Tampilkan postingan dengan label nasib petani tembakau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasib petani tembakau. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juni 2012

AMTI: petani tembakau tidak setuju atas FCTC

Jakarta . Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menyatakan sebagian besar petani tembakau akan menolak upayaa melarang menanam tembakau, karena di dalam Kesepakatan Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC) yang pada mulanya bertujuan untuk mengamankan petani tembakau, berubah menjadi petani didorong untuk mengkonversi tanaman tembakau (yang dinilai sebagai zat adiktif) dengan tanaman lain melalui artikel 17 dan 18 FCTC WHO.

"Kenyataan riil bahwa pertama pada tingkatan global tidak mungkin mengurangi pasokan tembakau pada satu negara karena pasokan tersebut akan diisi negara lain, mengingat perdagangan tembakau masih dipandang menguntungkan. Kedua, konversi tidak bisa dilakukan karena secara agronomis tidak memungkinkan," kata Ketua Departemen Advokasi Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Soeseno dalam siaran persnya yang diterima di Jakarta, Selasa.

Soeseno saat diskusi dengan kalangan petani tembakau Temanggung, Jateng, kemarin, mengatakan konstruksi berfikir tersebut diputuskan hanya oleh pengambil kebijakan yang  dinilai tidak memahami atau tidak terlibat bagaimana pengusahaan tembakau di tingkat praktik, yang selama ini justru banyak menopang kehidupan petani dan keluarganya.

Dia mencontohkan beberapa daerah seperti Madura, Jatim, dimana lahan tembakau telah diujicobakan diganti dengan tanaman lain, dan selalu gagal. "Belum ditemukan tanaman konversi tembakau yang setidaknya menghasilkan keuntungan yang sama dengan tembakau, terutama di lahan-lahan yang hanya mungkin tanaman tembakau tumbuh," kata Soeseno.

Oleh karena itu, lanjut Soeseno, diperlukan penjelasan kepada petani, tentang problematik yang mungkin akan dihadapi, sekaligus memberikan kesadaran kemandirian bahwa bertanam tembakau yang digelutinya selama ini benar-benar bermanfaat untuk kehidupan keluarga dan masyarakat, mengingat belum juga ada semacam aturan yang bersifat melindungi petani tembakau.

"Oleh karena itu AMTI menolak artikel 17 dan 18 FCTC mengenai konversi tembakau. AMTI juga ikut menandatangani deklarasi penolakan ini bersama para petani asia lainnya dalam Asia Tobacco Forum di Kuala Lumpur Malaysia, 27--30 Maret 2012," katanya.

Lebih lanjut, dia mengusulkan agar pemerintah melakukan dialog secara intensif dengan petani tembakau dan pihak terkait lainnya agar tercapai kesamaan pandangan dan sikap atas penegakan peraturan yang berlaku.

"Perlu ada dialog dan kesepahaman agar mendiskusikan kemungkinan dimajukannya aturan-aturan tentang perlindungan pengusahaan pertanian tembakau, sehingga jaminan kelestarian bercocok tanam tembakau dimasa yang akan datang terwujud," katanya.

Dalam kesempatan sama, Ketua Asosiasi Petani Organik Karya Tani Manunggal, Desa Jetis, Selopampang, Temanggung Eko Prasetyo Wibowo menegaskan tidak akan pernah meninggalkan tembakau. Mewakili petani tembakau di Temanggung, dia menyatakan akan menolak pelarangan menanam tembakau seperti yang tercantum dalam artikel 17 dan 18 FCTC, WHO.

"Kami petani Temanggung tidak akan pernah meninggalkan tembakau, ini adalah nyawa bagi kami. Kami makan, menyekolahkan anak-anak dan menghidupi keluarga sampai bisa naik haji, hasil dari komoditas ini," kata Eko.


Legislator: RPP Tembakau rugikan petani 

Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tembakau yang akan dikeluarkan pemerintah pada 14 Juli mendatang akan merugikan petani tembakau karena aturan tersebut melarang produksi rokok kretek di dalam negeri.

"Pemerintah tidak bisa melarang petani menanam tembakau atau memproduksi rokok kretek. Selama ini, rokok kretek merupakan salah satu produk asli Indonesia yang harus dilestarikan," kata anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PKB Chusnunia di Jakarta, Selasa.

Chusnunia menuturkan, RPP tembakau terkait dengan bahaya rokok sebagai salah satu produk tembakau, namun isi RPP tersebut merugikan nasib para petani tembakau lokal.

"Jika dalam RPP tersebut pemerintah akan mengatur pengujian kadar tar dan nikotin yang muaranya mengarah pada kemungkinan hanya memberi jalan masuknya produk rokok dari luar negeri. Ini yang ditakutkan para petani lokal karena petani tidak bisa lagi menanam tembakau dan memproduksi rokok," paparnya.

Tidak menjadi masalah jika dilakukan pengaturan tentang peringatan bahaya merokok pada kemasan.

"Pengaturan seperti gambar dan tulisan peringatan bahaya rokok atau aturan lain yang diperlukan tidak menjadi masalah asalkan tujuannya tidak memberangus mata pencarian petani dan menghabisi budaya negeri sendiri," ujarnya.

Chusnunia menambahkan, sebelum RPP tembakau disahkan oleh pemerintah, perlu disosialisasikan secara maksimal.

"Pemerintah sebaiknya mempertimbangkan masukan berbagai pihak, agar tidak semakin meresahkan petani tembakau Indonesia," tandasnya.(ant)

Rabu, 13 April 2011

Rokok akan Menghilang di 2050

Rokok akan Menghilang di 2050


PERCAYAKAH Anda? Aktivitas merokok ditengarai akan benar-benar menghilang pada 2050, setidaknya hal itu dipercayai para ahli.

Kombinasi kenaikan harga dan semakin banyaknya larangan merokok di tempat umum diyakini bisa mematikan kebiasaan itu. Menurut laporan setebal 72 halaman oleh analis Citigroup, dimungkinkan, tidak akan ada perokok yang tersisa di Inggris dan negara-negara maju lainnya dalam waktu antara 30 dan 50 tahun.

Laporan, berjudul 'Tembakau: Bagaimana jika Merokok Berhenti pada 2050' menyebutkan, "Sulit untuk mengabaikan data selama 50 tahun ini bahwa tingkat perokok terus menurun terlihat paga grafik dengan garis lurus ke bawah."

"Tidak ada yang bisa memastikan bagaimana tingkat aktivitas merokok di masa depan. Mungkin juga nanti akan semakin banyak pelarangan," tambah laporan itu. Para ahli kesehatan pun menyambut prediksi itu

Terdapat sekitar 10 juta orang Inggris yang merokok, 22 persen pria dan 21 persen perempuan. Angka itu dikatahui menurun 1 persen sejak larangan merokok diberlakukan.

Amanda Sandford, dari komunitas Aksi Merokok dan Kesehatan, mengatakan pengurangan perokok hingga 10 persen dari populasi bisa dicapai dalam dekade berikutnya. "Ada banyak faktor yang bisa membuat orang berhenti merokok termasuk larangan ketat di berbagai tempat,"katanya.

"Pelarangan menyebabkan lonjakan jumlah orang yang mencoba berhenti. Alhasil jumlah perokok menurun sekitar 1 persen dari 2007. Saya memperkirakan akan ada pengurangan lebih bertahap dalam aktivitas merokok," tambahnya.

Rabu, 16 Maret 2011

Berita Pertanian : APTI Harapkan Petani Tembakau Tidak Trauma Cuaca

Sleman. Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan para petani tembakau tidak trauma dengan kejadian gagal panen akibat pengaruh cuaca pada 2010.
"Kami berharap komoditas tembakau dari Sleman bisa pulih pada tahun ini, dan para petani tembakau kami imbau untuk tidak trauma dengan cuaca, serta tetap menanam tembakau," kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Sleman Suwarji, di Sleman, Rabu (16/3).

Menurut dia, untuk membangkitkan kembali semangat para petani tembakau di Kabupaten Sleman, pihaknya telah berupaya mencari bantuan untuk permodalan tanpa agunan pada masa tanam 2011.

"Pinjaman tanpa jaminan tersebut diberikan oleh salah satu bank swasta bekerja sama dengan produsen rokok. Saat ini sudah ada sekitar 50 petani yang mengajukan pinjaman dengan besaran masing-masing Rp25 juta," katanya.

Ia mengatakan akibat gagal panen pada 2010, para petani tembakau kondisinya sangat terpuruk, dan mereka tidak memiliki modal untuk kembali menanam tembakau, karena biayanya tinggi.

"Pinjaman tanpa jaminan ini menjadi angin segar bagi kami, setelah tahun lalu kami semua gagal panen akibat cuaca, dimana hujan terus-menerus turun hampir sepanjang tahun, dan mengakibatkan tanaman tembakau rusak," katanya.

Suwarji mengatakan selain pinjaman modal tanpa jaminan dan bisa langsung cair itu, juga ada kerja sama pemasaran hasil panen tembakau. "Pengembalian pinjaman modal tersebut tidak dengan uang tunai, tetapi saat petani menjual hasil panen. Misalnya saat menjual hasil panen ke pabrik, uang yang diterima sudah dipotong untuk membayar pinjaman," katanya.

Ia mengatakan diharapkan dengan pinjaman tersebut petani tembakau bisa bangkit lagi semangatnya, apalagi jika seandainya pada 2011 kembali gagal panen karena cuaca, maka tetap tidak akan ada penagihan. "Jika tahun ini kembali gagal panen, maka tidak akan ada penagihan, dan justru akan dikuatkan lagi untuk masa tanam selanjutnya," katanya.

Suwarji juga berharap hasil tanam tembakau pada 2011 akan lebih baik karena sesuai prediksi musim kemarau akan lebih lama karena pengaruh El Nino. "Dua tahun kemarin musim hujannya lama, dan tahun ini gantian kemaraunya akan panjang, sehingga pasti harga tembakau di Sleman akan tinggi. Dalam waktu dekat kami akan mengundang BMKG Yogyakarta untuk pemaparan prakiraan cuaca, dan semoga pada April sudah mulai pembibitan, dan awal Juni sudah bisa tanam," katanya. (ant)

Jumat, 25 Februari 2011

Berita Pertanian : Petani Tembakau Rugi Miliaran Rupiah


Yogyakarta
. Petani tembakau di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami kerugian miliaran rupiah selama 2010 karena sebagian besar tanaman gagal panen akibat perubahan iklim.

"Sekitar 80 persen dari total lahan tanaman tembakau di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) seluas 63.000 hektare tidak berproduksi atau gagal panen," kata Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah Triono di Yogyakarta, Jumat.

Akibatnya, menurut dia, usai serah terima bantuan 142 komputer dari Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) kepada perwakilan organisasi petani dan pekerja di Jawa Tengah dan DIY, ribuan petani tembakau harus menanggung kerugian yang cukup besar.

Ia mengatakan, tanaman tembakau tidak dapat berproduksi karena dampak dari perubahan iklim yang cukup ekstrem. Fenomena alam tersebut di luar perkiraan para petani, sehingga tanaman tembakau rusak terkena hujan.

"Biasanya sebelum Oktober-Nopember tanaman tembakau siap dipanen, tetapi karena ada perubahan iklim, tanaman tersebut sering terkena hujan sehingga rusak dan gagal dipanen, yang mengakibatkan para petani rugi," katanya.

Oleh karena itu, menurut dia, bantuan komputer dari AMTI itu sangat membantu para petani tembakau. Mereka dapat mengakses informasi seputar prediksi iklim pada tahun ini dan yang akan datang.

"Hal itu sangat diperlukan para petani mengingat kendala musim menjadi salah satu penyebab gagalnya panen tembakau di berbagai tempat," katanya. (ant)