Tampilkan postingan dengan label bibit padi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bibit padi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2011

Berita Pertanian : Benih Padi Varietas Hibrida Tidak Ditanam

Madiun. Lebih dari separuh dari total 63 ton benih padi varietas hibrida bantuan pemerintah yang diterima petani di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, tidak ditanam. Petani khawatir gagal panen karena tidak mempunyai pengetahuan cukup bertanam padi hibrida.

Petani menerima bantuan benih tersebut pada musim tanam kedua Mei 2010. Bantuan itu untuk sawah seluas 405 hektar di Madiun. Sejumlah petani mencoba menanam benih tersebut, tetapi mereka gagal panen.

Sekretaris Kelompok Tani Mulyasari Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Dagangan, Sunaryo, mengatakan, padi hibrida sangat rentan terhadap serangan hama seperti wereng coklat dan sundep. Benih hibrida juga rawan diserang penyakit seperti hawar daun dan potong leher.

”Oleh karena itu apabila tidak memiliki pengetahuan yang luas, petani yang menanam benih hibrida dipastikan gagal panen,” kata Sunaryo, Kamis (10/3).

Benih hibrida konon mampu menghasilkan hingga 12 ton gabah per hektar, sedangkan benih lokal hanya sekitar 5-6 ton per hektar. Namun jika gagal panen padi hibrida, petani akan rugi dua kali lipat dibandingkan jika gagal panen padi lokal.

Oleh karena itu, kata Sunaryo, petani memilih menanam benih padi lokal seperti Ciboga, Situbagendit, IR 74, dan Intani. Benih lokal juga lebih tahan serangan hama dan penyakit.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Madiun, Suharno, mengatakan, petani membutuhkan pendampingan secara langsung dari penyuluh pertanian untuk menanam padi varietas hibrida.

Harga turun

Dari Lampung dan Jember (Jawa Timur) dilaporkan, harga gabah kering panen (GKP) terus turun seiring dimulainya masa panen raya. Di sentra padi di Kecamatan Trimarja, Kabupaten Lampung Tengah, misalnya, harga gabah kering panen rata-rata Rp 2.600-Rp 2.700 per kilogram. Di Jember, harga GKP Rp 2.500 per kg atau di bawah harga pembelian pemerintah sebesar Rp 2.640 per kg.

”Saya berharap Bulog turun dan membeli (gabah) langsung ke petani,” kata H Abd Halim Hamam, petani di Desa Klompangan, Kecamatan Ajung, Jember.

Kepala Perum Bulog Sub Divisi regional Jember Tri Wahyudi Saleh mengatakan, telah mengerahkan satuan tugas ke desa-desa untuk membeli gabah petani. Namun hasilnya, barang tidak ada, kalaupun ada kualitasnya jelek.

”Seperti saat diberitakan, di Desa Kemuninglor, Kecamatan Panti, bahwa harga gabah hanya Rp 2.300–Rp 2.400 per kg, ternyata kualitasnya jelek dan hitam,” katanya.

Adapun Bulog Divre Lampung siap membeli gabah petani jika harga dan kualitasnya sesuai. Bulog sudah menganggarkan dana Rp 85,9 miliar untuk membeli gabah dan beras petani.

Dari Gresik, Jatim, diberitakan, anjloknya panen akibat cuaca ekstrem, para pengusaha penggilingan padi menutup usahanya. Pasokan gabah dari petani kosong, karena sejumlah petani memilih menyimpan gabahnya untuk persediaan pangan mereka.

Selasa, 01 Maret 2011

Berita Pertanian :Petani Kudus Dibantu Benih Padi Gratis



Kudus
. Petani padi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memperoleh bantuan benih padi gratis dari pemerintah provinsi untuk lahan seluas 6.000 hektare guna meringankan beban mereka yang gagal panen.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, Budi Santoso, di Kudus, Minggu, bantuan benih padi gratis tersebut segera didistribusikan kepada petani pada pertengahan Maret 2011.

"Pendistribusian akan dilakukan melalui kelompok tani," ujarnya.

Sebelum didistribusikan, dinas pertanian akan menginventarisasi luas areal lahan tanaman padi yang benar-benar membutuhkan bantuan benih padi gratis.

Selain itu, kata dia, pendistribusian bibit padi juga harus disesuaikan dengan rencana tanam para petani, karena bibit tersebut memiliki batas waktu penyimpanan.

"Penyimpanan bibit padi yang terlalu lama, justru menyebabkan pertumbuhan tanaman padinya kurang maksimal," ujarnya.

Areal tanaman padi yang dipanen, katanya, belum semua daerah dan masih ada sebagian petani yang belum panen.

Nantinya, kata dia, setiap hektare lahan mendapatkan jatah 30 kilogram (kg) bibit padi.

Dengan adanya bantuan tersebut, dia berharap, dapat meringankan beban petani yang diperkirakan tingkat produksinya dipengaruhi oleh faktor alam.

Berdasarkan catatan Dinas Pertanian Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, luas areal tanaman padi di Kudus yang terendam banjir seluas 122 hektare.

Tanaman padi yang dipastikan puso, menurut dia, sekitar 35 hektare tanaman padi yang ada di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, akibat terendam banjir dalam jangka waktu yang terlalu lama.

Puluhan hektare lahan tanaman padi yang terendam banjir tersebar di dua kecamatan, yakni Kecamatan Mejobo seluas 87 hektare dan Kaliwungu seluas 35 hektare dengan usai tanam berkisar antara 15-80 hari.

Luas areal tanaman padi yang tergenang mulai berkurang, dibanding sebelumnya ketika curah hujan cukup tinggi.

Adapun daya tahan tanaman padi terhadap genangan banjir tersebut disesuaikan dengan tingkat genangan. Menurut dia, apabila ketinggian genangan hanya setengah dari ketinggian tanaman padi, maka tanaman tersebut masih mampu bertahan hingga dua pekan lebih.

Kondisi berbeda, ketika genangan air mencapai ketinggian tanaman, maka tanaman tersebut hanya mampu bertahan hidup selama lima hari, ujarnya menambahkan. (ant)

Sabtu, 26 Februari 2011

Berita Pertanian : Produksi Gabah Kering Giling 2011 Ditarget 70,6 Juta Ton


MAKASSAR.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menargetkan produksi Gabah Kering Giling (GKG) nasional 2011 mencapai 70,6 juta ton.

Staf Ahli Menteri Pertanian Iskandar Andi Nuhung di Makassar, Jumat (25/2), menjelaskan, target Kementerian Pertanian berdasarkan anggaran sekitar 68 juta ton. Ini menjadi tantangan," ujarnya pada pertemuan koordinasi percepatan tanam padi Sulsel 2011.

Target tersebut dapat dicapai dengan memobilisasi seluruh potensi yang ada serta tergantung kebijakan masing-masing pemerintah daerah. "Peta produksi nasional rata-rata 5,1 ton per hektare dan Sulsel hampir mencapai itu bahkan dengan infrastruktur yang tak selengkap di Jawa. Sulsel juga berhasil mengembangkan jenis IP 300 yang diragukan banyak pakar sebelumnya," jelasnya.

Perbandingan produksi pangan dengan tingkat konsumsi dunia saat ini jaraknya semakin jauh. Produksi gandum dunia menurun akibat kondisi cuaca yang tak menentu sehingga konsumsi gandum beralih ke beras.

"Akibatnya, permintaan beras tinggi, linier dengan gandum. Untuk itu, perlu terobosan ketahanan pangan terutama pada lima komoditas yaitu beras, jagung, kedelai, gula, dan daging pada lima tahun ke depan," katanya.

Selain beras, pemerintah juga menargetkan swasembada jagung sebanyak 22 juta ton dan Sulsel merupakan salah satu produsen utamanya. Swasembada kedelai ditargetkan 1,65 juta ton.(ant)

Jumat, 25 Februari 2011

Berita Pertanian : Hawar Daun Serang Tanaman Padi di Lendah

20110225164215_IMG0011A.jpg

Kulonprogo. Tanaman padi di Bulak Karang Desa Sidorejo dan Bulak Jatirejo Desa Jatirejo Kecamatan Lendah Kabupaten Kulonprogo terserang penyakit hawar daun. Penyakit ini menyerang di sekitar 40 persen luasan hamparan tanaman padi di Bulak Karang, sedangkan di Bulak Jatirejo sekitar 10 persen saja. Tanaman padi yang terserang penyakit ini terlihat kemerah-merahan dan pertumbuhannya lambat.

Suremi (59) petani warga Pedukuhan Jatirejo Desa Jatirejo Kecamatan Lendah ketika ditemui Jum'at (25/02) menuturkan bahwa sudah sekitar seminggu ini tanaman padinya terlihat kemerah-merahan. "Dulu itu jarang sekali tanaman padi terkena penyakit seperti ini," katanya. Upaya untuk mengatasi penyakit ini, Suremi melakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida.

Keadaan tanaman padi di Bulak Karang memang lebih buruk dibandingkan dengan Bulak Jatirejo. Mujimin (45) petani warga Pedukuhan Diran Desa Sidorejo Kecamatan Lendah mengeluhkan bahwa tanaman padi lambat pertumbuhannya. "Ungkris-ungkrisan," jelasnya.

Menanggapi terjadinya serangan penyakit hawar daun, Eko Purwanto PPL dari Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Lendah menjelaskan bahwa penyebab penyakit hawar daun adalah bakhteri xantomonas. "Keadaan masih diperburuk dengan adanya kelebihan kandungan unsur Nitrogen dalam tanah," tambahnya. Upaya sementara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan serangan penyakit ini, Eko Purwanto menyarankan untuk melakukan sistem pengairan berselang. "kadang diairi penuh, kadang dikeringkan," demikian menutup mengakhiri penjelasan. (hj)

Berita Pertanian : Padi Berbintik Hitam

Cuaca tak menentu membuat petani di Pagaralam khawatir. Hasil panen diperkirakan tak akan maksimal, padi yang siap panen rusak. Tak hanya padinya yang ampe (kosong, red) tetapi buah padi banyak yang terlihat bintik-bintik hitam.Purwanto (34), petani Dusun Mekar Jaya, Kelurahan Pagaralam, mengakui buah padinya banyak yang rusak, sementara batang dan daunya normal.

‘’Sebagian buah berbintik hitam, saat padi berbunga bertepatan dengan cuaca buruk seperti hujan yang disertai angin kencang. Akibatnya buah padi banyak yang hitam, hasil panen pun dipastikan merosot,” ujarnya.Normalnya, untuk satu hektare diperkirakan mampu menghasilkan 1 ton beras. ‘’Tetapi panen kali ini hanya mampu menghasilkan 700 kg beras,’’ ujarnya yang berharap ke depan ada penyuluhan tentang hama yang sering menyerang tanaman.

Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Jumaldi Jani SP MM melalui Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Sukuran SP mengatakan, bintik hitam atau ampe yang menyerang buah padi bukan akibat serangan hama tetapi akibat cuaca buruk. ‘’Biasanya hal tersebut bermula saat padi berbunga, ketika itu turun hujan atau angin kencang, akibatnya buah padi ampe dan bintik hitam,” ujarnya.(Sumex)


Sabtu, 12 Februari 2011

Berita Pertanian : 302 Hektar Tanaman Padi Terserang Hama Penyakit

Batang. Lebih kurang 302 hektar dari 12.624 hektar tanaman padi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), terserang hama dan penyakit sehingga kondisi tersebut dikhawatirkan mengakibatkan gagal panen.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Batang, Singgih, di Batang, Kamis (10/2) mengatakan, organisme pengganggu tanaman itu (OPT) yang menyerang tanaman padi itu, antara lain tikus sebanyak 10 hektar, keong emas 158 hektar, penyakit tanaman 52 hektar dan kresek 82 hektar. "Intensitas serangan OPT itu masih ringan sehingga dampaknya belum sampai menimbulkan ancaman tanaman padi rusak dan puso," katanya.

Ia mengatakan, meskipun serangan organisme pengganggu tanaman masih relatif ringan, Dinas Pertanian meminta para petani tetap waspada meluasnya serangan hama dan penyakit itu dengan melakukan pengendalian dan pemberantasan. "Pemberantasan hama dan penyakit perlu dilakukan petani secepat mungkin agar tidak menjalar ke tanaman padi lainnya," katanya.

Suwandi, petani setempat mengatakan, serangan hama tikus dan penyakit tanaman padi kini makin menjalar padahal petani sudah berusaha melakukan pemberantasan, seperti menyemprotan cairan pestisida dan pengasapan ke lubang tanah tempat persembunyian hewan itu.

Namun, katanya, upaya pembasmian terhadap serangan hama dan penyakit ini yang dilakukan para petani belum membuahkan hasil maksimal, karena sebagian tanaman padi masih banyak yang rusak. "Saat ini, kami sudah hampir kewalahan mengatasi serangan hama dan penyakit itu sehingga para petani khawatir gagal panen," katanya. (ant)

Kamis, 10 Februari 2011

Berita Pertanian : Petani Padi Kian Sulit Kembalikan Biaya Produksi

Padang. Nasib petani padi kini makin memprihatinkan akibat rendahnya harga gabah kering yang menyulitkan petani untuk mengembalikan biaya produksi.
"Nasib petani padi kini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, ditindih pula dengan karungan beras impor, hingga nasib mereka memang amat tragis dan mengenaskan," kata Ismed Hasan Putro, Ketua Bidang Perdagangan DPN HKTI, di Padang, Rabu (9/2).

Menurut dia, kondisi yang memprihatinkan makin miris, apalagi di saat harga beras di pasar konsumen tinggi dan harga gabah kering yang dijual petani hanya berkisar Rp1.900-Rp2.500 per kg.

Dengan harga yang demikian rendahnya, katanya, tentu sulit bagi petani padi bisa mengembalikan biaya produksi.

"Bisa dipastikan untuk musim tanam berikutnya, petani akan makin tersandera oleh rentenir sebab petani sangat membutuhkan bibit dan pupuk," katanya daya beli mereka rendah akibat harga jual gabah yang saat ini kian anjlok.

Nasib petani padi, katanya, makin memiriskan karena tidak transparan dan konsistennya pemerintah dalam hal cadangan beras nasional hingga menimbulkan kecemasan mendalam terhadap nasib petani padi.

Diakui atau tidak, kebijakan pembebasan bea masuk nol persen atas beras impor semakin menegaskan posisi pemerintah dan posisi petani padi terus disisihkan. "Bahkan kebijakan impor beras dengan bea masuk nol persen menjadi fakta bahwa pemerintah memang tidak serius memikirkan nasib jutaan keluarga petani padi nasional dan lebih mengutamakan kepentingan para pemburu rente importir beras," katanya.

Karena itu, dua langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah segera mencabut kebijakan bea nol persen atas beras impor. Selain itu, pemerintah juga harus transparan atas stok cadangan beras nasional.

Jika memang dianggap cukup, katanya, pemerintah harus segera menghentikan impor beras dan Bulog segera membeli gabah petani saat ini tengah panen raya. (ant)

Minggu, 06 Februari 2011

Berita Pertanian : Mentan : Pengiriman Beras Impor Karena Darurat

Lebak. Menteri Pertanian Suswono mengatakan pengiriman beras impor asal Vietnam karena dalam kondisi darurat setelah Perum Bulog tidak maksimal penyerapan gabah pada musim panen 2010.

"Kami targetkan Perum Bulog harus menyerap tiga juta beras dari dalam negeri sendiri," kata Suswono di Kabupaten Lebak, Sabtu.

Ia mengatakan, pengiriman beras impor karena dalam kondisi darurat karena produksi pangan 2010 tidak terserap maksimal oleh Perum Bulog.

Pengiriman beras bagi orang miskin saja per bulan mencapai 260 ribu ton dengan dibagikan 15 kilogram per kepala keluarga. Bahkan, banyak juga warga mampu mengaku miskin untuk mendapatkan jatah raskin.

Sedangkan, persedian raskin tidak bisa didatangkan dari dalam negeri, sehingga sebagian terpaksa mengambil impor.

"Saya kira jumlah beras impor itu relatif kecil yakni hanya dua persen dan tidak berdampak terhadap petani," katanya.

Dia juga mengatakan, dipastikan musim panen raya antara Maret-April 2011, meskipun saat ini sebagian daerah sudah musim panen.

Oleh karena itu, pihaknya meminta Perum Bulog jangan sampai terulang lagi penyerapan musim panen 2010 tidak maksimal, karena alasan kualitas dan harga pembelian pemerintah (HPP).

Dengan begitu, pihaknya akan mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian untuk mengatur soal kualitas gabah dan HPP sehingga Perum Bulog lebih pleksibel untuk menyerap gabah petani.

Pengalaman 2010, kata dia, Perum Bulog tidak berani menyerap gabah karena kualitas rendah juga harganya di atas HPP.

"Saya kira dengan adanya Peraturan Menteri Pertanian dipastikan Perum Bulog akan menampung gabah petani tanpa kualitas dan harga berani di atas HPP," katanya. (ant)

Jumat, 04 Februari 2011

Berita Pertanian : Petani Butuhkan Mesin Perontok Padi

BENGKULU– Minimnya peralatan yang dimiliki petani dalam proses panen menyebabkan kehilangan hasil panen sekitar 10 persen. Ini terjadi karena petani di Provinsi Bengkulu masih menggunakan cara-cara tradisional, salah satunya dengan cara memukul untuk merontokkan padi.

“Di sini lah terjadinya kehilangan hasil panen sekitar 10 persen tersebut,” kata Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Bengkulu Ir Trismantono, Rabu (2/2).
Menurut dia, dengan terjadinya kehilangan sekitar 10 persen hasil panen itu, jika 1 hektar sawah menghasilkan 4 ton gabah, maka kehilangan diprediksikan sekitar 400 kg gabah. Tentunya kehilangan hasil panen ini sangat mempengaruhi produksi beras di Provinsi Bengkulu.

Selain mulai dari proses perontokkan padi, cara tradisional petani dengan menggunakan sabit untuk menebas batang padi, juga sangat berpotensi mengurangi hasil panen. Belum lagi cara petani menjemur hasil panen tanpa menggunakan alas. ” Kita lihat didusun-dusun masih banyak kita temui para petani kita yang menjemur hasil panennya dijalan. Ini bisa mengurangi hasil panen, karena padi tersebut akan terinjak oleh kendaraan yang lewat,” terangnya.

Untuk itu, mengantisipasi hal ini, pemerintah provinsi Bengkulu akan memberikan alat perontok padi bagi kelompok tani. Ini upaya Pemerintah Provinsi Bengkulu melakukan mekanisasi dibidang pertanian selain pembagian handtraktor. ” Untuk tahun ini kita mungkin tidak memberikan secara keseluruhan anggaran untuk handtraktor. Tapi sebagian dana akan kita pergunakan untuk melakukan pengadaan alat perontok padi,” kata dia

Berita Pertanian : Distan Siapkan Bibit Padi Gratis

BARRU - Pada musim tanam 2011, petani bisa bernapas lega. Dinas Pertanian (Distan) Barru berencana membagian bibit padi varietas Mikongga secara gratis. Bibit itu merupakan bantuan pemerintah pusat dianggap lebih produktif dibanding bibit yang ditanam petani selama ini.

Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Barru, Mursalim Abdullah, Jumat 28 Januari menyatakan, meski bukan bibit baru, namun masyarakat belum terlalu banyak mengenal. Karena itu, Dinas Pertanian terus mendorong petani menanam jenis padi tersebut. "Selain produksinya bagus, juga masa panen juga lebih singkat dibanding varietas padi lain," ujar mantan Kepala Inspektorat Barru itu.

Meski belum bisa merinci jumlah bantuannya, namun dia memastikan kalau bibit itu sudah bisa dinikmati pada musin tanam tahun ini. Luas areal tanam yang terjangkau irigasi juga masih menjadi masalah selama ini.

Jangkauan irigasi masih sangat sedikit dibanding luas areal sawah yang ada. Dari sawah yang mencapai 13 ribu hektare, yang terjangkau irigasi hanya 4.000 hektare. "Karena itu ke depan kita terus minta irigasi yang lebih besar lagi," tambahnya.

Meski demikian lanjutnya, bibit varietas Mikongga tetap ada kendalanya. Petani tampak sangat sulit meninggalkan verietas padi yang selama ini ditanam. Karena itu, Dinas Pertanian berencana membuka satu lahan percontohan. "Kami akan berikan bukti ke petani jika verietas padi itu sangat menjanjikan," tandasnya. (fajar)

Berita Pertanian : 75 Ribu Ton Beras Vietnam Segera Masuk Riau

PEKANBARU - Riau rencananya segera melakukan impor beras dari Vietnam sebanyak 75 ribu ton sesuai kuota. Ini dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan beras selama 2011.

Kepala Bidang (Kabid) Pelanyaluran Beras Bulog Riau Mulya Dahnial menjelaskan saat ini beras impor yang telah masuk Riau sebanyak 25 ribu ton yang masuk secara bertahap dari dua bulan lalu.

"Sedangkan kebutuhan beras impor untuk Riau per bulannya sekira lima ribu ton. Beras itu masuk melalui Pelabuhan Dumai," kata Dahnial di kantornya, Jumat (4/2/2011).

Menurut dia, keputusan mengimpor beras asal vietnam ini dikarenakan terjadinya cuaca ektrim beberapa bulan ini di Pulau Jawa yang merupakan pemasok terbesar untuk Riau. Sehingga hasil panen petani anjlok.

Beras Impor ini lanjutnya adalah untuk mencukupi beras untuk orang miskin (raskin) di Riau. Beras dengan kualitas medium ini sebagian telah didistribusikan ke masyakarakat. Selain itu beras Vietnam ini diperlukan untuk operasi pasar (OP).

"Namun jika nantinya hasil beras dari Pulau Jawa ini kembali baik, ya kemungkinan sisa beras impor bisa kita batalkan," imbuhnya.

Sedangkan untuk kebutuhan beras di pasaran, Riau tetap mengandalkan beras lokal yang dipasok dari Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), Jambi, dan Sumatera Selatan (Sumsel). (okezone)

Berita Pertanian : Distan Karo Salurkan Bibit Hortikultura


Kabanjahe. Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Karo terus berupaya melakukan yang terbaik untuk para petani yang berada di bawah kaki Gunung Sinabung, terutama pasca letusan Gunung Sinabung lima bulan lalu.

Kepala Dinas Pertanian Nomi boru Sinuhaji, Rabu (2/2) mengatakan, upaya yang sudah mereka lakukan adalah pemberian racun rumput secara gratis kepada petani yang berada di empat kecamatan seperti Kecamatan Simpang Empat, Naman Teran, Payung, dan Kecamatan Tigan Derkat.

Adapun bantuan pestisida yang diberikan adalah jenis herbisida (racun rumput) sebanyak 6.154 liter atau senilai Rp 300 juta yang bersumber dari APBD Kabupaten Karo 2010. “Bantuan tersebut sebagian sudah disalurkan tinggal beberapa liter saja yang belum tersalur. Rancananya nanti kami berikan bersama bibit jagung bantuan dari pusat,” jelas Nomi.

Lebih lanjut dijelaskan Nomi, 2.000 liter pestisida telah dibagikan bersamaan bibit jagung sebanyak 13 ton kepada masyarakat desa Sigarang-garang, Kuta Gugung, Sukanalu Simalem dan Kuta Rakyat. Pembagian dilakukan melalui kelompok tani masing-masing. “Sisanya belum dibagikan karena menunggu bantuan bibit jagung. Petani juga bisa memilih bibit mana yang mau mereka tanam, apakah jagung, kentang atau bibit tomat. Jadi, tergantung kemauan para petani,” ujarnya.

Namun dalam penyaluran bibit ini Nomi mengakui, banyak kendala yang ditemui di lapangan, sehingga untuk menghindari salah sasaran pihaknya benar-benar menyeleksi para petani penerima. “Jangan nanti bibit yang kita berikan dijual pula dengan setengah harga,” kata Nomi. (MB)

Kamis, 03 Februari 2011

Berita Pertanian : Panen Raya, Harga Beras Turun Hingga Rp300

Panen Raya, Harga Beras Turun Hingga Rp300

Kamis, 3 Februari 2011 - 17:17 wib
Idris Rusadi Putra - Okezone

JAKARTA - Mulai memasuki musim panen raya saat ini membuat harga beras untuk kualitas menengah ke bawah turun sekira Rp200-Rp300 per kilogram.

"Rata-rata Rp200-Rp300 per kg, kualitas menengah ke bawah seperti Ir super, Ir 1, Ir 2, dan Ir 3," ungkap salah seorang penjual beras, Sarpon, di Pasar Induk Kramat Jati, di Jakarta, Rabu (3/2/2011).

Dia menjelaskan, apabila sedang terjadi panen raya, hanya mengurangi harga beras kualitas menengah ke bawah. Sedangkan untuk kualitas atas hanya berkurang sedikit saja.

"Kalau panen raya harga beras kualitas atas paling turun Rp20-Rp50 per kg, seperti Pandan Wangi harganya Rp10 ribu per kg dan juga Segon Bandung masih Rp8.400 ribu per kg," tambahnya.

Selain itu, berkurangnya harga beras saat panen raya ini hanya akan berlangsung sekira sebulan. Setelah itu, harga beras akan naik lagi. "Kuatnya sekitar sebulan, nanti juga naik lagi. Pengiriman semakin sedikit lagi," tandasnya.

Adanya operasi pasar yang digelar Pemerintah pun tidak begitu berpengaruh terhadap harga beras kualitas super. "Operasi pasar Bulog hanya membantu pengaruhnya ke kualitas beras jenis pera saja, jenis Ir 1 Ir 2 dan sebagainya," pungkasnya. (okezone)

Berita Pertanian : Pemerintah Minta Bulog Perkuat Cadangan Beras

Jakarta. Pemerintah minta Perum Bulog meningkatkan cadangan pangan/beras pada 2011 sebagai langkah mengatasi kemungkinan dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

"Tahun 2010 penyerapan Bulog hanya 50 persen dari target, tahun ini diharapkan target tiga juta ton dapat dipenuhi," kata Mentan Suswono usai rapat koordinasi ketahanan pangan di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Rabu.

Ia menyebutkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan BMKG untuk mengetahui perkiraan kondisi cuaca dan iklim yang akan terjadi. "Prinsipnya sampai Maret masih akan hujan, dan pada Maret-April akan memasuki masa panen raya," katanya.

Pemerintah, lanjut Suswono, akan melakukan pengamanan agar panen raya 2011 memberi hasil memuaskan, antara lain dengan upaya pemberantasan hama.

Ia menyebutkan, pada tahun 2010 stok beras Bulog terbilang rendah padahal ada program yang terus dilaksanakan pemerintah yaitu raskin dan operasi pasar.

Selain pemberantasan hama, upaya yang akan dilakukan adalah memberikan fleksibilitas kepada Bulog dalam pengadaan beras. "Dari sisi kualitas, pengeringan gabah akan dioptimalkan dengan pengadaan alat pengering terutama di sentra produksi beras," katanya.

Ia menyebutkan, ditargetkan ada tambahan 1.000 alat pengering gabah pada 2011.

"Masalah yang muncul di pascapanen adalah tingkat kehilangan yang mencapai 15 persen. Tingkat kehilangan diharapkan dapat ditekan hingga hanya lima persen saja atau yang dapat diselamatkab sekitar dua juta ton," katanya. (ant)

Selasa, 01 Februari 2011

Berita Pertanian : Distan Lebak Kembangkan Varietas Unggul

Lebak. Dinas Pertanian Kabupaten Lebak tengah mengembangkan penanaman padi varietas unggul dan tahan hama untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.
Kepala Balai Benih Bojongleles Kabupaten Lebak Romli Setiawan, Senin
(31/1), mengatakan, pihaknya saat ini mengembangkan varietas Ciherang,
Cibogo, dan Sarinah.


Kelebihan varietas tersebut tahan hama, berumur pendek dan tahan kering.
Dengan varietas itu, tentu pendapatan petani meningkat karena
produktivitas mencapai tujuh ton gabah kering pungut (GKP)/hektare.


"Kami optimistis varietas unggul ini dapat meningkatkan pendapatan petani," katanya.


Menurut dia, pihaknya mengembangkan varietas unggul di atas lahan lima hektare dan bisa memasok sejumlah kios pertanian.Bahkan, varietas unggul sudah hampir menyebar di seluruh kecamatan.

Pengembangan varietas tersebut memiliki kelebihan, seperti cibogo dan ciherang rasanya pulen, enak dan kualitasnya beras cukup bagus. Beras cibogo dan ciherang bisa dipasok ke super market dan banyak petani beralih ke benih padi tersebut.

Selain produksi tidak begitu lama hanya 105-115 hari juga tahan hama.

"Saya benih berlabel ini banyak dimnati petani karena rasanya pulen, enak dan wangi juga dapat mendongkrak produksi padi," ujarnya.

Sementara itu, Alimuding, seorang petani Desa Rangkasbitug Timur Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak mengaku pada musim panen Januari 2011 pihaknya menanam padi varietas Ciherang dari Balai Benih Bojongleles tersebut. (ant)

Minggu, 30 Januari 2011

Berita Pertanian : Harga Gabah Merosot Tajam, Petani Rugi

JEMBER. Harga gabah di tingkat petani di Jember dalam sepekan terakhir ini merosot sangat tajam. Saat ini harga gabah berkisar Rp 2.600-Rp 2.700 per kilogram. Padahal, tanaman padi masih banyak dan belum genap 10 persen yang sudah dipanen dari area secara keseluruh sekitar 80.000 hektar.

Harga gabah dengan kadar air 25 persen dan hampa kotoran atau gabuk tidak lebih dari 10 persen, oleh pedagang, dibeli Rp 3.000 per kg. "Sekarang masih belum panen raya harga sudah anjlok seperti itu, padahal panen raya sebulan lagi," kata Endro Handoko di Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Jember, Minggu (30/1).

Pekan lalu harga gabah kering panen dengan kadar air 25 persen masih Rp 3.100 per kg dan harga gabah berkualitas 0 persen gabuk saat itu Rp 3.700 per kg. Alasan merosotnya harga, menurut pedagang atau pengusaha penggilingan padi, disebabkan anomali cuaca karena akhir-akhir ini dirundung mendung dan hujan. Akibatnya, pedagang dan pengusaha penggilingan padi sulit menjemur gabah.

Sekelompok petani menduga penyebab merosotnya harga gabah karena pemerintah telah menerbitkan izin impor beras. Kemudian pasar menjadi jenuh sehingga terjadi penurunan harga menjelang panen raya.

Bambang Mujianto, petani Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Jember, mengaku terpukul dengan merosotnya harga gabah yang sangat drastis ini. Lima hari lalu ia telah menjual tanaman padi di lahan seluas 1,2 hektar dengan sistem ijon seharga Rp 18 juta. Uang muka sebagai tanda jadi telah diterima sebesar Rp 3 juta.

Setelah tersiar harga gabah jatuh, pedagang itu merevisi harga pembelian secara sepihak sehingga Bambang mengaku dirugikan. "Walau jengkel, akhirnya disepakati harga menjadi Rp 15,3 juta," kata Bambang.

Fauzan, pedagang beras grosir dan eceran di Pasar Tanjung, mengaku juga sangat terpukul karena harga beras merosot drastis. "Harga beras turun rata-rata Rp 200-Rp 300 per kg. Simpanan beras di gudang dibeli dengan harga lama. Kami rugi," kata Fauzan.

Harga beras kualitas super turun dari Rp 8.000 per kg menjadi Rp 7.800 per kg, kualitas medium dari Rp 7.500 per kg menjadi Rp 7.200 per kg, kualitas di bawah medium juga anjlok dari Rp 6.800 per kg menjadi Rp 6.500 per kg. (kompas)

Berita Pertanian : Bibit Padi Wisanggeni Temuan Jumari Segera Dipatenkan

Surabaya. Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur (Jatim) segera mematenkan bibit padi Wisanggeni temuan Jumari, petani asal Kabupaten Ngawi, yang sempat dipamerkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika melakukan kunjungan kerja ke Sidoarjo pada 14 Januari 2011.
"Tahun ini kami segera mematenkan bibit padi Wisanggeni," kata Kepala Dinas Pertanian Jawa Timyr (Jatim) Wibowo Ekoputro di Surabaya, Kamis (27/1).
Bibit padi varietas terbaru itu dinilai tepat untuk dikembangkan pada saat anomali cuaca karena memiliki ketahanan terhadap hama dan tahan rebah saat hujan, banjir, dan angin kencang. Wisanggeni merupakan terobosan petani biasa tanpa campur tangan lembaga riset.
Wibowo menjelaskan bahwa Wisanggeni mampu menghasilkan gabah kering panen seberat tujuh sampai delapan ton per hektar. "Ini juga salah satu kelebihan Wisanggeni. Oleh sebab itu, potensi varietas padi baru ini harus segera dipatenkan," katanya.
Sejumlah keunggulan pada benih padi ini kini masih menjadi perhatian Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPSBTP) Propinsi Jawa Timur di Madiun.

BPSB TPH bersama Dinas Pertanian Ngawi saat ini sedang mengusulkan Wisanggeni pada BPSB Pusat untuk diteliti sebelum dipatenkan. Rencana mematenkan padi yang bisa dipanen empat kali dalam setahun itu mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jatim Soekarwo.

Benih padi Wisanggeni merupakan hasil ekperimen Jumari dari sekitar 20 benih padi lokal. Waktu itu, Gabungan Kelompok Tani Mulyo yang diketuai Jumari mendapat kiriman sekitar 20 varietas benih padi lokal dari balai benih.

Setelah itu satu per satu dicoba hingga akhirnya menghasilkan benih padi Wisanggeni yang lebih tahan hama dan tahan roboh saat cuaca buruk melanda.

Nama Wisanggeni diambil dari nama anak kedua Jumari yang masih berusia sekitar lima tahun. Selain tahan hama dan tahan roboh, hasil panen dari benih Wisanggeni ini dinilai juga lebih besar dibandingkan benih padi lainnya.

Ini terbukti dari perbedaan jumlah batang produksi bulir padi dari satu rumpun tanaman padi. Satu rumpun tanaman dari benih Wisanggeni memiliki 20-30 batang, sedangkan tanaman padi lainnya di bawah 20, sehingga, hasil panen petani juga bertambah setiap hektarnya.

Jumari telah mengajukan 11 varian benih padi Wisanggeni ke Dinas Pertanian Kab Ngawi dan Satker BPSB Jawa Timur di Madiun. Dari benih nomor 1 hingga nomor 11 itu, hanya nomor 5 yang gagal karena kurang layak. Benih nomor 1-6 untuk kategori usia tanam pendek, dan benih nomor 9-11 untuk usia tanam sedang.

Tanaman padi dari benih Wisanggeni nomor 1-6, bisa menghasilkan enam sampai tujuh ton gabah per hektare dengan usia tanam 90-95 hari. Sementara itu Wisanggeni nomor 9 yang paling diunggulkan, bisa menghasilkan 9-10 ton gabah per hektar dengan usia tanam mencapai 100-110 hari.

Saat ini, benih padi Wisanggeni telah ditanam sejumlah petani di atas lahan seluas 500 hektar di wilayah Kabupaten Ngawi, Madiun, dan Nganjuk.

Hasil panen pun lebih besar dibanding padi jenis lain yang rata-rata tujuh hingga delapan ton gabah per hektare, sedangkan masa munculnya malai atau batang produktif berbulir padi. Untuk Wisanggeni nomor 1 hingga nomor 6 sekitar 50 hari, sementara Wisanggeni nomor 9 di atas 50 hari. (ant)