Selasa, 23 Maret 2010

TEKNIK BUDIDAYA BAWANG MERAH

I. PENDAHULUAN

Bawang merah yang dalam bahasa latinnya : Allium cepa varietas ascalonicum merupakan salah satu jenis sayuran yang hanya dikomsumsi sebagai bumbu dapur untuk melezatkan makanan, sehingga lebih dikenal sebagaisayuran rempah”. bawang merah ini banyak ditanam di daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 10 – 250 meter di atas permukaan laut. Walaupun demikian tanaman ini dapat juga diusahakan di daerah pegunungan dengan ketinggian sampai 1200 meter di atas permukaan laut, hanya saja umbinya menjadi lebih kecil dan warnanya kurang mengkilat serta umurnya lebih panjang dibandingkan bila diusahakan di daerah dataran rendah.

Walaupun bawang merah hanya merupakan sayuran rempah yang berarti hanya diperlukan dalam jumlah sedikit, akan tetapi karena setiap orang menggemarinya dan hampir setiap makanan memerlukannya maka tidak mengherankan apabila bawang merah mempunyai peranan yang penting dalam dunia perdagangan.

Pada musim panen biasanya harganya relatif lebih murah, sebaliknya pada waktu di luar musim panen (off season) harganya cukup tinggi bahkan mencapai lebih dari sepuluh kalinya.

Akibat adanya fluktuasi harga bawang merah yang begitu menyolok, maka dapat mempengaruhi stabilitas pasar. Oleh karena itu pemerintah terus berupaya mempengaruhi keadaan tersebut dengan beberapa cara antara lain :
  • Mengadakan usaha pembibitan yang baik dan teratur
  • Menghasilkan varietas-varietas baru yang lebih unggul serta cocok diusahakan di daerah dataran rendah
  • Mengadakan penanaman di luar musim
  • Mengadakan usaha penyimpanan hasil yang baik untuk menampung hasil panen melimpah pada waktu panen raya
  • Melakukan usaha intensifikasi dan eksentifikasi dan lainnya

II. SYARAT TUMBUH

1. Tanah

Bawang merah lebih menyukai tanah yang subur , gembur dan banyak mengandung bahan organik. Tanah lempung berpasir atau lempung berdebu. Yang penting jenis tanah tersebut harus mempunyai struktur bergumpal dan keadaan air tanahnya tidak tergenang. Derajat kemasaman tanah atau pH yang baik adalah 5,5 – 6,5. Pada pH tanah yang asam (kurang dari 5,5) akan mengakibatkan pertumbuhan bawang akan kerdil karena garam Alluminium (Al) yang terlarut dalam tanahnya bersifat racun. Sebaliknya pada tanah basa (pH lebih dari 6,5) garam Mangan (Mn) tidak diserap tanaman sehingga umbi kecil dan tentu saja hasil panen berkurang.

2. Iklim

Pada umumnya tanaman bawang merah tidak tahan pada curah hujan yang lebat. Oleh karena itu sebaiknya diusahakan pada musim kemarau tetapi pengairan diperlukan. Tanaman bawang merah tidak menyukai daerah berkabut dan anginnya kencang, akan tetapi menyukai tiupan angin sepoi-sepoi. Pada musim hujan dan berkabut biasanya tanaman akan mengalami serangan penyakit yang berat.

Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan tanamna bawang merah antara 25 – 32 0C dengan iklim kering, hal ini hanya di dapat pada daerah dataran rendah. Tanaman bawang merah lebih menghendaki daerah yang terbuka dengan penyinaran kurang lebih 70 %. Apabila terlindung umbinya akan menjadi kecil. Sebetulnya tanaman bawang merah termasuk ke dalam golongan yang untuk pembentukan umbinya membutuhkan penyinaran hari panjang kurang lebih 14 jam sehari, akan tetapi toleran terhadap hari netral dengan panjang penyinaran 12 jam, walaupun umbinya lebih kecil dari pada bila ditanam di daerah yang hari penyinaran panjang.


III. CARA BERCOCOK TANAM

1. Pengolahan Tanah

Pengolahan perlu mendapat perhatian, karena banyak tanaman bawang merah gagal sebagai akibat pengolahan tanah yang kurang baik.
Pengolahan tanah mempunyai tujuan :
  • Menggemburkan tanah, hingga tanah mempunyai struktur bergumpal
  • Membuang rumput-rumput pengganggu
  • Membuat drainase yang baik
  • Menghilangkan gas yang bersifat racun sebagai akibat adanya kegiatan mikroba dalam tanah
Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada waktu tidak ada hujan yaitu 2 – 4 minggu sebelum tanam. Pada awal musim kemarau, keadaan tanahnya mulai kering dan keras, oleh karena itu pengolahan tanah dilakukan agak dalam sehingga terbentuk bongkahan. Bongkahan tanah diatur rapi sehingga berbentuk bedengan dengan lebar 100 – 120 cm, dan selokannya lebar 20 – 40 cm. Olahan tanah dibiarkan kering kemudian disiram air sedikit dan tanah bedengan diratakan. Satu minggu sebelum tanam diberikan pupuk kandang sebanyak 10 – 15 ton per hektar.

