Tampilkan postingan dengan label bea masuk kedelai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bea masuk kedelai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Februari 2011

Berita Pertanian : Perajin Tahu dan Tempe Menjerit

JAKARTA. Kenaikan harga kedelai impor membuat perajin tempe di Jakarta menjerit karena kenaikan harga itu tidak bisa diikuti dengan kenaikan harga jual tempe. Akibatnya, keuntungan perajin kian merosot.

”Sekitar enam bulan lalu, harga kedelai impor kualitas terbaik masih Rp 5.800 per kilogram (kg). Sekarang harga kedelai sudah sampai Rp 6.600 per kg. Hampir setiap hari ada kenaikan harga,” ucap Kamuri (61), pedagang tempe di Jalan Utan Panjang III, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (8/2/2011).

Sementara harga jual tempe masih tetap, yakni Rp 20.000 per lonjor sepanjang 2 meter. Bila dirata-rata, satu kg tempe harganya Rp 3.000 dan Rp 5.000 untuk kualitas super.

Harga tempe tidak bisa naik karena daya beli masyarakat terbatas. ”Selain itu, persaingan perdagangan tempe semakin ketat. Kalau kami menaikkan harga tempe, pembeli bisa cari tempe dari tempat lain yang harganya lebih murah,” ujar Kamuri.

Persoalan serupa dihadapi perajin tempe dan tahu di sentra produsen tempe tahu di Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. ”Dengan harga kedelai normal Rp 5.500 per kg saja, pendapatan yang diperoleh perajin tahu berkisar Rp 60.000 per hari jika produksinya 100 kg. Kalau harga kedelai seperti sekarang, bisa-bisa mereka rugi, bahkan tidak produksi,” kata Ketua Primkopti Swakerta Jakarta Barat, Suharto.

Di wilayah Semanan terdapat sekitar 1.200 perajin tahu dan tempe. Dalam sehari mereka membutuhkan sekitar 60 ton kedelai mentah.

Pakan ayam

Sementara itu, beberapa peternak ayam broiler, pemasok ayam potong di pasar-pasar di Jakarta Selatan mengeluhkan tingginya harga pakan.

”Sudah sejak sekitar dua tahun lalu harga pakan terus naik. Kualitasnya juga makin enggak bagus,” kata Rohis, salah satu pemasok daging ayam di kawasan Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Harga dedak berkualitas bagus tanpa campuran gilingan kulit padi untuk pakan ternak saat ini mencapai Rp 2.500-Rp 3.000 per kg. Tahun 2007-2008 harga dedak kualitas bagus masih berkisar di bawah Rp 2.000. Padahal, tambah Rohis, biaya pengadaan pakan biasanya ditambah asupan vitamin dan antibiotik yang mencapai 70 persen dari total biaya operasional peternakan ayam. (kompas)

Berita Pertanian : Pemerintah Kaji Penurunan BM Kedelai

DENPASAR. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Teddy Saleh mengatakan, pemerintah saat ini sedang mengkaji untuk melakukan penurunan bea masuk impor kedelai.

"Kajian ini dilakukan dalam upaya membantu masyarakat dan para pengusaha kecil menengah yang berbahan baku kedelai," katanya di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (10/2/2011).

Ia mengatakan, naiknya harga kedelai tersebut menyebabkan besarnya biaya produksi berbagai jenis produk yang berbahan baku kedelai. "Biaya produksi yang tinggi menyebabkan harga produk, seperti tahu dan tempe yang dilepas ke masyarakat juga melambung naik. Bila tidak dijual dengan harga tinggi maka pengusaha akan menderita kerugian," katanya.

Untuk itu katanya, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Keuangan sedang melakukan kajian untuk menurunkan atau bahkan membebaskan biaya bea masuk impor kedelai ke Indonesia sehingga tidak terjadi lonjakan harga seperti saat ini.

Teddy mengatakan, selama ini harus diakui, persediaan produksi dalam negeri untuk kedelai tidak mencukupi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Indonesia terpaksa harus mengimpor.

Bahkan, kondisi di luar negeri juga mengalami hal yang sama karena terjadi penurunan produksi akibat faktor cuaca dan serangan penyakit. Penurunan produksi ini menyebakan naiknya harga kedelai di pasaran luar negeri. "Namun hal tersebut belum dirasakan dampaknya karena umumnya di negara-negara maju sudah mengatur kebutuhan dalam negeri," ucapnya.

Dikatakan, selain kajian untuk menurunkan bea masuk impor kacang kedelai, pemerintah juga akan mengoptimalkan produksi kedelai dalam negeri. "Selama ini produksi dalam negeri hanya mengandalkan daerah penghasil utama seperti Jawa dan Aceh. Padahal masih banyak daerah lain di Indonesia yang berpotensi untuk menanam kedelai," ujarnya.

Ia menyebutkan, produksi kedelai tahun 2010 defisit hingga 700 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi kedelai nasional tahun lalu turun menjadi satu juta ton karena perubahan cuaca yang ekstrim. "Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kedelai tahun lalu yang mencapai 1,7 juta ton, pemerintah harus mengimpornya dari dari berbagai negara," kata Teddy.

Impor dilakukan guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Harga kedelai saat ini meningkat menjadi Rp 8 ribu per kilogram (kg), yang sebelumnya hanya berkisar Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu per kg. (kompas)