Senin, 16 Juli 2012

Menyiasati Kenaikan Harga Jelang dan Selama Ramadhan

Oleh : H. Kliwon Suyoto. 
Harga bahan kebutuhan pokok masyarakat telah mengalami kenaikan di berbagai daerah. Hal ini terkait erat dengan jelang bulan Ramadhan, yang ditengarai akan terus berlangsung selama bulan Ramadhan. Momentum kenaikan harga ini diperkirakan baru akan stabil usai Lebaran, walaupun sering kali harga yang sudah naik tidak pernah turun.
Ada sinyalemen kenaikan harga ini tidak semata-mata berkaitan dengan akan tibanya bulan Ramadhan, tetapi juga ulah para spekulan - para pelaku pasar - yang sengaja menaikan harga demi mendapatkan keuntungan, sehingga diharapkan pemerintah melakukan pengawasan terhadap pelaku pasar secara signifikan.

Tanpa ada upaya dan langkah signifikan dari pemerintah dan para pihak yang terkait dengan dinamika pasar, hal ini akan berdampak buruk pada stabilitas sosial. Sebab, penghasilan rata-rata masyarakat tidak mengalami kenaikan, sementara pengeluaran meningkat akibat kenaikan harga, sehingga berpotensi meningkatkan populasi masyarakat miskin secara statistik.

Padahal kemiskinan selain menjadi aib bagi pemerintah, juga berpotensi pada aneka bentuk kejahatan. Ketika kebutuhan pokok sulit untuk dipenuhi, tidak menutup kemungkinan penghalalan segala cara dilakukan, termasuk tentunya tindak kriminal mengatasnamakan urusan perut.

Peran Pemerintah

Untuk menyiasati semua ini, biasanya pemerintah - baik tingkat pusat maupun di daerah - menggelar operasi pasar. Mengunjungi beberapa pasar untuk mendapatkan informasi seputar harga kebutuhan pokok serta ketersediaannya. Bila dipandang perlu, pemerintah menambah pasokan barang untuk menjaga kestabilan harga di pasar.

Tetapi siasat ini masih dirasa kurang efektif, karena ada keterbatasan - tenaga, waktu juga dana - untuk melakukan kegiatan tersebut. Akibatnya, harga barang hanya normal saat ada operasi dan kembali mengalami kenaikan usai operasi. Maklum, harga pasar lebih ditentukan oleh pelaku pasar, bukan oleh aparat pemerintah.

Terkecuali kalau pemerintah dapat mempersiapkan Posko pengawasan harga pada setiap pasar, yang petugasnya - petugas Posko - senantiasa bergerak (mobile) ke sejumlah los atau kios untuk mengawasi perilaku para pelaku pasar dalam bertransaksi dengan masyarakat. Tapi, mungkinkah itu dilakukan?

Sebab di beberapa kota masih didapati pasar yang belum terorganisir dan tertata secara tertib. Bangunan pasar yang ada belum berfungsi maksimal sesuai peruntukannya, sehingga aktivitas perdagangan lebih banyak digelar di pinggiran jalan. Hal ini tentu sedikit menyulitkan untuk kemungkinan memerankan Posko pengawasan harga.

Kendali Diri

Apapun langkah yang diupayakan pemerintah terkait dengan pengawasan harga kebutuhan pokok masyarakat, tanpa adanya kendali diri dari masyarakat terhadap pola konsumsi dipastikan tidak akan berarti apa-apa. Artinya, sepanjang masyarakat tidak mengendalikan pola konsumsi, para pelaku pasar masih akan tetap leluasa menaikkan harga, mengabaikan pengawasan dari pemerintah.

Kendali diri ini erat hubungannya dengan spirit Ramadhan, yang intinya menahan nafsu termasuk tentunya yang terkait dengan konsumsi makanan dan minuman. Siang hari antara makan sahur dan berbuka tidak ada aktivitas makan dan minum. Aktivitas itu hanya terjadi pada malam hari, antara saat berbuka sampai makan sahur.

Idealnya, ada penghematan konsumsi makanan dan minuman. Kenapa yang sering terjadi justeru sebaliknya, rata-rata pengeluaran rumah tangga selama bulan Ramadhan menjadi lebih besar dari bulan-bulan biasa - Ini disebabkan pola konsumsi yang cenderung "dimewahkan" khususnya untuk konsumsi berbuka puasa. Walaupun Rasulullah SAW berbuka puasa cukup dengan seteguk air dan beberapa butir buah korma.

Bandingkan dengan pola konsumsi rata-rata masyarakat Islam di Indonesia pada bulan Ramadhan. Untuk konsumsi berbuka puasa, ada kolak dan aneka kue, juga aneka minuman segar dan buah-buahan yang seolah menjadi keharusan. Celakanya, aneka menu tadi terkadang tidak disiapkan sendiri, dibeli ke pedagang kuliner yang membanjir jelang waktu berbuka.

Solusinya

Karena berharap pada pemerintah untuk mengendalikan harga kebutuhan pokok jelang dan selama Ramadhan hampir tidak mungkin. Masyarakat selaku konsumen - utamanya kaum Ibu - harus mengendalikan pola konsumsi, yang dapat dilakukan dengan cara:

Pertama, membuat batas (plafond) pengeluaran harian untuk konsumsi dan dijalankan secara konsisten. Persiapkan catatan pengeluaran harian untuk mengendalikan belanja konsumsi, sehingga kelebihan (surplus) belanja di hari tertentu dapat digunakan untuk menutupi kekurangan (defisit) belanja di hari yang lain.

Kedua, sebisa mungkin hindari berbelanja kuliner untuk konsumsi berbuka, upayakan agar semua menu untuk berbuka puasa disiapkan sendiri. Selain akan lebih hemat, juga ada peluang untuk berbagi pada jiran, tetangga, sekalian beramal sedekah.

Ketiga, hindari berbelanja kebutuhan pokok dalam jumlah banyak - menimbun - barang atas dorongan kecemasan ketiadaan barang. Sebab hal ini akan membuat pelaku pasar semakin berulah dalam menetapkan harga.

Selain tiga hal di atas, khusus para ulama dan tokoh masyarakat diharapkan lebih intensif mengajak masyarakat untuk menyiasati kenaikan harga kebutuhan pokok jelang dan selama Ramadhan. Lewat khutbah Jum"at, ajakan itu disampaikan oleh para khatib. Begitu juga lewat ceramah Ramadhan jelang sholat Tarawih oleh para ustadz atau tokoh masyarakat.

Dari uraian di atas, menyiasati kenaikan harga kebutuhan pokok jelang dan selama bulan Ramadhan tidak dapat sepenuhnya diharapkan dari peran pemerintah. Kendali diri dan perilaku konsumsi masyarakat selaku konsumenlah yang harus lebih disiasati. Sebab kenaikan harga terjadi saat permintaan meningkat, yang dipicu oleh peningkatan pola konsumsi masyarakat jelang dan selama bulan Ramadhan.

Terkait dengan itu, mari kita jadikan spirit Ramadhan - menahan diri - untuk mensiasati kenaikan harga kebutuhan pokok. Kendalikan pola konsumsi sesuai dengan spirit menahan diri, sehingga kebiasaan para spekulan menaikkan harga jelang dan selama bulan Ramadhan tidak kita rasakan sebagai beban. Bagi umat Islam, ini merupakan ujian menuju kemenangan yang kelak dirayakan pada akhir Ramadhan, 1 Syawal lewat momentum Idul Fitri. Semoga !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar