Tampilkan postingan dengan label padi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label padi. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2013

Cirebon kekurangan waduk

Cirebon - Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, hanya memiliki dua waduk yakni Seto Patok dan Waduk Sedong di perbatasan Kuningan, dan tidak mampu mengairi semua lahan pertanian di daerah itu.

"Kabupaten Cirebon hanya memiliki dua waduk yakni Seto Patok di Kecamatan Mundu dan Waduk Sedong di perbatasan Kuningan, sehingga banyak lahan pertanian hanya mengandalkan tadah hujan ," kata Edi, salah seorang petugas Pengelolaan Sumber Daya Air Kabupaten Cirebon, Jumat.

Ia mengatakan, Setu Patok hanya mampu mengairi sekitar 14.000 hektare sawah untuk satu kali musim tanam, karena kapasitas waduk rendah sehingga sebagian lahan pertanian di daerah tersebut tadah hujan.

"Waduk Sedong yang berada di perbatasan Kabupaten Kuningan hanya mampu mengairi 2.000 hektare, sehingga petani tetap mengandalkan lahan tadah hujan dan memanfaatkan tanaman holtikultura yang hemat air," katanya.

Dikatakannya, waduk Seto Patok sering bisa menampung air maksimal saat musim penghujan karena tidak memiliki mata air.

Pihaknya sering mengimbau petani sekitar waduk tersebut supaya memperhitungkan persediaan air.

Luas Situ Patok 175 Hektare yang terletak di desa setu patok sekitar enam kilometer dari kota Cirebon ke arah Tegal, dan berada di titik Koordinat 6.7862011S, 108.5648065E, selain untuk mengairi sawah, waduk tersebut dijadikan obyek wisata.

Sementara itu Juhana, salah seorang petani di Waduk Setu Patok, menuturkan waduk Setu Patok andalan untuk mengairi sawah di Kecamatan Mundu, persediaannya terbatas hanya satu kali musim tanam. Petani setempat mulai beralih mengembangkan mangga dan holtikultura lain yang hemat air.(ant)

Kamis, 27 Desember 2012

Ganti Varietas Padi untuk Atasi Serangan Hama

Medan. Untuk mengatasi serangan hama padi, salah satu cara yang bisa ditempuh petani melakukan pengantian atau penggiliran varietas padi. Penggiliran varietas bisa memutus rantai hama yang sering menyerang padi hingga masa panen. Hal itu dikemukakan Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Induk (UPT BBI) Padi Murni Tanjung Morawa, Fuad, saat ditemui di Medan, Kamis (27/12). Menurutnya, beberapa varietas padi yang sekarang ditanam masyarakat rentan diserang hama.

Dijelaskannya, varietas padi yang sekarang ditanam masyarakat itu antara lain ciherang, cibogo, mekongga, cigelis, yang merupakan padi sawah. Sedangkan varietas yang merupakan padi ladang antara lain situ parenggang dan situ bagendit. “Tentu saja penggantian varietas disesuaikan dengan daerahnya,” ujarnya.

Fuad juga mengungkapkan, UPT BBI padi Murni Tanjung Morawa sejak 2008 sudah mengembangkan benih padi hibrida, yang lebih unggul dibandingkan jenis padi lainnya karena volume panenannya bisa lebih banyak. Dia mencontohkan, dalam satu hektare padi hibrida hasil panennya bisa mencapai 12 hingga 14 ton, sedangkan padi jenis lainnya hanya tujuh hingga delapan ton per hektar dalam sekali panen.

Selain hama, lanjutnya, irigasi merupakan permasalahan yang saat ini dihadapi petani di Deliserdang. Penyebabnya, kata Fuad, sumber air dari Sei Batu Gingging yang mengaliri persawahan di Desa Perdamaian, Wonosari, Punen Rejo, mengalami sedimentasi yang mengakibatkan debit airnya berkurang.(MB)

Kamis, 16 Februari 2012

Berita Pertanian : Amerika sokong investasi penggilingan padi modern












Jakarta
. Lembaga pembiayaan milik pemerintah Amerika Serikat, Overseas Private Investment Corporation (OPIC), membiayai investasi penggilingan padi modern yang dilakukan PT Lumbung Padi Indonesia senilai 21 juta dolar atau Rp189 miliar (kurs 1 dolar = Rp9.000).

"Kami merupakan perusahaan swasta pertama yang mendapat bantuan dari OPIC, untuk membangun penggilingan padi modern," kata Presdir PT Lumbung Padi Indonesia (LPI) Fara Luwia, di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan penggilingan padi modern yang menggunakan teknologi Satake dari Jepang tersebut berlokasi di Mojokerto, Jawa Timur, dengan luas areal tanah sekitar enam hektare.

"Mojokerto atau Jawa Timur dipilih sebagai `pilot project` kami, karena merupakan produsen padi terbesar di Indonesia. Setiap tahun, produksi beras di Jawa Timur mencapai tujuh juta ton," kata Fara.

Kapasitas penggilingan padi modern tersebut, lanjut dia, mencapai 25 ton gabah basah perjam dan memiliki enam silo (tempat penyimpanan gabah) yang canggih dengan kapasitas 38 ribu ton.

"Silo kami mampu menyimpan gabah hingga enam bulan, tanpa ada penurunan kualitas beras," katanya.

Selain itu, kata Fara, teknologi penggilingan beras Satake yang digunakan mampu menekan pecah bulir padi hingga dibawah lima persen.

"Jadi yang kami hasilkan kelak adalah beras premium," katanya.

Penggilingan padi dengan teknologi Satake tersebut, lanjut dia, terintegrasi mulai dari proses pengeringan, penggilingan, sampai pemilihan beras berdasarkan warna dan kualitas pecah beras.

Teknologi tersebut, kata dia, juga mampu menganalisis kualitas padi.

Fara menjelaskan untuk membangun penggilingan padi modern tersebut, ia juga menggandeng mitra dari Amerika Serikat, Robert Totah, dengan komposisi saham 30 (mitra AS) :70.

Dari komposisi kepemilikan sahamnya itu, Fara mendapat bantuan dari OPIC berupa "debt to equity" sebesar 55 persen.

Ia mengatakan kemitraan dengan pengusaha AS tersebut juga terkait dengan persyaratan OPIC yang mengharuskan kemitraan dengan warga AS.

"Kami berharap dengan pembangunan penggilingan padi modern tersebut dapat membantu petani mendapatkan harga pembelian gabah terbaik dan meningkatkan kualitas beras yang dihasilkan," kata Fara.

Dalam jangka panjang, lanjut dia, selain akan mengembangkan penggilingan padi modern di daerah lain, seperti Jateng dan Jabar, pihaknya juga akan mengembangkan kontrak pertanian dengan petani untuk memberi bantuan teknis agar petani mampu meningkatkan produktivitas lahan mereka.

Fara optimis penggilingan padi modern tersebut akan mendapat sambutan positif dari petani, karena pihaknya akan membeli gabah dengan harga terbaik, bahkan setinggi harga pembelian Bulog.

"Penggilingan padi tradisional yang sudah ada tidak perlu merasa khawatir dengan keberadaan kami, karena kebutuhan gabah kami hanya 220 ribu ton/tahun, kurang dari lima persen produksi gabah Jatim," katanya.

Minggu, 09 Oktober 2011

Berita Pertanian : 90% Padi di Indonesia Riset IRRI

Jakarta. Lembaga Penelitian Padi Internasional (International Rice Research Institute/IRRI) menyatakan, 90 persen dari luas total padi yang ditanam di Indonesia merupakan hasil riset institusi tersebut. Dewan Penyantun IRRI Achmad Suryana di Jakarta, Kamis (6/10) mengatakan, luas areal pertanaman padi di Indonesia saat ini sekitar 13 juta hektare yang mana ditanami padi varietas Ciherang, IR64, Cigeulis ataupun Mekongga.
"Pengembangan varietas padi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kontribusi IRRI," katanya di sela-sela sidang ke-33 Menteri Pertanian dan Kehutanan Asean (AMAF).

Menurut dia, saat ini luas penanaman padi varietas Ciherang mencapai 41% dari areal tanam padi nasional, kemudian IR64 sekitar 19%. Sedangkan areal pertanaman yang memanfaatkan padi benar-benar dari lokal sangat kecil seperti Siam Unus di Kalimantan. Kontribusi IRRI dalam pengembangan padi di Indonesia, tambah Achmad yang juga Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian itu, antara lain dalam penyediaan material genetik untuk disilangkan guna menghasilkan varietas baru.

Selain itu juga menyiapkan tenaga-tenaga peneliti dalam menghasilkan padi varietas baru tersebut. "Namun demikian peneliti Indonesia juga aktif dalam kegiatan riset di IRRI yang berpusat di Los Banos, Filipina, itu," katanya.

Sementara itu seorang pemulia padi yang juga mantan peneliti IRRI, Buang Abdullah menyatakan, kerja sama IRRI dengan Indonesia dalam menghasilkan varietas padi unggul sudah terjalin puluhan tahun. Bahkan sejak 1996, tambahnya, Indonesia telah mengembangkan benih padi hasil penelitian lembaga riset tersebut yakni padi PB atau IR yang antara lain IR 36 dan IR 64.

Kepala Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi Made Jana Mejaya mengatakan, jenis padi INPARA yang digunakan saat ini untuk mengantisipasi genangan juga hasil IRRI.

Siapkan Dana
Terkait kontribusi IRRI yang besar terhadap pertanian di tanah air tersebut maka mulai tahun ini Indonesia menyediakan dana iuran kepada lembaga riset internasional tersebut sebesar US$ 45.000 per tahun.

Menurut Achmad Suryana, pada masa Presiden Suharto sebenarnya Indonesia pernah secara rutin memberikan sumbangan iuran kepada IRRI, namun kemudian terhenti. "Kini kita kembali akan menyumbangkan dana kepada IRRI sebagai kontribusi sekaligus apresiasi Indonesia kepada lembaga tersebut," katanya.

Menyinggung besaran donasi yang diberikan Indonesia tersebut, Suryana menyatakan, nilai tersebut belum terlalu besar apalagi dibandingkan negara-negara maju yang menyisihkan dana hingga jutaan dolar.

Direktur Jenderal IRRI Robert S Zeigle, mengatakan pihaknya sangat membutuhkan kerja sama dengan semua negara, termasuk anggota ASEAN.

Menyinggung pendanaan dari anggota untuk kegiatan riset lembaga tersebut, dia menyatakan, hal itu bersifat sukarela, bahkan saat ini yang dana terbesar masih ditanggung oleh yayasan-yayasan sosial dunia. (ant)
0

Minggu, 29 Mei 2011

Berita Pertanian : Produksi Benih Unggul Musi Rawas 20 Ton Per Tahun

Musi Rawas. Produksi benih padi yang dihasilkan Balai Benih Unggul (BBU) Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatra Selatan, saat ini mencapai 20 ton pertahun.

"Benih yang ditangkar kelompok pembibit dibawah naungan BBU Musi Rawas jenis Mikonga yang benih induknya berasal dari Suka Mandi, Jawa Barat, dimana pembenihannya dilaksanakan diatas lahan seluas 6,3 hektare," kata kepala BBU Musi Rawas, Gito Surono, Sabtu.

Produksi benih yang dihasilkan BBU daerah itu, kata dia, di jual kepada petani dalam 21 kecamatan di Musi Rawas, juga kepada petani dari daerah lainnya seperti kabupaten Muara Enim, Lahat, Empat Lawang, Kota Lubuklinggau, serta ke Provinsi Jambi dan Bengkulu.

Sedangkan permintaan benih unggul untuk 21 kecamatan di Musi rawas dalam setiap musim tanam mencapai 1.250 ton.

Dari produksi benih tersebut, pihaknya dalam setiap tahunnya berhasil menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp50 juta.

Untuk memenuhi kebutuhan benih ini dalam setiap tahunnya, BBU daerah itu tambah dia, mengembangkannya melalui 14 kelompok tani binaan dengan luasan lahan pembenihan mencapai 174 hektare yang tersebar di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Muara Beliti, Tugumulyo, Purwodadi, Megang Sakti, Sumber Harta dan Kecamatan Suku Kengah Lakitan Ulu Terawas.

Kelebihan benih unggulan jenis Mikonga, karena menghasilkan tekstur nasi yang pulen dengan potensi hasil 8,4 ton per hektare, serta lebih tahan terhadap serangan hama penyakit.

Selain itu pihaknya juga mengembangkan benih padi jenis Inpari 1 yang memiliki keunggulan tekstur nasi yang pulen dan potensi hasil panen bisa mencapai 10 ton per hektare dengan umur tanaman 108 hari. (ant)

Sabtu, 14 Mei 2011

Berita Pertanian : Bulog Siap Beli Gabah Petani Berbagai Kualitas

Jakarta. Perum Bulog siap melakukan pembelian gabah petani dengan berbagai macam kualitas untuk meningkatkan pengadaan beras dalam negeri.
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso di Jakarta, Kamis (12/5) mengatakan, selama ini perusahaan pangan milik negara tersebut mensyaratkan kualitas tertentu terhadap gabah petani yang akan dibeli dengan harga pembelian pemerintah (HPP).

Namun demikian, lanjutnya, dengan kondisi anomali iklim dan cuaca ekstrem seperti saat ini, persyaratan tersebut sulit dicapai petani dan dampaknya Bulog terkendala melakukan pengadaan beras dalam negeri. "Oleh karena itu Bulog tak akan menolak beras dengan kualitas apapun," katanya.

Berdasarkan Inpres no 7 tahun 2009 tentang Kebijakan Perberasan disebutkan, gabah dan beras yang dapat dibeli Bulog dengan kualitas untuk GKP di tingkat petani kadar air maksimum 25%, kadar hampa/kotoran maksimum 10%, GKP di penggilingan kadar air maksimum 25%, kadar hampa/kotoran maksimum 10%.

Sedangkan GKP di penggilingan kadar air maksimum 14%, kadar hampa/kotoran maksimum 3%, GKP di gudang Bulog kadar air maksimum 14%, kadar hampa/kotoran maksimum 3%. Untuk beras di gudang Bulog dengan kadar air maksimum 14%, butir patah maksimum 20%, kadar menir maksimum 2% dan derajat sosoh minimum 95%.

Sutarto mengatakan, gabah dari petani tersebut nantinya tidak langsung disalurkan Bulog untuk program pelayanan publik (PSO). Gabah tersebut, akan dibeli oleh Unit Penggilingan Gabah dan Beras (UPBG) milik Bulog untuk dilakukan pemrosesan sehingga kualitasnya meningkat baru kemudian dimanfaatkan untuk PSO.

Sutarto mengemukakan, hingga saat ini (12/5) realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri mencapai 827.043 ton dari kontrak sebanyak 897.601 ton.

Selain melakukan pembelian gabah dan beras dengan berbagai macam kualitas, Bulog juga memanfaatkan pembelian secara komersial yang saat ini mencapai 67.538 ton dari kontrak 84.513 ton. Dengan demikian, total beras yang ada di gudang Bulog dari pengadaan dalam negeri sebanyak 911.556 ton. (ant)

Kamis, 14 April 2011

Berita Pertanian : Keong Emas dan Hama Ulat Serang Tanaman Padi Petani

Rantauprapat. Pascabanjir yang terjadi di Aek Paing Bawah II Kecamatan Rantau Utara pekan ini, menyebabkan ratusan hektare padi sawah yang baru ditanam diserang hama ulat dan keong emas.

Menurut sejumlah petani, padi yang baru 20 hari ditanam banyak yang mati akibat dimakan hama ulat dan keong emas. “Hama keong emas terparah menyerang, daun padi habis dimakan bahkan banyak tanaman yang hancur,” kata para petani.

Sementara serangan hama ulat masih bisa diatasi dengan membasmi hama. “Dari data kelompok tani di lingkungan tersebut, terdapat 150 hektare lahan sawah yang terancam gagal panen akibat serangan hama tersebut,” kata mereka.

Sebelumnya, hama keong emas menyerang tanaman petani pasca terjadinya banjir, sehingga hama tersebut dengan leluasa naik ke pucuk batang dan menggerogoti daun padi hingga habis.

Kejadian itu, mengakibatkan barisan tanaman padi yang ada di petak sawah tumbuh tidak merata. Hingga kini petani kesulitan mengendalikan hama keong emas dan ulat tersebut, khususnya untuk keong emas petani belum menemukan obat mujarab sebagai pembasminya. Sedangkan untuk hama ulat dapat ditanggulangi penggunaan insektisida (racun serangga).

Ketua Aliansi Solidaritas Tani, Transporter dan Nelayan (ASTRAN) Labuhanbatu Zulfan Ajhari Siregar mengatakan hama keong emas memang tergolong hama yang sulit untuk dibasmi mengingat penyebaran dan populasi keong emas sangat cepat. Bahkan, keong emas dapat menghasilkan telur sebanyak 200-an telur berwarna merah. “Memang penyebarannya sangat cepat dan sulit dikontrol,” kata Zulfan, Rabu (13/4).

Dia berharap, kondisi itu segera disikapi Dinas Pertanian Labuhanbatu guna mengantisipasi terjadinya gagal panen. Akibat kejadian itu sendiri, petani terpaksa menanam ulang tanaman padi yang sudah rusak diserang hama dengan cara menyisip tanaman baru. (MB)

Rabu, 30 Maret 2011

Berita Pertanian : Gagal Tanam Padi, Transmigran Pergi

Bangka Selatan. Program transmigrasi yang memanfaatkan lahan gambut di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ditinggalkan sebagian besar transmigran. Pemicunya, lahan yang disiapkan tak cocok untuk padi dan buruknya sistem irigasi.

Kegagalan bertani membuat sebagian transmigran memilih pergi kembali ke kampung asal. Hanya sebagian kecil yang bertahan di lokasi transmigrasi dan bekerja pada tambang timah ilegal. Sementara, sebagian perempuan membuat atap nipah.

”Saya sudah bertahun-tahun membuat atap nipah. Dulu kalau tahu dapat lahan seperti ini, mungkin kami tidak mau berangkat,” ujar Kasini, transmigran asal Purwokerto, Jawa Tengah.

Kepala Dusun II Desa Bangka Kota, Kecamatan Simpang Rimba, Sutarwin mengatakan, transmigran di desa itu ditempatkan secara bergelombang pada 1992 hingga 1996. ”Setiap desa disediakan untuk 100 keluarga,” ujarnya di Toboali, ibu kota Kabupaten Bangka Selatan, Selasa (29/3).

Total transmigran setempat sebanyak 300 keluarga. Mereka berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali. Setiap keluarga memperoleh 0,75 hektar lahan sawah bekas rawa dan 1 hektar berupa hutan. Namun, akses ke lahan 1 hektar itu baru dibuka beberapa bulan terakhir. ”Tanahnya terlalu asam, tak bagus untuk padi. Sekarang lahan itu kami pinjamkan ke perkebunan sawit. Kami dapat ganti akses jalan dan bibit sawit untuk ditanam di lahan satu lagi,” kata Sutarwin.

Di Batu Betumpang, jaringan irigasi belum menunjang persawahan. Akibatnya, sawah tak dapat pengairan cukup. ”Banyak sawah ditinggalkan karena tak dapat air,” ujar Sujana, transmigran di Batu Betumpang.

Pemprov Kepulauan Bangka Belitung (Babel) berencana membuka 10.000 hektar sawah di Batu Betumpang. Sebagian sawah akan dikelola transmigran. Sisanya dibagikan kepada warga setempat.

”Pengadaan lahan sedang menunggu izin Kementerian Kehutanan karena sekitar 6.000 hektar ada di kawasan hutan. Kami telah mengusulkan perubahan peruntukan,” ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi Babel Nazalyus.

Permukiman telantar

Di permukiman transmigran pada lahan eks program Pengembangan Lahan Gambut (LPG) di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, sebagian rumah juga ditelantarkan. Transmigran menjual rumah, lalu pulang ke daerah asal. Di Desa Petak Batuah, Kecamatan Dadahup, misalnya, sejumlah rumah tampak kosong, tertutup, dan tak terawat.

Kepala Desa Petak Batuah Setu Raharjo mengakui, sejumlah rumah transmigran di desanya dijual. Desa itu dihuni transmigran sejak 1997. Awalnya rumah-rumah ini ditempati 400 keluarga, kini tersisa 317 keluarga.

”Rumah yang ditinggalkan di- limpahkan kepada warga lain. Ya, kasarnya dijual dengan harga Rp 2 juta- Rp 3 juta per unit. Mereka pindah karena tak tahan tinggal di sini,” katanya.

Kepala Desa Manyahi, Kecamatan Mantangai, Suparno, mengatakan, desa itu ditempati sejak 1997 oleh 479 keluarga. Kini tersisa 242 keluarga yang bertahan.

Harga sayur yang turun tajam membuat para petani membiarkan komoditas itu membusuk di kebun. Sejumlah petani juga membuang sayur ke kanal LPG. Hama tikus yang mengganas ikut memicu sebagian transmigran menyerah dan pulang.

”Awalnya tanah juga tak bisa ditanami sayur. Kalau ditanam, sayur mati. Transmigran harus bekerja keras menggarap lahan yang terlalu asam itu,” katanya.

Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) membuka lebar daerahnya sebagai tujuan transmigrasi. Transmigran dibutuhkan untuk mengisi daerah pemekaran baru guna mempercepat perkembangan wilayah. ”Tahun 2011 ini rencananya akan datang 850 keluarga transmigran untuk ditempatkan di lima kabupaten,” ujar Kepala Seksi Penempatan dan Kemitraan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sultra Hendrawati.

Minggu, 13 Maret 2011

Berita Pertanian : Peningkatan Produksi Padi Terkendala Perubahan Iklim

Karawang. Peningkatan produksi padi pada 2011 hingga beberapa tahun ke depan diperkirakan menghadapi kendala menyusul terjadinya perubahan iklim.
"Kendala dan tantangan yang sangat nyata ialah musim hujan berkepanjangan. Pada 2010 saja,kondisi cuaca seperti itu berakibat terhadap pencapaian produktivitas padi," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Udhoro Kasih Anggoro, Kamis (10/3) di sela kegiatan panen raya di Karawang.

Dikatakannya, produktivitas yang dicapai kurang pada 2010, karena proses fotosintesa terganggu. Petani yang cenderung menanam padi secara terus menerus juga berakibat terkena serangan hama wereng batang coklat. Begitu juga pengeringan gabah setelah panen menjadi kurang optimal. Akibatnya, rendemen gabah ke beras pun menurun.

Sesuai dengan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hingga Mei 2011 masih akan turun hujan, seperti yang terjadi pada 2010. Atas hal tersebut, pihaknya berharap seluruh jajaran pertanian dari pusat sampai daerah melakukan langkah-langkah antisipasi.

Untuk menyikapi kendala yang kemungkinan akan dihadapi dalam meningkatkan produksi tanaman pangan, pada 2011 pemerintah akan memberikan bantuan dan bimbingan, bantuan benih, penyediaan subsidi benih dan pupuk, biaya operasional bagi penyuluh pertanian, perbaikan jaringan irigasi desa, dan lain-lain.

Dalam meningkatkan produksi padi, pada 2011 ini pemerintah tetap akan menggelar kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT).

Ia juga berharap pemerintah daerah beserta DPRD Karawang bisa lebih besar lagi mendukung pembangunan tanaman pangan dan pertanian, yang pada umumnya melalui dana APBD. (ant)

Berita Pertanian : Produksi Padi Musim Rendeng Diperkirakan Lebih Rendah

Jakarta. Produksi padi pada musim rendengan tahun ini diperkirakan lebih rendah dari prakiraan, sehingga dikuatirkan mempengaruhi pengadaan gabah dan beras dalam negeri oleh Perum Bulog.
Staf Ahli Bulog, Mohammad Ismet, di Jakarta, Kamis (10/3), mengatakan, dari hasil pemantauan di lapangan yang dilakukan pada bulan ini memperlihatkan adanya indikasi tersebut.

Di Jawa Timur, tambahnya, aktivitas perdagangan beras keluar pulau mengalami peningkatan volume, yakni ke Kalimantan, NTT, Maluku, dan Papua. "Ini memperlihatkan produksi Sulsel yang diharapkan memasok daerah-daerah tersebut tak sebesar yang diharapkan," katanya dalam diskusi tentang Perberasan.

Sementara itu panen raya yang umumnya terjadi pada Maret-April diperkirakan tidak terjadi pada tahun ini, kalaupun ada maka tidak berlangsung lama. Selain itu, panen tersebar dan tidak berlangsung dalam areal luas. Oleh karena itu, bila berlangsung panen, maka menjadi rebutan pedagang dan penggilingan.

Indikasi lain yang menunjukkan pasokan beras terbatas, menurut Ismet yakni harga beras patah, menir, dan katul masih mahal. "Harga beras patah saat ini Rp4.900 per kg, menir Rp 4.000 per kg dan katul Rp 2.000 per kg itu tidak wajar," katanya.

Sementara kondisi di lapangan juga menunjukkan perdagangan gabah cukup aktif sedangkan "carry over" 2010 stok di masyarakat baik petani, penggilingan, maupun pedagang rendah. Bila situasi tersebut berlangsung juga di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, menurut dia, maka produksi di Musim Hujan dikuatirkan tidak mencapai target.

Padahal, produksi padi pada musim hujan menyumbang 55% dari total produksi nasional dalam setahun. "Bila hal ini terjadi maka perlu dipertimbangkan untuk segera melaksanakan contigency plan sebelum Juli 2011 agar keputusan tidak terlambat," katanya.

Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir, menyatakan, anomali iklim yang terjadi saat ini memberikan andil dalam penurunan produksi.

Penyebab turunnya produksi, lanjutnya, yakni penyinaran matahari yang kurang, penyerbukan terganggu karena angin dan hujan, serangan hama penyakit seperti wereng, tikus, kresek, selain itu tanah selalu tergenang sehingga menyebabkan asam.

Sementara itu, Kepala Bidang Informasi Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Endro Santoso, mengungkapkan awal musim kemarau 2011 di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan baru berlangsung pada Mei-Juni. Dari 220 zona musim (zom) sekitar 65 zom atau 29,5% mengalami awal kemarau di bulan Mei dan 68 zom (30,9 persen) pada bulan Juni. "Jika dibandingkan rata-rata (1971-2000), awal musim kemarau 2011 di sebagian besar wilayah mundur," katanya. (ant)

Jumat, 04 Maret 2011

Berita Pertanian : Pedagang Mulai Menyimpan Gabah

Jakarta. Perkiraan produksi beras yang tidak begitu menggembirakan tahun ini mendorong pengusaha penggilingan padi dan pedagang beras tingkat grosir berpacu membeli gabah dari petani untuk kelangsungan produksi dan modal spekulasi. Akibatnya, harga gabah kering panen petani cenderung stabil tinggi pada Rp 2.700 per kilogram.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia Nellys Soekidi, Kamis (3/3) di Jakarta, mengungkapkan, sebagian pengusaha penggilingan dan pedagang beras menyimpan gabah pada panen rendeng ini untuk bahan baku produksi. ”Terutama bagi perusahaan penggilingan modern yang memiliki pasar tetap,” katanya.

Bila pada panen musim kemarau I mereka akan menyimpan gabah untuk bahan baku produksi selama tiga bulan ke depan, dalam kondisi panen rendeng seperti sekarang, di mana produksi padi kurang bagus, gabah yang disimpan untuk bahan baku produksi tak lebih dari 1,5 bulan.

Nellys mencontohkan, bila kapasitas produksi mesin penggilingan per hari 50 ton gabah kering giling (GKG), pengusaha akan menyimpan bahan baku 750 ton. Minimnya produksi gabah membuat ketat ”perburuan” gabah petani.

Billy Haryanto, pengusaha penggilingan padi dan pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, mengungkapkan, gabah yang disimpan pada panen rendeng ini berkualitas bagus dengan kadar air maksimal 14 persen. Tujuannya, agar tahan lama. ”Mereka menyimpan tidak hanya untuk bahan baku, tetapi juga modal spekulasi,” katanya.

Dalam kondisi normal, pada panen rendeng pedagang tak mau menyimpan gabah atau beras lebih lama karena takut harga tiba-tiba jatuh. ”Kali ini pedagang justru menyimpan karena memperkirakan pertengahan tahun harga beras mulai naik,” ujar Billy. Ini membuat harga beras medium naik Rp 5.400-Rp 5.500 per kilogram. Padahal, harga pembelian pemerintah untuk beras Rp 5.060 per kilogram.

Syukur Iwantoro, juru bicara Kementerian Pertanian, mengatakan, pemerintah optimistis pertumbuhan minimal produksi beras 2011 sebesar 5 persen atau 70,1 ton GKG tercapai. Sebab, kondisi iklim dan serangan hama penyakit relatif berdampak sama dengan tahun 2010.

Dari Kalimantan Tengah dilaporkan, produksi padi tahun 2011 berdasarkan angka ramalan I adalah 585.482 ton GKG, turun 9,77 persen dari produksi sementara 2010 sebesar 648.872 ton. Ini penurunan terbesar di Indonesia. Kepala BPS Kalteng Panusunan Siregar mengatakan, angka ramalan I dibuat berdasarkan penurunan luas panen sebesar 13,8 persen dari 247.064 hektar menjadi 212.976 hektar pada 2011.(kompas)

Selasa, 01 Maret 2011

Berita Pertanian : BPS : Produksi Padi, Jagung & Kedelai Bakal Naik di 2011

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) meramalkan produksi padi diperkirakan sebesar 67,31 juta ton gabah kering giling (GKG), atau meningkat untuk pertama kalinya sebanyak 895,86 ribu ton atau 1,35 persen dibandingkan 2010. Kenaikan produksi ini diprediksi karena akan terjadi peningkatan luas lahan yang panen seluas 14,51 ribu hektar atau 0,11 persen.

"Kita memprediksikan untuk pertama kali produksi padi diperkirakan sebesar 67,31 juta ton GKG atau meningkat sebanyak 895,86 ribu ton dibandingkan 2010, dan kenaikan produksi ini karena akan terjadi peningkatan luas panen sebesar 14,51 ribu hektar," ungkap Kepala BPS Rusman Heriawan di kantornya, Jakarta, Selasa (132011).

Rusman juga menjelaskan produksi padi tahun 2010 (angka sementara) sebesar 66,41 juta ton GKG atau meningkat sebanyak 2,01 juta ton atau 3,13 persen dibandingkan tahun 2009. "Produksi padi tahun 2010 angka sementara sebesar 66,41 juta ton GKG, atau meningkat 2,01 juta ton dibandingkan 2009," tambahnya.

Dia memprediksi produksi jagung 2011 akan mencapai 17,93 juta ton pipilan kering, mengalami penurunan sebanyak 438,96 ribu ton atau 2,39 persen dibandingkan 2010 ini terjadi karena penurunan luas panen sebesar 74,47 ribu hektar atau 1,80 persen.

"Produksi jagung 2011 kita prediksikan akan mencapai 17,93 juta ton pipilan kering, mengalami penurunan sebanyak 438,96 ribu ton atau 2,39 persen dibandingkan 2010 ini terjadi karena penurunan luas panen sebesar 74,47 ribu hektar atau 1,80 persen," ungkapnya.

Dan terakhir rusman juga memprediksi untuk pertama kalinya produksi kedelai tahun 2011 diperkirakan sebesar 934,00 ribu ton biji kering, atau meningkat sebanyak 25,89 ribu ton 2,85 persen dibandingkan 2010 yang terjadi karena peningkatan luas panen seluas 4,99 ribu hektar atau 0,75 persen.

"Untuk kedelai kita memprediksi untuk tahun 2011 sebesar 934,00 ribu ton biji kering, atau meningkat sebanyak 25,89 ribu ton 2,85 persen dibandingkan 2010 yang terjadi karena peningkatan luas panen seluas 4,99 ribu hektar atau 0,75 persen," pungkasnya.

Berita Pertanian :Petani Kudus Dibantu Benih Padi Gratis



Kudus
. Petani padi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memperoleh bantuan benih padi gratis dari pemerintah provinsi untuk lahan seluas 6.000 hektare guna meringankan beban mereka yang gagal panen.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, Budi Santoso, di Kudus, Minggu, bantuan benih padi gratis tersebut segera didistribusikan kepada petani pada pertengahan Maret 2011.

"Pendistribusian akan dilakukan melalui kelompok tani," ujarnya.

Sebelum didistribusikan, dinas pertanian akan menginventarisasi luas areal lahan tanaman padi yang benar-benar membutuhkan bantuan benih padi gratis.

Selain itu, kata dia, pendistribusian bibit padi juga harus disesuaikan dengan rencana tanam para petani, karena bibit tersebut memiliki batas waktu penyimpanan.

"Penyimpanan bibit padi yang terlalu lama, justru menyebabkan pertumbuhan tanaman padinya kurang maksimal," ujarnya.

Areal tanaman padi yang dipanen, katanya, belum semua daerah dan masih ada sebagian petani yang belum panen.

Nantinya, kata dia, setiap hektare lahan mendapatkan jatah 30 kilogram (kg) bibit padi.

Dengan adanya bantuan tersebut, dia berharap, dapat meringankan beban petani yang diperkirakan tingkat produksinya dipengaruhi oleh faktor alam.

Berdasarkan catatan Dinas Pertanian Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, luas areal tanaman padi di Kudus yang terendam banjir seluas 122 hektare.

Tanaman padi yang dipastikan puso, menurut dia, sekitar 35 hektare tanaman padi yang ada di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, akibat terendam banjir dalam jangka waktu yang terlalu lama.

Puluhan hektare lahan tanaman padi yang terendam banjir tersebar di dua kecamatan, yakni Kecamatan Mejobo seluas 87 hektare dan Kaliwungu seluas 35 hektare dengan usai tanam berkisar antara 15-80 hari.

Luas areal tanaman padi yang tergenang mulai berkurang, dibanding sebelumnya ketika curah hujan cukup tinggi.

Adapun daya tahan tanaman padi terhadap genangan banjir tersebut disesuaikan dengan tingkat genangan. Menurut dia, apabila ketinggian genangan hanya setengah dari ketinggian tanaman padi, maka tanaman tersebut masih mampu bertahan hingga dua pekan lebih.

Kondisi berbeda, ketika genangan air mencapai ketinggian tanaman, maka tanaman tersebut hanya mampu bertahan hidup selama lima hari, ujarnya menambahkan. (ant)

Jumat, 25 Februari 2011

Berita Pertanian : Hawar Daun Serang Tanaman Padi di Lendah

20110225164215_IMG0011A.jpg

Kulonprogo. Tanaman padi di Bulak Karang Desa Sidorejo dan Bulak Jatirejo Desa Jatirejo Kecamatan Lendah Kabupaten Kulonprogo terserang penyakit hawar daun. Penyakit ini menyerang di sekitar 40 persen luasan hamparan tanaman padi di Bulak Karang, sedangkan di Bulak Jatirejo sekitar 10 persen saja. Tanaman padi yang terserang penyakit ini terlihat kemerah-merahan dan pertumbuhannya lambat.

Suremi (59) petani warga Pedukuhan Jatirejo Desa Jatirejo Kecamatan Lendah ketika ditemui Jum'at (25/02) menuturkan bahwa sudah sekitar seminggu ini tanaman padinya terlihat kemerah-merahan. "Dulu itu jarang sekali tanaman padi terkena penyakit seperti ini," katanya. Upaya untuk mengatasi penyakit ini, Suremi melakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida.

Keadaan tanaman padi di Bulak Karang memang lebih buruk dibandingkan dengan Bulak Jatirejo. Mujimin (45) petani warga Pedukuhan Diran Desa Sidorejo Kecamatan Lendah mengeluhkan bahwa tanaman padi lambat pertumbuhannya. "Ungkris-ungkrisan," jelasnya.

Menanggapi terjadinya serangan penyakit hawar daun, Eko Purwanto PPL dari Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Lendah menjelaskan bahwa penyebab penyakit hawar daun adalah bakhteri xantomonas. "Keadaan masih diperburuk dengan adanya kelebihan kandungan unsur Nitrogen dalam tanah," tambahnya. Upaya sementara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan serangan penyakit ini, Eko Purwanto menyarankan untuk melakukan sistem pengairan berselang. "kadang diairi penuh, kadang dikeringkan," demikian menutup mengakhiri penjelasan. (hj)

Berita Pertanian : Padi Berbintik Hitam

Cuaca tak menentu membuat petani di Pagaralam khawatir. Hasil panen diperkirakan tak akan maksimal, padi yang siap panen rusak. Tak hanya padinya yang ampe (kosong, red) tetapi buah padi banyak yang terlihat bintik-bintik hitam.Purwanto (34), petani Dusun Mekar Jaya, Kelurahan Pagaralam, mengakui buah padinya banyak yang rusak, sementara batang dan daunya normal.

‘’Sebagian buah berbintik hitam, saat padi berbunga bertepatan dengan cuaca buruk seperti hujan yang disertai angin kencang. Akibatnya buah padi banyak yang hitam, hasil panen pun dipastikan merosot,” ujarnya.Normalnya, untuk satu hektare diperkirakan mampu menghasilkan 1 ton beras. ‘’Tetapi panen kali ini hanya mampu menghasilkan 700 kg beras,’’ ujarnya yang berharap ke depan ada penyuluhan tentang hama yang sering menyerang tanaman.

Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Jumaldi Jani SP MM melalui Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Sukuran SP mengatakan, bintik hitam atau ampe yang menyerang buah padi bukan akibat serangan hama tetapi akibat cuaca buruk. ‘’Biasanya hal tersebut bermula saat padi berbunga, ketika itu turun hujan atau angin kencang, akibatnya buah padi ampe dan bintik hitam,” ujarnya.(Sumex)


Berita Pertanian : Wereng Ancam Musim Tanam II

Jinem menyiangi dan menyulam tanaman padi yang sudah berusia 20 hari di Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah, Kamis (24/2). Akibat terserang penyakit kerdil batang yang ditinggalkan hama wereng pada musim tanam sebelumnya, pertumbuhan tanaman terganggu. Tanaman berusia 20 hari ini tampak seperti baru satu pekan.

Gunung Kidul, Kompas - Musim tanam kedua padi tahun ini masih akan menghadapi ancaman serangan hama wereng. Di beberapa daerah, serangan hama wereng tak kunjung beranjak. Bahkan, pasca-terserang wereng, tanaman padi tumbuh kerdil.

Para petani yang tanaman padinya terserang wereng bahkan frustrasi, tak tahu lagi harus berbuat apa. Para petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) juga tak lagi berani memberikan anjuran. Begitu pula dengan dinas pertanian. Para produsen pestisida juga tak lagi gencar berpromosi kepada petani.

Berdasarkan pengamatan Kompas sepanjang Minggu hingga Kamis (24/2) mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Tengah, serangan hama wereng dan serangan penyakit kresek menimpa tanaman padi pada musim tanam pertama di Demak dan Grobogan.

Kedua daerah itu merupakan sentra produksi beras di Jawa Tengah. Diperkirakan, serangan hama dan penyakit juga bakal menyerang tanaman padi pada musim tanam kedua ini. Para petani mulai bimbang.

”Penyakit beluk datang setelah hujan terus-menerus terjadi. Padi yang sudah keluar mulai gagal mengisi bulir, tak lama setelah itu tanaman kering. Kami sama sekali tidak panen,” kata Mukadi, warga Desa Pilang Wetan, Kecamatan Kebon Agung, Kabupaten Demak.

Di Grobogan, serangan wereng juga menggila. Menurut Sardi (58), petani di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, untuk membunuh wereng, para petani sampai menggunakan pestisida berlebihan karena kesal dan panik.

Kondisi serupa menimpa tanaman padi di Wonogiri, Sukoharjo, dan sebagian Klaten. Di Wonogiri, serangan hama wereng mengakibatkan hampir separuh tanaman padi di sana mengalami penurunan produktivitas hingga 50 persen.

Bahkan, pada musim tanam kedua ini, pertumbuhan tanaman padi usia muda terhambat dan tampak kerdil. Meski tanaman padi sudah berusia 20 hari setelah tanam, pertumbuhannya menyerupai tanaman padi usia seminggu.

Serangan hama penyakit juga melumatkan tanaman padi di Sukoharjo, salah satu sentra produksi padi di Jawa Tengah.

Ngatiman (67), petani dari Desa Sendang Ijo, Wonogiri, menyatakan, saat ini dia memiliki dan mengolah lahan 4.500 meter persegi. Namun, sudah dua musim panen ini ia merugi akibat serangan hama wereng batang coklat dan wereng hijau. Panen lalu dia hanya mendapat 19 zak dari normalnya 58 zak.

”Biaya produksi saya Rp 4 juta, tetapi pada panen kemarin hanya dapat uang kurang dari Rp 2 juta. Untuk modal tanam kali ini, saya menjual kambing tiga ekor, masing-masing harganya Rp 1,2 juta,” ungkapnya.

Para petani di Wonogiri mengaku frustrasi dengan serangan hama wereng, mengingat serangan hama seperti tidak ada habisnya. ”Bahkan, meski sudah diobati sekalipun, wereng bukannya berkurang, melainkan malah tambah banyak,” katanya.

Serangan hama wereng membuat para petani di Wonogiri dan petugas PPL frustrasi. Sugiharto (48), anggota Kelompok Tani Makmur di Desa Sendang Ijo, Kecamatan Selo Giri, Kabupaten Wonogiri, menyatakan, semua anjuran yang diberikan petugas PPL ataupun dinas pertanian sudah diikuti, tetapi wereng tetap banyak.

Ketua Umum Himpunan Masyarakat Pestisida Nasional Arief Syahrizal menyatakan, kalau serangan hama wereng sudah melebihi ambang batas, pengobatan sulit dilakukan. Sebanyak apa pun pestisida yang digunakan, tidak banyak membantu.

Sementara itu, menjelang musim tanam kedua, saluran irigasi di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kurang berfungsi optimal karena pendangkalan. Kondisi itu menyebabkan sekitar 500 hektar sawah di lima desa terancam produktivitasnya.

Jayadi (46), petani di Desa Paren, mengatakan, irigasi itu bersumber dari Sungai Bekakak dan Gresi. Setiap kali sungai itu meluap, air di sawah meninggi. Ketika air di saluran irigasi surut, air di sawah lama surut karena terhalang endapan lumpur irigasi. Sedangkan kalau musim kemarau, penyebaran air irigasi tidak merata. (kompas)

Sabtu, 12 Februari 2011

Berita Pertanian : 302 Hektar Tanaman Padi Terserang Hama Penyakit

Batang. Lebih kurang 302 hektar dari 12.624 hektar tanaman padi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), terserang hama dan penyakit sehingga kondisi tersebut dikhawatirkan mengakibatkan gagal panen.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Batang, Singgih, di Batang, Kamis (10/2) mengatakan, organisme pengganggu tanaman itu (OPT) yang menyerang tanaman padi itu, antara lain tikus sebanyak 10 hektar, keong emas 158 hektar, penyakit tanaman 52 hektar dan kresek 82 hektar. "Intensitas serangan OPT itu masih ringan sehingga dampaknya belum sampai menimbulkan ancaman tanaman padi rusak dan puso," katanya.

Ia mengatakan, meskipun serangan organisme pengganggu tanaman masih relatif ringan, Dinas Pertanian meminta para petani tetap waspada meluasnya serangan hama dan penyakit itu dengan melakukan pengendalian dan pemberantasan. "Pemberantasan hama dan penyakit perlu dilakukan petani secepat mungkin agar tidak menjalar ke tanaman padi lainnya," katanya.

Suwandi, petani setempat mengatakan, serangan hama tikus dan penyakit tanaman padi kini makin menjalar padahal petani sudah berusaha melakukan pemberantasan, seperti menyemprotan cairan pestisida dan pengasapan ke lubang tanah tempat persembunyian hewan itu.

Namun, katanya, upaya pembasmian terhadap serangan hama dan penyakit ini yang dilakukan para petani belum membuahkan hasil maksimal, karena sebagian tanaman padi masih banyak yang rusak. "Saat ini, kami sudah hampir kewalahan mengatasi serangan hama dan penyakit itu sehingga para petani khawatir gagal panen," katanya. (ant)

Minggu, 30 Januari 2011

Berita Pertanian : Bibit Padi Wisanggeni Temuan Jumari Segera Dipatenkan

Surabaya. Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur (Jatim) segera mematenkan bibit padi Wisanggeni temuan Jumari, petani asal Kabupaten Ngawi, yang sempat dipamerkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika melakukan kunjungan kerja ke Sidoarjo pada 14 Januari 2011.
"Tahun ini kami segera mematenkan bibit padi Wisanggeni," kata Kepala Dinas Pertanian Jawa Timyr (Jatim) Wibowo Ekoputro di Surabaya, Kamis (27/1).
Bibit padi varietas terbaru itu dinilai tepat untuk dikembangkan pada saat anomali cuaca karena memiliki ketahanan terhadap hama dan tahan rebah saat hujan, banjir, dan angin kencang. Wisanggeni merupakan terobosan petani biasa tanpa campur tangan lembaga riset.
Wibowo menjelaskan bahwa Wisanggeni mampu menghasilkan gabah kering panen seberat tujuh sampai delapan ton per hektar. "Ini juga salah satu kelebihan Wisanggeni. Oleh sebab itu, potensi varietas padi baru ini harus segera dipatenkan," katanya.
Sejumlah keunggulan pada benih padi ini kini masih menjadi perhatian Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPSBTP) Propinsi Jawa Timur di Madiun.

BPSB TPH bersama Dinas Pertanian Ngawi saat ini sedang mengusulkan Wisanggeni pada BPSB Pusat untuk diteliti sebelum dipatenkan. Rencana mematenkan padi yang bisa dipanen empat kali dalam setahun itu mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jatim Soekarwo.

Benih padi Wisanggeni merupakan hasil ekperimen Jumari dari sekitar 20 benih padi lokal. Waktu itu, Gabungan Kelompok Tani Mulyo yang diketuai Jumari mendapat kiriman sekitar 20 varietas benih padi lokal dari balai benih.

Setelah itu satu per satu dicoba hingga akhirnya menghasilkan benih padi Wisanggeni yang lebih tahan hama dan tahan roboh saat cuaca buruk melanda.

Nama Wisanggeni diambil dari nama anak kedua Jumari yang masih berusia sekitar lima tahun. Selain tahan hama dan tahan roboh, hasil panen dari benih Wisanggeni ini dinilai juga lebih besar dibandingkan benih padi lainnya.

Ini terbukti dari perbedaan jumlah batang produksi bulir padi dari satu rumpun tanaman padi. Satu rumpun tanaman dari benih Wisanggeni memiliki 20-30 batang, sedangkan tanaman padi lainnya di bawah 20, sehingga, hasil panen petani juga bertambah setiap hektarnya.

Jumari telah mengajukan 11 varian benih padi Wisanggeni ke Dinas Pertanian Kab Ngawi dan Satker BPSB Jawa Timur di Madiun. Dari benih nomor 1 hingga nomor 11 itu, hanya nomor 5 yang gagal karena kurang layak. Benih nomor 1-6 untuk kategori usia tanam pendek, dan benih nomor 9-11 untuk usia tanam sedang.

Tanaman padi dari benih Wisanggeni nomor 1-6, bisa menghasilkan enam sampai tujuh ton gabah per hektare dengan usia tanam 90-95 hari. Sementara itu Wisanggeni nomor 9 yang paling diunggulkan, bisa menghasilkan 9-10 ton gabah per hektar dengan usia tanam mencapai 100-110 hari.

Saat ini, benih padi Wisanggeni telah ditanam sejumlah petani di atas lahan seluas 500 hektar di wilayah Kabupaten Ngawi, Madiun, dan Nganjuk.

Hasil panen pun lebih besar dibanding padi jenis lain yang rata-rata tujuh hingga delapan ton gabah per hektare, sedangkan masa munculnya malai atau batang produktif berbulir padi. Untuk Wisanggeni nomor 1 hingga nomor 6 sekitar 50 hari, sementara Wisanggeni nomor 9 di atas 50 hari. (ant)

Jumat, 28 Januari 2011

Berita Pertanian : Anggaran Minim, RI Tidak Mungkin Bisa Swasembada Beras

ilustrasi Foto: Koran SI

DENPASAR - Kebijakan pemerintah yang hanya mengalokasikan anggaran di sektor pertanian sebesar Rp16 triliun atau dua persen dari total APBN, sulit diharapkan bisa membawa Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 2011.

Minimnya anggaran untuk pertanian untuk tahun ini yang hanya Rp16 triliun atau tidak lebih dari dua persen dari total APBN yakni sebesar Rp1.200 triliun, sangat disayangkan Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Fadli Zon. Berdasar perhitungannya, untuk bisa memajukan pertanian di Indonesia, maka minimal anggaran pertanian harus dinaikkan hingga 15 persen sehingga mampu mengoptimalkan sektor pertanian, bukan malah sebaliknya.

"Bila sektor pendidikan meningkat hingga 20 persen, kenapa sektor pertanian harus berada dibawah dua persen," kata Fadli disela-sela Musda keenam HKTI Bali di Gedung Wisma Sabha, Denpasar, Jumat (28/01/2011).

Menurut dia, peningkatkan anggaran di sektor pertanian mutlak diperlukan sebab hingga saat ini sebagain besar rakyat Indonesia menggantungkan hidupnya di pertanian bahkan berdasar catatannya saat ini jumlah petani mencapai 50 hingga 70 persen dari jumlah penduduk.

Kecilnya anggaran tersebut kata dia menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia belum mampu merumuskan kebijakan pertanian secara nasional terkait Swasembada beras.

Dia menunjukkan bukti pada tahun 2010 lalu, Indonesia ternyata belum mampu mewujudkan swasembada beras. Bahkan yang terjadi untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok dalam negeri, kegiatan impor beras mencapai 1,8 juta ton.

Ditambahkan Fadli, suatu kali usai Menteri Pertanian memaparkan bahwa kegiatan impor beras jumlahnya sekira 600 ribu ton, namun setelah HKTI mengontak organisasi petani di Vietnam, ternyata angkanya jauh lebih tinggi sebesar 1,8 juta ton.

Masih tingginya impor beras itu, sambung dia, tentunya menjadi beban tersendiri karena kebijakan nasional pertanian Indonesia belum tepat sasaran. Peningkatan angka impor beras tersebut sangat berbeda dibanding data versi pemerintah sebab sifatnya lebih politis.

Tingginya angka impor beras tersebut dinilai karena pemerintah belum mampu membuat manajemen beras yang baik dan terintegrasi, kondisi itu diperparah dengan Kebijakan anggaran pertanian juga tidak mendukung.

"Pemerintah belum mampu mengintegrasikan kebijakan pertanian, misalnya pupuk untuk pertanian berada dibawah Kementerian Perindustrian, Irigasi dibawah Kementerian PU dan kebijakan lainnya," ujar dia.

Kebijakan yang tidak terintegrasi merupakan sumber kegagalan pemerintah dalam pembangunan pertanian. Selain itu, tantangan dihadapai pertanian Indonesia adalah anomali cuaca yang tidak menentu belakangan ini mengakibatkan produk pertanian merosot serta melonjaknya harga barang pertanian.(SI)

Berita Pertanian : Petani tidak Pedulikan HPP (Harga Pembelian Petani)

JAKARTA. Keputusan pemerintah yang tidak menaikkan harga pembelian petani (HPP) gabah dan beras disambut dingin kalangan petani. Mereka beranggapan keputusan itu menunjukkan pemerintah tidak pernah berniat memperbaiki nasib petani.

"Ada tidaknya HPP kami sudah tidak peduli karena selama ini berbagai kebijakan pemerintah berdampak positif terhadap petani. Bila gabah atau beras dikuasai pedagang itu hal wajar karena petani harus mencari sendiri cara untuk mensejahterakan diri," ujar Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan, Winarno Tohir, Jumat (28/1).

Menurutnya, anggapan pemerintah bahwa kenaikan HPP bisa berdampak turut menunjukkan orientasi pemerintah yang cenderung hanya peduli pada sektor makro dan mengingkari kondisi yang terjadi pada petani. "Inflasi selalu jadi hirauan meski sesungguhnya kenaikan HPP itu tidak akan otomatis menaikkan kesejahteraan petani karena harga-harga juga akan turut naik," ujarnya.

Karena itu, imbuhnya pemerintah harus bertanggung jawab bila pada akhirnya kontribusi dari beras hasil produksi petani tidak maksimal menyumbang terhadap ketahanan pangan.

"Kami harus realistis bila pedagang menawarkan harga yang lebih mahal, tentu akan kami jual ke pedagang. Bila setelah itu harga terus melonjak, jangan salahkan petani," ujarnya.

Ia memperkirakan, meski saat ini mulai memasuki masa panen yang akan mencapai puncaknya pada Maret mendatang, tidak akan membantu kecukupan stok beras nasional.

"Bahwa ada pengaruh perubahan iklim global harus disadari itu. Bila target pemerintah 70 juta ton beras untuk tahun ini ini terpenuhi, pertimbangkan juga pengaruh iklim ini. Produksi akan berkurang antara 5%-10% (3,5 juta-7 juta ton). Jangan cari pembenaran dengan menyebut panen petani gagal," pungkas Winarno. (media indonesia)