Tampilkan postingan dengan label susu sapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label susu sapi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2011

Sentra susu Lembang: Desa Langansari, penghasil susu tertua di Bandung


Susu adalah satu dari sekian banyak minuman yang sering dikonsumsi manusia. Selain rasanya yang lezat, susu juga mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh manusia. Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil susu segar terbesar di dunia.

Kampung Suka Mulya, Desa Langansari Buka Negara, Kecamatan Lembang, menjadi salah satu desa penghasil susu terbesar di kawasan Bandung. Mayoritas penduduk di sini pun beternak sapi.

Memasuki kawasan Maribaya yang menjadi akses jalan utama menuju Desa Langansari, Buka Negara, suasana peternakan sapi sangat terasa. Sejauh mata memandang tampak hamparan lahan hijau dan sapi-sapi yang tengah asyik merumput.

Di Desa Langansari ini terdapat dua kelompok pemerah sapi. Dua kelompok itu dibedakan berdasarkan letak rumah mereka. Penduduk yang beternak sapi di bawah bukit disebut Peternak Sapi Bawah. Sedangkan, penduduk yang beternak sapi di area tanjakan ke arah bukit disebut sebagai Peternak Sapi Atas.

Ketika KONTAN menyusuri rumah-rumah penduduk yang beternak sapi di bawah bukit, dari luar, sudah terlihat beberapa sapi peliharaan penduduk. Para peternak sapi Langansari ini menempatkan sapi peliharaan mereka dalam satu kawasan di halaman rumah mereka.

Nunung Mulyana, peternak sapi setempat, menuturkan, selain untuk menghemat biaya, lokasi peternakan di halaman rumah supaya lebih mudah melakukan pengontrolan dan pemerahan susunya. “Kalau beda-beda tempat, takut sapi-sapi ini raib,” tutur lelaki yang tahun ini berusia 33 tahun.

Mereka membangun kandang sapi secara terbuka di pekarangan rumah. Nunung yang memiliki delapan sapi perah pun membangun kandang sapi berukuran 10 x 3 meter persis di sebelah rumahnya.

Menelisik sejarah Desa Langansari, sejak awal, penduduknya memang menggantungkan hidup dari beternak hewan. Minah Komalasari, peternak sapi perah, menceritakan, sekitar 20 tahun lalu, belum banyak masyarakat yang beternak sapi. “Kebanyakan mereka beternak kuda karena di Lembang terkenal sebagai kawasan wisata,” tuturnya.

Aan, suami Minah yang juga merintis peternakan sapi di Langansari, coba-coba beternak sapi. Selain merasa lingkungan desa itu cocok untuk beternak sapi, pakan yang menjadi modal utama beternak sapi juga mudah t diperoleh. Minah bersama sang suami dan adik iparnya pun bahu membahu membeli dua ekor sapi perah.

Masyarakat Desa Langansari memang turun temurun beternak sapi. Ada yang mendapatkan warisan dari keluarganya. Tapi tidak sedikit pula yang memulai sendiri usahanya.

Nunung, misalnya, meneruskan usaha sapi perah milik orang tuanya, selepas dari bangku SMA. "Usaha susu ini menggiurkan dan tak perlu keahlian khusus," katanya. Sejak kecil, Nunung memang sudah terbiasa membatu orang tuanya memelihara sapi.

Kini, ia pun menjabat sebagai ketua kelompok sapi Buka Negara yang menaungi 35 peternak sapi. Nunung menghitung, jumlah peternak sapi di Desa Langansari sendiri terbilang ratusan. Di desa Langansari, berdiam 300 kepala keluarga yang memelihara sapi perah.

Peternak kian banyak, pakan kian sulit

Kampung Suka Mulya Desa Langansari, Buka Negara, merupakan cikal bakal peternakan sapi perah rumahan. Mayoritas penduduknya beternak sapi perah. Namun banyaknya penduduk desa yang beternak sapi membuat pasokan pakan sapi makin sulit diperoleh dari sekitarnya.

Berada di bagian selatan kota Lembang dan dikelilingi Gunung Batu, Desa Langasari terbilang asri dan hijau. Banyak tanaman dan rumput hijau tumbuh di sekitar Gunung Batu ini.

Tak heran, bercocok tanam dan beternak menjadi sumber penghidupan bagi masarakat di desa yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat kota Lembang ini. Alam menyediakan semua kebutuhan hidup mereka.

Sejak tahun 1990-an, peternak sapi perah terus bertambah. Beternak sapi, menurut masyarakat setempat adalah usaha yang tak sulit dan menghasilkan uang yang cukup banyak.

Asep Mulyana, peternak sapi perah setempat, menuturkan, beternak sapi perah tak perlu keahlian khusus. "Yang penting telaten dan fokus merawat sapi, niscaya, sapi akan menghasilkan susu yang bagus," kata Asep yang telah 15 tahun beternak sapi.

Alasan lain atas keputusannya beternak sapi di tahun 1995, karena usaha ini tak butuh modal besar. "Dulu sih yang penting punya sapi dulu, urusan pakan gampang karena di sekitar sini banyak rumput," ujarnya. Urusan kandang juga tak membutuhkan biaya besar. "Asal beratap untuk melindungi sapi dari hujan serta memilik bak untuk tempat pakan sapi juga sudah cukup," lanjutnya.

Namun kondisi tersebut ternyata tak langgeng. Kini, Asep kesulitan mendapatkan pakan berupa rumput hijau segar. "Makin banyak orang yang beternak sapi, sehingga cari rumput bagus jadi sulit," keluhnya. Selain itu, tanah di desanya juga banyak dijual dan di atasnya dibangun vila oleh pemilik baru.

Nunung Mulyana, yang mewarisi ternak sapi dari orang tuanya, menambahkan, sejak lima tahun terakhir, ia kesulitan mendapatkan pakan berupa rumput segar di sekitar rumahnya. "Sekarang saya harus pesan rumput ke Subang dan Purwakarta. Karena disini sudah tidak ada rumput," tutur Nunung.

Minah Komalasari juga terpaksa membeli rumput segar dan jerami ke beberapa pengepul. Setiap dua minggu sekali, Minah akan memesan pakan sapi itu satu mobil pick-up. Untuk memberi makan 12 sapinya, Minah pun harus mengeluarkan uang sebesar Rp 350.000. Sayangnya, harga pakan yang kian mahal tak berimbas pada harga susu yang mereka jual.

Namun, para peternak ini tak kehilangan akal. Untuk menutupi kebutuhan sapi berupa rumput hijau yang selalu mengalami kenaikan harga, mereka memberikan tambahan makanan seperti dedak, onggok, dan mako alias makanan konsentrat.

Mako memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan untuk sapi. Jenis makanan ini diyakini dapat membuat produktivitas sapi lebih tinggi. Selain itu, kandungan susu pada sapi pun lebih bagus. "Tapi terlalu banyak diberi mako juga tidak bagus karena sapi akan kembung," terang Nunung.

Jika sapi sudah terlihat kembung, Nunung pun langsung memberhentikan pemberian mako dan menggantinya dengan pakan rumput hijau. "Saya akan memberi mereka rumput secara terus-menerus selama dua minggu," terang Nunung.

Untuk menjaga stamina sapi tetap fit, Nunung juga mengatur pola pakan sapinya. Ia akan memberikan rumput hijau dengan porsi 70%. Sisanya, ia menyajikan campuran dedak atau mako sebagai santapan si sapi. (kontan)

Rabu, 16 Februari 2011

Susu Sapi Murni Bukan P-ASI

Susu sapi murni sebaiknya tidak dikonsumsi anak usia di bawah 12 bulan (1 tahun), karena susu sapi murni merupakan susu yang tidak memenuhi syarat sebagai P-ASI (pendamping ASI/Air Susu Ibu).

“Susu sapi murni masuk dalam katergori susu non formula. Contoh susu non formula adalah susu sapi segar, susu skim atau susu kental manis. Susu ini komposisinya tidak sesuai dengan komposisi yang direkomendasikan oleh WHO atau komposisinya tidak sesuai dengan kebutuhan bayi,” terang Andriyanto, Ketua Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Jatim.

Menurut dia, susu sapi murni sangat berbeda dengan susu formula meski bahan baku susu formula dari susu sapi. “Dalam susu formula, ada tambahan nutrisi yang sudah terukur dan disesuaikan dengan gizi yang dibutuhkan bayi. Karena itu, pemberian susu formula kepada bayi harus sesuai dengan kebutuhan bayi dan kandungan yang telah dianjurkan,” ujarnya.

Andriyanto juga menyampaikan cara aman mengonsumsi susu sapi murni bagi orang dewasa maupun anak-anak usia di atas 1 tahun. Sebelum dikonsumsi, kata Andriyanto, susu sapi murni sebaiknya dipasteurisasi untuk membunuh bakteri patogen di dalam susu.

“Metode pasteurisasi sangat mudah, yaitu panaskan susu hingga mencapai suhu 72 derajat celcius, kemudian dipertahankan hingga 15 detik, lalu matikan apinya,” jelasnya. “Jangan mengonsumsi susu sapi murni yang sudah lewat dari 6-8 jam, karena susu itu bisa disebut sudah rusak dan itu tidak baik untuk kesehatan,“ tuturnya.

Susu sapi murni yang tak langsung habis diminum, kata Andriyanto, bisa disimpan dalam kulkas paling lama 2 hari. Jadi, kalau sudah dua hari di dalam kulkas belum habis juga, buang saja.

Kamis, 10 Februari 2011

Berita Pertanian : Pasca Merapi, Pasokan Susu Turun


SLEMAN. Pascaerupsi Gunung Merapi pasokan susu ke sejumlah perusahaan melalui Koperasi Usaha Peternakan dan Pemerahan Kaliurang macet akibat turunnya produksi susu sapi perah hasil budidaya warga lereng Gunung Merapi.

"Saat ini produksi susu tiap hari menurun tajam dari sebelum erupsi Merapi sebanyak 6.000 liter kini hanya mencapai 900 liter saja dan hanya dijual ke sesama koperasi susu," kata Ketua Koperasi Usaha Peternakan dan Pemerahan (UPP) Kaliurang Sokimun, Kamis (10/2/2011).

Menurunnya populasi sapi akibat mati terkena erupsi membuat usaha peternakan sapi perah sampai saat ini tidak dapat berjalan sebagaimana diharapkan.

"Hasil perahan susu dari anggota kelompok ternak yang akan disetor ke perusahaan sebelumnya melalui proses penampungan dan pendinginan menggunakan empat unit alat pendingin susu segar (Cooling Unit), karena produksi sekarang ini sangat minim, keempat alat tersebut tidak difungsikan dan susu perahan hanya dijual ke sesama koperasi," katanya.

Dengan kapasitas produksi yang minim jika diproses sendiri rugi, karena biaya operasional termasuk listrik dan lainnya cukup tinggi sehingga untuk sementara pasokan ke perusahaan dihentikan.

"Anggota koperasi yang sudah aktif kini hanya mampu memproduksi sekitar 900 liter per hari, padahal untuk menyetor ke perusahaan kapasitas produksi minimal harus memiliki stok pasokan 3.000 liter per hari," katanya.

Sokimun mengatakan, untuk mencapai 3.000 liter saat ini harus menunggu tiga hingga empat hari, padahal penundaan pengiriman dapat mengakibatkan penurunan kualitas susu.

"Sebagai antisipasi kerugian yang lebih besar, hasil perahan terpaksa dijual langsung meskipun harga tiap liter susu lebih murah dibanding harga bila dijual di perusahaan," katanya.

Ia mengatakan, selain itu dua unit mobil tangki yang sebelumnya untuk operasional juga tidak difungsikan karena keterbatasan produksi.

"Karena itu bantuan modal usaha dan penambahan populasi masih sangat dibutuhkan agar usaha budidaya sapi perah di lereng Gunung Merapi ini bisa kembali pulih," katanya. (kompas)