Satu hari sebelum tanam bedengan disiram sehingga cukup basah. Pembasahan pada bedengan dalam keadaan kering yang kurang cukup dapat menyebabkan pembusukan pada bibit yang baru ditanam.

2. Bibit

Bibit merupaka salah satu faktor yang menentukan keberhasilan penanaman. Bibit yang jelek, yang telah keriput, terlalu kecil dan lemah akan sulit menghasilkan umbi yang diharapkan. Bawang merah sendiri dapat diperbanyak dengan biji dan umbi, tetapi saat ini yang umum diperbanyak dengan umbi.

Umbi yang dapat digunakan untuk bibit haruslah :
  • Berat umbi 2,5 – 7,5 gram
  • Umur cukup tua di kebun yaitu 70 – 90 hari, tergantung juga pada varietas dan tinggi tempat bertanam
  • Tidak tercampur varietas lain
  • Sehat, tidak mengandung bibit penyakit dan hama
  • Tidak cacat, tidak luka dan tidak sobek
  • Telah mengalami masa masa istrahat atau penyimpanan 1 – 2 bulan tergantung varietas dantempat penyimpanan.
Sehari sebelum ditanam ujung umbi perlu dipotong sepanjang sepertiga bagian. Hal ini berguna untuk mendorong :
  • Umbi tumbuh merata
  • Banyak anakan yang terbentuk dan banyak daunnya
  • Umbi cepat tumbuh, karena ujung umbi bersifat menghambat pertumbuhan atau memperpendek masa istrahat umbi.
Berikut disajikan tabel hasil penelitian pemotongan ujung umbi terhadap hasil pada bawang kultivar Cipanas (dalam gram per umbi)

B i b i t Ukuran bibit (gram) Rata-rata Hasil
15 gram 20 gram 25 gram
Utuh 50,14 41,70 68,50 52,80
Ujung dipotong 96,28 73,95 85,75 85,01

Dari data tabel dapat dilihat bahwa pemotongan ujung umbi mempunyai pengaruh yang sangat positif dalam hal kenaikan produksi.

3. Penanaman

Penanaman dilakukan pada jarak 10 x 20 cm atau 20 x 20 cm tergantung pada ukuran bibit dan tempat bertanam. Di dataran tinggi biasanya ditanam dengan jarak tanam jarang sedangkan di dataran rendah ditanam dengan jarak tanam rapat.

Mula-mula dibuat lubang kecil dengan cara ditunggal kemudian umbi diletakkan dengan bagian ujung yang dipotong di atas dan tepat rata di permukaan tanah, selanjutnya umbi ditutup dengan tanah yang tipis. Penutupan umbi jangan terlalu tebal, karena dapat menyebabkan umbi tumbuh lambat dan terganggu. Setelah umbi selesai ditanam lebih baik disiram air supaya keadaan tanahnya menjadi lembab.

4. Pemupukan

Disamping pupuk kandang, perlu diberi juga pupuk buatan. Pupuk kandang sendiri mempunyai fungsi :
  • Menyuburkan tanah dan membuat struktur tanah bergumpal (remah) sehingga tanah tidakpadat.
  • Mengikat air, apabila kekurangan air pada musim kemarau dan melepaskan air apabila kelebihan air pada musim hujan.
  • Mendorong mikroorganisme yang berguna dalam tanah menjadi aktif kerjanya.
Oleh karena itu tanah yang subur pemberian pupuk kandang tidak sangat diperlukan. Akan tetapi pemberian pupuk buatan perlu diberikan agar umbinya besar dan berat.

Secara umum pupuk buatan yang diberikan terdiri dari : 100 – 120 kg N, 150 kg P2O5 dan 100 kg K2O per hektar. Pemupukan pupuk buatan yang direkomendasikan adalah :
  • Urea : 250 – 300 kg/ha diberikan setengahnya pada umur 2 mingggu dan setengah lagi pada umur 4 minggu setelah tanam
  • TSP : 100 – 250 kg/ha diberikan sekaligus pada umur 2 minggu setelah tanam
  • KCl : 20 – 75 kg/ha diberikan sekaligus pada umur 2 minggu setelah tanam
Pada tanah yang bersifat asam (pH dibawah 5) perlu ditambah dolomit, kapur tohor atau batu kapur yang telah dihaluskan sebanyak 1,5 – 2 ton/ha minimal 2 minggu sebelum tanam, supaya umbinya menjadi besar. Pupuk Nitrogen (Urea) dapat mendorong pembentukan umbi menjadi besar tetapi dapat pula menyebabkan kebusukan umbi bila diberikan berlebih.

5. Pengairan dan Penyiraman

Pengairan dapat meningkatkan produksi tetapi bila kelebihan dapat menyebabkan kebusukan umbisampai 13,18 % dibandingkan dengan non irigasi hanya 6,6 %. Oleh karena itu pengairan hanya diberikan selama pertumbuhan pertanaman dan pembentukan umbi. Setelah umbi besar mendekati tua pengairan tidak boleh diberikan lagi.

Di Indonesia pada umumnya bawang merah ditanam pada musim kemarau sehingga diperlukan pemberian air. Pemberian air yang menggenang kurang baik pada pertumbuhan bawang merah karena dapat menyebabkan kondisi tanah menjadi padat jadi sebaiknya dengan penyemprotan atau penyiraman. Penyiraman dilakukan sesuai dengan umur tanaman :
umur 0 - 10 hari : 2x / hari (pagi dan sore hari),
umur 11 - 35 hari : 1x / hari (sore hari),
umur 36 - 50 hari : 1x / hari (sore hari).

Pemberian air pada waktu pagi/siang hari kurang menguntungkan dibandingkan sore hari, karena akan banyak penguapan dan hanya sedikit yang diisap tanaman bawang merah.

6. Penyiangan

Penyiangan bertujuan untuk :
  • Menggemburkan tanah dan membetulkan bedengan rusak akibat pengairan atau hujan
  • Membersihkan rumput pengganggu yang dapat menjadi saingan bagi tanaman bawang merah tersebut.
Penyiangan harus dilakukan dengan hati-hati supaya akar tanaman bawang merah tidak rusak. Dilakukan 2 kali selama pertumbuhan yaitu 2 – 4 minggu dan 4 – 6 minggu setelah tanam. Sambil penyiangan dilakukan pemupukan buatan yang kedua (pupuk susulan).

7. Pengendalian Hama Penyakit Tanaman

Pengendalian HPT dilakukan bila perlu saja, yaitu bila terlihat gejala adanya serangga atau penyakit. Untuk pencegahan hama-penyakit usahakan pergiliran tanaman dengan jenis tanaman lain (bukan golongan bawang-bawangan). Untuk mengendalikannya disemprotkan insektisida, fungisida sesuai dosis yang dianjurkan atau mencabut tanaman dan membakarnya

Beberapa jenis hama dan penyakit pada tanaman bawang adalah :

a. Penyakit

Beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman bawang merah adalah :
  • Mati pucuk disebabkan oleh cendawan Phytophtora. Gejalanya : bintik kuning pada ujung daun kemudian meluas kebawah hingga ujung daun kering.
  • Busuk leher batang (bagian pada ujung umbi) disebabkan oleh Botrytis alii Munn (busuk abu-abu) dan Erwinia carotovora (busuk lunak). Gejalanya : busuk berwarna abu-abu dan busuk lunak
  • Bercak Ungu (menyerang daun) disebabkan oleh cendawan Alternaria porii. Gejala : mula-mula serangan bintik ungu, kemudian meluas membentuk lingkaran konsentris,makin jauh dari bintik sental, warna makin tipis menjadi abu-abu keputihan.
  • Penyakit embun (Downy mildew) disebabkan cendawan Perenospora destructor. Gejalanya : bintik-bintik pada daun dan biasanya diserang berat pada waktu suhu panaskemarau) turun hujan.
b. Hama

Hama yang sering meyerang tanaman bawang merah antara lain :
- Thrips tabaci
Gejalanya : daun berbintik-bintik pucat mengkilat seperti perak, hingga ujung daun terserang lalu mati. Serangan biasanya pada musim kemarau
- Ulat penggerek daun (Lapphygma exigua)
Gejalanya : ulat ini dapat melubangi daun sehingga daun putus atau terpotong
- Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
Gejalanya : ulat ini menyerang tanaman bawang dengan memotong leher batang tanaman muda.


IV. PANEN

Pemungutan hasil (panen) umbi bawang merah dilakukan setelah tanaman roboh, yakni 60 – 90 % leher batang lemas, yakni kira-kira berumur hari tergantung varietas, tempat bertanam dan kebutuhan. Di dataran tinggi (suhu 15 – 21 0C) pada umumnya umurnya lebih panjang karena pembentukan umbinya lambat, akan tetapi di dataran rendah (suhu 25 – 30 0C) pada umumnya umur lebih pendek, karena umbinya cepat terbentuk.

Untuk kebutuhan komsumsi biasanya umbi dipanen muda, yakni sewaktu daunnya masih hijau atau (60 – 70 %) batangnya lemas, sedangkan untuk bibit umumnya umbi dipanen tua (80 – 90 %) batangnya lemas. Umbi yang dipanen muda akan cepat menjadi keropos dalam penyimpanan, karena cepat terjadi penguapan sehingga berat umbi cepat menurun.

Panen hendaknya dilakukan pada saat keadaan tanahnya kering untuk mencegah serangan penyakit busuk umbi berlendir yang disebabkan oleh bekteri Erwinia carotovora dalam gudang penyimpanan. Caranya ialah umbi dicabut pada batang yang masih ada. Jika sukar karena tanahnya padat dapat digunakan alat pengorek. Kemudian umbi dibiarkan beberapa jam di atas bedengan dan selanjutnya umbi diikat pada batangnya. Tiap ikat beratnya berkisar antara 2 – 5 kg umbi atau tergantung kepada keinginan. Setelah itu umbi yang telah diikat-ikat diangkut ke tempat penjemuran supaya kering. Pemanenan dan pengangkutan harus dilakukan dengan hati-hati supaya umbi bawang merah tidak rusak.


V. PENGERINGAN DAN PENYIMPANAN

1. Pengeringan

Maksud penjemuran umbi bawang merah adalah menghilangkan air yang terkandung dalam kulit luar dan leher batang (bagian ujung umbi) supaya kering sedemikian rupa sehingga tidak menarik air keluar dari bagian umbi itu sendiri. Dengan demikian umbi tidak akan banyak kehilangan bobotnya dan tidak akan mengkerut/keropos serta sedikit sekali kemungkinan terserang penyakit busuk umbi selama dalam penyimpanan sehingga dapat disimpan lebih lama.
Disamping penjemuran sebetulnya masih ada suatu proses yang disebut pengeringan yang bertujuan untuk membantu perkembangan warna kulit bawang tersebut supaya mengkilat dan menarik, yakni dengan membentangkan umbi bawang pada suhu tinggi pada waktu tertentu.
Pengeringan sendiri dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Pengeringan tradisional
2. Pengeringan buatan

Pengeringan tradisional dilakukan dengan menjemur umbi bawang yang telah diikat di bawah sinar matahari pada alas anyaman bambu. Penjemuran dilakukan antara 1 – 2 minggu tergantung keadaan cuaca pada waktu penjemuran. Awalnya penjemuran dilakukan dengan umbinya dibawah dan daunnya di atas, kemudian setelah hampir kering dibalik umbinya di atas dan daunnya di atas, agar supaya warnanya menjadi baik. Pada penjemuran kedua ini dilakukan pembersihan umbi bawang dari tanah dan kotoran . Bila sudah cukup kering (kadar air kurang lebih 85%), umbi bawang merah siap dipasarkan atau disimpan di gudang.

Pengeringan secara buatan dapat dilakukan dengan panas dari kompor atau energi surya. Pengeringan secara tradisional memang lebih murah tetapi pada musim hujan penjemuran dengan cara ini sulit dilakukan dan lama keringnya, hingga warnanya tidak menarik dan kualitas rendah.

2. Penyimpanan

Pada umumnya petani menyimpan bawang merah yang telah kering dengan cara menggantungkan umbi-umbi tersebut di atas tungku di dapur, supaya mendapat asap udara kering. Dengan cara ini umbi bawang dapat disimpan sampai 6 bulan tanpa mengalami serangan penyakit busuk umbi.

Yang perlu diperhatikan selama penyimpana adalah agar supaya umbi bawang :
1. Tidak banyak kehilangan bobot
2. Tidak terserang penyakit busuk umbi
3. Tidak cepat bertunas/tumbuh

Dalam hal ini cara pengeringan sangat berpengaruh terhadap proses fisiologis dalam gudang. Umbi yang dikeringkan cara tradisional setelah disimpan dalam gudang akan kehilangan bobot sampai 15 %, sedangkan pengeringan cara buatan kehilangan bobotnya sampai 13 %. Kehilangan bobot semakin tinggi cepat apabila umbi dipungut masih muda yakni daunnya masih hijau dan belum melemas.
Umbi yang luka akan menyebabkan lebih cepat penguapan sehingga cepat kehilangan bobot dan mudah terserang penyakit busuk umbi dalam gudang.

Oleh karena itu agar umbi tahan lama dalam penyimpanan harus memenuhi beberapa persyaratan diantaranya adalah :
  1. Umbi dipungut cukup tua
  2. Umbi tidak terluka atau cacat
  3. Umbi cukup kering (kadar air 80 %)
  4. Suhu ruang penyimpanan antara 25 – 30 0C dengan kelembaban udara 70 – 80 %
  5. Sirkulasi udara (aerasi) dalam gudang/ruang penyimpanan cukup baik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar