Jumat, 03 Mei 2013

Petani Kopi Tak Bisa Tentukan Harga

Medan. Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang banyak dibudidayakan masyarakat, khususnya di Desa Matiti 1, Kecamatan Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan. Dari kopi, seorang petani mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Begitupun, petani kopi kerap diombang-ambingkan harga pasar yang turun secara tiba-tiba. "Di sini (Dolok Sanggul-red) sebagian besar masyarakat punya kebun kopi," kata Limhok Simanulang ketika ditemui di ladang kopinya seluas setu hektare
Dikatakan Limhok, tanaman kopi di Desa Matiti yang umumnya berusia 5 - 15 tahun yang lalu ditanam di sekitar lahan bercampur dengan tanaman lain seperti kemenyan. Menurutnya, bertanam kopi bisa menjadi sumber pendapatan selain dari kemenyan.

Bahkan, kopi merupakan sumber mata pencaharian masyarakat yang tidak bisa dianggap sepele. Limhok mencontohkan, dari bertanam kopi dirinya bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana dari salah satu perguruan tinggi di Pematang Siantar.

Namun demikian yang menjadi kendala saat ini adalah harga jual kopi di tingkat petani yang kerapkali mengalami penurunan. Bahkan, kebanyakan masyarakat tidak mengetahui alasan penurunan harga jual kopi. "Kita tidak tahu alasannya kenapa harganya turun terus. Yang jelas, kami tak bisa menolak harga berapapun yang dipatok sama pengumpul," katanya.

Saat ini, kata dia, harga kopi di tingkat petani sebesar Rp 16.000 per kilogram. Harga tersebut cukup rendah dibanding harga setahun lalu yang mencapai Rp 30.000 per kilogram.
(dewaantoro)
Ia menilai, dengan harga Rp 16.000, petani kopi hanya mendapatkan keuntungan kecil. Padahal, untuk bisa memanen membutuhkan waktu 5 bulan dari bakal buah. Selain itu, hama penggerek batang juga menyulitkan petani lantaran serangannya bisa membuat bakal buah dan rantungnya berwarna hitam dan kemudian mengering. "Perawatan kita sederhana saja, jadi produksi juga tidak begitu besar," katanya.
, Kamis (2/5).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar