Tampilkan postingan dengan label burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label burung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2011

Burung Yang Dilindungi Di Indonesia















Daftar Hewan Aves (Burung) Yang Dilindungi Di Indonesia adalah :

  1. Angsa Batu Christmas (Papasula abbotti)
  2. Anis Bentet Sangihe (Colluricincla sanghirensis)
  3. Bangau Storm (Ciconia stormi)
  4. Berkik Gunung Maluku (Scolopax rochussenii)
  5. Burung Madu Sangihe (Aethopyga duyvenbodei)
  6. Celepuk Biak (Otus beccarii) , sejenis Burung Hantu
  7. Celepuk Flores (Otus alfredi) , sejenis Burung Hantu
  8. Celepuk Siau (Otus siaoensis) , sejenis Burung Hantu
  9. Cikalang Christmas (Fregata andrewsi)
  10. Dara Laut China (Sterna bernsteini)
  11. Delimukan Wetar (Gallicolumba hoedtii)
  12. Elang Flores (Spizaetus floris)
  13. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)
  14. Gagak Banggai (Corvus unicolor)
  15. Gagak Flores (Corvus florensis)
  16. Ibis Karau (Pseudibis davisoni)
  17. Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)
  18. Jalak putih (Sturnus melanopterus)
  19. Kacamata Sangihe (Zosterops nehrkorni)
  20. Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea)
  21. Kasturi Ternate (Lorius garrulus)
  22. Kehicap Biak (Monarcha brehmii)
  23. Kehicap Boano (Monarcha boanensis)
  24. Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum)
  25. Kehicap Tanah Jampea (Monarcha everetti)
  26. Kowak Jepang (Gorsachius goisagi)
  27. Kuau Kerdil Kalimantan (Polyplectron schleiermacheri)
  28. Luntur Gunung (Apalharpactes reinwardtii)
  29. Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo)
  30. Mandar Talaud (Gymnocrex talaudensis)
  31. Mentok Rimba (Cairina scutulata)
  32. Merpati Hutan Perak (Columba argentina)
  33. Nuri Talaud (Eos histrio)
  34. Opior Buru (Madanga ruficollis)
  35. Pergam Timor (Ducula cineracea)
  36. Perkici Buru (Charmosyna toxopei)
  37. Petrel barau (Pterodroma baraui)
  38. Punai Timor (Treron psittaceus)
  39. Serak Taliabu (Tyto nigrobrunnea); sejenis Burung Hantu
  40. Seriwang Sangihen (Eutrichomyias rowleyi)
  41. Serindit Flores (Loriculus flosculus)
  42. Serindit Sangihe (Loriculus catamene)
  43. Sikatan Lompobattang (Ficedula bonthaina)
  44. Sikatan Matinan (Cyornis sanfordi)
  45. Sikatan Aceh (Cyornis ruckii)
  46. Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis)
  47. Trinil Nordmann (Tringa guttifer)
  48. Trulek Jawa (Vanellus macropterus)





Kamis, 10 Februari 2011

Berita Pertanian : Musnahnya Burung Picu Punahnya Tanaman

Jakarta. Musnahnya spesies burung di dunia berdampak dengan rusaknya tanaman karena banyak tanaman yang bergantung pada burung untuk penyerbukan dan penyebaran bibit mereka.

Masuk akal jika populasi burung menurun akan berdampak pada spesies tanaman seperti musnahnya dua burung jenis bellbird (Anthornis melanura) dan stitchbird (Notiomystis cincta) di suatu semak belukar di North Island, Selandia Baru.

Bunga semak Rhabdothamnus solandir bergantung pada kedua burung tersebut untuk penyerbukan. Dave Kelly dari Universitas Canterbury di Christchurch, Selandia Baru dan rekannya membandingkan tanaman di North Island dengan tanaman cagar alam yang dirawat baik di tiga pulau kecil dimana burung-burung tersebut hidup.

Dibantu Tangan

Tim peneliti telah menyerbuk 79 tanaman di seluruh North Island dan di tiga pulau tempat cagar alam. Kemudian membandingkan buahnya dengan buah dari bunga yang belum tersentuh di lokasi tersebut.

Sekitar 70 persen dari bunga di North Island dan pulau-pulau kecil menghasilkan buah lantaran dilakukan penyerbukan. Tanpa bantuan ini, hanya 22 persen bunga di North Island yang menghasilkan buah. Jelas jauh jika dibanding dengan 58 persen di pulau cagar alam.

Buah di North Island rata-rata lebih kecil dan, secara rata-rata, menghasilkan kurang dari 84 persen bibit dibanding buah di pulau-pulau kecil. Hal itu menjadi tanda bahwa benih mereka tidak diserbuki secara maksimal.

Pengurangan produksi benih dipengaruhi oleh populasi Rhabdothamnus solandri, karena terdapat sedikit tanaman muda di North Island dibanding di pulau-pulau kecil itu.

Masih Ada Waktu

Kelly yakin hal itu dikarenakan kurangnya penyerbukan oleh burung. Pengamatan di lapangan menunjukan burung mengunjungi hingga 80 persen bunga dimana bellbird dan stitchbird masih berkembang, tetapi hanya seperempat dari bunga itu ketika burung-burung telah menghilang.

"Kepunahan tanaman cenderung lebih lambat dari hewan, karena tanaman hidup lebih lama," kata Kelly.

"Kami punya waktu untuk mengatasi hal itu," katanya, seperti menghitung ulang populasi stitchbirds dan bellbirds di North Island. Dia memperkirakan bahwa Rhabdothamnus solandri dapat hidup lebih dari 150 tahun.

"Ini benar-benar menarik," ujar Martine Maron, seorang ahli ekologi burung di Universitas Queensland di Brisbane, Australia. Burung bertanggung jawab untuk penyerbukan sebagian besar tanaman berbunga, "masalah ini mungkin terjadi di seluruh dunia," katanya.

"Ini bukan hanya tentang kehilangan satu spesies dari muka bumi," tambah Maron dikutip New Scientist. "Kehilangan spesies kunci dari wilayah lokal dapat menyebabkan keruntuhan ekosistem."(ant)

Minggu, 06 Februari 2011

Burung Beo Ternyata Kidal

Australian Parrots (foto: wallpaper)

SYDNEY - Seperti halnya manusia, burung beo pun sering menggunakan salah satu sisi dari tubuhnya. Beo ternyata lebih suka menggunakan bagian tubuh sebelah kiri.

Peneliti asal Australia menemukan bahwa kebanyakan burung beo yang telah mereka teliti lebih suka menggunakan salah satu sisi bagian dari tubuhnya, baik mata kiri dan kaki kiri, atau mata kanan dan kaki kanan.

"Dasarnya, semua ini saling berhubungan satu sama lain. Jika mata kiri yang digunakan untuk melihat objek maka tangan kanan akan secara otomatis digukana untuk menjangkau objek tersebut. Ini merupakan hal yang sangat konsisten dilakukan oleh suatu spesies," ujar pengajar senior dari Macquarie University, Sydney, Calum Brown, seperti dikutip melalui Telegraph, Minggu (6/2/2011).

Studi yang dilakukan Brown ini telah dipublikasikan dalam Biological Letters. Studi ini melibatkan sekira 320 burung beo dari 16 spesies berbeda di Australia.

Dari sekian banyak burung beo yang diteliti, Brown menemukan jika 47 persen beo tergolong kidal, 33 persen lainnya tidak kidal, dan sisanya bisa menggunakan kedua tangannya.

Minggu, 16 Januari 2011

Berita Pertanian : Petani Kerinci Lestarikan Koloni Burung Kuntul

Himpunan Pramuwisata Indonesia Jambi menilai para petani di Kabupaten Kerinci bersikap ramah terhadap koloni burung kuntul dan bangau dengan turut menjaga kelestarian serta populasinya.
"Itu sangat baik. Salah satu pesona wisata Kerinci adalah burung kuntul dan bangau yang hingga kini tetap terjaga keberadaannya, seperti yang terlihat di sawah-sawah petani setempat. Petani tidak mengusik apalagi memburunya," kata Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jambi Ir Guntur di Jambi, Senin.

Guntur yang mengaku telah menjadi pemandu wisata sejak berumur 12 tahun, yakni saat duduk di kelas I SMP menyatakan, sejak dulu keberadaan koloni burung kuntul dan bangau di tengah sawah menjadi salah satu pesona pariwisata Kerinci yang banyak menarik minat dan perhatian para pelancong.

Sejak dulu dulu hingga kini keberadaan koloni burung kuntul berwarna putih pemakan cacing dan serangga di sawah dan tubuh kerbau, serta burung bangau berwarna coklat dan berbadan lebih besar ternyata tetap ada di saat banyak aset dan potensi lainnya secara perlahan telah menghilang dari bumi Kerinci, seperti spesies beberapa satwa dan tumbuhan di hutan yang semula lebat hijau dan rimbun.

Menurut catatan Guntur, sepuluh tahun lalu diperkirakan ada ribuan burung kuntul yang mencari makan di sawah-sawah di Kerinci khususnya saat musim panen tiba, dan ratusan burung bangau yang biasanya lebih ramai ketika musim panen tiba.

Kini jumlah tersebut diperkirakan telah meningkat sampai dua atau tiga kali lipat dari sebelumnya.

"Ada beberapa faktor yang menyebabkan terus lestarinya keberadaan burung kuntul dan bangau. Meskipun diketahui masyarakat daging burung kuntul gurih dan halal dikonsumsi, namun sikap burung kuntul terlihat jinak dan bersahabat ditambah bentuk tubuh dan bulunya yang indah membuat burung ini justeru menimbulkan empati bagi petani," ujarnya.

Apalagi burung ini sangat bermanfaat bagi pembasmi hama seperti wereng, belalang atau jenis serangga lainnya yang merusak tanaman.

Selain itu, Kerinci merupakan salah satu daerah pelintasan burung-burung imigran dari belahan utara ke selatan pada setiap musim dingin termasuk jenis bangau. Saat singgah di Kerinci mereka justeru menetap karena tertinggal koloninya atau lebih tertarik terhadap kekayaan dan ketersedian mineral dan nutrisi serta pakan di daerah tersebut.

Yang terpenting, para petani di Kerinci tidak memburu burung kuntul tersebut seperti halnya burung-burung imigran lainnya seperti belibis, bahkan mereka percaya pada mitos bahwa keberadaan burung kuntul justeru akan menandakan hasil panen. Ssemakin banyak koloni burung kuntul di sawah semakin besar hasil panen yang akan diperoleh petani.

Karena telah menjadi sebagai salah satu pesona wisata yang unik dan asri, HPI menilai ke depan pemerintah melalui dinas dan instansi terkait perlu memprogramkan pelestarian burung tersebut.

Bahkan bila perlu masyarakat setempat bisa didorong untuk melestarikannya dengan program-program penangkaran. Petani bisa kembali berternak burung tersebut dengan metoda yang jauh lebih profesional dan modern. Burung tersebut juga layak jadi bahan produk kuliner, tambahnya.
(antaranews)