Tampilkan postingan dengan label petani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

Petani Harus Mengetahui Perkembangan Harga

 
Bantul. Petani dididik  untuk mampu  membudidayakan tanaman serta mampu mengembangkan usaha bisnis. "Oleh sebab itu petani harus bisa mengetahui perkembangan harga untuk menentukan kapan akan menjual komoditas," kata staf Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Tomi Setiawan saat Bimbingan Teknis (Bimtek) pelaksanaan Sistem Resi Gudang di Gudang Komoditas Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (10/12).

Menurut Tomi, petani harus belajar bagaimana bisa melihat pergerakan harga komoditas yang terpantau saat ini dibanding harga sebelumnya, begitu juga membaca situasi di pasar kapan harga akan mengalami kenaikan. "Intinya petani bisa mengetahui informasi perkembangan harga, entah itu dari website, melalui pesan singkat (sms) maupun minta tolong kepada pengelola gudang komoditas bahkan dari pemerintah," katanya.

Ia mengatakan, jika petani mengetahui harga, maka bisa menjadi patokan untuk memulai melangkah dalam berbisnis, karena akan tahu hitung-hitungan keuntungan, sehingga bisa dihindari kerugian. "Dengan menyimpan komoditas di gudang SRG saat panen raya yang umumnya harganya rendah, kemudian menjualnya ketika harga tinggi, melalui resi gudang ini juga memudahkan jual-beli," katanya.

Ia juga mendorong, petani untuk berusaha secara berkelompok sehingga dapat meningkatkan efisiensi biaya dan posisi tawar petani tinggi.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul, Sahadi mengatakan, gudang komoditas SRG di Niten yang telah dibangun sejak 2007 sampai tahun ini fungsinya masih belum optimal.

Menurut dia, belum optimalnya fungsi gudang komoditas khususnya untuk gabah ini diketahui karena setiap tahun dari produksi gabah sebanyak 150.000 ton se Kabupaten Bantul, hanya sekitar 100.000 ton gabah yang tersimpan di gudang.

"Selebihnya atau sekitar 50.000 sampai 60.000 ton ke mana, kami memang belum tahu, tampaknya sosialisasi perlu ke petani langsung, " katanya. (ant)

Senin, 26 September 2011

Hari Tani: Membangun Kembali Kebanggaan Seorang Petani

Oleh : Prasasti Perangin-angin.

Kelahiran Undang Undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960 dimaknai sebagai Hari Tani Nasional (HTN). Tepatnya 24 September. Jadi tahun ini,@HTN sudah berumur 51 tahun yang selayaknya dimaknai sebagai hari rayanya kaum tani. Sebagaimana layaknya hari raya yang lain maka hari ini seharusnya menjadi peringatan tonggak suka citanya kaum tani di Indonesia. Namun pertanyaannya, apakah sukacita itu ada di dalam wajah Pak Tani kita hari ini?

Ada sebuah cerita dari seorang kakek berumur 67 tahun bernama Daldiri. Di dalam cerita itu kakek ini menuturkan keluh kesahnya sebagai seorang petani " Saya sampai tak bangga lagi kalau ada yang menyebut saya ini Pak Tani... (Kompas.com). Apa yang dirasakan kakek Daldiri barangkali hanyalah satu contoh betapa tidak membanggakannya hidup menjadi petani di negara ini. Di Hari Tani tahun inipun, kemiskinan, kesusahan atau golongan rendah masih identik dengan mereka. Hal ini seperti mau mengatakan tidak ada yang membanggakan dari seorang petani. Sehingga muncul kembali pertanyaan di dalam benak saya, bisakah hari tani tahun ini ada sebuah langkah awal untuk menumbuhkan kembali kebanggaan di dalam diri Pak Tani?

Menurut saya satu-satunya cara untuk membangun kembali kebanggaan petani adalah dengan memperbaiki kesejahteraan para petani. Petani yang hari ini identik dengan kemiskinan harus mengalami transformasi sesungguhnya yang menjadi akar kemiskinan para petani. Sekarang bagaimana membawa kesejahteraan bagi para petani yang miskin itu?

Hal pertama adalah transpormasi faktor internal para petani. Kebanggaan menjadi seorang tani akan tumbuh tidak lain dan bukan harus ditumbuhkan oleh petani itu sendiri. Saya melihat budaya malas bekerja keras masih dominan di dalam kehidupan para petani. Saya pernah mendengar bahwa sering sekali para petani akan berhenti bekerja setelah masa panen selesai. Sehingga yang terjadi adalah hasil panen akan habis untuk memenuhi kebutuhan hidup semata. Padahal jika setelah panen para petani tersebut mengusahakan tanaman lain sebelum masa tanam utama tiba tentunya akan memberikan pemasukan yang lebih banyak kepada petani. Atau sebagai contoh, seorang buruh tani di Tanah Karo yang dapat menerima upah harian seorang buruh tani berkisar 40-60 ribu per hari. Kalau saja ia bekerja enam kali seminggu maka sebenarnya ia akan mendapatkan penghasilan sebesar sekitar 1 jutaan per bulan. Dan itu sebenarnya tidak tergolong miskin, karena berpenghasilan di atas 20 ribu per hari. Namun karena budaya malas dan merasa sudah cukup untuk makan, maka terkadang lebih sering buruh tani hanya bekerja beberapa hari seminggu. Ibaratnya setelah habis uang dulu baru bekerja kembali.

Peningkatan Etos Kerja

Hal inilah yang harus diubah di dalam diri para petani kita hari ini. Hari tani seharusnya memberikan hikmat dan perenungan terhadap peningkatan etos kerja. Peningkatan terhadap semangat kerja keras. Karena tanpa kerja keras dari diri petani itu sendiri, maka kemiskinan akan tetap identik dengan hidup petani. Dan menurut saya itu yang menjadi kunci kesuksesan para petani di Tanah Karo. Kalau kita melihat para ibu rumah tangga sendiripun harus bekerja keras diladang. Kalau hari biasa kecuali hari minggu maka akan sulit kita temui para ibu rumah tangga di rumah karena pada umumnya mereka bekerja diladang.

Faktor yang kedua adalah faktor eksternal. Perhatian pemerintah untuk mencabut akar kemiskinan di dalam tubuh para petani mutlak dibutuhkan. Perhatian itu harus dilakukan dengan investasi pertanian. Sebagaimana yang disarankan dan dorongan Bank dunia agar negara berkembang mencanangkan untuk mengadakan investasi pertanian untuk mengentaskan kemiskinan. Namun sayang seribu kali sayang hal ini rasanya sulit terwujud.

Investasi pertanian tidak dapat dilakukan disebabkan kurang memadai infrastruktur pertanian. Kalau dulu kita mendengar ada pembanguan irigasi air untuk mendistribusikan perairan untuk pertanian, namun sekarang infrastuktur apa yang dicanangkan pemerintah untuk memajukan para petani? Hampir tidak pernah terdengar. Perbaikan jalan dan transportasi juga masih jalan ditempat sehingga hal ini mengganggu produktivitas hasil pertanian dan distribusi sehingga margin biaya distribusi tinggi. Jalan ke desa-desa rusak berat dan bahkan di banyak desa harus dilalui dengan kendaraan gerdang dua. Kondisi ini sama dengan emencekikf leher para petani karena ongkos distribusi pertanian yang sangat besar. Sehingga kalau kita sederhanakan saja yang diharapakan petani di hari tani ini, yakni perbaiki infrastruktur jalan.

Begitu juga dengan harga pupuk dan pestisida. Pemerintah harus memberikan kebijakan yang berpihak kepada para petani. Memang benar terdengar kabar pupuk subsidi. Tetapi sering sekali pupuk subsidi itu tidak sampai ke tangan petani karena pengaruh kongkalikong para pengusaha dan penguasa. Di tambah lagi para petani yang harus menghadapi sendiri kalau terjadi hama. Seperti yang dialami petani jeruk di Tanah Karo akhir-akhir ini. Ketika hama buah menyerang petani jeruk, apa peran pemerintah untuk bersama-sama dengan petani menanggulangi hal itu? Tidak ada. Petani harus berjuang sendiri. Mereka harus mengeluarkan biaya pemeliharan yang lebih besar dengan membeli pestisida yang harganya selangit, yang sebenarnya juga tidak menjamin hama buah akan teratasi. Kalau harga pemeliharaan selangit ditambah lagi harga komoditas pertanian murah maka benarlah petani akan mati suri. Jadi kepada pemerintah investasi dibidang penanggulangan hama juga mendesak untuk diperhatikan pemerintah. Perlu diaktifkan pusat kajian dan laboratorium penanggulangan hama di dinas-dinas pertanian. Jangan biarkan petani menderita sendiri terhadap serangan hama tak kenal ampun itu.

Jadi kalau ada peningkatan etos kerja dan investasi pertanian dari pemerintah, niscaya kemiskinan yang hari ke hari semakin melekat di dalam hidup mereka akan terkikis setahap demi setahap. Dengan demikian sebagaimana seharusnya, seorang Pak Tani di negeri ini juga memiliki sukacita dan kebanggaan bisa terjadi. Setidaknya diawali melalui hari tani ini. Selamat Hari Tani.

Penulis adalah anak petani dan bangga Menjadi Anak Petani.

Rabu, 04 Mei 2011

Mungkinkah Petani Hidup Sejahtera di Negeri Ini?

Oleh : Jhon Riaman Purba, SP

Saya yakin pasti kita boleh berbangga hati menjadi warga negara Indonesia. Karena negeri ini di anugerahkan Tuhan Yang Maha Pencipta dengan segala kekayaan yang luar biasa, mulai dari kekayaan budaya, laut, keindahan alam dan tanah yang subur.

Tentunya membicarakan mengenai kakayaan kita, pasti banyak yang akan dibahas karena kekayaan yang ada berbanding terbalik terhadap fakta yang ada. Dimana, kekayaan yang ada tidak membawa kamakmuran bagi rakyat Indonesia. Khususnya untuk ini, saya membicarakan mengenai petani.

Petani dalam buku A.T.Mosher dalam "Pembangunan Pertanian" mengatakan petani adalah mereka yang terlibat dalam kegiatan usahatani. Jadi di Indonesia rakyat hidup sebagai petani sebanyak 60 % dan sektor pertanianlah yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Kehidupan petani di negeri ini semakin sulit sulit rasanya untuk hidup layak.

Menurut perkiraan BPS Tahun 2010 jumlah rakyat miskin sebanyak 31 Juta jiwa dan terbanyak jumlah yang miskin itu adalah petani, khususnya petani yang bergerak di bidang pangan dalam artian kemiskinan itu sekarang lebih banyak di desa.

Kita boleh mengingat tahun 1980an, menjadi petani adalah kebanggaan, makanya dulu ada istilah "petani berdasi" tetapi sekarang menjadi petani adalah mereka yang dekat dengan kemiskinan. Pertama, petani Indonesia memang masih rendah tingkat sumber daya manusianya, apalagi kondisi sekarang usia produktif petani sedikit yang bergerak bidang pertanian, karena generasi muda (tenaga kerja produktif) tidak banyak bergerak dibidang pertaniaan, lebih banyak bekerja di bidang Industri atau jasa.

Rasio Pendapatan Lebih Tinggi di Bidang Non Pertanian

Karena rasio pendapatan lebih tinggi di bidang non pertanian dari pada pertanian, tingkat produktivitas tenaga kerja di bidang pertanian yang paling rendah dibandingkan sektor yang lain. Rendahnya tingkat sumber daya petani membuat mereka sulit mengembangkan inovasi baru dan akses informasi mengenai usahatani. Cara bertani yang terus diwariskan belum bisa menjadi acuan pengembangan usahatani, perubahan iklim dan kondisi lahan yang kritis dibutuhkan ekstra inovasi demi peningkatan produksi usahatani petani. Jadi tuntutan sumberdaya kompetitif petani urgen dibutuhkan sekali.

Kedua, terbatasnya lahan pertanian, lahan hal utama dalam pengembangan produksi pertanian, kepemilikan lahan pertanian sekarang rata-rata 0,6 ha atau indentik dengan petani gurem, hal ini mengacu kepada Undang Undang Agraria, dimana lahan yang sangat produktif dan berkualitas itu banyak dikuasai pemerintah dan pihak investor asing untuk tanaman perkebunan, contohnya: boleh kita lihat tanah milik PTPN IV yang ditanami tanaman perkebunan tanahnya rata dan dekat akses jalan sedangkan tanah yang dimiliki petani ditambah sempit dan juga bergelombang.

Jadi, pemberian lahan kepada petani harus menjadi orientasi bagi pemerintah. Ketiga. Ketersediaan informasi, minimnya informasi harga dan inovasi pertanian yang mudah dijangkau sangat sulit diperoleh, terkhusus informasi harga-harga produk pertanian dan komoditi yang bisa dikembangkan yang dibutuhkan oleh pasar.

Padahal era zaman sekarang erat dengan pengembangan informasi melalui kemajuan teknologi informasi, tetapi hal ini tidak menjadi momentum bagi petani untuk meningkatkan bergaining petani, khususnya mengenai harga komoditi di pasaran.

Dan terakhir kebijakan pemerintah yang kurang peduli terhadap petani, khususnya dukungan sarana produksi pertanian (sabprodi) bantuan untuk pupuk subsidi yang kurang jelas prosedurnya, pemberian bibit yang tidak berkualitas dan dukungan kredit dalam usahatani yang sangat berbelit-belit.

Dukungan untuk kebijakan khusus dalam organisir hargapun pemerintah tidak berpihak kepada petani, lebih mementingkan kehidupan konsumen daripada produsennya sendiri, kasihan hidup petani. Ketiga kondisi diatasd memaksa petani untuk tetap menjadi hidup tak wajar di negeri ini.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Kita boleh belajar bagaimana China mengembangkan pertanian yang dapat mengangkat kehidupan petani. China sekarang menjadi negara pertumbuhan ekonomi nomor dua di dunia mengeser posisi Jepang.

Memang keberhasilan China terakhir ini adalah karena mereka bekerja keras untuk menjadi yang terbaik, kemungkinan besar 10 tahun kedepan AS bisa bergeser posisinya. China juga masih banyak rakyat miskin, terutama mereka yang bekerja di pertanian.

Akhir-akhir ini pemerintah mengenjot mereka untuk bekerja di sektor Industri dan meningkatkan padat teknologi dibidang pertanian. Jadi orientasi mereka sebenarnya adalah sumber daya manusianya. Jadi yang pertama dan sangat urgen yang dilakukan pemerintah kita adalah orientasi program bergerak dari pedesaan, jadi yang harus dilakukan adalah peningkatan sumber daya manusia petani, mulai dari pelatihan-pelatihan bagi petani mengenai usahatani mereka, dalam artian ini harus menjadi program prioritas.

Sistim ini dapat di giatkan kembali oleh penyuluhan pertanian, dalam artian pemerintah menjamin satu desa didampingi oleh penyuluh, mereka bergerak menjadi mediator sekaligus menjadi pengawas program pemerintah pusat bagaimana aplikasi di pedesaan.

Kebijakaan ini bisa juga dibantu oleh Sarjana yang ada di pedesaaan untuk mendorong prinsip membangun desa melalui sarjana atau boleh kita terapkan seperti konsep yang digagas Anies Baswaden, Rektor Primbana yang mengkonsep " Indonesia Mengajar" dimana Sarjana di beri satu tahun mengajar di pedelamaan dengan konsep kearifan lokal, memang mereka terlebih harus ikut pelatihan sebelum terjun ke lapangan.

Antusias sarjana yang berminat sangat luar biasa, saya pikir mereka bukan mengejar gaji, tetapi sebuah beban sebagai kaum intelektual turut berpartisipasi dalam pembangunan bangsa. Dari antusias itu banyak yang berminat, berarti masih banyak generasi muda jiwa nasionalisme masih tinggi. Atau seperti gagasan dalam bidang peternakan " Sarjana Membangun Desa (SMD) "dimana menggerakan wirasausaha baru di desa yang nanti menjadi inovator untuk desa tersebut.

Kedua " Klinik Pertanian" petani harus memang "learning by doing" artinya petani tidak bisa banyak teori, tetapi langsung belajar apa yang diterangkan, klinik menyediakan segala kebutuhan petani mulai biro konsultasi penyakit dan obat yang diberi, demplot –demplot pengembangan berbagai jenis tanaman dan informasi mengenai harga pasar komoditi pertanian dan peluang komiditi yang bisa diunggulkan ke depan.

Konsep ini dimulai dulu tingkat kecamatan, dari kecamatan akan dikembangkan lagi yang akhirnya disetiap desa ada klinik-klinik pertanian.

Kita berharap pemerintah harus sangat serius memikirkan hal ini, kalau kita berharap mengurangi kemiskinan maka mulailah dari kemiskinan itu berada, artinya dari jumlah kemiskinan paling banyak adalah petani, terutama petani tanaman pangan dan hortikultura, maka mulai dari mereka. ***

Penulis pemerhati pertanian dan eksekutif GEPER (Gerakan Peduli Pertanian)

Selasa, 15 Maret 2011

Desa, Petani dan Kesejahteraan

Oleh : Sarwin Siregar, SE

Melihat kehidupan Petani , penulis teringat suatu tempat di Desa Paluh Manan Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang. Perkembangan desa yang cukup menggembirakan.

Setidaknya dalam tiga tahun terakhir. Jalan desa terbangun secara bertahap dan ada perkembangan yang cukup bermakna.

Desa Paluh Manan adalah salah satu dari 20 desa yang berada di Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Desa Paluh Manan terdiri dari 9 Dusun, 9 Rukun Warga dan 9 Rukun Tetangga dengan luas wilayah 16,57 km2 serta jumlah penduduk 3.189 jiwa. memiliki 3 Sekolah Dasar dan 3 Kilang Padi.

Jalan bantuan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Perdesaan tepat arah dan sasaran. Pembukaan jalan terus dilakukan oleh pemerintahan desa dibantu dengan masyarakat setempat. Dan ada dua dusun memperoleh penerangan berupa bantuan Listrik Tenaga Surya, yang dipasang disetiap rumah penduduk buat penerangan di malam hari. Dermaga tempat sandar perahu nelayan dan kapal boat dari arah Belawan menuju Dusun Paluh Manan pun telah terbangun, irigasi terjaga dan tertata.

Geliat perekonomian berkembang, Masyarakat menanam padi, sawit dan tanaman palawija. Sektor perikanan pun ikut tumbuh banyak tambak di sepanjang jalan ada ikan dan udang. Untuk mencapai Desa ini tidaklah sulit. Dari Simpang Kampung Lalang dapat ditempuh dengan kenderaan bermotor dengan jarak tempuh 1,5 jam, jalan cukup datar dan lancar. Yang arah Belawan dapat masuk lewat Simpang Kantor, terus menuju Pasar Hamparan Perak.

Kini tanda-tanda pembangunan sudah jelas terlihat. Rumah-rumah penduduk mulai ada peningkatan. Dinding tepas berganti batu-bata, lantai semen pun berubah menjadi keramik sungguh prestasi yang cukup bagus.

Hidup harus berubah begitu kata pepatah, perubahan kearah yang lebih baik adalah pengharapan. Mimpi adalah wujud khayal yang tak tersampaikan. Ketika pembangunan jalan desa dilaksanakan kesejahteraan mulai tergambar. Investor pun datang, tak perlu diundang. Lihat kami punya wilayah dan fasilitas. Keamanan dan persahabatan adalah komitmen, Desa pun tumbuh cepat bak cendawan dimusim hujan.

Konsep Pembangunan Medan-Binjai-Deli Serdang (Mebidang) yang diwacanakan diharapkan dapat membuka keterisolasian desa-desa yang ada di sekitarnya sehingga akan tercipta sinergi dan percepatan pembangunan agar dapat di rasakan oleh para petani di desa-desa sekitarnya karena kemudahan sarana transportasi untuk dapat meningkatkan daya saing.

Desa adalah sumber kehidupan dan inspirasi warga kota. Sektor Pertanian umumnya adalah sumber pendapatan dan penghasilan masyarakatnya. Tinggal bagaimana kita memaknai nya agar wilayah dan rakyatnya dapat lebih sejahtera.

Sarana transportasi berupa pembukaan dan pembangunan jalan desa adalah sebuah solusi untuk meningkatkan geliat perekonomian karena dengan pembukaan dan pembangunan jalan hasil bumi akan mudah terangkut dari desa keluar dan sebaliknya.

Petani selalu identik dengan kemiskinan terutama petani yang memiliki lahan yang kurang luas. Keterbatasan lahan akan membuat petani tidak maksimal memperoleh hasil sehingga akan berpengaruh terhadap pendapatan yang pada akhirnya kesejahteraan yang dicita-citakan tidak akan terwujud atau lekang ditelan zaman.

Walaupun belum memiliki koperasi namun karena jalan relatif cukup baik para pedagang datang membeli hasil bumi warga. Harga menjadi bersaing petani lebih diuntungkan. Karena harga hasil bumi yang cukup baik, Para Petani berusaha belajar cara bercocok tanam jenis tanaman yang lebih menguntungkan.

Pada saat ini para petani mulai mencoba untuk menanam pohon rimbang atau cempokak. Harga sangat relatif menggiurkan di lain sisi biaya perawatan rimbang cukup murah. Para petani bergairah, selalu pergi ke ladang untuk merawat tanaman.

Salah seorang Kepala Dusun bercerita kepada penulis dia mengatakan " Semenjak bertanam rimbang, aku tak pernah lagi berutang buat kebutuhan sehari-hari". Sungguh kemajuan yang sangat menggembirakan.

Bahwa dengan bertanam rimbang sebanyak 2000 pokok dengan harga bibit Rp 500 per bibit. Setelah 4 bulan kemudian sudah dapat menghasilkan rimbang sebanyak 100 kg per minggu dengan harga bervariasi berkisar Rp 6000- Rp 9.000 / Kg, hasil yang didapatkan cukup untuk kehidupan keluarga dan anak untuk sekolah.

Kesejahteraan yang diimpikan petani telah terlihat menuju arah mereka. Tinggal bagaimana pemerintahan daerah menjaga kondisi dan situasi yang baik agar selalu terjaga. Memberdayakan kemampuan ekonomi desa dan mencari solusi atas permasalahan jika petani terbentur akan akses pasar tempat menjual produk mereka.

Pembangunan jalan desa adalah cara yang tercepat untuk memajukan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Pembangunan jalan tidak harus selalu diaspal, tetapi dapat dimulai dengan membangun jalan tanah, jalan dengan hamparan sirtu (pasir batu) untuk kemudian secara bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan dan pembangunan untuk menuju pengaspalan jalan agar dapat dilalui kenderaan dengan mudah dan lebih cepat.

Jalan adalah urat nadi kehidupan, sebagai penggerak roda perekonomian. Jalan yang tersedia cukup di desa akan mempercepat dan mempermudah pengangkutan hasil bumi dari ladang menuju tempat pengumpul, sehingga banyak orang atau pedagang pengumpul datang untuk membeli hasil bumi warga. Dengan demikian tidak ada monopoli, harga akan bersaing. Dengan harga yang baik akan meningkatkan semangat petani untuk bercocok tanam.***

Penulis adalah Pemerhati Ekonomi dan Kebijakan Publik Semarang.

Senin, 14 Maret 2011

Berita Pertanian : Bulog Lebih Baik Beli Mahal dari Petani , Daripada Impor Beras


Jakarta. Perum Bulog harus berhenti melakukan impor beras. Lebih baik, Bulog membeli beras lebih mahal dari petani karena efeknya bagus untuk kesejahteraan petani yang masih buruk saat ini.

Anggota Komisi IV DPR Zuber Safawi mengatakan, DPR akan meminta payung hukum kepada pemerintah sehingga Bulog bisa membeli beras di atas patokan (Harga Pembelian Pemerintah/HPP) yang ditetapkan.

"Jadi target pengadaan beras Bulog sebesar 3,5 juta ton tahun ini seluruhnya berasal dari petani sendiri, bukan impor," kata Zuber dalam keterangannya, Sabtu (12/3).

Selama ini Bulog beralasan sulit menyerap beras dari petani karena HPP yang terlalu rendah yang ujungnya menyebabkan petani ogah menjual berasnya ke Bulog, tapi lebih memilih spekulan.

"Harus ada perbaikan soal penyerapan beras petani, indikatornya stok Bulog cukup dan tak perlu impor," kata Zuber.

Selain itu, Bulog diminta jemput bola langsung ke petani.

Karena selama ini, Bulog membeli beras dari pihak ketiga seperti tengkulak dan spekulan yang sudah pasti harganya tinggi.

Sebelumnya Pemerintah menetapkan HPP beras di 2011 tetap, artinya mengikuti HPP lama sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7/2009 tentang Kebijakan Perberasan.

Dalam Inpres tersebut, HPP beras adalah Rp 5.060 per kilogram, gabah kering giling (GKG) Rp 3.300 per kilogram, dan gabah kering panen (GKP) Rp 2.640 per kilogram.

HPP ini menjadi dasar bagi Bulog dalam melakukan pengadaan yang targetnya adalah 3,5 juta ton beras di 2011.