Senin, 16 Juli 2012

Impor Jagung Pengaruhi Harga Daging Ayam

JAKARTA. Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia, Don P Utoyo, mengatakan impor jagung mempengaruhi harga ayam dan telur di dalam negeri karena sebagian besar pakan ternak unggas itu masih bergantung pasokan dari luar negeri.

"Kami beli pakan ternak unggas impor karena produksi dalam negeri yang katanya cukup ternyata tidak ada dan kami terpaksa harus membeli secara impor," katanya di Jakarta, Senin (16/7).

Don P Utoyo menjelaskan pada beberapa waktu belakangan ini kondisi cuaca yang buruk terjadi di negara penghasil jagung, seperti Amerika Utara, sehingga pasokan berkurang dan mendongkrak naik harga jagung jenis "Genetic Modified Organism" (GMO) atau jagung rekayasa genetika.

Oleh karena itu, kata Utoyo, harga bibit ayam meningkat. Sebelumnya biaya produksi Rp3.500,00 menjadi Rp4.000,00 per ekor.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan jagung impor sebagai pakan bisa mencapai 50% dari kebutuhan pakan ayam di Indonesia.

Pada tahun 2011, Indonesia mengimpor jagung untuk pakan ayam sebanyak 3,3 juta ton dengan total kebutuhan jagung untuk pakan ayam se-Indonesia sekitar 7 juta ton.

"Pada semester I-2012 ini kami masih mengimpor juga sekitar 1-1,5 juta ton jagung yang berasal dari Amerika Utara, Brasil, dan India," katanya tanpa menjelaskan harga jagung impor.

Menurut Utoyo, data Kementerian Pertanian menjelaskan produksi jagung dalam negeri bisa mencapai 20 juta ton. Namun, produknya belum pasti.

Kemungkinan pada tahun 2012, lanjut dia, kebutuhan pakan ayam dari jagung bisa meningkat mejadi 7,5 juta ton dan peternak masih akan mengandalkan jagung impor.

Utoyo menilai 1 hektare ladang jagung GMO dapat menghasilkan sekitar 10 ton, sedangkan jagung lokal per hektarnya hanya 2 ton dan jagung hibrida menghasilkan 5 ton per hektare.

Selain harga pakan yang naik, Utoyo juga menjelaskan bahwa harga ayam dan telur yang naik pada waktu belakangan ini terjadi karena sebelumnya terdapat perebutan bibit ayam di kalangan peternak yang mengejar panen pada saat menjelang Hari Raya Idulfitri 1433 Hijriah.

"Harga naik juga dikarenakan peternak menghitung 30--35 hari harus panen pada waktu Lebaran maka mereka rebutan membeli bibit, dan terjadi kekurangan bibit ayam pada waktu sementara," kata Utoyo.

Namun, dia meyakinkan pada dua pekan ke depan harga bibit ayam turun kembali.

Menurut Utoyo, pada saat dua pekan dalam bulan puasa, pembelian bibit ayam biasanya akan menurun sekitar 5--10 persen dan pasca-Lebaran harga ayam akan normal kembali. (Ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar