Tampilkan postingan dengan label impor kedelai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label impor kedelai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Januari 2013

Kurangi Impor, Pemerintah Janji Beli Kedelai Petani

Jakarta. Pemerintah bertekad untuk swasembada kedelai dan bisa menghilangkan ketergantungan akan impor. Untuk mewujudkan swasembada, pemerintah berjanji bakal membeli kedelai petani dengan harga pantas.
"Kita bertekad untuk swasembada, agar swasembada terjadi harus ada stabilitas harga pada petani. Kita beli pada harga tertentu keekonomiannya sekitar Rp 7.000 sehingga nilai tukar petaninya cukup.

Ini sudah menaikkan dua kali lipat tahun ini dari produksi karena petani happy dia kan harganya stabil." ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (30/1).

Hatta mengharapkan dengan swasembada kedelai tersebut, maka ketergantungan impor kedelai semakin berkurang. Saat ini, Indonesia masih mengimpor kedelai sekitar 1,5 juta ton.

"Sekarang ini kan petani sekitar 700-800 ribu ton sehingga masih ada impor 1,5 juta ton kalau dinaikkan di atas 1 juta ton tahun ini, maka semakin susut impornya," tegasnya.

Namun, Hatta mengakui proses swasembada ini membutuhkan waktu sehingga tidak bisa langsung menghilangkan impor kedelai dalam waktu dekat. Dengan demikian, impor kedelai masih bisa dilakukan oleh para importir terdaftar.

"Setiap importir harus membeli seluruh punya petani itu, terutama Bulog, nah kekurangannya diimpor melalui importir terdaftar diatur melalui Kemendag," tandasnya.

Aturan HPP
Menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, untuk memicu petani giat menanam kedelai, pemerintah bakal segera mengeluarkan aturan harga pembelian pemerintah (HPP). Nantinya angka HPP kedelai bakal ditetapkan berbeda-beda tiap bulan.

"Kebijakannya akan keluar, nanti ditetapkan setiap bulan, dan angkanya berbeda-beda. Nanti ada kisaran-kisarannya, dan kita sesuaikan dengan harga internasional, harga lokal. dan kondisi inflasi kita perhitungkan," ujar Bayu di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (30/1).

Dikatakan Bayu, pemerintah akan mengelola dan memfasilitasi perdagangan kedelai di dalam negeri, agar ada stabilisasi harga di tingkat perajin dan petani. Jadi dalam penetapan HPP ini, perajin bisa menyesuaikan perubahan harga kedelai dan petani juga mendapatkan rangsangan agar bisa memproduksi kedelai dengan giat. Soal impor kedelai juga akan diatur oleh pemeirintah.(dtf)

Rabu, 13 April 2011

Berita Pertanian : Usul Bea Masuk Impor Kedelai Perlu Kajian Matang







Jakarta. Usul Kementerian Pertanian agar bea masuk impor kedelai kembali diterapkan perlu dikaji ulang. Hal itu karena pasokan dalam negeri masih belum mencukupi. Dikhawatirkan, penerapan bea masuk akan membebani industri yang mengandalkan bahan baku utama kedelai.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh menanggapi usul Kementerian Pertanian agar bea masuk impor kedelai diterapkan. ”Kami harus hati-hati dalam menilai pasokan sudah normal dan aman. Apakah dilihat dari harga atau jumlah pasokan yang tersedia,” kata Deddy di Jakarta, Rabu (13/4).

Menurut dia, kehatian-hatian tersebut sangat penting mengingat kedelai menjadi bahan baku utama industri rumah tangga (tahu, tempe, kecap), serta industri pakan ternak. ”Bila harga kedelai tinggi, biaya produksi naik sehingga otomatis harga jual ikut naik,” katanya.

Naiknya harga jual akan membebani konsumen dan mendongkrak inflasi. Inflasi tinggi membuat angka kemiskinan naik. ”Dampak ikutannya bisa banyak. Misalnya saja pakan ternak, kalau harganya naik otomatis peternak ayam akan teriak. Belum lagi konsumen tahu-tempe yang selama ini mendominasi. Makanya butuh kajian matang dan mendalam,” tambah Deddy.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Suswono mengatakan, pihaknya tengah mengkaji penerapan kembali bea masuk kedelai Saat ini, tarif bea masuk impor kedelai 0 persen.

Sementara itu, mantan Kepala Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Malang, Prof Dr Subandi, mengatakan, petani tidak akan pernah tertarik menanam kedelai jika harganya tidak mencapai kondisi 2,5 kali harga jagung atau 1,5 kali harga beras karena kompetisi tiga tanaman padi, kedelai, dan jagung di atas tanah sawah. Artinya, kebutuhan kedelai nasional sekitar 2 juta ton bagi Indonesia harus dipenuhi dari impor.

”Penyebab terus terpuruknya produksi kedelai nasional bukan karena keluhan soal mutu, melainkan karena banjir impor yang terjadi sejak dekade 1990-an,” katanya.

Kamis, 10 Februari 2011

Berita Pertanian : Pemerintah Kaji Penurunan BM Kedelai

DENPASAR. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Teddy Saleh mengatakan, pemerintah saat ini sedang mengkaji untuk melakukan penurunan bea masuk impor kedelai.

"Kajian ini dilakukan dalam upaya membantu masyarakat dan para pengusaha kecil menengah yang berbahan baku kedelai," katanya di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (10/2/2011).

Ia mengatakan, naiknya harga kedelai tersebut menyebabkan besarnya biaya produksi berbagai jenis produk yang berbahan baku kedelai. "Biaya produksi yang tinggi menyebabkan harga produk, seperti tahu dan tempe yang dilepas ke masyarakat juga melambung naik. Bila tidak dijual dengan harga tinggi maka pengusaha akan menderita kerugian," katanya.

Untuk itu katanya, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Keuangan sedang melakukan kajian untuk menurunkan atau bahkan membebaskan biaya bea masuk impor kedelai ke Indonesia sehingga tidak terjadi lonjakan harga seperti saat ini.

Teddy mengatakan, selama ini harus diakui, persediaan produksi dalam negeri untuk kedelai tidak mencukupi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Indonesia terpaksa harus mengimpor.

Bahkan, kondisi di luar negeri juga mengalami hal yang sama karena terjadi penurunan produksi akibat faktor cuaca dan serangan penyakit. Penurunan produksi ini menyebakan naiknya harga kedelai di pasaran luar negeri. "Namun hal tersebut belum dirasakan dampaknya karena umumnya di negara-negara maju sudah mengatur kebutuhan dalam negeri," ucapnya.

Dikatakan, selain kajian untuk menurunkan bea masuk impor kacang kedelai, pemerintah juga akan mengoptimalkan produksi kedelai dalam negeri. "Selama ini produksi dalam negeri hanya mengandalkan daerah penghasil utama seperti Jawa dan Aceh. Padahal masih banyak daerah lain di Indonesia yang berpotensi untuk menanam kedelai," ujarnya.

Ia menyebutkan, produksi kedelai tahun 2010 defisit hingga 700 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi kedelai nasional tahun lalu turun menjadi satu juta ton karena perubahan cuaca yang ekstrim. "Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kedelai tahun lalu yang mencapai 1,7 juta ton, pemerintah harus mengimpornya dari dari berbagai negara," kata Teddy.

Impor dilakukan guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Harga kedelai saat ini meningkat menjadi Rp 8 ribu per kilogram (kg), yang sebelumnya hanya berkisar Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu per kg. (kompas)