Tampilkan postingan dengan label bibit hortikultura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bibit hortikultura. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2011

Tanah Karo Diharapkan Jadi Lumbung Pangan Nasional

Berastagi. Kabupaten Tanah Karo dikenal sebagai sentra pertanian bagi Sumatera Utara, khususnya tanaman hortikultura jenis sayur-sayuran dan buah-buahan. Ini menunjukan kalau kondisi tanah daerah wisata ini sangat subur. Karena itu, akan menjadi lebih baik lagi bila posisi Tanah Karo ditingkatkan statusnya dari sebagai sentra pertanian Sumatera Utara, menjadi lumbung pangan nasional.

Hal itu dikatakan Rektor Universitas Quality Hasfin Hardi SE MSi kepada sejumlah wartawan di Medan, Kamis (28/7). Didampingi Ketua Panitia wisuda yang juga Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Quality, Drs Eduard MSi, dan Ketua Yayasan Bukit Barisan Simalem Drs Tiandi Lukman, Hasfin Hardi mengatakan, cita-cita itu telah ia sampaikan saat mewisuda sekitar 200 mahasiswa Universitas Quality Tanah Karo menjadi sarjana dalam acara wisuda sarjana di Hotel Sibayak Beratagi, Selasa (26/7) lalu.

Acara wisuda itu, ujar Hasfin, dihadiri oleh Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Sumut - Aceh Prof Nawawiy Loebis yang diwakili oleh Syaiful Bahri, Wakil Bupati Karo, Dandim dan Kapolres. Selain wisudawan, ada juga orangtua wisudawan, dosen, mahasiswa, Menwa dan undangan lainnya.

Kata Hasfin, Kabupaten Karo merupakan kabupaten paling subur di Sumatera Utara, harus bisa dikelola dan diarahkan menjadi lumbung pangan, khususnya produk-produk hortikultura yang sangat dibutuhkan oleh daerah-daerah lain dan negara tetangga Indonesia.

"Meningkatkan posisi tawar petani di pasar juga bagian dari realisasi cita-cita tadi. Itu harus menjadi target utama melalui sejumlah perbaikan kualitas hasil dan pengolahan pertanian dengan baik. Universitas Quality melalui fakultas pertanian secara bertahap akan melakukan penyusupan dan turun langsung ke sentra-sentra produk unggulan," paparnya.

Sementara Ketua Yayasan Bukit Barisan Simalem Drs Tiandi Lukman menambahkan selain terkenal dengan tanahnya yang subur, Tanah Karo juga dikenal karena masyarakatnya memiliki kultur yang dinamis dan memiliki etos kerja pertanian yang sangat baik. Karena itu, ia menyebutkan hal ini perlu pemolesan dan pengelolaan berbagai pihak, termasuk para wisudawan dan wisudawati Universitas Quality, termasuk di antaranya dalam pengembangan sumberdaya manusia.

"Pengembangan SDM sangat erat kaitannya dengan pembangunan karakter. Itu sebabnya kita perlu berinvestasi jangka panjang dalam mendidik manusia yang pada akhirnya memberi manfaat bagi masyarakat," kata Tiandi Lukman. Lebih lanjut ia juga menyampaikan bahwa di masa depan Universitas Quality akan menambah fasilitas gedung, yang ditandai dengan pembangunan kampus baru Universitas Quality di Desa Lau Gumba, Kecamatan Berastagi. "Ini adalah salah satu bentuk komitmen yayasan dan universitas dalam membentuk SDM di Tanah Karo," ucapnya.

Ketua Panitia wisuda yang juga Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Quality, Drs Eduard MSi, menginformasikan bahwa jumlah wisudawan yang dilepas sebanyak 200 orang, terdiri dari tujuh orang dari Fakultas Pertanian, 35 orang Fakultas Ekonomi, 37 orang Fakultas Hukum, FKIP MM 40 orang, dan FKIP PPKN 81 orang.

Senin, 11 April 2011

Berita Pertanian : Produk Hortikultura Butuh Pasar Strategis


KATIBUNG. Produk pertanian, khususnya hortikultura, memerlukan tempat strategis sebagai pasar antara produsen dan pembeli potensial atau peminat agrobisnis. Hal itu dikatakan Kabid Pengelola dan Pemasaran Hasil (P2H), Faizal, dalam sosialisasi pengembangan subterminal agrobisinis dan terminal agrobisnis 2011 di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat, Kecamatan Katibung, Senin (11-4).

Peserta sosialisasi adalah para ketua kelompok tani se-Kecamatan Katibung dan dihadiri KUPT Dinas Pertanian setempat Herman Hendiana, Koordinator Penyuluh Surya Aruji, dan penyuluh pertanian lapangan se-Katibung.

Tempat strategis itu, kata Faizal, dapat berupa pasar tani atau subterminal agrobisnis dan terminal agrobisnis sebagai pasar induknya. "Pada lokasi pemasaran inilah berkembangnya transaksi agrobisnis berbasis informasi harga dan pasar dari berbagai pelaku agrobisnis, baik lokal maupun regional," kata dia.

Dia menambahkan tujuan kegiatan sosialisasi ini, antara lain adalah menumbuhkembangkan terminal agrobisnis dan subterminal agrobisnis di Lamsel sebagai wadah transaksi sehingga berdaya guna bagi gapoktan atau poktan, khususnya petani.

"Di samping itu, meningkatkan kualitas komoditas pertanian yang akan dipasarkan melalui grading house di terminal agrobisnis atau subterminal agrobisnis dan meningkatkan nilai tambah serta daya saing komoditas pertanian yang masuk ke lokasi tersebut," kata dia.

Sementara itu, Herman Hendiana menyampaikan harapannya agar para petani di wilayah ini siap mengikuti perkembangan agrobisnis yang akan dilaksanakan melalui subterminal agrobisnis.

Kamis, 24 Februari 2011

Berita pertanian : Indonesia Kembangkan Tanaman Buah Besar-besaran

Temanggung. Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Hasanudin Ibrahim mengatakan, Indonesia akan mengembangkan tanaman buah secara besar-besaran, khusunya untuk komoditas ekspor.
“Jenis tanaman yang akan dikembangkan adalah buah mangga, manggis, alpukat, dan jeruk keprok batu 55,” kata Hasanudin di Temanggung, Kamis (24/2).

Hasanudin mengatakan hal tersebut usai meninjau Festival Hortikultura Jawa Tengah di Subterminal Agribisnis Soropadan, Kabupaten Temanggung.

Menurut dia, pengembangan tanaman buah tersebut pada 2011 kurang dari 1.000 hektar, namun tahun 2012 akan mencapai ribuan hektar. "Untuk tahun ini masih sedikit, namun pada 2012 akan dikembangkan pada ribuan hektar, terutama di dataran tinggi," katanya.

Ia mengatakan, tujuan ekspor buah dari Indonesia, antara lain Malaysia, Singapura, Hongkong, Cina, dan Eropa. Pasar ekspor buah dan tanaman hortikultura dari Indonesia ke sejumlah negara di luar negeri masih terbuka lebar. "Cina dengan jumlah penduduk 1,3 miliar hanya bisa satu kali musim tanam. Hal ini merupakan potensi besar bagi Indonesia untuk mengekspor hasil hortikultura ke negara tersebut," katanya.

Selain empat jenis buah tersebut, katanya, Indonesia juga mengekspor jenis hortikultura lainnya, antara lain buah salak, pepaya, pisang, sayur-sayuran, tanaman hias, dan tanaman obat.

Menyinggung masuknya buah impor ke Indonesia, dia mengatakan, volumenya relatif kecil kecuali jeruk. "Untuk mengantisipasi masuknya buah impor maka perlu mengembangkan buah lokal," katanya. (ant)

Jumat, 04 Februari 2011

Berita Pertanian : Distan Karo Salurkan Bibit Hortikultura


Kabanjahe. Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Karo terus berupaya melakukan yang terbaik untuk para petani yang berada di bawah kaki Gunung Sinabung, terutama pasca letusan Gunung Sinabung lima bulan lalu.

Kepala Dinas Pertanian Nomi boru Sinuhaji, Rabu (2/2) mengatakan, upaya yang sudah mereka lakukan adalah pemberian racun rumput secara gratis kepada petani yang berada di empat kecamatan seperti Kecamatan Simpang Empat, Naman Teran, Payung, dan Kecamatan Tigan Derkat.

Adapun bantuan pestisida yang diberikan adalah jenis herbisida (racun rumput) sebanyak 6.154 liter atau senilai Rp 300 juta yang bersumber dari APBD Kabupaten Karo 2010. “Bantuan tersebut sebagian sudah disalurkan tinggal beberapa liter saja yang belum tersalur. Rancananya nanti kami berikan bersama bibit jagung bantuan dari pusat,” jelas Nomi.

Lebih lanjut dijelaskan Nomi, 2.000 liter pestisida telah dibagikan bersamaan bibit jagung sebanyak 13 ton kepada masyarakat desa Sigarang-garang, Kuta Gugung, Sukanalu Simalem dan Kuta Rakyat. Pembagian dilakukan melalui kelompok tani masing-masing. “Sisanya belum dibagikan karena menunggu bantuan bibit jagung. Petani juga bisa memilih bibit mana yang mau mereka tanam, apakah jagung, kentang atau bibit tomat. Jadi, tergantung kemauan para petani,” ujarnya.

Namun dalam penyaluran bibit ini Nomi mengakui, banyak kendala yang ditemui di lapangan, sehingga untuk menghindari salah sasaran pihaknya benar-benar menyeleksi para petani penerima. “Jangan nanti bibit yang kita berikan dijual pula dengan setengah harga,” kata Nomi. (MB)