Rabu, 12 Desember 2012

Indonesia butuh sejuta hektare lahan tanaman sayuran

 
Jakarta. Indonesia membutuhkan lahan baru seluas satu juta hektare untuk tanaman sayuran sebagai salah satu produk hortikultura guna mewujudkan swasembada pangan, kata Glenn Pardede, Managing Director PT East West Seed Indonesia (Ewindo).

"Perlu kebijakan dari pemerintah untuk meningkatkan luas area lahan sayuran di Indonesia yang saat ini masih rendah," kata Glenn, produsen benih sayuran "Cap Panah Merah" itu di Jakarta, Selasa.

Glenn membandingkan dengan produktivitas tanaman sayur di berbagai negara, China yang mencapai 200 meter persegi per kapita, Thailand 100, sementara di Indonesia hanya 40 meter persegi per kapita.

"Agar Indonesia setara dengan negara lain, maka khususnya untuk sayuran, paling tidak membutuhkan satu juta hektar lahan baru," ujar dia.

Menurut Glenn yang juga Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia, pemerintah harus lebih berani memberi perlindungan kepada petani hortikultura seperti halnya di luar negeri dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan.

Salah satu caranya, kata Glenn, dengan tidak menyerahkan sepenuhnya harga produk pertanian kepada mekanisme pasar. Ketika harga jatuh pemerintah harus berani membeli harga dari petani, seperti yang sudah dilakukan untuk gabah. Pemerintah mungkin dapat memulai dari komoditas yang strategis seperti cabai, kol, dan tomat.

Hal ini senada disampaikan Suparyono, seorang petani dalam Seminar Agribisnis Outlook 2013 yang dilaksanakan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sememntara itu, menurut Suparyono, petani sayuran sering terpukul akibat harga produk yang sangat ekstrim. Belum lama ini misalnya, harga tomat jatuh bahkan lebih rendah dari harga kemasannya. Akibatnya petani memilih membiarkan tomat membusuk di lahan.

"Semestinya harus ada yang memikirkan nasib petani agar tidak seperti ini," ujar Suparyono.

Glenn mengatakan, kondisi seperti itu memicu petani mengalihfungsikan lahannya. Sebaliknya, apabila petani sejahtera maka lahan-lahan pertanian akan dapat dipertahankan dan tidak lagi beralih fungsi.

Idealnya, kata Glenn, harus tersedia kantong-kantong untuk pengembangan hortikultura, bahkan kalau bisa mendorong petani agar lebih mandiri lagi, seperti petani di Cina yang mampu bercocok tanam dalam kondisi lahan yang beragam.

"Kita seharusnya jeli melihat peluang pasar, seperti harga sayur-sayuran di luar Jawa yang mencapai dua sampai tiga kali lipat. Mengapa kita tidak tergerak untuk mengembangkan hortikultura padahal kondisi tanah dan iklimnya tidak berbeda dengan di Jawa" kata Glenn.

Namun dukungan terhadap sektor ini masih minim, petani seharusnya jangan sampai harus menanggung resiko yang sangat besar akibat dari permainan harga dan penyakit tanaman, jelas Glenn.

"Mereka butuh pendanaan tidak sedikit untuk melindungi tanamannya saat musim hujan misalnya dengan membangun semacam pelindung tanaman yang terbuat dari net (nethouse) agar hasil panennya maksimal," ujar dia.

Glenn lebih jauh mengatakan, Ewindo selaku produsen benih pada tahun 2013 berencana menjalin kerja sama dengan salah satu negara di Eropa untuk mengembangkan benih unggul tomat dan paprika.

"Proyek ini sedang digarap di Lembang Bandung di atas lahan seluas 4 hektar dengan investasi Rp5 miliar per hektar untuk membangun nethouse berikut pengoperasiannya. Proyek ini sudah mampu menghasilkan dua ton benih unggul tomat dan paprika," ujar dia.

Sementara, ahli hortikultura sekaligus guru besar Institut Pertanian Bogor Bungaran Saragih yang juga berbicara dalam Seminar Agribisnis Oulook 2013 menyebutkan, hortikultura merupakan salah satu sektor di dunia yang tidak terkena dampak dari resesi ekonomi.

"Ini terjadi karena permintaan masyarakat terhadap produk pangan tidak akan turun bahkan justru mengalami kenaikan," ujar Bungaran.

Bungaran mengatakan, kebutuhan hortikultura termasuk sayuran di Indonesia saat ini sangat tinggi, namun belum dapat dipenuhi petani di dalam negeri, sebagian masih harus impor.

"Ini menjadi tantangan bagi pemerintah bagaimana mendorong sektor pertanian dapat mengisi kekosongan produk hortikultura yang selama ini masih diisi dari produk impor," ujar dia.

Apalagi, jelas dia, dengan terus membaiknya ekonomi di Indonesia serta makin meningkatnya kesadaran hidup sehat di kalangan masyarakat membuat konsumsi terhadap sayuran dan buah-buahan semakin tinggi, hal ini yang seharusnya dapat mendorong sektor hortikultura semakin bertumbuh.

Bungaran lebih jauh mengatakan, pengembangan hortikultura di Indonesia terkait erat dengan perlindungan petani, akses terhadap benih unggul dan pembinaan.(ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar