Selasa, 27 Agustus 2013

Petani Diimbau Waspadai Tingginya Curah Hujan

Medan. Petani khususnya hortikultura di Sumatera Utara (Sumut) diminta untuk waspada terhadap serangan hama dan penyakit seiring dengan tingginya curah hujan yang terjadi akhir-akhir ini. Hama dan penyakit tanaman akan bermunculan dan sulit dikendalikan.
“Imbauan ini juga sesuai dengan surat edaran dari Dirjen Hortikultura agar waspada menghadapi curah hujan yang tinggi. Komoditas hortikultura yang paling diberi perhatian khususnya cabai dan bawang karena kedua komoditas tersebut bisa memicu inflasi," kata Kepala UPT Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPT BPTPH) Sumut, Nurhijjah, Senin (26/8) di Medan.

Ia menjelaskan, periode April - Agustus yang cenderung merupakan musim kemarau basah kemudian dilanjutkan dengan curah hujan yang terus meningkat pada bulan September hingga akhir tahun, dapat memicu perkembangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Jenis OPT yang diperkirakan meningkat serangannya antara lain penyakit patek/antraknose, virus kuning, kutu kebul, lalat buah Thrip Aphid pada cabai dan ulat pada bawang, penggerek daun, Thrips, penyakit embun bulu, bercak ungu/trotol dan layu fusarium pada bawang.

Menurutnya, dengan kemunculan serangan hama tersebut, jika pengendaliannya terlambat akan berpengaruh terhadap produktivitas dan akhirnya bisa memicu inflasi.

"Sebagaimana kita tahu, kedua komoditas tersebut rentan terhadap serangan hama dan penanganannya harus cepat," katanya.

Nurhijjah menuturkan, untuk mencegah perkembangan hama dan penyakit, pihaknya akan terus melakukan pengawalan dan memaksimalkan kerja petugas di lapangan.
Selain itu, pihaknya juga akan melakukan gerakan pengendalian OPT serta menerapkan teknologi pengendalian OPT terbaru dengan tetap menggunakan prinsip Pengendalian Hama Terpadu dan ramah lingkungan seperti penggunaan lampu trap, feromon untuk mengendalikan ulat bawang dan ulat grayak.

Selain itu, pihaknya juga akan menggunakan lekat kuning untuk kutu kebul, penggorok, trips, aphid dan lalat buah. "Peran kelompok tani dan agens hayati harus dimaksimalkan khususnya untuk menerapkan teknologi spesifik lokasi misalnya penggunaan Trychoderma spp, pseudomonas fluorescens, plant growth dan mikoryza," tambahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar