Kepala Desa Petak Batuah Setu Raharjo mengakui, sejumlah rumah transmigran di desanya dijual. Desa itu dihuni transmigran sejak 1997. Awalnya rumah-rumah ini ditempati 400 keluarga, kini tersisa 317 keluarga.

”Rumah yang ditinggalkan di- limpahkan kepada warga lain. Ya, kasarnya dijual dengan harga Rp 2 juta- Rp 3 juta per unit. Mereka pindah karena tak tahan tinggal di sini,” katanya.

Kepala Desa Manyahi, Kecamatan Mantangai, Suparno, mengatakan, desa itu ditempati sejak 1997 oleh 479 keluarga. Kini tersisa 242 keluarga yang bertahan.

Harga sayur yang turun tajam membuat para petani membiarkan komoditas itu membusuk di kebun. Sejumlah petani juga membuang sayur ke kanal LPG. Hama tikus yang mengganas ikut memicu sebagian transmigran menyerah dan pulang.

”Awalnya tanah juga tak bisa ditanami sayur. Kalau ditanam, sayur mati. Transmigran harus bekerja keras menggarap lahan yang terlalu asam itu,” katanya.

Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) membuka lebar daerahnya sebagai tujuan transmigrasi. Transmigran dibutuhkan untuk mengisi daerah pemekaran baru guna mempercepat perkembangan wilayah. ”Tahun 2011 ini rencananya akan datang 850 keluarga transmigran untuk ditempatkan di lima kabupaten,” ujar Kepala Seksi Penempatan dan Kemitraan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sultra Hendrawati.

Rabu, 16 Maret 2011

Berita Pertanian : APTI Harapkan Petani Tembakau Tidak Trauma Cuaca

Sleman. Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan para petani tembakau tidak trauma dengan kejadian gagal panen akibat pengaruh cuaca pada 2010.
"Kami berharap komoditas tembakau dari Sleman bisa pulih pada tahun ini, dan para petani tembakau kami imbau untuk tidak trauma dengan cuaca, serta tetap menanam tembakau," kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Sleman Suwarji, di Sleman, Rabu (16/3).

Menurut dia, untuk membangkitkan kembali semangat para petani tembakau di Kabupaten Sleman, pihaknya telah berupaya mencari bantuan untuk permodalan tanpa agunan pada masa tanam 2011.

"Pinjaman tanpa jaminan tersebut diberikan oleh salah satu bank swasta bekerja sama dengan produsen rokok. Saat ini sudah ada sekitar 50 petani yang mengajukan pinjaman dengan besaran masing-masing Rp25 juta," katanya.

Ia mengatakan akibat gagal panen pada 2010, para petani tembakau kondisinya sangat terpuruk, dan mereka tidak memiliki modal untuk kembali menanam tembakau, karena biayanya tinggi.

"Pinjaman tanpa jaminan ini menjadi angin segar bagi kami, setelah tahun lalu kami semua gagal panen akibat cuaca, dimana hujan terus-menerus turun hampir sepanjang tahun, dan mengakibatkan tanaman tembakau rusak," katanya.

Suwarji mengatakan selain pinjaman modal tanpa jaminan dan bisa langsung cair itu, juga ada kerja sama pemasaran hasil panen tembakau. "Pengembalian pinjaman modal tersebut tidak dengan uang tunai, tetapi saat petani menjual hasil panen. Misalnya saat menjual hasil panen ke pabrik, uang yang diterima sudah dipotong untuk membayar pinjaman," katanya.

Ia mengatakan diharapkan dengan pinjaman tersebut petani tembakau bisa bangkit lagi semangatnya, apalagi jika seandainya pada 2011 kembali gagal panen karena cuaca, maka tetap tidak akan ada penagihan. "Jika tahun ini kembali gagal panen, maka tidak akan ada penagihan, dan justru akan dikuatkan lagi untuk masa tanam selanjutnya," katanya.

Suwarji juga berharap hasil tanam tembakau pada 2011 akan lebih baik karena sesuai prediksi musim kemarau akan lebih lama karena pengaruh El Nino. "Dua tahun kemarin musim hujannya lama, dan tahun ini gantian kemaraunya akan panjang, sehingga pasti harga tembakau di Sleman akan tinggi. Dalam waktu dekat kami akan mengundang BMKG Yogyakarta untuk pemaparan prakiraan cuaca, dan semoga pada April sudah mulai pembibitan, dan awal Juni sudah bisa tanam," katanya. (ant)

Selasa, 15 Maret 2011

Berita Pertanian : Ratusan Petani Tebu Rugi akibat Anomali Iklim

Sumber. Ratusan petani tebu rakyat di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, rugi akibat anomali cuaca 2010, tetapi pada 2011 mereka tetap menanam tebu karena telanjur, kata Ketua Asosiasi Petani Tebu Raykat Indonesia (APTRI) Jawa Barat Anwar Asmali.
"Sedikitnya 572 hektar lahan petani tebu rugi akibat hujan berkepanjangan tahun lalu, tetapi kini mereka tetap tanam tebu," kata Anwar Asmali kepada wartawan di Sumber, Selasa (15/3).

Dia mengatakan, petani tebu tersebut biasanya menyewa lahan sampai dua tahun. "Karena itu, kendati merugi tahun lalu, mengingat ada tebu rakat panen dua kali, maka tebu yang ada sekarang yakni tunas tebu tahun lalu dibiarkan sampai panen," katanya.

Menurut dia, ada tiga tingkatan kerugian petani tebu tersebut. Pertama, mendapat sisa hasil usaha (SHU) hanya cukup untuk membayar biaya operasional. Kedua, petani rugi sedang, apabila kewajiban dipenuhi termasuk sewa lahan. Ketiga, merugi berat apabila tidak mendapat SHU sama sekali. "Ratusan petani yang mengelola lahan 572 hektare itu termasuk rugi berat," katanya.

Di pihak lain, dalam penggarapan lahan tahun 2011 petani juga harus menambah biaya karena lahan rusak. Rusaknya lahan tersebut akibat penebangan tahun lalu tidak normal. Biasanya tebu diangkut dengan truk langsung dari sawah, akibat hujan terus menerus hampir sepajang tahun 2010 terpaksa ada yang diangkut dengan perahu.

Bekas pengakutan seperti itu merusak lahan, kata dia, akibatnya petani harus mengeluarkan uang lagi. Petani juga merugi karena rendemen gula sangat rendah yakni antara 5 dan 6, sedangkan tahun lalu rendemen gula di Cirebon antara 6 dan 7.

Sebelumnya, Kabag Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Perkebunanan Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ade Hassan mengatakan, akibat anomali cuaca tersebut areal tanaman tebu rakyat di Kabupaten Cirebon tahun 2011 seluas 65.000 hektar atau turun sekitar 1.000 hektar dibanding tahun lalu. (ant)

Kamis, 10 Maret 2011

Berita Pertanian : Petani Gagal Panen Bakal Mendapat 'BLT' Sebesar Rp2,6 Juta per Hektar

Jakarta. Para petani yang mengalami gagal panen (puso) bakal menerima bantuan tunai layaknya Bantuan Langsung Tunai (BLT). Pemerintah siapkan dana senilai Rp2,6 juta per hektar untuk mengganti biaya tenaga kerja, kepada petani yang mengalami puso minimal 75% dari luas lahan.

“Kemungkinan moral hazard akan terjadi. Oleh karena itu, istilahnya bantuan pengolahan lahan, jangan bantuan penggantian gagal panen. Nanti bisa jadi seolah-olah dibuat gagal,” ujar Menteri Pertanian Suswono di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (9/3). Suswono menyatakan, pemerintah pusat akan melakukan kontrol hingga ke tingkat kecamatan. “Di sana ada pengawas pengendali hama penyakit yang akan mengawal betul-betul. Jadi kalau dikatakan puso apabila kegagalannya kerusakannya di atas 75%,” jelasnya.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menambahkan bahwa penggantian diberikan dengan tujuan agar para petani bisa tetap menanam disaat cuaca ekstrem.

Selain itu, pemerintah juga telah sepakat untuk menaikkan produksi beras hingga 5% agar dapat memenuhi target surplus yang diberikan Presiden SBY menjadi 10 juta ton, dalam 5 tahun ke depan."Jumat mendatang diharapkan blue print-nya selesai dan memulai tahap pertama," tandasnya.

Sebelumnya Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan bantuan ini hanya diberikan kepada petani yang benar-benar mengalami gagal panen dengan jumlah yang tak bisa diharapkan sepenuhnya mengganti kerugian petani. Khusus untuk uang tunai, lanjut Bayu, kompensasi tersebut hanya untuk mengganti bantuan biaya tenaga kerja yang sudah dikeluarkan.

Jumat, 25 Februari 2011

Berita Pertanian : Ratusan Ton Sayur Mayur Membusuk Tak Dipanen

Jambi. Ratusan ton sayur mayur di daerah sentra produksi Renah Pemetik Kabupaten Kerinci dibiarkan sampai membusuk tanpa dipanen oleh petani.

"Sedikitnya 120 ton kentang, dan ratusan ton tanaman agrikultura sayur mayur lainnya seperti ubi jalar, kol, lobak, tomat, terung dan lai sebagainya dibiarkan membusuk di lahan oleh petani yang ogah memanen," kata Kepala Dinas Pertanian Ir Kamil, saat dihubungi di Kerinci, Jumat.

Kondisi itu terjadi, kata Kamil, karena petani sudah apatis dengan hasil pembudidayaannya tersebut disebabkan sulitnya pendistribusian keluar lokasi mengingat ketiadaan jalan atau jalur yang memadai.

"Karena kondisi itu ongkos membawa keluar areal sampai ke jalan utama yang berada belasan kilometer, menjadi lebih mahal dari harga jual hingga mencapai 75 persen hingga 100 persen atau dua kali lipat. Harga jual kentang hanya Rp2.500 sementara ongkos bawa mencapai Rp3.500, sehingga petani memilih membiarkan tanamannya sampai membusuk di lahan tanpa dipanen," kata Kamil.

Renah Pemetik yang terdiri dari beberapa desa dan termasuk dalam wilayah adminstratif di dua kecamatan yakni Siulak dan Air Hangat Timur merupakan daerah subur yang sangat cocok ditetapkan sebagai sentra pengembangan berbagai produk agrikultura, kata Kamil.

Daerah itu juga merupakan areal perkebunan tanaman holtikultura yang dikelola sebagai perkebunan rakyat seperti Kayu Manis (cassiavera) dan kopi.

"Sayangnya karena ketiadaan ruas jalan produksi atau jalan usaha tani tersebut, produksi pertanian di kawasan tersebut hingga kini belum berarti banyak dalam mengangkat perekonomian masyarakat setempat. Jalan utama saja baru selesai dibangun pada proyek tahun lalu," kata dia.

Saking sulitnya, bahkan ada petani yang telah memanen kebun kayu manisnya empat tahun lalu, namun hasil produksinya masih disimpan atau belum dibawa keluar untuk dijual ke agen hingga lembaran kulit kayu manis tersebut sampai ditumbuhi lumut di `umin` (ruang di bawah rumah panggung warga yang sering dijadikan gudang).

Apalagi, tambahnya, bagi tanaman kentang dan sayur mayur lain yang tidak bisa tahan lama. Padahal, pada saat musim panen seperti saat sekarang ini masing-masing petani bisa memanen 5 hingga 6 ton setiap harinya dari satu hektar lahannya.

Kondisi ini menurut para petani setempat terjadi setiap tahunnya, hanya sebagian kecil mayarakat yang memaksa diri membawa keluar hasil taninya, itupun dilakukan oleh mereka yang berada tidak tidak terlalu jauh dari jalan utama.

Guna mengatasi permasalahan ini pihak Distan telah berupaya mencari celah untuk pembiayaan pembangunan jalur jalan produksi dan jalur usaha tani bagi warga setempat.

"Salah satunya kita sudah mengajukan proposal ke pemerintah pusat melalui Kementrian Pertanian di Jakarta pada Januari 2011 lalu, saat ini proposal tersebut tengah dipelajari oleh Kementan, kita harapkan akan ada anggaran untuk itu, meskipun peruntukan realisasinya untuk 2012," tandasnya.(ant)

Selasa, 22 Februari 2011

Berita Pertanian : Harga Pinang Capai Rp 8 Ribu

TUNGKAL. Harga pinang di tingkat petani kembali naik signifikan. Dalam 10 hari terakhir, harganya mencapai Rp 8.000 per kilogram, setelah sebelumnya mengalami penurunan.

Menurut petani pinang, Ahmad (55), harga pinang sempat turun hingga Rp 5.500 per kilogram. Maka, dia pun menyambut gembira karena harganya menguat belakangan ini sehingga keuntungan yang didapat jadi berlipat.

Apalagi kenaikan harga tersebut bertepatan dengan terus meroketnya harga kebutuhan bahan pokok di pasaran. Dengan naiknya harga pinang, para petani merasa terbantu. Diperkirakan, harga pinang akan mengalami kenaikan secara terus menerus.

"Senanglah, harga pinang kembali mahal. Dapat membantu ekonomi keluarga. Apalagi sekarang kelapa belum panen," ucapnya.

Kenaikan harga pinang di kalangan petani berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per kilogram. Harga pinang di penampung lebih tinggi yakni mencapai Rp 10.000 per kilogram dalam beberapa hari terakhir. Para penampung biasanya mengambil pinang dari petani untuk dijual kembali ke luar daerah karena harganya lebih mahal dibandingkan di Tanjabbar.

"Kalau harga di penampung jauh lebih tinggi karena pinang akan dikirim ke luar negeri seperti India dan Singapura," jelasnya.

Selain dari Kabupaten Tanjabbar, pinang-pinang tersebut juga berasal dari wilayah Tanjabtim, seperti Sabak, Nipah Panjang, Tembilahan, Kuala Enok, Sungai Penuh, dan wilayah lain di Provinsi Jambi juga dari Riau. Di Tanjabbar sendiri, terdapat puluhan penampung pinang dari skala menengah dan kecil. (JT)

Sabtu, 12 Februari 2011

Berita Pertanian : 302 Hektar Tanaman Padi Terserang Hama Penyakit

Batang. Lebih kurang 302 hektar dari 12.624 hektar tanaman padi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), terserang hama dan penyakit sehingga kondisi tersebut dikhawatirkan mengakibatkan gagal panen.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Batang, Singgih, di Batang, Kamis (10/2) mengatakan, organisme pengganggu tanaman itu (OPT) yang menyerang tanaman padi itu, antara lain tikus sebanyak 10 hektar, keong emas 158 hektar, penyakit tanaman 52 hektar dan kresek 82 hektar. "Intensitas serangan OPT itu masih ringan sehingga dampaknya belum sampai menimbulkan ancaman tanaman padi rusak dan puso," katanya.

Ia mengatakan, meskipun serangan organisme pengganggu tanaman masih relatif ringan, Dinas Pertanian meminta para petani tetap waspada meluasnya serangan hama dan penyakit itu dengan melakukan pengendalian dan pemberantasan. "Pemberantasan hama dan penyakit perlu dilakukan petani secepat mungkin agar tidak menjalar ke tanaman padi lainnya," katanya.

Suwandi, petani setempat mengatakan, serangan hama tikus dan penyakit tanaman padi kini makin menjalar padahal petani sudah berusaha melakukan pemberantasan, seperti menyemprotan cairan pestisida dan pengasapan ke lubang tanah tempat persembunyian hewan itu.

Namun, katanya, upaya pembasmian terhadap serangan hama dan penyakit ini yang dilakukan para petani belum membuahkan hasil maksimal, karena sebagian tanaman padi masih banyak yang rusak. "Saat ini, kami sudah hampir kewalahan mengatasi serangan hama dan penyakit itu sehingga para petani khawatir gagal panen," katanya. (ant)

Kamis, 10 Februari 2011

Berita Pertanian : Petani Padi Kian Sulit Kembalikan Biaya Produksi

Padang. Nasib petani padi kini makin memprihatinkan akibat rendahnya harga gabah kering yang menyulitkan petani untuk mengembalikan biaya produksi.
"Nasib petani padi kini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, ditindih pula dengan karungan beras impor, hingga nasib mereka memang amat tragis dan mengenaskan," kata Ismed Hasan Putro, Ketua Bidang Perdagangan DPN HKTI, di Padang, Rabu (9/2).

Menurut dia, kondisi yang memprihatinkan makin miris, apalagi di saat harga beras di pasar konsumen tinggi dan harga gabah kering yang dijual petani hanya berkisar Rp1.900-Rp2.500 per kg.

Dengan harga yang demikian rendahnya, katanya, tentu sulit bagi petani padi bisa mengembalikan biaya produksi.

"Bisa dipastikan untuk musim tanam berikutnya, petani akan makin tersandera oleh rentenir sebab petani sangat membutuhkan bibit dan pupuk," katanya daya beli mereka rendah akibat harga jual gabah yang saat ini kian anjlok.

Nasib petani padi, katanya, makin memiriskan karena tidak transparan dan konsistennya pemerintah dalam hal cadangan beras nasional hingga menimbulkan kecemasan mendalam terhadap nasib petani padi.

Diakui atau tidak, kebijakan pembebasan bea masuk nol persen atas beras impor semakin menegaskan posisi pemerintah dan posisi petani padi terus disisihkan. "Bahkan kebijakan impor beras dengan bea masuk nol persen menjadi fakta bahwa pemerintah memang tidak serius memikirkan nasib jutaan keluarga petani padi nasional dan lebih mengutamakan kepentingan para pemburu rente importir beras," katanya.

Karena itu, dua langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah segera mencabut kebijakan bea nol persen atas beras impor. Selain itu, pemerintah juga harus transparan atas stok cadangan beras nasional.

Jika memang dianggap cukup, katanya, pemerintah harus segera menghentikan impor beras dan Bulog segera membeli gabah petani saat ini tengah panen raya. (ant)

Berita Pertanian : Pemerintah Kaji Penurunan BM Kedelai

DENPASAR. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Teddy Saleh mengatakan, pemerintah saat ini sedang mengkaji untuk melakukan penurunan bea masuk impor kedelai.

"Kajian ini dilakukan dalam upaya membantu masyarakat dan para pengusaha kecil menengah yang berbahan baku kedelai," katanya di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (10/2/2011).

Ia mengatakan, naiknya harga kedelai tersebut menyebabkan besarnya biaya produksi berbagai jenis produk yang berbahan baku kedelai. "Biaya produksi yang tinggi menyebabkan harga produk, seperti tahu dan tempe yang dilepas ke masyarakat juga melambung naik. Bila tidak dijual dengan harga tinggi maka pengusaha akan menderita kerugian," katanya.

Untuk itu katanya, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Keuangan sedang melakukan kajian untuk menurunkan atau bahkan membebaskan biaya bea masuk impor kedelai ke Indonesia sehingga tidak terjadi lonjakan harga seperti saat ini.

Teddy mengatakan, selama ini harus diakui, persediaan produksi dalam negeri untuk kedelai tidak mencukupi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Indonesia terpaksa harus mengimpor.

Bahkan, kondisi di luar negeri juga mengalami hal yang sama karena terjadi penurunan produksi akibat faktor cuaca dan serangan penyakit. Penurunan produksi ini menyebakan naiknya harga kedelai di pasaran luar negeri. "Namun hal tersebut belum dirasakan dampaknya karena umumnya di negara-negara maju sudah mengatur kebutuhan dalam negeri," ucapnya.

Dikatakan, selain kajian untuk menurunkan bea masuk impor kacang kedelai, pemerintah juga akan mengoptimalkan produksi kedelai dalam negeri. "Selama ini produksi dalam negeri hanya mengandalkan daerah penghasil utama seperti Jawa dan Aceh. Padahal masih banyak daerah lain di Indonesia yang berpotensi untuk menanam kedelai," ujarnya.

Ia menyebutkan, produksi kedelai tahun 2010 defisit hingga 700 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi kedelai nasional tahun lalu turun menjadi satu juta ton karena perubahan cuaca yang ekstrim. "Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kedelai tahun lalu yang mencapai 1,7 juta ton, pemerintah harus mengimpornya dari dari berbagai negara," kata Teddy.

Impor dilakukan guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Harga kedelai saat ini meningkat menjadi Rp 8 ribu per kilogram (kg), yang sebelumnya hanya berkisar Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu per kg. (kompas)

Berita Pertanian : Pasca Merapi, Pasokan Susu Turun


SLEMAN. Pascaerupsi Gunung Merapi pasokan susu ke sejumlah perusahaan melalui Koperasi Usaha Peternakan dan Pemerahan Kaliurang macet akibat turunnya produksi susu sapi perah hasil budidaya warga lereng Gunung Merapi.

"Saat ini produksi susu tiap hari menurun tajam dari sebelum erupsi Merapi sebanyak 6.000 liter kini hanya mencapai 900 liter saja dan hanya dijual ke sesama koperasi susu," kata Ketua Koperasi Usaha Peternakan dan Pemerahan (UPP) Kaliurang Sokimun, Kamis (10/2/2011).

Menurunnya populasi sapi akibat mati terkena erupsi membuat usaha peternakan sapi perah sampai saat ini tidak dapat berjalan sebagaimana diharapkan.

"Hasil perahan susu dari anggota kelompok ternak yang akan disetor ke perusahaan sebelumnya melalui proses penampungan dan pendinginan menggunakan empat unit alat pendingin susu segar (Cooling Unit), karena produksi sekarang ini sangat minim, keempat alat tersebut tidak difungsikan dan susu perahan hanya dijual ke sesama koperasi," katanya.

Dengan kapasitas produksi yang minim jika diproses sendiri rugi, karena biaya operasional termasuk listrik dan lainnya cukup tinggi sehingga untuk sementara pasokan ke perusahaan dihentikan.

"Anggota koperasi yang sudah aktif kini hanya mampu memproduksi sekitar 900 liter per hari, padahal untuk menyetor ke perusahaan kapasitas produksi minimal harus memiliki stok pasokan 3.000 liter per hari," katanya.

Sokimun mengatakan, untuk mencapai 3.000 liter saat ini harus menunggu tiga hingga empat hari, padahal penundaan pengiriman dapat mengakibatkan penurunan kualitas susu.

"Sebagai antisipasi kerugian yang lebih besar, hasil perahan terpaksa dijual langsung meskipun harga tiap liter susu lebih murah dibanding harga bila dijual di perusahaan," katanya.

Ia mengatakan, selain itu dua unit mobil tangki yang sebelumnya untuk operasional juga tidak difungsikan karena keterbatasan produksi.

"Karena itu bantuan modal usaha dan penambahan populasi masih sangat dibutuhkan agar usaha budidaya sapi perah di lereng Gunung Merapi ini bisa kembali pulih," katanya. (kompas)

Berita Pertanian : Musnahnya Burung Picu Punahnya Tanaman

Jakarta. Musnahnya spesies burung di dunia berdampak dengan rusaknya tanaman karena banyak tanaman yang bergantung pada burung untuk penyerbukan dan penyebaran bibit mereka.

Masuk akal jika populasi burung menurun akan berdampak pada spesies tanaman seperti musnahnya dua burung jenis bellbird (Anthornis melanura) dan stitchbird (Notiomystis cincta) di suatu semak belukar di North Island, Selandia Baru.

Bunga semak Rhabdothamnus solandir bergantung pada kedua burung tersebut untuk penyerbukan. Dave Kelly dari Universitas Canterbury di Christchurch, Selandia Baru dan rekannya membandingkan tanaman di North Island dengan tanaman cagar alam yang dirawat baik di tiga pulau kecil dimana burung-burung tersebut hidup.

Dibantu Tangan

Tim peneliti telah menyerbuk 79 tanaman di seluruh North Island dan di tiga pulau tempat cagar alam. Kemudian membandingkan buahnya dengan buah dari bunga yang belum tersentuh di lokasi tersebut.

Sekitar 70 persen dari bunga di North Island dan pulau-pulau kecil menghasilkan buah lantaran dilakukan penyerbukan. Tanpa bantuan ini, hanya 22 persen bunga di North Island yang menghasilkan buah. Jelas jauh jika dibanding dengan 58 persen di pulau cagar alam.

Buah di North Island rata-rata lebih kecil dan, secara rata-rata, menghasilkan kurang dari 84 persen bibit dibanding buah di pulau-pulau kecil. Hal itu menjadi tanda bahwa benih mereka tidak diserbuki secara maksimal.

Pengurangan produksi benih dipengaruhi oleh populasi Rhabdothamnus solandri, karena terdapat sedikit tanaman muda di North Island dibanding di pulau-pulau kecil itu.

Masih Ada Waktu

Kelly yakin hal itu dikarenakan kurangnya penyerbukan oleh burung. Pengamatan di lapangan menunjukan burung mengunjungi hingga 80 persen bunga dimana bellbird dan stitchbird masih berkembang, tetapi hanya seperempat dari bunga itu ketika burung-burung telah menghilang.

"Kepunahan tanaman cenderung lebih lambat dari hewan, karena tanaman hidup lebih lama," kata Kelly.

"Kami punya waktu untuk mengatasi hal itu," katanya, seperti menghitung ulang populasi stitchbirds dan bellbirds di North Island. Dia memperkirakan bahwa Rhabdothamnus solandri dapat hidup lebih dari 150 tahun.

"Ini benar-benar menarik," ujar Martine Maron, seorang ahli ekologi burung di Universitas Queensland di Brisbane, Australia. Burung bertanggung jawab untuk penyerbukan sebagian besar tanaman berbunga, "masalah ini mungkin terjadi di seluruh dunia," katanya.

"Ini bukan hanya tentang kehilangan satu spesies dari muka bumi," tambah Maron dikutip New Scientist. "Kehilangan spesies kunci dari wilayah lokal dapat menyebabkan keruntuhan ekosistem."(ant)

Selasa, 08 Februari 2011

Berita Pertanian : Pemerintah Beri Petani Uang Tunai


Zubaedah (35), petani di Desa Manggahang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memanen padinya yang terendam banjir.

JAKARTA. Pemerintah memastikan bantuan bagi petani yang mengalami puso atau gagal panen tahun 2011 diberikan dalam bentuk pupuk, benih, dan uang tunai. Bantuan uang tunai tersebut diberikan sekadar mengganti uang tenaga tanam yang telah dikeluarkan oleh petani.

"Jadi sifatnya hanya membantu, ini bukan ganti rugi, sehingga belum tentu menutup seluruh kerugian yang dialami petani akibat kegagalan panen itu," ujar Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Rabu (9/2/2011).

Menurut Bayu, nilai total bantuan uang tunai yang disiapkan pemerintah adalah Rp 2 juta. Ini merupakan dana cadangan fiskal yang dialokasikan untuk kondisi darurat semata dalam APBN 2011.

"Jadi ini adalah dana yang kami harapkan tidak akan pernah dipakai, hanya berjaga-jaga. Dana Rp 2 juta itu hanya untuk anggaran bantuan tunainya saja, sedangkan bantuan pupuk dan benih dialokasikan dari anggaran terpisah," ujarnya.

Dasar hukum pendistribusian bantuan tunai ini ditetapkan dalam sebuah instruksi presiden (Inpres) yang sudah difinalisasi, tinggal menunggu tanda tangan presiden. Mekanismenya adalah setiap pemerintah daerah harus melaporkan adanya gagal panen di wilayahnya kepada pemerintah pusat.

"Jadi daerahlah yang mengawasi dan mengklarifikasi terjadinya puso. Kami belum menentukan besaran ganti ruginya. Yang jelas belum tentu sama besarnya dengan BLT (bantuan langsung tunai yang pernah disalurkan pada tahun 2006 sebagai bantalan untuk menjaga daya beli masyarakat yang tertekan akibat kenaikan harga BBM pada tahun 2005)," kata Bayu.

Berita Pertanian : Pangkalpinang Rawan Pangan

Pangkalpinang. Kota Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), termasuk daerah rawan pangan, karena 100 persen ketersediaan pangan beras dipasok dari Pulau Jawa dan Sumatera, sementara tingkat kosumsi warga mencapai 45 ton per hari.

Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kota Pangkalpinang, Sukamto di Pangkalpinang, Rabu menyatakan, kondisi rawan pangan ini disebabkan kurang suburnya lahan sehingga pertanian padi dan jagung belum ada, sementara tanaman jenis ubi juga terbatas.

"Ketersediaan beras sebagai kebutuhan pokok warga rawan dan bisa terjadi kelangkaan apabila tersendatnya pasokan beras dari daerah sentra produksi beras dan memburuknya cuaca di perairan Babel yang mengakibatkan tidak beroperasinya kapal laut angkutan barang," ujarnya.

Ia menjelaskan, jumlah penduduk Kota Pangkalpinang mencapai 168 ribu jiwa dan rata-rata mengkosumsi satu hingga dua kilogram beras perhari, sehingga paling tidak dibutuhkan 45 ton beras per hari untuk kelangsungan hidup mereka.

Ia mengatakan, ketersediaan beras cukup mengkhawatirkan karena tingginya tingkat kosumsi beras warga seiring beras merupakan makanan pokok yang harus ada dan dikosumsi warga.

"Kita cukup mengkhawatirkan persediaan beras, karena beberapa daerah sentra produksi beras di Jawa dan Sumatera mengalami gagal panen akibat perubahan cuaca yang cukup ekstrem terhadap ketersediaan pangan di Pangkalpinang," ujarnya.

Untuk mengantisipasi kondisi rawan pangan khususnya beras, kata Sukamto, warga diimbau mengkosumsi pangan lokal seperti ubi kayu, ubi jalar, ketela dan lainnya sebagai makanan sampingan yang sehat dan mengurangi ketergantungan beras apabila terjadi kelangkaan beras tersebut.

"Kami mengharapkan warga untuk mengkosumsi ubi kayu, ubi jalar sebagai pengganti beras dan makanan sampingan untuk mengurangi kosumsi beras," ujarnya. (ant)

Minggu, 06 Februari 2011

Berita Pertanian : Apkasindo Usul Penetapan Harga TBS Direvisi

Medan. Seringnya dikenainya pemotongan harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani sekitar 5%, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) meminta pemerintah untuk segera merevisi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 17 Tahun 2010 tentang Pedoman Penetapan Harga Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Produksi Pekebun.
Ketua DPP Apkasindo Anizar Simanjuntak mengatakan, pada peraturan tersebut Apkasindo minta sortasi (grading) total terhadap TBS produksi pekebun yang diterima pabrik sehingga mutu sesuai dengan ketentuan mutu. Selama ini TBS petani tetap di beli oleh supplier walaupun belum begitu matang. Namun dikenakan pemotongan hingga 5%.

"Ini jelas merugikan petani karena memengaruhi produksi tanaman secara keseluruhan. Seharusnya kalau belum matang, supplier tidak usah membeli. Begitu juga dengan pabrik kelapa sawit (PKS) menolak TBS yang belum matang dari supplier meski ada pemotongan," katanya saat konferensi pers di Medan, Jumat (4/2).

Menurutnya, jika ketentuan itu diterapkan, otomatis tidak ada pemotongan lagi sehingga petani dan PKS memeroleh keuntungan karena rendemen sudah sesuai standard. "Tindakan ini sekaligus mendidik karena selama ini petani tetap menjual walaupun belum matang karena ada pembeli. Padahal bisa memengaruhi tanaman keseluruhan, produksi akan rusak," jelasnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan pihaknya pada satu kelompok petani sawit, terbukti jika petani memanen saat matang maka produksi akan meningkat tajam. Sebelumnya, kelompok tani hanya menghasilkan 45 ton setiap sekali panen dan naik menjadi 89 ton. ”Apabila revisi ini disetujui dan komitmen dilaksanakan maka keuntungan besar akan diperoleh semua pihak,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah juga harus memberikan insentif sebesar 4% yang telah ditetapkan pada Permentan. Sebab, selama ini insentif itu tidak pernah diterima petani dengan alasan TBS yang dimasukkan ke PKS banyak tidak sesuai dengan ketentuan dalam Permentan.

Padahal diketahui, sekitar 42% CPO dihasilkan dari petani dan sudah seharusnya petani menikmati hasil dengan tingginya harga CPO saat ini. Untuk harga TBS di tingkat PKS mencapai Rp 1.920 per kg dan di tingkat petani hanya berkisar Rp 1.470 hingga Rp 1.600 perkg. Dengan jauhnya perbedaan harga tersebut, petani tetap mendapatkan pemotongan dari pihak supplier dengan alasan kematangan yang kurang baik.

"Sanksi-sanksi yang tidak jelas pada PKS yang berani menerima TBS yang tidak sesuai standar belum ada. Seharusnya dengan otonomi daerah, pemda masing-masing segera membentuk tim pengawasan harga TBS dengan serius yang didalamnya Apkasindo siap untuk ikut sehingga hasil TBS petani lebih baik lagi dan tidak mengalami kerugian," kata Anizar. (MB)

Berita Pertanian : Mentan : Pengiriman Beras Impor Karena Darurat

Lebak. Menteri Pertanian Suswono mengatakan pengiriman beras impor asal Vietnam karena dalam kondisi darurat setelah Perum Bulog tidak maksimal penyerapan gabah pada musim panen 2010.

"Kami targetkan Perum Bulog harus menyerap tiga juta beras dari dalam negeri sendiri," kata Suswono di Kabupaten Lebak, Sabtu.

Ia mengatakan, pengiriman beras impor karena dalam kondisi darurat karena produksi pangan 2010 tidak terserap maksimal oleh Perum Bulog.

Pengiriman beras bagi orang miskin saja per bulan mencapai 260 ribu ton dengan dibagikan 15 kilogram per kepala keluarga. Bahkan, banyak juga warga mampu mengaku miskin untuk mendapatkan jatah raskin.

Sedangkan, persedian raskin tidak bisa didatangkan dari dalam negeri, sehingga sebagian terpaksa mengambil impor.

"Saya kira jumlah beras impor itu relatif kecil yakni hanya dua persen dan tidak berdampak terhadap petani," katanya.

Dia juga mengatakan, dipastikan musim panen raya antara Maret-April 2011, meskipun saat ini sebagian daerah sudah musim panen.

Oleh karena itu, pihaknya meminta Perum Bulog jangan sampai terulang lagi penyerapan musim panen 2010 tidak maksimal, karena alasan kualitas dan harga pembelian pemerintah (HPP).

Dengan begitu, pihaknya akan mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian untuk mengatur soal kualitas gabah dan HPP sehingga Perum Bulog lebih pleksibel untuk menyerap gabah petani.

Pengalaman 2010, kata dia, Perum Bulog tidak berani menyerap gabah karena kualitas rendah juga harganya di atas HPP.

"Saya kira dengan adanya Peraturan Menteri Pertanian dipastikan Perum Bulog akan menampung gabah petani tanpa kualitas dan harga berani di atas HPP," katanya. (ant)

Jumat, 04 Februari 2011

Berita Pertanian : Produksi Lada Dunia Diperkirakan Turun

Jakarta. Organisasi antar pemerintah di bawah Komisi Ekonomi dan Sosial Asia dan Pasifik pada Perserikatan Bangsa Bangsa, International Pepper Community (IPC), memperkirakan produksi lada dunia menurun tahun 2011.

Menurut Ketua IPC Gusmardi Bustami di Jakarta, Jumat, produksi lada dunia yang mencapai sekitar 330.380 metrik ton pada 2010 akan turun menjadi sekitar 309.952 metrik ton tahun ini.

"Utamanya karena cuaca yang kurang mendukung," kata Gusmardi, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan.

Direktur Eksekutif Sekretariat IPC S. Kannan memperkirakan produksi lada Vietnam, Indonesia dan Brasil menurun selama tahun 2011.

Produksi daerah-daerah penghasil lada di Indonesia diperkirakan turun dari 56 ribu metrik ton pada 2010 menjadi sekitar 37 ribu ton pada 2011.

Hujan lebat pada akhir 2010 sampai awal tahun ini di kawasan Asia Selatan, lanjut dia, juga dikhawatirkan menyebabkan produksi lada India dan Srilanka lebih rendah dari perkiraan.

"Sementara produksi Malaysia dan negara penghasil lainnya kurang lebih sama dengan tahun lalu, produksi China mungkin lebih baik," kata Kannan.

Kondisi yang demikian akan membuat pasokan lada terbatas. Padahal, menurut Kannan, kebutuhan lada dunia cenderung meningkat seiring dengan penambahan populasi.

Ekonom IPC Ganawardana memperkirakan konsumsi lada dunia naik antara dua persen sampai tiga persen pada 2011.

Menurut Gusmardi, konsumsi lada dunia selama tahun 2010 sekitar 300 ribu metrik ton.

Sementara konsumsi domestik negara-negara produsen lada seperti Brasil, India, Indonesia, Malaysia, Srilanka, Vietnam, dan China menurut IPC sekitar 122 ribu metrik ton pada 2010 atau meningkat bermakna dari konsumsi tahun sebelumnya yang sebanyak 121 ribu metrik ton.

"Kondisi stok dari produksi tahun lalu yang tipis dan spekulasi penurunan produksi akan menekan suplai dan memaksa harga lada naik," kata Kannan.

IPC mencatat, harga komposit lada selama tahun 2010 menunjukkan kecenderungan naik akibat berkurangnya pasokan dengan peningkatan paling tajam pada setengah tahun terakhir.

Pada Desember 2010, harga komposit lada hitam tercatat 4.572 dolar AS per metrik ton dan lada putih 7.025 dolar AS per metrik ton, lebih tinggi dari harga komposit pada 2009 yang berturut-turut 3.031 dolar AS per metrik ton dan 4.404 dolar As per metrik ton. (ant)

Kamis, 03 Februari 2011

Berita Pertanian : Panen Raya, Harga Beras Turun Hingga Rp300

Panen Raya, Harga Beras Turun Hingga Rp300

Kamis, 3 Februari 2011 - 17:17 wib
Idris Rusadi Putra - Okezone

JAKARTA - Mulai memasuki musim panen raya saat ini membuat harga beras untuk kualitas menengah ke bawah turun sekira Rp200-Rp300 per kilogram.

"Rata-rata Rp200-Rp300 per kg, kualitas menengah ke bawah seperti Ir super, Ir 1, Ir 2, dan Ir 3," ungkap salah seorang penjual beras, Sarpon, di Pasar Induk Kramat Jati, di Jakarta, Rabu (3/2/2011).

Dia menjelaskan, apabila sedang terjadi panen raya, hanya mengurangi harga beras kualitas menengah ke bawah. Sedangkan untuk kualitas atas hanya berkurang sedikit saja.

"Kalau panen raya harga beras kualitas atas paling turun Rp20-Rp50 per kg, seperti Pandan Wangi harganya Rp10 ribu per kg dan juga Segon Bandung masih Rp8.400 ribu per kg," tambahnya.

Selain itu, berkurangnya harga beras saat panen raya ini hanya akan berlangsung sekira sebulan. Setelah itu, harga beras akan naik lagi. "Kuatnya sekitar sebulan, nanti juga naik lagi. Pengiriman semakin sedikit lagi," tandasnya.

Adanya operasi pasar yang digelar Pemerintah pun tidak begitu berpengaruh terhadap harga beras kualitas super. "Operasi pasar Bulog hanya membantu pengaruhnya ke kualitas beras jenis pera saja, jenis Ir 1 Ir 2 dan sebagainya," pungkasnya. (okezone)