Tampilkan postingan dengan label agribisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agribisnis. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2012

Peluang Usaha Pertanian : Dari Belut Super Raup Omzet Puluhan Juta







Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak asing lagi dengan belut. Hewan air tawar yang masuk dalam kelompok ikan berbentuk seperti ular ini digemari karena rasa dagingnya yang gurih. Belut boleh dibilang aman dikonsumsi oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Daging belut juga dipercaya dapat menambah vitalitas tubuh manusia.

Selain di rawa-rawa, hewan air ini banyak ditemukan di sawah atau kali (sungai). Lantaran peminatnya cukup banyak, pasokan belut tidak cukup mengandalkan dari tangkapan alam. Makanya, belakangan banyak orang tertarik budidaya belut.

Salah satu varian belut yang mulai banyak dibudidayakan adalah jenis belut super. Berbeda dengan belut pada umumnya, belut super memiliki ukuran lebih besar. Ukuran lingkar tubuhnya mencapai 6,5 cm dengan panjang sekitar 50 cm.

Herman Susilo, salah seorang pembudidaya belut super asal Malang, Jawa Timur, menyatakan, bobot tiga ekor belut super bisa mencapai 1 kg. Belut ukuran jumbo ini banyak dicari pengusaha restoran dan makanan ringan. "Kalau tidak budidaya, susah dapat belut super ini, padahal, pasarnya lebih menjanjikan," kata Herman.

Saat ini, Herman memiliki lima kolam lumpur tempat budidaya belut super. Setiap kolam berukuran sekitar 2x5 meter. Dengan pemberian pakan rutin, Herman bisa memanen belut setiap tiga atau empat bulan sekali. Jadi dalam setahun bisa empat kali panen.

Saat panen, setiap kolam bisa menghasilkan 250 kg belut super. Harga setiap kilonya sekitar Rp 30.000-Rp 35.000. Dengan harga tersebut, omzet yang didapatnya sekitar Rp 40 juta-Rp 50 juta setiap kali panen. Adapun laba bersihnya sekitar 50 persen dari omzet.

Biaya produksi yang dikeluarkan lebih banyak untuk pembibitan. Setiap satu kg bibit belut super ini dijual seharga Rp 40.000. "Sementara pakannya lebih banyak pakan alami, seperti kodok dan cacing," katanya.

Ia menghindari pemberian pelet karena justru dapat menghambat pertumbuhan belut. Selain budidaya belut hingga siap jual, belakangan ia juga mulai melayani penjualan bibit belut super.

Pemain lainnya adalah Prabowo dari Yogyakarta. Ia membudidayakan belut super sejak 2010. Saat ini, ia fokus menjual bibit belut super seukuran 15-20 cm. “Karena kalau bibit setiap bulan bisa langsung jual, sementara kalau tunggu besar itu sampai tiga bulan,” ujarnya.

Bekerja sama dengan petani, ia membudidayakan belut ini di pinggiran sawah. Omzetnya dalam sebulan mencapai Rp 8 juta. Karena bekerja sama dengan pemilik sawah, laba yang didapatnya hanya 20 persen-30 persen. "Jadi saya berbagi dengan pemilik sawah," ujarnya.

Budidaya belut super belakangan semakin digandrungi. Maklum, selain tingginya permintaan pasar, budidaya belut ini juga tidak sulit. Herman Susilo, pembudidaya belut super dari Malang, Jawa Timur bilang, hal utama yang mesti diperhatikan adalah pemberian pakan.

Menurutnya, asupan pakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan belut. Ia menyarankan, sebaiknya belut super lebih banyak diberikan pakan alami, seperti keong, katak, atau cacing ketimbang pakan buatan. "Pakan alami membantu pertumbuhan lebih cepat," kata Herman.

Dengan pakan alami, belut super bisa lebih cepat dipanen karena pertumbuhannya juga menjadi lebih cepat. Jika diberi pakan buatan, belut super baru bisa dipanen dalam waktu enam hingga tujuh bulan sejak awal dipelihara. "Tapi dengan pakan alami bisa panen setiap tiga hingga empat bulan," jelasnya.

Selain itu, kecukupan pakan juga harus diperhatikan. Sebab, bila jumlah pakan kurang bisa menyebabkan terjadinya kanibalisme antar belut. Untuk itu, ia menyarankan pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari.

Untuk metode budidayanya sendiri ada dua cara. Yakni, menggunakan media kolam lumpur dan menggunakan bubu bambu di sawah. Herman sendiri menggunakan media kolam lumpur. Langkah pertama yang harus dilakukan tentu menyiapkan kolamnya. Kolamnya sendiri tak perlu terlalu lebar. Cukup dengan diameter 2x5 meter sudah bisa menampung 50 kilogram (kg) bibit belut. Saat panen, bibit sebanyak itu bisa menghasilkan bobot 250 kg.

Setelah kolam jadi, lalu masukkan gedebok pisang dan jerami. Lalu masukkan pupuk kandang untuk mempercepat pembusukan gedebok pisang dan jerami. "Ketika sudah membusuk bisa jadi santapan tambahan belut," katanya.

Setelah pakan tambahan siap, lalu lanjutkan dengan pemberian lumpur kering. Setelah itu, masukkan air dengan kedalaman minimal 15 centimeter (cm). "Proses pembusukan gedebok pisang dan jerami terjadi sekitar dua minggu setelah air masuk," jelasnya. Setelah terjadi pembusukan, maka benih siap dimasukkan.

Cara budidaya yang lain adalah memakai bubu yang ditaruh di sawah. Prabowo, pembudidaya belut dari Yogyakarta menggunakan cara ini. "Keunggulan cara ini tidak perlu lahan." ujarnya.

Ia hanya perlu bekerja sama dengan pemilik sawah. Dalam satu petak sawah, ia biasa menanam 20 hingga 50 bubu sebagai tempat belut bertelur. Untuk makanan, cukup menaruh cacing di sekitar bubu tersebut. Prabowo sendiri hanya fokus menjual bibit belut super ukuran 15 cm-20 cm. “Yang penting telaten perhatikan pakan,” ujarnya. (Kontan)

Jumat, 03 Februari 2012

Peluang Usaha Pertanian : Olahan Kacang Kedelai Bawa Rezeki

















APA yang terlintas dalam benak Anda jika mendengar kata kacang kedelai? Biasanya, Anda akan berpikiran tempe dan tahu. Namun tahukah Anda jika kacang kedelai bisa diolah menjadi berbagai makanan yang menggugah selera?

Di tangan Ibu Dewi, kacang kedelai bisa diolah menjadi berbagai makanan enak dan tentunya juga memiliki nutrisi dan vitamin yang cukup tinggi. Di samping juga bisa menjadi alternatif untuk mendulang rupiah.

"Pertamanya saya sering lihat lomba di kabupaten, kayaknya kalau olahan tempe dan tahu itu kan kita bosan. Apalagi anak-anak pasti susah makannya. Padahal kedelai itu banyak vitaminnya dan nutrisinya. Makanya saya mencari cara bagaimana olahan tersebut bisa diterima masyarakat luas," tutur wanita berkerudung ini kepada okezone, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, kacang keledai ini dapat menjadi alternatif bagi orang yang tidak punya uang untuk membeli daging sapi dan ayam.

"Itu sudah ada nutirisinya di dalam kedelai. Selain bagus untuk kesehatan dan pengolahannya mudah, rasanya enak dan harganya juga terjangkau," jelas dia.

Wanita berusia 45 tahun ini terbukti dapat mengubah kacang kedelai menjadi beberapa makanan yang menggugah selera seperti nugget tempe, rolade tempe, steak galantin, sampai brownies tempe juga banyak diminati oleh banyak orang.

Selain itu, olahan satai pun bisa diolah menjadi satai tempe dan begitu juga keroket tempe bisa diolah dari bahan kedelai tersebut.

Tidak kurang sebanyak 16 hingga 20 macam makanan bisa dihasilkan dari kacang kedelai tersebut. "Semua bahan dari kacang kedelai ini bisa diolah. bahkan ampas kedelai pun bisa diolah menjadi kerupuk," ungkap ibu dua anak ini.

Dalam merintis usaha pengolahan tempe tersebut, Dewi bergabung dengan tiga orang temannya. dengan modal awal sekira Rp100 ribu saja. "Untuk modal awal kita ini masih kecil-kecilan sekali. awalnya modalnya Rp100 ribu karena kedelai kan per-Kg nya hanya Rp6 ribu saja," paparnya.

Dalam sehari, rata-rata Dewi mengolah 10 kilogram (kg) kedelai untuk dijadikan olahan-olahan yang lain selain tahu dan tempe. Dari modal awal hanya Rp100 ribu, kini Dewi dan teman-temannya dapat meraup omzet sekira Rp950 ribu hingga Rp1,5 juta per bulannya.

"Omzet kita bisa mencapai Rp1,5 juta kalau ramai. Dan yang paling banyak dipesan adalah nugget tempe, karena itu disukai oleh anak-anak," jelas Dewi.

Hingga saat ini, pemasaran produk-produk olahan kedelai ini masih terbatas di wilayah Bantul, Jogjakarta saja yaitu tempat tinggal daripada Dewi dan teman-temannya. Dewi pun ingin hasil kreasinya dapat dipasarkan ke luar Yogyakarta, namun karena terkendala modal yang masih kecil Dewi hanya bisa memasarkan produknya di sekitar wilayah Yogyakarta saja.

"Selama ini pemasarannya masih di sekitaran Yogya saja. Misalnya olahannya dititipkan ke pasar-pasar," tuturnya singkat.

Dalam menjalankan usaha ini pun, Dewi mengaku tidak ada suka dukanya karena semuanya dilakukan dengan senang hati dan juga gotong royong antara satu sama lainnya.

"Kita kan dalam satu kelompok ini barengan empat orang. Tapi saya bersyukur selama ini semuanya berjalan baik-baik saja karena kita semua gotong royong dalam melakukan ini," tuturnya.

Dewi pun berharap peran pemerintah untuk mendukung usaha yang tergolong kepada sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) seperti miliknya agar kelak bisa berkembang dan tentunya bisa bersaing dengan usaha-usaha yang sudah memiliki omzet yang sangat besar.

"Selama ini dukungan pemerintah baik. kiuta selalu dibina, tapi kami juga mengharapkan pemerintah memberikan perhatian yang lebih lagi terhadap sektor usaha UKM tersebut. agar dapat mendongkrak perekonomian di daerah," pungkasnya.

Rabu, 09 November 2011

Peluang Usaha Pertanian : Gurih dan renyahnya keripik sukun datangkan omzet jutaan

















Meski bukan penganan jenis baru, keripik sukun memiliki banyak penggemar. Rasanya yang gurih dan renyah tak membosankan lidah. Pengusaha keripik sukun pun mampu mendulang omzet hingga jutaan rupiah. Mereka juga berinovasi mengembangkan produk baru.

Kudapan kecil bernama keripik memang sudah sangat akrab di lidah masyarakat Indonesia. Maklum, camilan ini sangat cocok dinikmati di sela-sela waktu santai berteman kopi atau teh hangat.

Salah satu adalah keripik sukun. Lihat saja rezeki yang diperoleh Hasnah, produsen keripik sukun asal Manggar, Belitung. Perempuan ini telah mulai membuat keripik sukun sejak 1996.

Ia memanfaatkan buah sukun karena, meski tak banyak, pasokannya relatif stabil. Hasnah membuat tiga jenis produk keripik, yakni keripik biasa, keripik lebar, dan stik. Jika keripik biasa dibuat dari buah sukun yang sudah tua, keripik lebar dibuat dari buah sukun muda.

Selain keripik, buah sukun yang sudah tua juga dibuat menjadi stik. "Bagian luarnya dibuat keripik, bagian dalam dibuat stik," jelas Hasnah.

Kini, Hasnah mampu memproduksi hingga 500 bungkus keripik sukun per hari. Ia membubuhi kemasan keripik sukunnya itu dengan merek Nuansa Baru. Dengan harga jual Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per bungkus, Hasnah bisa mendulang omzet hingga Rp 50 juta sebulan.

Hanya, ia masih membatasi pemasaran keripiknya di sekitar Belitung dan Bangka. Pasalnya, ia belum bisa mendapatkan pasokan buah sukun secara rutin. Pasokan sukun sangat tergantung musim. "Jika musim hujan, kami bisa mendapatkan buah sukun yang lebih banyak dan bagus," timpal Ronal Indrawan, putra Hasnah.

Jika persoalan itu bisa teratasi, Hasnah ingin menjual keripik sukun Nuansa Baru ini ke pasar yang lebih luas. Apalagi, keripik ini memiliki daya tahan hingga tiga bulan.

Selain dari Belitung, banyak pula pengusaha keripik sukun asal Yogyakarta. Salah satunya Ronny Dahlan. Pemilik CV Gema Lestari ini mulai membuat keripik sukun sejak 2009.

Meski begitu, Ronni mengakui, berbagai olahan sukun ini merupakan makanan khas masyarakat Pulau Sumatra, khususnya dari Belitung. Ia mendapatkan ide membuat olahan sukun dari orang tuanya yang berasal dari Belitung.

Tak hanya keripik, Ronni juga mengolah sukun menjadi bolu. Bahkan, mulai tahun ini, ia menambah variasi produk berupa pizza sukun. "Saya terus berinovasi mengolah buah sukun, supaya konsumen tidak bosan," ujarnya.

Memang, dari berbagai olahan itu, keripik sukun menuai penggemar paling banyak. "Keripik lebih disukai karena merupakan camilan ringan, berbeda dengan roti dan pizza yang terkesan sebagai makanan berat," ujar Ronni.

Ia menjual keripik sukun ini dengan harga Rp 15.000 per bungkus. Dalam sebulan, dari penjualan keripik, Ronni mengaku mengantongi omzet hingga Rp 20 juta.

Pria berusia 30 tahun ini optimistis, produk olahan sukun akan terus berkembang. Sebab, buah yang banyak mengandung karbohidrat ini kaya akan serat, sehingga baik untuk kesehatan.

Selain itu, sukun juga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes. "Sukun memiliki indeks glikemik yang rendah," katanya.

Ronni menjual produk olahan sukun ini di beberapa minimarket yang tersebar di Yogyakarta dan Semarang. Ia juga memasok keripik, roti dan pizza sukun ke kantin-kantin kampus. Ronni sengaja mengincar pasar mahasiswa karena biasanya kaum muda tertarik mencoba produk-produk baru.(KONTAN)

Kamis, 20 Oktober 2011

Peluang Usaha Pertanian : Aneka olahan lidah buaya diekspor ke mancanegara









Selain mempunyai banyak khasiat, lidah buaya alias aloevera juga bisa diolah menjadi berbagai macam produk. Mulai dari produk perawatan wajah dan tubuh, hingga produk makanan. Bahkan, pemasaran produk olahan lidah buaya ini sudah merambah pasar ekspor. Seorang pengusaha asal Pontianak, bisa meraup omzet hingga ratusan juta sebulan dari beragam produk lidah buaya.

Di Pontianak, Sunani mengembangkan berbagai produk dari lidah buaya. Mulanya, ia hanya memproduksi jeli dan dodol dari bahan ini. Kini, perempuan 38 tahun ini juga memproduksi stik, keripik, pilus, cokelat, hingga sabun mandi. Semuanya dari lidah buaya.

Bahkan untuk kulit lidah buaya yang tadinya tidak digunakan, ia kembangkan menjadi berbagai macam kerajinan untuk suvenir. "Saya menggunakan merek usaha I Sun Vera untuk berjualan," ujar Sunani.

Untuk memproduksi berbagai produk tersebut, ia butuh dua ton lidah buaya dalam sehari. Sunani mendapat pasokan bahan baku itu dari Pontianak. Maklum, kota di ujung barat Pulau Kalimantan ini memang terkenal sebagai penghasil lidah buaya berukuran jumbo.

Selain kota-kota besar di Indonesia, kini Sunani telah mengirim produknya ke luar negeri, seperti Malaysia, Brunei, dan Jepang. "Saya harus mengirimkan sabun sebanyak 200 kotak setiap minggu untuk pasar ekspor," ujar Sunani. Dari beragam produk tersebut, ia pun bisa meraup omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Selain Sunani di Pontianak, Pranadipa di Semarang, Jawa Tengah, juga memanfaatkan khasiat yang terkandung dalam lidah buaya, Apoteker dan produsen krim perawatan wajah dan tubuh ini juga membuat krim berbahan lidah buaya. "Lidah buaya bisa mempercepat penyembuhan luka karena merangsang pembentukan kulit baru," ujarnya.

Dengan mengusung merek Healby, Pranadipa membuat krim dari lidah buaya untuk kulit kering, bekas luka, dan krim bekas jerawat. Ia menjual produknya itu dengan harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 70.000 per pot berukuran 10 gram hingga 15 gram. Soal pasokan lidah buaya, Pranadipa juga tak kesulitan. Beberapa pemasokselalu siap memasok.

Pranadipa memang hanya memproduksi krim. Ia tak membuat sabun, karena berbeda dengan krim yang bisa digunakan sepanjang malam, sabun hanya melekat beberapa detik.

Krim Healby pun telah dipasarkan di beberapa kota besar di Indonesia. "Permintaan selalu ada, karena orang sudah mengetahui khasiat dari lidah buaya," ujar Pranadipa. Sayang, ia enggan menyebutkan omzet yang diperoleh dari penjualannya krim lidah buaya ini.

Seperti Sunani, mengolah lidah buaya menjadi produk makanan juga dilakukan oleh Betty Nur Anisa. Ia memproduksi stick lidah buaya.

Dalam satu hari, Betty sanggup mengolah 20 kilogram (kg) lidah buaya untuk pembuatan stik. Dari bahan sebanyak itu, perempuan yang juga asal Pontianak ini bisa menghasilkan 20 kg stik per hari. Sebulan, produksi stik mencapai 480 kilogram. Ia pun bisa meraup omzet hingga Rp 24 juta tiap bulan. "Omzet dari stik memang besar," tutur Betty.

Maklum, masyarakat Pontianak sangat menggemari camilan lidah buaya ini. Namun, tak hanya terbatas di Pontianak, Betty juga memasarkan produk olahan lidah buaya ini hingga Malaysia, Belanda, dan Australia. "Setiap dua hari sekali, pelanggan saya dari Malaysia datang," katanya senang.(KONTAN)

Senin, 03 Oktober 2011

Untung Manis Pepaya California















Bukan hanya buahnya saja yang terasa manis, tapi keuntungan dari membudidayakan pepaya california ini pun sama manisnya. Inilah yang dirasakan Min, petani pepaya di Dusun II, Desa Bandar Labuhan, Tanjungmorawa. Di lahannya seluas satu hektare, ia menanam pepaya sebanyak 1.050 batang. Dengan produksi sekitar 5 ton sebulan, Min pun bisa mengantongi uang Rp 10 juta per bulan.

Sebelumnya, ia menanami lahannya itu dengan sayuran, namun karena hasilnya kurang memuaskannya, ia pun kemudian mengganti tanamannya dengan pepaya. Hasilnya sungguh tidak mengecewakan. Dengan modal awal sebesar Rp 6 juta, pepaya yang ia tanam kini telah berproduksi sekitar 5 ton setiap bulannya.

"Modal awal yang Rp 6 juta itu untuk keperluan membeli bibit, pupuk, dan ongkos penggemburan serta penanaman. Pengeluaran paling besar memang pada awal penanaman. Tapi selanjutnya, pengeluaran jauh berkurang sebab penggunaan pupuk juga bisa terus dikurangi, namun perawatan tetap harus dilakukan dengan baik," katanya kepada MedanBisnis, beberapa waktu yang lalu.

Dikatakannya, pada tahap awal ia melakukan penggemburan lahan dan pemupukan sebelum mulai ditanami dengan bibit yang baik. Dicontohkannya, jumlah pupuk kandang yang digunakan pada awal penanaman ini membutuhkan sebanyak 500 karung ukuran 50 kg yang harga setiap karungnya Rp 6.000. "Itu hanya untuk waktu pertama saja, selanjutnya jumlah pupuknya bisa dikurangi," katanya. Pemupukan hanya dilakukan 2,5 bulan sekali. Pada pemupukan berikutnya cukup menggunakan sebanyak 300 goni pupuk kandang.

Pemupukan secara teratur bisa memacu buah yang tumbuh menjadi lebih baik. Menurutnya, pada panen pertama, yaitu ketika tanaman berumur 6 bulan dengan tinggi pohon sekitar 2 meter, buah bisa tumbuh pada batang 40 cm dari tanah.




Pepaya california merupakan buah yang cukup digemari masyarakat lantaran rasanya yang manis dan harga yang sangat terjangkau. Buah tersebut bisa ditemukan di supermarket besar maupun di pasar tradisional di Sibolga, Nias, Batam, Pekanbaru, Palembang, Jambi dan tentu saja di Medan.
Masyarakat sudah bisa mendapatkan manfaat besar dari kandungan gizi di dalamnya, antara lain vitamin, betakaroten (anti oksidan), protein, lemak dan berbagai enzim dan senyawa yang sangat berguna bagi tubuh manusia dengan hanya mengeluarkan uang sedikit karena harganya yang murah. Meski namanya "Pepaya California" namun buah ini bukanlah buah impor yang didatangkan dari benua Amerika, melainkan buah lokal yang berasal dari Dusun II, Desa Bandar Labuhan, Tanjungmorawa, Deliserdang, Sumatera Utara.

Menuju rumah salah seorang petani pepaya california bernama Min di Dusun II Desa Bandar Labuhan, terlihat di kanan dan kiri jalan berderet-deret pohon pepaya dengan buahnya yang masih menggantung dan siap dipetik. Berseling-seling dengan pepohonan kelapa, pohon pisang dan rumah warga. Oleh masyarakat sekitar, Pak Min lebih populer disapa dengan panggilan Min Cabai atau Min Pepaya.

Untuk menemukan rumahnya, dapat ditandai dengan lapangan bola di ujung sebelah kanan jalan. Lahan luas dengan tegakan pohon pepaya yang ditanam dengan jarak dua setengah kali dua meter dan di tengah-tengahnya terdapat satu rumah, di sana Min tinggal dengan keluarganya. Di sebelah kanan rumahnya terdapat tenda tempat pembibitan pepaya. Sedangkan sebelah kiri terdapat kebun cabai. Rumah tersebut dikelilingi dengan tanaman yang menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, pepaya california.

Di teras rumahnya, Min menyuguhkan pepaya yang warna dagingnya merah menyala dengan rasa yang manis. Ukurannya tidak begitu besar. Menurutnya, karakter pepaya california memang demikian. Yaitu berkulit tebal dan permukaannya rata, dagingnya kenyal, tebal, dan manis rasanya, biji yang tidak terlalu banyak. Bobotnya berkisar antara 600 gram sampai dengan 2 kg. "Buahnya tidak begitu besar dan agak lonjong, panjangnya tak lebih dari 30 cm," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pohon pepaya california sudah bisa berbuah sejak tanaman berusia 6 bulan. Pada usia tersebut, tingginya tidak sampai 2 meter namun buah yang muncul sangat banyak. "Buahnya muncul di batang jaraknya dari tanah 40 cm- 50 cm sampai ke ujungnya," katanya. Menurutnya, pohon pepaya akan terus berbuah sampai usia lebih dari 5 tahun jika dengan perawatan yang baik. Sementara dengan perawatan seadanya, masa berbuah terjadi selama 2,5 tahun.

Dari tiap pohonnya, buah yang bisa dipetik sebanyak 3-4 buah. "Yang lainnya dipetik waktu berikutnya, sembari menunggunya lebih besar lagi," tambahnya. Menurutnya, selama 2,5 tahun setiap pohonnya bisa menghasilkan 600 - 700 buah. Ia berpendapat, pada umumnya pohon pepaya bisa mengalami masa trek yang mana pertumbuhan buah hanya sedikit pada waktu tertentu, namun hal itu bisa disiasati dengan perawatan yang baik. Untuk itu, ia melakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang dan pupuk ramah lingkungan (ramling).

"Saya tidak mau menggunakan pupuk kimia, karena pasti nanti akibatnya akan merusak tanaman dan tanahnya. Selain itu, masa untuk perbaikan tanahnya akan memakan waktu lama," ujarnya. Untuk pemupukan, dilakukan setiap 2,5 bulan sekali sebanyak 300 goni untuk lahan seluas 1 hektare dengan pohon sebanyak 1.050 batang.

Perawatan tersebut, selain untuk memompa produksi menjadi lebih besar, juga bisa mencegah dan mengurangi hama pepaya berupa kutu putih yang menyebabkan buah dan daun berkapur serta lalat buah yang bisa menyebabkan buah tidak bagus atau berjamur. Beberapa kendala yang biasa dialami tanaman pepaya adalah jika sudah terserang penyakit, daunnya mudah rontok, dan buah pepaya yang terserang jamur biasanya warnanya menjadi putih pucat, kulit buah tampak tidak segar.

Namun begitu, menurutnya, cara mengatasi hama tersebut tidaklah sukar. "Hama itu bisa diatasi dengan mudah," ujarnya.

Ia mengaku sudah sejak muda menjadi petani dan mengerti mengenai perawatan tanaman. Khusus mengenai pepaya california, ia mengaku bersedia membantu dan berbagi pengalaman untuk membudidayakannya.

Ia berpendapat, permintaan pepaya dari kebunnya sangat tinggi. Tidak hanya memenuhi permintaan dari Medan dan sekitarnya, pepaya dari kebunnya bahkan didistribusikan hingga Sibolga, Nias, Pekanbaru, Batam, Jambi dan Palembang. "Permintaan pepaya sangat tinggi, bahkan kadang kewalahan menerima pesanan," katanya.

Ia menjelaskan, pemesan dari Batam, setiap seminggu sekali datang mengambil pesanan sebanyak 1 ton. Sementara itu, pemesan dari beberapa toko buah di Medan dengan tempo yang sama, mengambil sebanyak rata-rata 0,5 ton. Dengan banyaknya permintaan pepaya, menurutnya, budidaya pepaya California sangat menjanjikan.
"Untungnya lebih banyak daripada tanaman sayuran, karena itu tidak salah pilihan beralih ke pepaya," katanya.

Di teras rumah Min sendiri juga terdapat ratusan buah pepaya yang baru dipetik dan dibungkus dengan kertas koran. Berat setiap buahnya rata-rata 1,2 kg dengan kulit buahnya masih berwarna hijau dan segar. Menurutnya, dalam beberapa hari, buah pepaya tersebut sudah matang dan siap untuk dinikmati. Pepaya tersebut sudah ada pemiliknya, yaitu pemesan dari salah satu toko buah di Medan. Buah tersebut dijualnya dengan harga Rp2.000/kg.

"Pepaya dari Dusun II, Bandar Labuhan ini nantinya masuk ke mal-mal di Medan dan daerah lain, tapi dengan merek lain yang bukan dari sini, dan harga jualnya jauh lebih tinggi," ujarnya.
Di Desa Bandar Labuhan, kata Min, paling tidak terdapat 10 hektare lahan pepaya milik warga yang buahnya didistribusikan keluar daerah. Karena itu, menurutnya, Bandar Labuhan sudah terkenal sebagai pusat budidaya pepaya.

Diakuinya, banyaknya permintaan buah pepaya california lantaran kualitas rasa yang baik. Selain rasa yang manis, pepaya California memiliki keunggulan yang lebih jika dibandingkan dengan beberapa varietas pepaya lainnya, yaitu tidak lembek meskipun sudah matang dan tidak berbau. "Buahnya merah, padat dan cita rasa yang segar," tambahnya.

Untuk memetik buah yang nama latinnya "Carica papaya" itu dari begitu banyak pohon, ia mengaku hanya dibantu oleh keluarganya. Ia tidak menggunakan tenaga pemetik dari luar karena ia dan keluarganya bisa melakukannya sendiri. Selain itu, bisa menghemat pengeluaran.
"Kita melakukan pemetikan hampir setiap hari, karena pesanan yang selalu datang dan kita tidak mau mengecewakan pelanggan," ujarnya.

Meskipun dari tiap pohonnya hanya bisa dipetik 3 - 4 buah saja dalam sebulan, namun ia dan keluarganya sudah bisa mendulang keuntungan manis dari membudidayakan pepaya california.


Ikut Menyediakan Bibit
Di pekarangan seluas satu hektare yang ditanami pepaya california, Min tidak hanya menerima pesanan pembelian buah pepaya. Di samping rumahnya, ia membuat pembibitan pepaya california dengan dibantu oleh anak dan istrinya.
"Sekarang ini, semakin banyak masyarakat yang berminat menanam pepaya california karena nilai jualnya yang tinggi," ujarnya kepada MedanBisnis beberapa waktu lalu di rumahnya di Dusun II, Desa Bandar Labuhan, Tanjungmorawa. Karena itu, menurutnya, peluang mendapatkan keuntungan juga bisa didapatkan dari menjual bibit.

Namun begitu, katanya, yang lebih utama dari menjual bibit adalah untuk berbagi pengalaman dalam membudidayakan buah yang berasal dari Amerika Tengah dan banyak tumbuh di Meksiko dan Costa Rica itu. Tanaman yang merupakan famili caricaceae ini, menurutnya, dapat dengan mudah tumbuh di daerah tropis maupun subtropis. Selain itu, tanaman buah ini bisa tumbuh dan berkembang di daerah-daerah basah dan kering, dataran rendah maupun dataran tinggi, seperti daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut.

"Di sini siapapun bisa saja bertanya-tanya soal bagaimana membudidayakan pepaya california ini, mulai dari penyiapan lahan, pemilihan bibit, penanaman sampai bisa berbuah," tambahnya. Hal tersebut dilakukannya agar hubungan antara pembeli dan penyedia bibit tidak terputus. "Agar bisa terus komunikasi dan saling tukar informasi yang berkembang," katanya.

Ia menjelaskan selama ini pemesan bibit pepaya darinya berasal dari Batang Kuis, Tembung, Binjai, Pangkalan Brandan, sampai Aceh. "Khususnya Aceh, saat ini memang baru bibitnya yang masuk, sementara buahnya belum, tapi kalau daerah lainnya sudah," lanjutnya menambahi.

Pemesanan tersebut biasanya dalam jumlah ribuan. Namun ia juga menerima pesanan dalam jumlah yang lebih sedikit karena tidak semua orang yang berkeinginan menanam pepaya memiliki lahan yang luas. "Tapi kalau pesan, kasih tempo 1,5 bulan baru bisa ambil," ujarnya.

Hal tersebut, menurutnya, dikarenakan pembibitan mulai dari biji, di dalam polybag sampai tumbuh kecambah dan siap untuk dipindahkan ke tanah membutuhkan waktu sekitar 1,5 bulan. "Perlakuan semacam itu harus dilakukan agar bibit memiliki kualitas yang baik, dan produksi buah di tiap batangnya bisa lebih banyak," lanjutnya. Menurutnya, bibit yang baik juga didapatkan dari biji buah pilihan yang sudah matang.

Ratusan bibit yang berada di samping rumahnya, menurutnya, baru tumbuh kecambah dan dalam beberapa hari kemudian sudah bisa dipindahkan ke tanah. Pembibitan juga hanya dilakukan oleh dirinya dengan anak dan istrinya. Bibit-bibit tersebut dijualnya dengan harga yang cukup murah, yakni Rp 2.000/polybag. Bibit tersebut baru bisa dipindahkan ke tanah ketika berusia 15 hari. Pada usia itu, tingginya sudah mencapai 20 cm - 50 cm. "Baru setelah itu bisa ditanam ke tanah yang sebelumnya sudah digemburkan dan diberi pupuk kandang terlebih dahulu," katanya.

Penggunaan pupuk kandang, menurutnya, sangat dianjurkan karena dengan itu hasil produksi pertumbuhan buah dari tiap pohonnya bisa maksimal. "Kalau tanah di mana bibitnya tumbuh itu baik, niscaya hasilnya tidak akan mengecewakan, karena yang paling penting setelah kualitas bibit adalah perawatan yang juga telaten," tambahnya.

Perawatan yang baik dan mesti dilakukan itu antara lain dengan menjaga kebersihan lahan dari tumbuhnya rumput liar, menjaga drainase agar tidak ada genangan air, pemupukan dan penyiraman secara teratur ketika musim kemarau. "Perlakuan yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula," pungkasnya.