BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Kamis, 07 Februari 2013
Harus Ada Tim Pengamat Gugur Buah Jeruk Karo
“Harus ada tim yang mengamati terjadinya gugur buah sebelum waktunya,” kata Koordinator Pengamat Hama Penyakit (PHP) Karo, Rabu (6/2) di Medan.
Umumnya kata dia, orang memahami keterpurukan produksi jeruk di Karo karena serangan lalat buah. Padahal, yang terjadi adalah banyak buah yang jatuh lebih cepat dari waktu pembusukannya di dahan.
“Mengetahui penyebab terjadinya gugur buah sangat penting karena berkaitan dengan langkah penanganannya. Jika penanganan yang diberikan mulai dari perangkap, obat-obatan, dan perlakuan lain dikhususkan untuk lalat buah sementara ada penybab lain yang tidak bisa diselesaikan dengan penanganan yang diberikan, tentunya akan menjadi sia-sia,” jelasnya.
Faktor lain seperti iklim yang seringkali berubah kata dia, sangat mungkin menyebabkan buah jeruk jatuh lebih cepat dari waktunya. "Nah, setelah jatuh lalu membusuk, dibiarkan menjadi tempat berkembang biaknya hama lain, salah satunya lalat buah," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Laboratorium Pengendalian Hama Penyakit Medan Johor, Utema Silan, mengatakan, tidak semua buah jeruk yang gugur disebabkan lalat buah. Penyebab lainnya adalah mati ranting, busuk tangkai buah, dan penggerek buah.
Dikatakannya, lalat buah merupakan hama yang menjadi perhatian secara nasional untuk dikendalikan secara cepat agar jeruk tidak punah. Dalam satu buah jeruk yang diserang lalat buah didalamnya terdapat 4 - 5 ekor lalat buah baik jantan maupun betina.
Lalat buah betina bisa menelurkan 1.200 – 1.500 butir di dalam buah jeruk. Dari jumlah tersebut yang bisa menetas sekitar 800 butir jantan dan betina. "Itu dari satu buah saja, bisa dibayangkan berapa banyaknya jika petani tidak mau menerapkan pola perawatan yang sehat," katanya.
Di Sumut sendiri, lanjutnya, pengendalian lalat buah sudah dilakukan sejak 2002, dengan total pertanaman jeruk di Kabupaten Karo saat itu mencapai 11.700 hektare, 8.900 hektare merupakan tanaman produksi dan 2.800 hektare tanaman muda. Luas serangan lalat buah mencapai 426,50 hektare.
"Di tahun 2012, pengendalian lalat buah kita pusatkan di 4 kecamatan yang merupakan sentra produksi jeruk di Karo, yakni di Kabanjahe, Tiga Panah, Merek, dan Simpang Empat, dengan luasan 50 hektar," tambahnya. (mb)
Jumat, 28 Oktober 2011
Berita Pertanian : Petugas Pengendali Hama Sumut Masih Minim
Menurutnya, tenaga yang ada sudah memadai, tapi masih sangat butuh tenaga lagi. “Saat ini tenaga PHP yang bekerja di seluruh kecamatan di Sumatera Utara berjumlah 158 orang. Mereka dibantu oleh Tanaga Harian Lepas (THL) yang jumlahnya dari tahun 2007 sampai 2011 tak lebih dari 94 orang. Sementara, saat ini pemekaran daerah terus terjadi," katanya.
Di Sumut lanjut Gunawan, dengan jumlah kecamatan sebanyak 417, terdapat 2.500 hektare tanaman padi dan hortikultura yang menjadi fokus kegiatan BPTPH Sumut. “Dengan perannya yang sangat penting, idealnya di setiap kecamatan terdapat satu tenaga PHP. Tenaga PHP semestinya diisi oleh lulusan fakultas yang pertanian. Sehingga mereka mengerti tugas yang akan mereka jalankan terkait hama penyakit tanaman," ujarnya.
Sabtu, 22 Oktober 2011
Penggiliran Varietas Padi Atasi Serangan Hama

Medan. Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Induk (UPT BBI) Padi Murni Tanjungmorawa, Fuad mengatakan, penggiliran varietas dapat memutus rantai hama yang sering menyerang tanaman padi sampai masa panen.
“Salah satu cara yang bisa dilakukan petani adalah dengan melakukan pengantian atau penggiliran varietas padi,” katanya, Jumat (21/10) saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian Sumut di Jalan AH Nasution Medan.
Ia menjelaskan, beberapa varietas padi sawah yang banyak ditanam petani saat ini antara lain varietas Ciherang, Cibogo, Mekongga, Cigelis. Sedangkan varietas padi untuk padi tadah hujan antara lain Situ Parenggang dan Situ Bagandit. "Tentu saja penggantian varietas disesuaikan dengan daerahnya," ujarnya.
Ia mengungkapkan, produksi benih di UPT BBI Padi Murni Tanjungmorawa sebanyak 109.500 kg per tahun. “Sejak tahun 2008, UPT BBI Padi Murni Tanjungmorawa sudah mengembangkan benih padi hibrida. Padi hibrida lebih unggul dibandingkan dengan jenis padi lainnya karena volume yang bisa dipanen lebih banyak,” ujarnya.
Misalnya, kata dia, dalam se hektare padi hibrida, petani bisa memanen sebanyak 12 - 14 ton. "Sementara kalau padi jenis lainnya hanya 7 - 8 ton per hektare sekali panen," katanya.
Yang menjadi permasalah petani di kawasan Deli Serdang sekarang ini menurut Fuas, selain hama, adalah irigasi. Sumber air dari Sei Batu Gingging yang mengairi persawahan di desa Perdamaian, Wonosari, Punen Rejo saat ini mengalami sedimentasi yang mengakibatkan debit air berkurang.
"Kita meminta sedimentasinya dikeruk supaya airnya lancar dan bisa mengaliri persawahan petani," ujarnya.
Kamis, 20 Oktober 2011
Berita Pertanian : Petani Tomat dan Padi di Simalungun Keluhkan Serangan Hama

Simalungun. Saat ini, tanaman tomat dan padi milik petani di beberapa kecamatan di Kabupaten Simalungun terserang hama dan penyakit. Hal ini membuat petani pasrah untuk menerima risiko jika terjadi gagal panen.
Salah seorang petani tomat di Kecamatan Raya, Sudiahman Saragih, mengaku , kondisi cuaca yang tidak menentu, di mana kadangkala hujan dan selama beberapa hari panas terik, sangat mengganggu pertumbuhan tanaman tomat. Jika kondisi cuaca tidak menentu seperti yang terjadi selama beberapa bulan belakangan ini, kami bisa tidak panen lagi. Karena tanaman tomat kami sulit berbuah dan gampang diserang cendawan, ujar Saragih kepada wartawan, Rabu (19/10).
Tak hanya petani tomat, kata dia, petani padi di Kecamatan Sidamanik juga khawatir dengan kondisi hujan belakangan ini, karena hama tikus biasanya kerap menyerang. Kami saat ini memang sedang cemas menghadapi serangan hama tikus yang biasanya sering terjadi saat musim hujan. Dan, kami terus berjaga-jaga mengantisipasinya, ujar H Siahaan, petani padi di Sidamanik.
Diakuinya, akibat serangan hama ini, bisa jadi petani akan gagal panen. Karena itu, petani di Sidamanik sangat membutuhkan uluran pemerintah agar terlibat dalam pemberantasan hama tikus.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Pemkab Simalungun Amran Sinaga mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan 500 kilogram (kg) racun tikus serta 50 kotak tiram yang akan diberikan secara gratis kepada petani untuk penanggulangan hama tikus tersebut.
Dia mengakui, sesuai dengan laporan yang diterima dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di kecamatan, hama tikus sudah mulai menyerang di sejumlah kecamatan yang menjadi sentra produksi padi di Kabupaten Simalungun, seperti di Jorlang Hataran, Pematang Bandar dan Panei.
Berita Pertanian : Petani Diminta Waspadai Penyakit Hawar Daun Bakteri
Dikatakannya, penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv.oryzae (Xoo). Patogen ini dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman mulai dari persemaian sampai menjelang panen.
Penyebab penyakit (patogen) ini menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lubang alami berupa stomata yang merusak klorofil daun. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis. "Bila serangan terjadi pada awal pertumbuhan, tanaman menjadi layu dan mati, gejala ini disebut kresek," kata Lusi.
Sedangkan pada tanaman dewasa, lanjut dia, akan menimbulkan gejala hawar. Gejala ini mulai terlihat dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan lama-lama daun akan menjadi kering. Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna sehingga menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau hampa. Pada kondisi seperti ini petani akan kehilangan hasil (pada proses pengisian gabah-red) antara 50 hingga 70 persen, jelas Lusi
Lebih lanjut dikatakannya, penyakit HBD sering timbul, terutama pada musim hujan. Selain itu, pertanaman yang dipupuk nitrogen (urea-red) dengan dosis tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium (Kcl) menyebabkan tanaman lebih rentan terhadap penyakit ini. "Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terutama kelembaban yang tinggi sangat memacu perkembangan penyakit ini," tambahnya.
Untuk itu, katanya, guna menekan perkembangan penyakit ini, petani disarankan tidak memupuk tanaman dengan nitrogen secara berlebihan dan menggunakan pupuk Kalium. Selain itu, perlu diperhatikan agar lahan tidak tergenang terus menerus, sebaiknya pengairan dilakukan secara intermiten (berselang-red). "Kalau hal ini benar-benar diterapkan petani, hasil yang akan diperoleh lebih maksimal dan produksi padi petani akan meningkat," ungkapnya.
Rabu, 03 Agustus 2011
Berita Pertanian : Di Kediri, Hama Ulat Gayak Serang Jagung
"Laporan yang masuk serangan hama itu sudah sekitar satu bulan ini. Kebanyakan menyerang daun tanaman jagung, hingga perkembangan tanaman tidak sempurna," kata Petugas Organisme Penganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Gurah, Yusuf Tri Wahyono di Kediri, Kamis.
Ia menyebut, saat ini intensitas serangan yang terpantau di Kecamatan Gurah masih sekitar 2 hektare. Intensitas serangan itu mulai dari ringan hingga berat.
Umur tanaman yang diserang, kata dia, sudah hampir panen, kurang dua pekan lagi. Sesuai dengan umur tanaman jagung, yang memerlukan 80 hari mulai dari benih hingga panen. Kondisi itu membuat para petani khawatir, karena tanaman jagung mereka tidak dapat tumbuh sempurna.
"Kalau yang diserang hama, pertumbuhan jagungnya tidak bisa bagus, bahkan bisa puso," katanya mengungkapkan.
Pihaknya mengaku kewalahan membasmi serangan hama yang menyebar dengan cepat ini. Para petani juga terlambat melaporkan serangan hama ini, karena hama sudah masuk instar lima (usia ulat sudah dewasa, panjangnya sekitar 5 sentimeter).
"Ulatnya sudah instar lima, jadi ketika dibasmi menggunakan insektisida tidak mempan. Kami kesulitan dengan itu," katanya.
Harusnya, lanjut dia, petani melaporkan tentang serangan hama ini ketika ulat instar satu hingga tiga. Jika sudah masuk instar empat maupun lima, kecil kemungkinan ulat juga mudah dibasmi.
Yusuf menyebut, tingginya serangan ulat pada tanaman jagung petani ini karena perubahan cuaca yang tidak menentu. Kupu-kupu penyebar hama itu dengan mudahnya meletakkan telur di daun-daun jagung dan tumbuh.
Walaupun saat ini serangan hama itu masih sedikit, hanya 2 hektare dari total luas lahan di Kecamatan Gurah 900 hektare, Yusuf mengatakan penyebaran ulat itu perlu diwaspadai, mengingat musim kemarau masih akan berlangsung.
"Musim kemarau, banyak petani yang menanam jagung maupun palawija. Kami minta, mereka waspada serangan ulat ini, karena hama ini masuk hama jenis baru," ucapnya.
Selain di Kecamatan Gurah, serangan hama ulat gayak ini juga terlihat menyerang tanaman jagung petani di Kecamatan Mojo. Bahkan, intensitas serangan di kecamatan tersebut lebih parah daripada di Kecamatan Gurah. Kerugian petani juga lebih besar daripada di Kecamatan Mojo.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, Widodo Imam Santoso mengaku sudah menerima laporan tentang serangan hama ulat gayak itu. Pihaknya berupaya mengurangi intensitas serangan dengan memberikan bantuan insektisida.
"Kami berikan bantuan obat untuk mengurangi intensitas serangan. Kami juga terus pantau," kata Widodo. (ant)
Berita Pertanian : Lahan Padi di Klaten Diserang Virus Kerdil

KLATEN. Ratusan hektare tanaman padi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, ludes diserang virus kerdil. Dari pengamatan tengah bulanan II Juli, luas serangan telah mencapai 445 hektare dan 233 hektare di antaranya puso atau gagal panen.
Pada periode tersebut, kata Koordinator Pengamat Hama dan Penyakit Dinas Pertanian Klaten Sunarno, Rabu (3/8), virus kerdil telah menyebar di 14 kecamatan. Dan, serangan terhebat terjadi di Kecamatan Gantiwarno dan Wonosari.
"Serangan virus kerdil kali ini cukup ganas dan masif. Lihat saja di Kecamatan Gantiwarno, dari 194 hektare luas terserang sekitar 183 hektare yang gagal panen. Tanaman padi yang puso itu rata-rata telah berumur 45-55 hari," jelasnya.
Sementara itu, Suyono, 50, petani di Desa Cetok Gantiwarno, menyatakan virus kerdil muncul sejak pertengahan bulan lalu. Akibat sulit dikendalikan, hampir seluruh tanaman mati digerogoti virus kerdil.
"Kami rugi jutaan, Pak!" imbuhnya. (Micom)
Minggu, 26 Juni 2011
Berita Pertanian : Serangan Hama Wereng Meluas di Jawa Timur

LUMAJANG. Serangan hama wereng coklat di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, semakin meluas akibat anomali cuaca dan penanaman padi yang tidak serentak.
Koordinator Hama Penyakit Tanaman Dinas Pertanian Lumajang, Utomo, Minggu (26/6/2011), mengatakan, lahan pertanian yang terserang hama wereng coklat meluas hingga 14 kecamatan dari 21 kecamatan di Kabupaten Lumajang.
"Hanya tujuh kecamatan yang bebas dari serangan hama wereng, yakni Kecamatan Gucialit, Senduro, Tempeh, Pasirian, Pronojiwo, Pasrujambe, dan Ranuyoso," tuturnya.
Sebanyak 14 kecamatan yang terserang hama wereng coklat adalah Kecamatan Klakah, Kunir, Sukodono, Padang, Tekung, Randuagung, Kedungjajag, Jatiroto, Candipuro, Rowokangkung, Lumajang, Yosowilangun, Tempursari, dan Sumbersuko.
"Luas lahan pertanian yang terserang hama wereng di 14 kecamatan mencapai 349,24 hektare akibat anomali cuaca yang menyebabkan serangan hama semakin meluas," paparnya.
Selain serangan hama wereng coklat, lanjut dia, hama tikus dan penggerek batang juga menyerang sejumlah lahan pertanian di Lumajang yang luasnya mencapai 4,6 hektare. "Serangan tikus menyebar di empat kecamatan, yakni Kecamatan Yosowilangun, Tempeh, Pasirian, dan Tempursari," katanya.
Utomo menuturkan, serangan hama penggerek batang di lahan pertanian sebesar 7,85 hektare yang tersebar di enam kecamatan, yakni Kecamatan Jatiroto, Sukodono, Padang, Tempeh, Randuagung, dan Kedungjajag.
Disperta Lumajang, lanjut dia, bersama petani melakukan pengendalian terhadap serangan hama secara serentak agar tidak semakin meluas dan menyebabkan tanaman padi gagal panen (puso).
"Kami juga mendapatkan bantuan pestisida dari Pemprov Jatim untuk mengendalikan serangan hama wereng coklat yang semakin meluas di Lumajang," tuturnya.
Luas areal sawah yang sudah dikendalikan atas serangan hama dan penyakit tanaman mencapai 2.196 hektare, sehingga lahan pertanian tersebut dapat panen pada waktunya.
Selasa, 14 Juni 2011
Berita Pertanian : Serangan Wereng tak Pengaruhi Pangan
Menurut dia, selama ini target luas tanaman padi di Bojonegoro, seluas 110 hektare selalu terlampaui, karena adanya areal tanaman padi di sepanjang Bengawan Solo dan tanah tegalan kawasan hutan yang dibuka masyarakat yang ikut menanam padi.
Dengan target seluas 110 ribu hektare itu, dan produksi rata-rata 6,5 ton gabah kering panen (GKP), menurut dia mampu mencukupi kebutuhan ketersediaan pangan bagi warga di Bojonegoro yang jumlahnya 1,3 juta jiwa, bahkan mungkin masih berlebih. "Dalam tahun ini masih ada dua kali tanam yaitu areal sawah di sepanjang Bengawan Solo dan musim hujan," katanya.
Namun, kata Subekti, mengantisipasi kemungkinan terjadinya serangan hama wereng, juga hama lainnya, para petani harus mengganti varietas tanaman padinya.
Ia mencontohkan di Desa Sumengko Kecamatan Kalitidu, para petani mengganti tanaman padi varietas Situbagendit dan Mikongga yang dikenal tahan wereng.
Selain itu, di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, juga ada varietas Inpari 13 yang tahan terhadap serangan hama wereng. "Pengertian tahan, bukan berarti hama wereng tidak bisa menyerang," ujar Subekti.
Ia meminta dalam musim tanam berikutnya, para petani melakukan tanam serentak untuk menghindari terjadinya serangan berbagai macam hama tanaman padi."Kami tetap optimis pada musim tanam berikutnya bisa berhasil," katanya.
Berdasarkan data di Dinas Pertanian Bojonegoro, serangan hama wereng di Bojonegoro, terjadi sejak Oktober 2010 lalu. Pada musim tanam (MT) I, luas areal tanaman padi yang diserang hama wereng mencapai 5.000 hektare tersebar di 11 kecamatan, antara lain, di Kecamatan Dander, Balen, Kapas, Trucuk, Ngambon, Baureno, Temayang dan Kepohbaru. (ant)
Senin, 06 Juni 2011
Berita Pertanian : Serangan Wereng Cokelat Pemicu Harga Beras Naik

SUKOHARJO. Wereng cokelat menjadi pemicu melambungnya harga beras di sejumlah pasar tradisional di kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dalam tiga minggu terakhir ini.
"Kisaran kenaikannya tidak banyak, hanya Rp100 - Rp200, dan menyeluruh di hampir setiap jenis beras . Tetapi seiring banyaknya petani yang tidak menjual dan juga gamang menanam padi, tentu akan membuat harga akan terus melonjak,? ungkap Warsini, penjual beras di Pasar Sukoharjo Kota, Senin ( 6/6).
Sejumlah pembeli juga mulai mengeluhkan kenaikan beras yang dibarengi dengan kenaikan harga kebutuhan pokok rumah tangga lainnya.
Saat ini C4 sudah mencapai Rp7.000/kg dari tadinya Rp6.800/kg, mentik wangi juga melonjak menjadi Rp8.200 dari sebelumnya Rp8.000. Begitu halnya untuk jenis IR64 yang pada seminggu sebelumnya masih Rp6.300, kini meroket menjadi Rp6.500/kg.
Sri Rahayu, penjual beras lain di pasar terbeswar di Sukoharjo Kota mengatakan, jika tidak ada upaya pemerintah yang serius di dalam mengatasi wereng coklat, diyakini harga beras akan terus naik dan akan berlangsung lama sampai datangnya musim panen pada Agustus dan September mendatang.
"Saat ini, pasokan dari selepan masih lumayan lancar, namun kualitas terus menurun. Namun meski menurun, harga tetap saja naik, karena yang mencari banyak. Bahkan dari luar kota juga ekspansi ke Sukoharjo yang dikenal sebagai lumbung beras," tuturnya.
Yang jelas menurut Sarjanto, koordinator petani pengguna irigasi Dam Colo Timur, saat ini banyak petani yang membiarkan sawahnya mangkrak untuk tidak ditanami, karena serangan wereng coklat masih begitu masif.
"Jadi saya tidak menyalahkan jika petani sampai tidak mau menjual beras, dan untuk konsumsi sendiri," ujar tokoh tani yang akrab dipanggil Jigong itu.
Menurut dia, wereng cokelat merupakan hama padi yang sangat cepat berkembang biak, bermigrasi jauh, dan berevolusi menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang dilakukan manusia.
Di samping merusak tanaman padi secara langsung, lanjut dia, hama tersebut menjadi vektor penyakit virus kerdil hampa dan kerdil rumput yang ndak kalah daya rusaknya.
Tingkat permasalahan dan intensitas serangan wereng cokelat di suatu tempat sangat ditentukan praktik pengelolaan tanaman padi. Umumnya petani memiliki berbagai keterbatasan kemampuan dan pengetahuan cara budi daya tanaman yang produktif dan aman serangan hama.
Kamis, 14 April 2011
Mengenal Hama dan Penyakit Tanaman Jeruk

Hama dan penyakit merupakan salah satu kendala utama dalam peningkatan produksi jeruk baik kualitas maupun kuantitas. Pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit mutlak diperlukan untuk menekan kerusakan dan kerugian yang ditimbulkannya.
Strategi pengendalian dan pengelolaan hama dan penyakit tanaman jeruk yang tepat perlu diterapkan baik pada pembibitan dan tanaman dewasa dilapangan.
Bibit bebas penyakit yang dibudidayakan bukanlah berarti bibit yang tahan terhadap penyakit. Kondisi lingkungan dimana bibit ini dibudidayakan sangat mempengaruhi bibit ini untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Untuk itu upaya pengendalian hama dan penyakit mutlak dilakukan agar bibit yang bebas penyakit ini dapat berproduksi sesuai dengan yang diharapkan.
Pengenalan hama dan penyakit serta gejala serangannya adalah sangat penting untuk menentukan strategi pengendaliannya yang tepat. Kekeliruan identifikasi jenis OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang menyerang tanaman jeruk serta pengenalan gejala serangan berakit pada kekeliruan strategi pengendalian sehingga akan berdampak negatif.
Berikut adalah beberapa jenis hama dan penyakit tanaman jeruk, bagian tanaman jeruk yang diserang beserta gejala setelah diserang hama penyakit dan cara mengendalikannya.
Hama Tanaman Jeruk
a. Kutu loncat (Diaphorina citri.)
Bagian diserang : tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.
Gejala: tunas keriting, tanaman mati.
Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR. Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, buang bagian yang terserang.
b. Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)
Bagian diserang : tunas muda dan bunga.
Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa.
Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR.
c. Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)
Bagian diserang : daun muda.
Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok.
Pengendalian: semprotkan dengan PESTONA. Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.
d. Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)
Bagian diserang : tangkai, daun dan buah.
Gejala: bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun.
Pengendalian: semprotkan PESTONA atau Natural BVR.
e. Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)
Bagian diserang : buah.
Gejala: lubang gerekan buah keluar getah.
Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi, disemprot PESTONA pada buah berumur 2-5 minggu.
f. Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)
Bagian diserang : tunas, daun muda dan pentil.
Gejala: bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis.
Pengendalian: semprotkan PESTONA
g. Thrips (Scirtotfrips citri.)
Bagian diserang : tangkai dan daun muda.
Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang disertai nekrotis.
Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan PESTONA atau Natural BVR.
h. Kutu dompolon (Planococcus citri.)
Bagian diserang : tangkai buah.
Gejala: berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur.
Pengendalian: gunakan PESTONA. atau Natural BVR. Cegah datangnya semut sebagai vektor kutu.
i. Lalat buah (Dacus sp.)
Bagian diserang : buah yang hampir masak.
Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.
Pengendalian: gunakan Perangkap lalat Buah.
Penyakit Tanaman Jeruk
a. CVPD
Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri.
Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang.
Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye.
Pengendalian: gunakan bibit tanaman bebas CVPD. Lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan Pestona atau Natural BVR untuk mengendalikan vektor.
b. Blendok
Penyebab: jamur Diplodia natalensis.
Bagian diserang : batang atau cabang.
Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas.
Pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi. Bekas potongan diolesi POC NASA + Hormonik + Natural GLIO. POC NASA dan Hormonik bukan berfungsi mengendalikan Blendok, namun dapat meningkatkan daya tahan terhadap serangan penyakit.
c. Embun tepung
Penyebab: jamur Oidium tingitanium.
Bagian diserang : daun dan tangkai muda.
Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda.
Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
d. Kudis
Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti.
Bagian diserang : daun, tangkai atau buah.
Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye.
Pengendalian: pemangkasan teratur, gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
e. Busuk buah
Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae.
Bagian diserang : buah.
Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.
Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, gunakan Natural GLIO awal tanam
f. Busuk akar dan pangkal batang
Penyebab: jamur Phyrophthora nicotianae.
Bagian diserang : akar, pangkal batang serta daun di bagian ujung.
Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering.
Pengendalian: pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah. gunakan Natural GLIO pada awal tanam g. Buah gugur prematur
Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp.
Bagian yang diserang: buah dan bunga.
Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur.
Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam
h. Jamur upas
Penyebab: Upasia salmonicolor.
Bagian diserang : batang.
Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas.
Pengendalian: kulit yang terinfeksi dikelupas dan diolesi fungisida yang mengandung tembaga atau belerang, kemudian potong cabang yang terinfeksi.
(Tulisan didapat dari beberapa sumber)
Jumat, 25 Februari 2011
Berita Pertanian : Wereng Ancam Musim Tanam II
Jinem menyiangi dan menyulam tanaman padi yang sudah berusia 20 hari di Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah, Kamis (24/2). Akibat terserang penyakit kerdil batang yang ditinggalkan hama wereng pada musim tanam sebelumnya, pertumbuhan tanaman terganggu. Tanaman berusia 20 hari ini tampak seperti baru satu pekan.
Gunung Kidul, Kompas - Musim tanam kedua padi tahun ini masih akan menghadapi ancaman serangan hama wereng. Di beberapa daerah, serangan hama wereng tak kunjung beranjak. Bahkan, pasca-terserang wereng, tanaman padi tumbuh kerdil.
Para petani yang tanaman padinya terserang wereng bahkan frustrasi, tak tahu lagi harus berbuat apa. Para petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) juga tak lagi berani memberikan anjuran. Begitu pula dengan dinas pertanian. Para produsen pestisida juga tak lagi gencar berpromosi kepada petani.
Berdasarkan pengamatan Kompas sepanjang Minggu hingga Kamis (24/2) mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Tengah, serangan hama wereng dan serangan penyakit kresek menimpa tanaman padi pada musim tanam pertama di Demak dan Grobogan.
Kedua daerah itu merupakan sentra produksi beras di Jawa Tengah. Diperkirakan, serangan hama dan penyakit juga bakal menyerang tanaman padi pada musim tanam kedua ini. Para petani mulai bimbang.
”Penyakit beluk datang setelah hujan terus-menerus terjadi. Padi yang sudah keluar mulai gagal mengisi bulir, tak lama setelah itu tanaman kering. Kami sama sekali tidak panen,” kata Mukadi, warga Desa Pilang Wetan, Kecamatan Kebon Agung, Kabupaten Demak.
Di Grobogan, serangan wereng juga menggila. Menurut Sardi (58), petani di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, untuk membunuh wereng, para petani sampai menggunakan pestisida berlebihan karena kesal dan panik.
Kondisi serupa menimpa tanaman padi di Wonogiri, Sukoharjo, dan sebagian Klaten. Di Wonogiri, serangan hama wereng mengakibatkan hampir separuh tanaman padi di sana mengalami penurunan produktivitas hingga 50 persen.
Bahkan, pada musim tanam kedua ini, pertumbuhan tanaman padi usia muda terhambat dan tampak kerdil. Meski tanaman padi sudah berusia 20 hari setelah tanam, pertumbuhannya menyerupai tanaman padi usia seminggu.
Serangan hama penyakit juga melumatkan tanaman padi di Sukoharjo, salah satu sentra produksi padi di Jawa Tengah.
Ngatiman (67), petani dari Desa Sendang Ijo, Wonogiri, menyatakan, saat ini dia memiliki dan mengolah lahan 4.500 meter persegi. Namun, sudah dua musim panen ini ia merugi akibat serangan hama wereng batang coklat dan wereng hijau. Panen lalu dia hanya mendapat 19 zak dari normalnya 58 zak.
”Biaya produksi saya Rp 4 juta, tetapi pada panen kemarin hanya dapat uang kurang dari Rp 2 juta. Untuk modal tanam kali ini, saya menjual kambing tiga ekor, masing-masing harganya Rp 1,2 juta,” ungkapnya.
Para petani di Wonogiri mengaku frustrasi dengan serangan hama wereng, mengingat serangan hama seperti tidak ada habisnya. ”Bahkan, meski sudah diobati sekalipun, wereng bukannya berkurang, melainkan malah tambah banyak,” katanya.
Serangan hama wereng membuat para petani di Wonogiri dan petugas PPL frustrasi. Sugiharto (48), anggota Kelompok Tani Makmur di Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selo Giri, Kabupaten Wonogiri, menyatakan, semua anjuran yang diberikan petugas PPL ataupun dinas pertanian sudah diikuti, tetapi wereng tetap banyak.
Ketua Umum Himpunan Masyarakat Pestisida Nasional Arief Syahrizal menyatakan, kalau serangan hama wereng sudah melebihi ambang batas, pengobatan sulit dilakukan. Sebanyak apa pun pestisida yang digunakan, tidak banyak membantu.
Sementara itu, menjelang musim tanam kedua, saluran irigasi di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kurang berfungsi optimal karena pendangkalan. Kondisi itu menyebabkan sekitar 500 hektar sawah di lima desa terancam produktivitasnya.
Jayadi (46), petani di Desa Paren, mengatakan, irigasi itu bersumber dari Sungai Bekakak dan Gresi. Setiap kali sungai itu meluap, air di sawah meninggi. Ketika air di saluran irigasi surut, air di sawah lama surut karena terhalang endapan lumpur irigasi. Sedangkan kalau musim kemarau, penyebaran air irigasi tidak merata. (kompas)Senin, 21 Februari 2011
Berita Pertanian : Serbuan Wereng Menggila di Lamongan
LAMONGAN . Sekitar 11.566 dari total 70.325 hektar lahan pertanian di wilayah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, diserang hama wereng coklat pada musim tanam pertama tahun ini. Data Dinas Pertanian dan Kehutanan (DPK) Kabupaten Lamongan, Senin (21/2/2011), menyebutkan hingga 17 Februari 2011, sedikitnya 1.003 hektar lahan tanaman padi masuk kategori puso dan tidak bisa diselamatkan, sementara lahan sisanya terserang hama dengan kondisi ringan hingga berat.
Jumlah lahan padi yang puso itu mengalami peningkatan dibanding awal Februari yang hanya sekitar 765 hektare.
DPK Lamongan menyebutkan lahan pertanian yang terserang hama wereng dalam kategori ringan seluas 4.853,85 hektar, kategori sedang 3.315 hektar dan 2.499,55 hektar dalam kondisi berat.
Serangan hama itu melanda lahan pertanian di 22 dari 27 kecamatan. Wilayah Kecamatan Babat yang paling banyak terkena yakni mencapai 1.696 hektar dan terendah di Kecamatan Deket yang hanya 4,2 hektar.
Sedangkan lima kecamatan yang lahan pertaniannya terbebas dari serangan hama wereng, adalah Kecamatan Sukorame, Paciran, Solokuro, Laren, dan Brondong.
“Serangan wereng terjadi karena adanya perubahan iklim, yakni masih turunnya hujan pada periode yang seharusnya sudah masuk musim kemarau,” kata Kepala DPK Kabupaten Lamongan, Mustakim Arif, melalui Kabag Humas dan Infokom Lamongan, Anang Taufik.(surya)Sabtu, 12 Februari 2011
Berita Pertanian : 302 Hektar Tanaman Padi Terserang Hama Penyakit
Ia mengatakan, meskipun serangan organisme pengganggu tanaman masih relatif ringan, Dinas Pertanian meminta para petani tetap waspada meluasnya serangan hama dan penyakit itu dengan melakukan pengendalian dan pemberantasan. "Pemberantasan hama dan penyakit perlu dilakukan petani secepat mungkin agar tidak menjalar ke tanaman padi lainnya," katanya.
Suwandi, petani setempat mengatakan, serangan hama tikus dan penyakit tanaman padi kini makin menjalar padahal petani sudah berusaha melakukan pemberantasan, seperti menyemprotan cairan pestisida dan pengasapan ke lubang tanah tempat persembunyian hewan itu.
Namun, katanya, upaya pembasmian terhadap serangan hama dan penyakit ini yang dilakukan para petani belum membuahkan hasil maksimal, karena sebagian tanaman padi masih banyak yang rusak. "Saat ini, kami sudah hampir kewalahan mengatasi serangan hama dan penyakit itu sehingga para petani khawatir gagal panen," katanya. (ant)
Jumat, 21 Januari 2011
Berita Pertanian : Hama Kumbang Gayas Ancam Tanaman Palawija
"Serangan hama memang ada, namun tidak sampai mengancam kegagalan panen. Meskipun demikian, hama itu perlu dibasmi sampai tuntas," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Karangasem Ir I Komang Subratayasa didampingi Kabid Perlindungan Tanaman I Ketut Polih, Sabtu (22/1).
Dua petani yaitu I Gede Wirata dari Banjar Bale Gede, dan I Ketut Leko dari Banjar Lebah Datah datang ke Dinas Pertanian untuk memperlihatkan hasil pembasmian hama gayas yang menyerang tanaman jambu mete di wilayahnya.
Kedatangannya itu sekaligus meminta bantuan untuk pembasmian hama tersebut, mengingat penanganan secara manual perorangan yang selama ini dilakukan belum memberikan hasil yang memuaskan.
Kedua petani itu membawa sekitar 530 ekor kumbang gayas hasil penangkapan secara kropyokan oleh petani di tanaman jambu mete.
Komang Subratayasa menjelaskan, dalam musim hujan dengan intensitas yang cukup tinggi menjadi media bagi berkembangbiaknya hama gayas, yakni bertelur di tanah yang kemudian cepat menetas.
Hama tersebut menyerang akar tanaman palawija seperti jagung, ubi jalar, ketela pohon dan jambu mete. Hasil pengecekan di lapangan serangan tersebut hanya terjadi di beberapa lokasi.
Kondisi tersebut akan segera ditangani secara maksimal, dengan melibatkan peranserta masyarakat, khususnya petani, jangan sampai serangan hama itu mengancam kegagalan panen, ujar Komang Subratayasa. (media indonesia)