Kamis, 19 September 2013

Pendataan Kerusakan Lahan Pertanian akibat Letusan Sinabung Belum Bisa Dilakukan


Medan. Pendataan komoditas pertanian di Kabupaten Karo akibat letusan Gunung Sinabung belum bisa dilakukan. Debu vulkanik yang kembali keluar dari dalam gunung menyulitkan petugas mencatat luasan pertanaman, tingkat kerusakan yang terkena debu vulkanik. Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian Sumatera Utara (Sumut), Yulizar mengungkapkan, sejak pertama kali Gunung Sinabung menyemburkan debu vulkanik, pihaknya sudah mulai melakukan pendataan kawasan-kawasan yang terkena debu vulkanik.

Namun, data yang diperoleh belum secara mendetail seperti luasan yang rusak, komoditas sayuran dan tingkat kerusakannya. "Kami sampai sekarang belum bisa mendata secara menyeluruh di lapangan karena ketika mau masuk ke lokasi, ternyata Sinabung kembali mengeluarkan debu vulkanik dan petugas tidak bisa memasukinya," katanya.

Sampai saat ini, kata dia, untuk radius 3 kilometer belum bisa dimasuki sehingga belum bisa mendata luasan lahan yang terdampak dan komoditas pertanian apa yang terkena debu vulkanik. Ia memperkirakan, jika kondisi meemungkinkan, hasil pendataan baru bisa dipublikasikan pada hari Jumat. "Untuk sementara ini, data belum bisa diinput," katanya.

Sebagaimana diketahui, Karo, khususnya yang berada di 4 kecamatan, yakni Namanteran, Simpang Empat, Tiganderket dan Payung merupakan kecamatan yang berdekatan dengan Gunung Sinabung dan menjadi sentra produksi sayur-sayuran dataran tinggi seperti kentang, bayam, kangkung, sawi, kol, tomat dan lain sebagainya yang dipasok ke Medan dan sekitarnya.

Dengan demikian, pendataan di lapangan berkaitan tingkat kerusakan dan luasan lahan yang terdampak debu vulkanik sangat penting dilakukan. "Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) juga sudah menanyakan ke kami tentang perkembangan sayur-sayuran di Karo, karena dampaknya pasti terasa di pasaran," katanya.

Kendala lainnya, kata dia, ketika melakukan pendataan, dinas-dinas terkait lebih fokus untuk mengevakuasi masyarakat yang masih berada di wilayah larangan. "Radius 3 km dari gunung tidak boleh dimasuki, jadi kita tunggu sampai akhir minggu ini," katanya.

Pantauan di pasar, pasokan sayuran-sayuran dari Karo mengalami penurunan dan untuk sementara ini masih dipasok dari beberapa sentra-sentra produksi sayuran dataran rendah seperti Medan Marelan ataupun dari daerah lain (MB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar