Tampilkan postingan dengan label hasil peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hasil peternakan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2011

Sentra susu Lembang: Desa Langansari, penghasil susu tertua di Bandung


Susu adalah satu dari sekian banyak minuman yang sering dikonsumsi manusia. Selain rasanya yang lezat, susu juga mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh manusia. Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil susu segar terbesar di dunia.

Kampung Suka Mulya, Desa Langansari Buka Negara, Kecamatan Lembang, menjadi salah satu desa penghasil susu terbesar di kawasan Bandung. Mayoritas penduduk di sini pun beternak sapi.

Memasuki kawasan Maribaya yang menjadi akses jalan utama menuju Desa Langansari, Buka Negara, suasana peternakan sapi sangat terasa. Sejauh mata memandang tampak hamparan lahan hijau dan sapi-sapi yang tengah asyik merumput.

Di Desa Langansari ini terdapat dua kelompok pemerah sapi. Dua kelompok itu dibedakan berdasarkan letak rumah mereka. Penduduk yang beternak sapi di bawah bukit disebut Peternak Sapi Bawah. Sedangkan, penduduk yang beternak sapi di area tanjakan ke arah bukit disebut sebagai Peternak Sapi Atas.

Ketika KONTAN menyusuri rumah-rumah penduduk yang beternak sapi di bawah bukit, dari luar, sudah terlihat beberapa sapi peliharaan penduduk. Para peternak sapi Langansari ini menempatkan sapi peliharaan mereka dalam satu kawasan di halaman rumah mereka.

Nunung Mulyana, peternak sapi setempat, menuturkan, selain untuk menghemat biaya, lokasi peternakan di halaman rumah supaya lebih mudah melakukan pengontrolan dan pemerahan susunya. “Kalau beda-beda tempat, takut sapi-sapi ini raib,” tutur lelaki yang tahun ini berusia 33 tahun.

Mereka membangun kandang sapi secara terbuka di pekarangan rumah. Nunung yang memiliki delapan sapi perah pun membangun kandang sapi berukuran 10 x 3 meter persis di sebelah rumahnya.

Menelisik sejarah Desa Langansari, sejak awal, penduduknya memang menggantungkan hidup dari beternak hewan. Minah Komalasari, peternak sapi perah, menceritakan, sekitar 20 tahun lalu, belum banyak masyarakat yang beternak sapi. “Kebanyakan mereka beternak kuda karena di Lembang terkenal sebagai kawasan wisata,” tuturnya.

Aan, suami Minah yang juga merintis peternakan sapi di Langansari, coba-coba beternak sapi. Selain merasa lingkungan desa itu cocok untuk beternak sapi, pakan yang menjadi modal utama beternak sapi juga mudah t diperoleh. Minah bersama sang suami dan adik iparnya pun bahu membahu membeli dua ekor sapi perah.

Masyarakat Desa Langansari memang turun temurun beternak sapi. Ada yang mendapatkan warisan dari keluarganya. Tapi tidak sedikit pula yang memulai sendiri usahanya.

Nunung, misalnya, meneruskan usaha sapi perah milik orang tuanya, selepas dari bangku SMA. "Usaha susu ini menggiurkan dan tak perlu keahlian khusus," katanya. Sejak kecil, Nunung memang sudah terbiasa membatu orang tuanya memelihara sapi.

Kini, ia pun menjabat sebagai ketua kelompok sapi Buka Negara yang menaungi 35 peternak sapi. Nunung menghitung, jumlah peternak sapi di Desa Langansari sendiri terbilang ratusan. Di desa Langansari, berdiam 300 kepala keluarga yang memelihara sapi perah.

Peternak kian banyak, pakan kian sulit

Kampung Suka Mulya Desa Langansari, Buka Negara, merupakan cikal bakal peternakan sapi perah rumahan. Mayoritas penduduknya beternak sapi perah. Namun banyaknya penduduk desa yang beternak sapi membuat pasokan pakan sapi makin sulit diperoleh dari sekitarnya.

Berada di bagian selatan kota Lembang dan dikelilingi Gunung Batu, Desa Langasari terbilang asri dan hijau. Banyak tanaman dan rumput hijau tumbuh di sekitar Gunung Batu ini.

Tak heran, bercocok tanam dan beternak menjadi sumber penghidupan bagi masarakat di desa yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat kota Lembang ini. Alam menyediakan semua kebutuhan hidup mereka.

Sejak tahun 1990-an, peternak sapi perah terus bertambah. Beternak sapi, menurut masyarakat setempat adalah usaha yang tak sulit dan menghasilkan uang yang cukup banyak.

Asep Mulyana, peternak sapi perah setempat, menuturkan, beternak sapi perah tak perlu keahlian khusus. "Yang penting telaten dan fokus merawat sapi, niscaya, sapi akan menghasilkan susu yang bagus," kata Asep yang telah 15 tahun beternak sapi.

Alasan lain atas keputusannya beternak sapi di tahun 1995, karena usaha ini tak butuh modal besar. "Dulu sih yang penting punya sapi dulu, urusan pakan gampang karena di sekitar sini banyak rumput," ujarnya. Urusan kandang juga tak membutuhkan biaya besar. "Asal beratap untuk melindungi sapi dari hujan serta memilik bak untuk tempat pakan sapi juga sudah cukup," lanjutnya.

Namun kondisi tersebut ternyata tak langgeng. Kini, Asep kesulitan mendapatkan pakan berupa rumput hijau segar. "Makin banyak orang yang beternak sapi, sehingga cari rumput bagus jadi sulit," keluhnya. Selain itu, tanah di desanya juga banyak dijual dan di atasnya dibangun vila oleh pemilik baru.

Nunung Mulyana, yang mewarisi ternak sapi dari orang tuanya, menambahkan, sejak lima tahun terakhir, ia kesulitan mendapatkan pakan berupa rumput segar di sekitar rumahnya. "Sekarang saya harus pesan rumput ke Subang dan Purwakarta. Karena disini sudah tidak ada rumput," tutur Nunung.

Minah Komalasari juga terpaksa membeli rumput segar dan jerami ke beberapa pengepul. Setiap dua minggu sekali, Minah akan memesan pakan sapi itu satu mobil pick-up. Untuk memberi makan 12 sapinya, Minah pun harus mengeluarkan uang sebesar Rp 350.000. Sayangnya, harga pakan yang kian mahal tak berimbas pada harga susu yang mereka jual.

Namun, para peternak ini tak kehilangan akal. Untuk menutupi kebutuhan sapi berupa rumput hijau yang selalu mengalami kenaikan harga, mereka memberikan tambahan makanan seperti dedak, onggok, dan mako alias makanan konsentrat.

Mako memiliki kandungan nutrisi yang dibutuhkan untuk sapi. Jenis makanan ini diyakini dapat membuat produktivitas sapi lebih tinggi. Selain itu, kandungan susu pada sapi pun lebih bagus. "Tapi terlalu banyak diberi mako juga tidak bagus karena sapi akan kembung," terang Nunung.

Jika sapi sudah terlihat kembung, Nunung pun langsung memberhentikan pemberian mako dan menggantinya dengan pakan rumput hijau. "Saya akan memberi mereka rumput secara terus-menerus selama dua minggu," terang Nunung.

Untuk menjaga stamina sapi tetap fit, Nunung juga mengatur pola pakan sapinya. Ia akan memberikan rumput hijau dengan porsi 70%. Sisanya, ia menyajikan campuran dedak atau mako sebagai santapan si sapi. (kontan)

Selasa, 03 Mei 2011

Berita Pertanian : Sapi dan Kerbau Disensus di Sumatera Barat












Padang
. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat menerjunkan sebanyak 1.600 petugas untuk menyensus sapi dan kerbau pada 1-30 Juni 2011.

"Pendataan dilakukan sebagai dasar kebijakan peternakan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan peternak yang lebih baik," kata Kepala BPS Sumbar, Muchsin Ayub, di Padang, Selasa.

Ia menjelaskan tentang perlunya data dasar jumlah sapi potong, sapi perah, dan kerbau pada 2011.

Pemerintah telah menetapkan target swasembada daging sapi dan kerbau sebesar 420 ribu ton pada 2014.

"Namun selama ini pemerintah belum memiliki data dasar yang memadai tentang jumlah ternak sehingga perencanaan pengembangan kesejahteraan peternak masih terkendala," katanya.

Ia mengatakan, pada sensus tersebut akan diperoleh jumlah ternak sapi potong menurut umur, jenis kelamin, dan rumpun ternak.

Selain itu, katanya, diketahui posisi stok sapi potong, sapi perah, dan kerbau dalam negeri untuk mengurangi impor, serta terdata seluruh rumah tangga atau unit usaha pemeliharaan sapi dan kerbau, termasuk ternak di tingkat pedagang.

"Pada akhirnya terbangunnya data dasar berdasar nama dan alamat peternak sapi dan kerbau yang lengkap, akurat dan mutakhir," katanya.

Ia mengatakan, sensus tersebut dilakukan petugas secara gratis.

Ia menjelaskan tentang pendataan yang mencakup pemeliharaan sapi potong, sapi perah, dan kerbau untuk pengembangbiakan, penggemukkan, dan pembibitan ternak itu.

Selain itu, katanya, usaha perdagangan sapi potong atau kerbau baik oleh kalangan rumah tangga, perusahaan, maupun unit usaha lain seperti rumah potong hewan, asrama, pesantren, dan unit pelaksana teknis terkait lainnya.

Senin, 25 April 2011

Peluang Usaha pertanian : Manisnya Laba dari Ternak Jangkrik



Tak usah banyak-banyak, hanya dengan memiliki sepuluh kotak saja dengan masing-masing kotak bisa menghasilkan lima hingga tujuh kilogram jangkrik, Tama bisa mengantongi laba sebanyak Rp 3,5 juta dalam sekali panen. Dengan asumsi harga jual jangkrik antara Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per kilogramnya. Laba yang luar biasa dari binatang kecil yang selama ini nyaris tak tersentuh pebisnis.
Ribuan jangkrik muda berlompatan di kandangnya. Hewan yang kini banyak dikembangkan ini saling berebut sayuran sawi hijau yang diberikan si peternak.

"Sebagian jangkrik ini baru menetas dari telurnya dan dalam usia 40 hari ke depan siap untuk panen dan dipasarkan," ujar Tama, peternak jangkrik mengawali obrolannya dengan MedanBisnis, di lokasi peternakan jangkriknya di Jalan Beringin Desa Tembung Kabupaten Deliserdang.

Bagi pria yang baru berusia 20 tahun ini, awalnya beternak jangkrik merupakan kegiatan selingan untuk mencari kesibukan lain di rumah. Namun, dengan keuntungan yang lumayan besar, ia yang baru memulai membudidayakan jangkrik dalam empat bulan terakhir ini merasa tertantang untuk lebih serius menekuninya hingga mengembangkan lebih besar lagi.

Bayangkan saja, dengan memiliki sepuluh kotak dengan masing-masing kotak bisa menghasilkan lima hingga tujuh kilogram, dengan harga jual jangkrik Rp 45.000 hingga Rp 50.000 perkg nya, Tama bisa mengantongi uang sebanyak Rp 3.500.000 dalam sekali panen untuk semua kotak jangkrik.

"Untungnya sih lumayan juga. Masa panen jangkrik 40 hari dan bisa langsung dijual. Bahkan telur pun sangat banyak diminati dengan harga jual Rp 50.000 per ons nya," jelas Tama.

Sedangkan biaya produksi yang harus dikeluarkan dalam membudidayakan jangkrik atau dengan nama latinnya dikenal Liogryllus bimaculatus itu, dikatakan Tama tidaklah terlalu besar. Awalnya perlu membeli bibit jangkrik seharga Rp 500.000 perkg. Namun, untuk ukuran kotak yang dimilikinya yakni berukuran 2,40 meter x 60 meter, bibit yang digunakan hanya berkisar 2,5 ons. Dan kotak ukuran kecil 1,20 meter x 60 meter bibit hanya berkisar 1,5 ons saja.

Kemudian, peternak harus membuat kotak berbahan triplek yakni dengan biaya Rp 300.000 per kotak untuk ukuran besar dan setengah harga kotak ukuran kecil. Sarang atau kertas telur juga harus disiapkan yang digunakan sebagai tempat bersembunyinya jangkrik di dalam kotak. Kertas telur biasa yang dibeli di warung-warung atau grosir dengan harga Rp 100 per lembar.

Biasanya kertas telur yang digunakan sebanyak 48 lembar untuk kotak ukuran kecil. "Setelah kotak, kertas telur dan bibit disiapkan, kita juga harus menyediakan pakan jangkrik berupa sayur-sayuran hijau yang bisa dibeli di pasaran dalam 3 hari sekali dengan harga Rp 10.000 perkg nya. Sayuran yang biasa dibeli adalah sayuran yang tidak lagi laku dijual lagi. Tapi sebelum diberi pada jangkrik, sayur harus dicuci bersih agar terhindar dari sisa obat-obatan pestisida yang menempel pada sayur sehingga jangkrik dapat hidup sehat dan memiliki ketahanan tubuh lebih lama," ungkapnya.

Secara rinci, modal yang harus dikeluarkan bagi peternak jangkrik pemula seperti Tama dengan hanya memiliki 10 kotak, yang terdiri dari 3 kotak ukuran besar dan selebihnya ukuran kecil, hanya memerlukan biaya sebesar Rp 5 juta. Namun, selanjutnya jika sudah memiliki kotak, biaya produksi persekali panen dalam 40 hari, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu saja. "Modal tidak terlalu besar, ya pasti cara perawatan harus baik agar jangkrik mau berkembang dan bertelur sehat," ungkapnya.

Beternak jangkrik sangatlah mudah, sebab jangkrik hanya memakan sayur-sayuran juga pur. Jangkrik pun tumbuh besar dengan sendirinya, tinggal diletakkan di dalam kotak. Untuk melakukan panen 40 hari sekali. "Jika terlalu lama membiarkan jangkrik sampai besar, harga jual tidak ada. Biasanya jangkrik-jangkrik tersebut dijual untuk makanan burung, ikan arwana dan lain-lain. Untuk burung, suara kicauan burung bisa merdu setelah makan jangkrik, sebab jangkrik mengandung banyak protein," akunya.

Untuk pemasaran jangkriknya selama ini, Tama mengatakan permintaan sudah meluas baik dari Kota Medan, Sibolga, Siantar hingga ke Aceh. Permintaan jangkrik memang banyak, tapi bagi Tama dan teman-teman peternak lainnya yang tergabung dalam satu kelompok terdiri dari 10 peternak hanya dapat menghasilkan jangkri sebanyak 30 kg perminggu.

"Kalau diikuti permintaan bisa sampai 100 kg perhari, tapi kita tidak bisa kirim seharian. Kerja sama kita per kelompok dan jadwal angkut dan panen juga tidak bersamaan agar produksi tidak banjir. Ini cara agar harga jual tidak jatuh," pungkasnya.

Kesuksesan Tama membudidayakan jangkrik ini, juga diikuti oleh Putra. Pria berusia 33 tahun ini mulai mengembangkan usaha ternak jangkrik di Jalan Amal Gang Bersama Desa Tembung Kabupaten Deliserdang. Dengan memiliki 11 kotak, ia berencana akan memperbesar usahanya menambah menjadi 25 kotak untuk beternak jangkrik.

"Saya baru satu bulan ini membudidayakan jangkrik. Jadi belum ada yang panen. Pekerjaan iseng, tapi sepertinya menguntungkan. Lagian cara perawatan tidak sulit dan modal juga tidak terlalu besar," tuturnya.

Dikatakannya, usaha budidaya jangkrik bisa menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan, baik sebagai usaha sampingan maupun usaha berskala besar. Apalagi setelah ditemukan adanya kandungan zat-zat penting yang sangat bermanfaat. Tidak hanya sebagai pakan burung kicauan dan ikan, tetapi juga sebagai bahan baku industri.

"Di samping itu, beternak jangkrik bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Semua orang bisa dengan mudah belajar beternak jangkrik," kata Putra.

Jangkrik merupakan serangga yang berkerabat dekat dengan belalang, memiliki tubuh rata dan antena panjang. Jangkrik adalah omnivora, dikenal dengan suaranya yang hanya dihasilkan oleh cengkerik jantan. Suara ini digunakan untuk menarik betina dan menolak jantan lainnya.
Suara cengkerik ini semakin keras dengan naiknya suhu sekitar. Di dunia dikenal sekitar 900 spesies cengkerik, termasuk di dalamnya adalah gangsir. Untuk jenis jangkrik, diketahui ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus. Keduanya untuk pakan ikan dan burung.

Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, di mana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek di samping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang.

Hewan bernama jangkrik ini lebih banyak sebagai salah satu bahan pakan ayam atau burung. Namun, banyak penelitian menyebutkan bahwa kandungan gizi dalam daging jangkrik ternyata bermanfaat bagi manusia. Kandungan proteinnya tiga kali lipat kandungan daging ayam, sapi dan udang.

Jangkrik juga mengandung protein omega 3, omega 6 dan omega 9 yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Selain itu, konsumsi jangkrik dipercaya dapat menambah stamina tubuh, menambah gairah seksual, serta mampu menunda menopause bagi wanita.

Berdasarkan penelitian Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto, kandungan proteinnya yang mencapai 57,32% (sesuai) membuat jangkrik layak untuk dikonsumsi manusia.

Jangkrik mengandung 105,49 ppm hormon progesteron dan 259,535 hormon esterogen. hormon itu diketahui baik untuk membangun vitalitas perempuan. Misalnya, bermanfaat untuk pertumbuhan sekunder serta kesuburan, di samping bisa mengurangi rasa nyeri saat menopause dan membuat siklus menstruasi lancar.

Jangkrik juga menghasilkan sumber energi 4,87 kalori per gram, jauh di atas bahan makanan lainnya. Data penelitian menyebutkan jangkrik memiliki senyawa kimia seperti asam amino yang dibutuhkan untuk proses pembentukan sel. Selain itu, jangkrik juga mengandung glutation (GSH) dan berfungsi sebagai antioksidan alami pada tubuh manusia.

Tak heran jika jangkrik kemudian marak dibudidayakan. Apalagi pada tahun 1998 ketika budidaya jangkrik dan cacing sedang booming. Saat ini, sebagian besar hasil budidaya jangkrik untuk pasokan pakan ternak.

Jangkrik adalah serangga kecil yang rajin bernyanyi, terutama pada malam hari sehabis hujan. Suaranya yang nyaring menimbulkan sensasi. Suara jangkrik akan semakin keras dengan naiknya suhu di sekitarnya.

Seiring dengan bertambahnya waktu, keberadaan jangkrik semakin terdesak dan sulit didapat karena habitat hidupnya semakin sempit. Saat ini orang ramai memelihara jangkrik bukan saja untuk didengarkan keindahan suaranya tetapi untuk keperluan ekonomi, karena harga jualnya yang semakin meningkat.

Tama yang sedang asyik membersihkan pasir sebagai wadah jangkrik bertelur ini, mengungkapkan membudidayakan binatang ini tidaklah terlalu sulit. Ada dua cara, yakni dari telur atau bibit indukan.
Untuk budidaya dari bibit telur, peternak bisa membelinya dari pedagang jangkrik. Namun memang tidak ada jaminan telur menetas semua, paling 70%, atau bahkan tidak menetas. Telur yang bagus berwarna putih atau kekuning-kuningan, tak ada flek hitam di tengah (tanda telur mati). Yang bengkok atau hitam semua, jelek. Kalau hitamnya hanya di ujung, telur itu sudah tua, mau menetas.

"Telurnya saja dijual dengan harga Rp 50.000 per ons. Kalau memang tidak mau terlalu sulit mengembangkannya dari indukan, dengan bibit telur juga sudah bisa menjadi pilihan membudidayakan jangkrik ini," katanya.

Dalam masa penetasan, telur yang sudah dibersihkan dari bak pasir, diletakkan pada kain lembab atau pelepah pisang. Telur menetas kurang lebih 8 hingga 10 hari sejak dipanen.

"Kelembaban udara sangat perlu diperhatikan. Kalau terlalu tinggi, telur bisa mati atau busuk karena terkena jamur. Demikian juga halnya jika kelembababan terlampau kering," katanya.

Untuk sarang bertelur, dalam kandang disediakan media pasir halus dalam wadah ceper (tatakan cangkir) dengan kedalaman 1,5 - 2 cm. Pasir dicuci bersih atau disangrai dulu. Jangkrik akan menusukkan "jarumnya" berulang-ulang ke dalam media pasir. Jumlah telur kira-kira 150 - 300 butir per ekor.

Setelah bertelur, jangkrik betina kehabisan energi dan 15 - 30 hari kemudian mati. Ada juga jangkrik betina yang kuat dan dapat kawin lagi setelah periode bertelur pertama. Hanya saja mutu telurnya kurang bagus.

"Dalam memanen telur dalam media pasir, perlu diayak dan telur akan tertinggal di ayakan," jelasnya sambil mencontohkan.

Anak-anak jangkrik yang baru menetas berwarna terang dan berubah menjadi hitam atau kecoklatan beberapa jam kemudian. Tunggu sampai 2 hingga 4 hari setelah menetas. Kalau telur belum juga habis, mungkin masih ada telur yang belum saatnya menetas, telur mati atau busuk.
Telur-telur yang sudah menetas, dapat langsung diberikan pakan yang di letak pada kotak.

Pakannya berupa sayuran-sayuran hijau seperti sawi, bayam, kangkung dan lainnya. Untuk anak jangkrik muda, pakan diberikan sehari sekali, pagi atau sore. Sebelum dikasih pakan baru, sisa pakan sebelumnya diangkat dulu.

Umur 30 - 40 hari, anak jangkrik tumbuh menjadi clondo atau dogolan (jangkrik muda). Clondo bisa dipanen dan dijual sebagai pakan burung dan ikan arwana. Kalau belum ingin menjual, clondo bisa terus dipelihara untuk dijadikan indukan. Kira-kira berumur 2 hingga 4 bulan. Indukan ini bisa dijual atau dijadikan bibit untuk menghasilkan telur.

"Kalau menjadi indukan, semuanya harus lengkap mulai dari antena, sayap dan tubuh tampak kuat. Selain itu bibit indukan yang bagus berpantat panjang, hitam atau coklat kehitaman, dan "jarumnya" juga sudah hitam," pungkasnya.

Sementara serangan hama dan penyakit pada jangkrik, dilanjutkan Tama, sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik. Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil, tikus, cicak, katak dan ular.

Cara pencegahan serangan hama dan penyakit ini, dapat melakukannya dengan menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik dapat diatasi dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak tanah atau mengoleskan minyak gemuk pada kaki kandang. "Karena hama dan penyakit dapat diatasi secara preventif, maka penyakit jangkrik dapat ditekan seminimum mungkin," tutur Tama

Rabu, 13 April 2011

Berita Pertanian : Harga Pasara Sapi Madura Anjlok








PAMEKASAN.Harga jual sapi Madura dalam tiga bulan terakhir ini anjlok di pasaran.

“Harga sapi turun hingga seratus persen,” kata pedagang sapi di Pasar Keppo, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Subahri, Kamis (14/4/2011).

Untuk sapi yang sebelumnya mencapai Rp3 juta, menurut Subahri saat ini hanya sekitar Rp1,5 juta per ekor.

Ia menjelaskan anjloknya harga sapi Madura di pasaran ini akibat musin panen tembakau di Pamekasan gagal. Biasanya, sambung Subahri, pada musim panen tembakau harga sapi naik.

“Tapi faktanya tidak seperti itu. Dan sampai sekarang masih tetap rendah,” ucap.

Anjloknya harga sapi ini tidak diimbangi dengan harga daging di pasaran. Sebab, meski harga sapi anjlok, harga daging tetap mahal, yakni Rp55 ribu perkilogram.

Senin, 11 April 2011

Integritas Ternak dan Pertanian



Pupuk kompos yang diproduksi Hasyim hingga saat ini masih tergolong kecil, berkisar tiga ton per bulan dengan merek Reksa. Sementara pemasarannya juga masih terbatas, selain lokal juga sebagian dipasarkan ke Aceh dengan harga jual Rp 1.000 per kg.

Produksi pupuk kompos itu masih bersumber dari kotoran padat sapi saja, sementara Hasyim juga sudah memproduksi pupuk cair organik dari ternak, baik sapi maupun domba. Yang tiap bulannya dapat memproduksi pupuk cair sebanyak 50 – 70 liter atau tergantung permintaan. Dan, tiap liternya pupuk cair organik itu dijualnya seharga Rp 10.000-an.

Namun, menurut Hasyim, permintaan akan urine sapi dan domba dalam bentuk segar artinya belum diolah sama sekali, cukup banyak. “Bisa mencapai ribuan liter untuk tiap kali pengambilan. Biasanya, urine segar tersebut dibeli oleh petani dari Kabupaten Karo seharga Rp 500 per liter,” katanya.

Dalam sehari domba yang dimiliki Hasyim sebanyak 48 ekor tersebut dapat menghasilkan urine sebanyak 10 – 15 liter. Inilah yang dikumpulkan Hasyim untuk selanjutnya diolah untuk pupuk cair organik dan sebagian lagi dijual dalam segar.

Mengenai proses pengolahan pupuk cair organik, menurut Hasyim tidak terlalu sulit bahkan bahan baku yang digunakan sangat mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Sebut saja, bawang putih dan daun sirsak. Kedua bahan tersebut dihaluskan kemudian disaring dan dicampur dengan urine.

Namun, sebelumnya urine ternak tersebut telah dicampur dengan Kom A yang fungsinya sama dengan EM4. Kemudian dilakukan fermentasi sekitar satu minggu. Untuk kemudian, pupuk siap digunakan. “Jadi, produk ini tidak hanya berfungsi sebagai pupuk saja tapi juga sebagai pestisida nabati,” jelasnya.

Menanggapi pengolahan dan penggunaan pupuk kompos dari kotoran ternak yang dilakukan Hasyim, Kepala Dinas Pertanian Sumut, M Roem melalui Kabid Pengelolaan Lahan, Air (PLA) dan Sarana Adam Brayun Nasution, sangat mengapresiasinya. Bahkan menurut Adam, petani lain harus bisa memberdayakan potensi yang ada untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan.

Apalagi pemerintah pusat telah mencanangkan pertanian Go Organik. Sehingga untuk menunjang program tersebut banyak bantuan yang telah diberikan pemerintah kepada petani, seperti pengadaan alat pengolahan pupuk organik (APPO) dan unit pengolahan pupuk organik (UPPO). Khusus untuk UPPO, di dalamnya ada pengadaan ternak sapi sebanyak 33 ekor yang diberikan kepada kelompok tani.

Dengan harapan, petani dapat memproduksi sendiri pupuk kompos dari kotoran sapi tersebut. “Yang jelas, pupuk kompos yang mereka produksi untuk dipakai sendiri pada tanaman padinya atau komoditas lainnya dan sisanya kalau memang ada dan memungkinkan untuk dipasarkan mengapa tidak. Dengan begitu, ada peningkatan pendapatan petani,” jelas Adam kepada MedanBisnis.

Terciptanya sinergi atau integritas antara peternakan dan pertanian memang sangat diharapkan, seperti yang dilakukan Hasyim dan petani lainnya. “Hasil pertaniannya bagus dalam hal ini ada peningkatan produksi dan penurunan biaya produksi dari pengurangan pemakaian pupuk anorganik yang akhirnya pendapatan petani meningkat. Bukan itu saja, petani juga bisa menjual pupuk kompos yang diproduksinya sendiri serta menjadi peternak,” ucapnya.

Adam juga sangat menyayangkan minimnya kemampuan dan kemauan petani dalam menggunakan pupuk organik. Petani masih tetap menginginkan produk yang instan dalam bercocok tanam. Padahal, sebagaimana diketahui harga pupuk anorganik di luar dari subsidi sangat mahal. Dan, yang lebih parah lagi kata Adam, kondisi tanah pertanian secara umum sudah mengalami degradasi.

Tanah sudah gersang dan tidak gembur lagi. Sehingga untuk merangsang kesuburan tanah, petani harus mengunakan pupuk dalam jumlah yang lebih. “Kondisi ini bukan membantu tingkat kesuburan tanah melainkan sebaliknya makin memperparah. Biaya produksi juga makin tinggi.

Kecuali, petani menggunakan pupuk organik, maka lambat laun tingkat kesuburan tanah makin baik, produksi pertanian makin tinggi dan yang paling penting lagi pendapatan petani makin bertambah,” terangnya.

Begitupun, pihaknya akan tetap menyosialisasikan penggunaan pupuk organik tersebut sehingga petani benar-benar mengerti dan memahami pentingnya penggunaan pupuk organik dalam pertanian serta bagi kesehatan manusia.

Hasyim yang hanya memiliki ternak sapi satu ekor saja namun memiliki domba sebanyak 48 ekor itu tidak mau menyerah begitu saja. Tiap hari ia mengangkut sekitar 100-an kilogram kotoran sapi dari rumah-rumah tetangga yang memiliki ternak sapi. Kotoran sapi dalam bentuk padat itu kemudian dimasukkan ke dalam kolam khusus yang memang sudah dirancang sedemikian rupa.
Ada empat kolam yang disediakan dan masing-masing kolam memiliki ukuran dan kedalaman yang berbeda tergantung kegunaannya. Kolam pertama yang sebagai penampungan kotoran sapi dibuat berukuran 2,5 x 4 meter persegi, kolam kedua 3 x 1,5 meter persegi, kolam ketiga berukuran 60 x 60 cm2 dan kolam terakhir berukuran 1,5 x 1 m2.

“Jadi, kotoran-kotoran sapi yang saya angkut sebanyak 100 kg itu saya masukkan ke dalam kolam pertama hingga penuh. Untuk selanjutnya akan terjadi pemisahan kotoran dan air yang memang mengandung gas. Cairan yang mengandung gas ini akan mengalir ke dalam bak satunya.

Begitulah selanjutnya, yang akhirnya gas yang dikeluarkan akan dialirkan melalui pipa hingga ke dalam rumah atau tempat yang akan kita gunakan untuk pemanfaatannya,” papar Hasyim.

Dari 100 kg kotoran sapi yang diangkut itu, gas yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk memasak selama tujuh jam non stop. “Itu kalau masakan kita banyak. Tapi kalau untuk skala rumah tangga dua atau tiga jam saja sudah cukup dalam sehari. Dan, sisanya bisa digunakan untuk keperluan memasak besok harinya atau kapan saja kita perlu,” ucapnya.

Sedangkan untuk pengadaan sarana tersebut investasi yang dikeluarkan menurut Ketua Kelompok Tani Bangun Tani ini berkisar Rp 14 jutaan. Namun, untungnya sarana yang digunakan Hasyim untuk menampung gas kotoran sapi tersebut merupakan bantuan dari Dinas Peternakan Sumut tahun 2008 lalu.

Begitupun, Hasyim mengaku alangkah indahnya bila sarana tersebut bisa juga dimanfaatkan peternak lainnya. Karena menurut Hasyim dengan investasi yang lumayan besar, gas yang dialirkan bisa dibagi ke warga atau tetangga lainnya. Hanya saja, pengaturannya harus dirancang sedemikian rupa antara kolam penampung kotoran dengan kandang ternak. “Antara kandang ternak dengan bak penampungan harus berdekatan, sehingga system kerjanya bisa lebih efektif,” ujarnya.

Sayangnya, Hasyim sendiri tidak memiliki ternak sapi yang memadai. Karena idealnya, untuk menghasilkan sekitar 100 kg kotoran sapi paling tidak harus ada sapi dewasa sekitar lima ekor. Sementara Hasyim sendiri hanya memiliki satu ekor sapi. Dan, untuk menghasilkan gas ia harus mengangkut kotoran sapi milik tetangga.

Karena itu, untuk melengkapi biogas yang dihasilkannya, ia berharap Dinas Pertanian baik Kabupaten Langkat maupun Propinsi Sumut dapat memberikan bantuan UPPO atau unit pengolahan pupuk organik yang di dalamnya ada pengadaan ternak sapi.

Memang, kata dia, dirinya pernah mendapat bantuan dari Dinas Pertanian berupa pengadaan rumah kompos satu unit, hand tractor dan alat mesin pertanian lainnya. “Tahun 2009-2010, saya memperoleh bantuan tersebut. Tapi, kalau masih dibolehkan, saya berharap ada bantuan UPPO diberikan guna melengkapi biogas yang saya hasilkan. Itu juga kalau ada dan boleh,” katanya tertawa namun penuh harap.

Hasyim lebih jauh mengatakan, ampas atau sisa kotoran sapi yang telah terbebas dari kandungan gas tadi dapat langsung digunakan sebagai pupuk kompos. “Jadi, kita tidak perlu repot lagi mengolahnya seperti biasa. Karena dengan sendirinya, kotoran yang sudah habis kandungan gasnya bisa langsung dijadikan pupuk,” ujarnya.

Rabu, 06 April 2011

Berita Pertanian : Jatah Impor Naik Menjadi 72.000 Ton








Jakarta. Pemerintah menambah kuota impor daging sapi pada 2011 dari rencana awal 50.000 ton menjadi 72.000 ton untuk mengantisipasi kekurangan pasokan daging sapi di masyarakat. Kenaikan ini dilakukan karena Kementerian Pertanian belum menemukan masalah rantai distribusi sapi yang menyebabkan harga daging sapi tinggi dan terkadang tidak tersedia di pasar.

Menteri Pertanian Suswono mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Rabu (6/4), usai menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas terkait isu pangan yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Menurut Suswono, data produksi sapi saat ini menunjukkan sebesar 12 juta ton. Angka itu seharusnya sudah menunjukkan bahwa Indonesia swasembada daging sapi sebab kebutuhan daging sapi Indonesia sendiri hanya mencapai 423.000 ton per tahun. Itu menunjukkan adanya kekacauan data.

”Atas dasar itu, kami sangat berharap ada data yang lengkap dari sensus ternak nasional pada Juni 2011. Bagaimanapun juga, Indonesia bisa dikatakan telah swasembada jika 90 persen kebutuhan di Indonesia telah terpenuhi dari pasokan domestik. Artinya, cukup hanya impor 10 persen dari kebutuhan daging. Kenyataannya, sekarang yang diimpor bisa mencapai 25 persen,” ujarnya.

Atas dasar itu, Suswono mengatakan, pemerintah telah menaikkan batas toleransi impor daging sapi tahun ini sebesar 22.000 ton. Hal itu menyebabkan kuota daging impor bertambah menjadi 72.000 ton.

Beberapa waktu lalu, terungkap penyelundupan impor daging sapi ilegal sebanyak 51 kontainer. Daging ilegal itu tidak dilengkapi surat izin impor atau yang disebut surat persetujuan pemasukan.

Kementerian Pertanian memutuskan memberikan sanksi kepada para importir dengan mengharuskan membawa keluar daging ilegal dari Indonesia.

Pada 2010, penyelundupan daging dan sapi bakalan juga pernah terjadi. Namun, saat itu daging ilegal dimanfaatkan untuk menambah pasokan pasar di dalam negeri. Akibatnya, harga sapi di tingkat peternak lokal jatuh.

Berita Pertanian : Peternak Diingatkan Waspadai Munculnya Kembali Flu Burung

Jakarta. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Bayu Krisnamurthi mengingatkan pelaku usaha peternakan unggas untuk mewaspadai munculnya kembali virus flu burung di Tanah Air.
Di beberapa negara yang terjadi dan dinyatakan bebas flu burung seperti Jepang ataupun Asia Tengah kini virus itu muncul kembali. Jadi, jngan sepelekan flu burung. Indonesia juga berisiko mengalami kejadian serupa bahkan di Gorontalo juga mengalami," kata ,” kata Wamentan di Jakarta, Rabu (6/4).

Bayu mengatakan, selama 2011 terjadi kasus flu burung pada unggas, Januari mencapai 136 kasus, kemudian meningkat menjadi 156 kasus pada Februari dan Maret kembali naik menjadi 307 kasus. Dari kasus flu burung tersebut, tambahnya, tercatat kematian unggas pada Januari sebanyak 8.315 ekor, Februari sempat turun menjadi 6.310 ekor dan Maret naik menjadi 17.471 ekor. "Serangan flu burung ini terbesar terjadi pada usaha peternakan sektor II dan III karena pengembangannya skala besar," katanya.

Selama periode yang sama pada 2010, menurut dia, kasus flu burung di Tanah Air terjadi sebanyak 284 pada Januari, kemudian naik menjadi 362 kasus pada Februari dan 159 kasus pada Maret. Selama tiga bulan pertama 2009, lanjutnya, untuk Januari sebanyak 195 kasus pada unggas, Februari 331 kasus dan Maret 337 kasus.

Pendorong kembali munculnya flu burung di Tanah Air, menurut Bayu, antara lain cuaca yang basah serta banjir di sejumlah daerah dan ketidaksempurnaan vaksinasi unggas. Meskipun demikian Wamentan menyatakan, munculnya virus flu burung pada unggas tersebut masih bersifat musiman atau terjadi pada saat-saat tertentu.

Untuk mengatasi merebaknya virus flu burung pada unggas, pihaknya melakukan berbagai upaya antara lain pertemuan rutin dengan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian untuk mendapatkan laporan perkembangan peternakan. "Selain itu juga melakukan kerja sama dengan jaringan dokter hewan seluruh Indonesia," katanya.

Bayu mengatakan, selama Maret 2011 kasus flu burung pada unggas terbanyak terjadi di Sumatera Barat, Riau, dan Jambi. "Namun demikian bukan berarti daerah yang tertinggi kasusnya adalah buruk, bisa jadi itu menunjukkan kegiatan survailansnya jalan," katanya. (ant)

Kamis, 31 Maret 2011

ENERGI ALTERNATIF BIOGAS. Tak Perlu Lagi Elpiji


Nyoman Suwena (40, kiri) memasukkan kotoran ternak sapinya ke reaktor biogas yang dibangun di rumahnya di Dusun Penyabangan, Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu (26/3). Biogas yang dihasilkan dapat digunakan untuk memasak selama empat jam lebih. Suwena pun kini tidak lagi membeli elpiji untuk memasak.

Oleh Herpin Dewanto

Andaikan harga elpiji atau minyak tanah terus melambung, Nyoman Suwena (40) tidak perlu waswas lagi. Selama ternaknya sehat dan menghasilkan banyak kotoran, ia selalu punya persediaan bahan bakar gratis untuk memasak.

Sudah enam bulan Suwena mengolah kotoran delapan sapinya untuk dijadikan biogas. Gas metan yang diperoleh dari kotoran ternak itu dialirkan ke rumah menggunakan pipa.

Setelah disambungkan ke kompor, biogas itu dapat digunakan untuk memasak hingga empat jam per hari, bahkan lebih.

Di Banjar atau Dusun Penyabangan, Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali, tempat tinggal Suwena, pengolahan energi alternatif berupa biogas sedang diminati. Sudah ada 44 keluarga dari total 145 keluarga di dusun yang sebagian besar memiliki ternak itu memanfaatkan biogas.

Pengolahan biogas yang dilakukan Suwena tak memerlukan peralatan yang rumit. Ia hanya membutuhkan kubah reaktor dari beton berukuran 10 meter kubik, lubang masuk (inlet) kotoran berdiameter 50 sentimeter dan tinggi 40 cm, pipa-pipa air, dan kompor khusus biogas.

Kotoran yang dihasilkan ternak dimasukkan melalui inlet dan dicampur air dengan perbandingan satu banding satu. Kotoran itu akan masuk ke kubah reaktor yang dibangun di dalam tanah untuk diambil gas metannya. Adapun ampas kotoran masih bisa diolah menjadi pupuk organik.

Biaya pembuatan sistem pengolahan biogas milik Suwena itu sekitar Rp 9 juta, sebanyak Rp 2 juta di antaranya sudah disubsidi oleh Biru (Biogas Rumah), yakni program pengadaan biogas. Program ini merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Belanda.

Kubah reaktor biogas di Dusun Penyabangan pada umumnya lebih kecil, rata-rata berukuran 4 meter kubik dan 6 meter kubik. Pembuatan kubah reaktor biogas seukuran itu hanya membutuhkan biaya Rp 5 juta-Rp 7 juta. Itu pun sudah termasuk subsidi dari Biru berupa barang seperti pipa, pengukur gas, dan kompor khusus biogas.

Sejak memakai biogas, Suwena tak lagi membeli tabung elpiji ukuran 12 kilogram untuk memasak. Biasanya ia membutuhkan dua tabung elpiji 12 kg setiap bulan dengan harga per tabung Rp 75.000.

”Saya punya cadangan satu tabung gas untuk jaga-jaga, tetapi sampai sekarang tidak pernah dipakai,” katanya, Sabtu (26/3).

Ni Ketut Murdi (39), pengguna biogas lain, juga tak lagi membutuhkan elpiji. Pasokan biogas yang diolah dari kotoran ternak babinya cukup untuk memasak lebih dari empat jam per hari. Sebagai pedagang bubur, ia membutuhkan dua kompor.

Di dekat kompornya ada alat pengukur volume gas. ”Kalau kompor saya matikan beberapa jam, gasnya bisa tambah lagi,” kata Ketut Murdi.

Bantuan kredit

Dusun Penyabangan merupakan daerah di Bali yang terbanyak memanfaatkan biogas. Berdasarkan data Biru, hingga akhir Maret 2011 sudah ada 71 keluarga di Pulau Bali yang memanfaatkan biogas, yaitu di Kabupaten Gianyar, Buleleng, Bangli, Tabanan, Badung, dan Klungkung.

Di Nusa Tenggara Barat (Pulau Lombok) sudah ada 81 unit biogas yang dibuat. ”Di Bali dan Lombok ini, kami menargetkan memasang hingga 600 unit biogas rumah tangga hingga 2012,” kata Koordinator Biru wilayah Bali dan Lombok I Gede Suarja.

Menurutnya, Bali sangat potensial untuk pengadaan biogas rumah tangga karena sebagian besar warganya hidup dari pertanian dan peternakan. Untuk menghasilkan biogas selama empat jam dibutuhkan sekitar 3-4 ternak sapi.

Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi kini adalah mempertahankan supaya ternak warga tetap utuh sebagai sumber daya energi. Koperasi Tani Amerta Nadi di Dusun Penyabangan pun meluncurkan program kredit bagi warga yang ingin membangun sistem biogas.

”Jangan sampai membangun biogas, tetapi menjual ternaknya, nanti dari mana bisa memperoleh kotoran ternak,” kata Manajer Koperasi Tani Amerta Nadi Nyoman Suardana.

Sejak diluncurkan pada Januari 2011 sudah ada enam warga yang memanfaatkan kredit itu. Setiap bulan mereka membayar angsuran Rp 320.000 per bulan selama 20 bulan dari dana yang diperoleh koperasi.

Koperasi itu kini juga berharap dapat bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengembangkan peternakan di dusun itu. Mereka tidak ingin program pengadaan biogas itu hanya menjadi seremonial belaka dan tidak berkelanjutan.

Rabu, 23 Maret 2011

Peluang Usaha Pertanian : Telus Asin Aneka Rasa

Nur Hidayat, salah satu perajin menunjukkan telur asin aneka rasa yang sudah dikemas dan siap dipasarkan hingga ke luar Jawa.

Beda dengan kebanyakan rasa telur asin pada umumnya, rasa telur asin aneka rasa ini tergantung dengan racikan bahan tambahannya. “Kalau udang, ya gurihnya rasa udang,” ucap Nur Hidayat (40), salah satu perajin telur asin aneka rasa, di Desa Kebonsari RT 5/W 1 Kecamatan Candi, Selasa (15/3).

Selain rasa udang, para perajin ini juga menyediakan produk telur asin dengan pilihan rasa ikan tengiri dan ikan salmon. Sama halnya dengan telur asin biasa, bahan baku telur asin aneka rasa ini berasal dari telur bebek. “Bedanya ya cara pengolahan dan tambahan bahan bakunya,” jelas Sulaiman (51), perajin lainnya, yang juga warga Kebonsari.

Yang membuat beda, telur asin aneka rasa ini rasa asinnya lebih menggigit jika dibandingkan dengan telur asin biasa. Keunggulan lainnya, produk ini tahan lebih lama. Jika kondisi normal, telur asin aneka rasa mampu bertahan hingga sebulan.

“Kalau telur asin biasa, ya paling lama 10 hari. Lebih dari itu tidak layak dikonsumsi,” sambung M Khoiron (44), perajin lainnya yang juga warga Kebonsari.

Tidak hanya rasanya, tampilan telur asin aneka rasa ini beda dengan telur asin biasa. Rata-rata tampilan luarnya berwarna coklat agak hitam. Seperti buah sawo yang sudah matang. Maklum selain dimatangkan dengan mesin oven, proses pembuatan telur asin aneka rasa ini juga dengan cara pengasapan dan penggorengan.

Lazimnya cara membuat telur asin, bahan baku telur bebek dipilah-pilah, terutama ukurannya agar produk tampak seragam. Telur bebek yang sudah disortir lalu dibersihkan. “Telur lalu dimasukkan dalam rendaman batu bata merah yang sudah dicampur dengan garam. Lama merendam bisa sampai 12 hari,” ujar Nur Hidayat.

Nah, proses selanjutnya inilah yang menghasilkan telur asin aneka rasa. Untuk membuat telur asin rasa udang, bahan baku telur bebek tadi dimasukkan ke dalam mesin oven, sekitar 3 jam. Dari proses inilah, muncul aroma rasa udang.

“Kalau rasa udang tidak perlu tambah bahan lain, kan telur ini dihasilkan dari bebek yang setiap harinya kami beri makan dengan campuran udang-udang kecil,” tambahnya.

Namun untuk membuat telur asin rasa kepiting, bahan campuran kepiting ditambahkan saat telur asin diproses dengan cara telur tersebut digoreng. Sedangkan telur asin biasa, prosesnya telur asin yang sudah direndam dengan garam, dimatangkan dengan cara dikukus dan diasapi. “Inilah yang membedakan produk kami dengan produk sejenis milik perajin lain,“ beber Sulaiman.

Tidak hanya di Sidoarjo dan sejumlah kota di Jawa Timur, gurih telur asin aneka rasa ini aromanya sudah menyebar hingga Jakarta, Bali, Kalimantan dan Sumatera. Rata-rata setiap perajin mengaku memproduksi telur asin aneka rasa ini sebanyak 600-700 butir/sehari.

“Kalau saya per hari membuat 650 butir telur asin dengan berbagai rasa,” cetus Sulaiman yang mengawali bisnis ini dengan menjadi peternak bebek pada 1997 silam. Dengan produksi sebanyak ini, omzet para perajin telur asin bisa mencapai kisaran Rp 36 juta per bulan.

Bapak dua anak ini bercerita, mayoritas perajin telur asin dulunya juga peternak bebek. Sebagian peternak itu kini juga nyambi menjadi perajin telur asin setelah hasil panen telur bebek melimpah ruah hingga memicu harga telur bebek anjlok. “Karena itu sejak tujuh tahun silam banyak yang meluaskan usahanya membuat telur asin,” urainya.

Menurut Nur Hidayat, karena beda rasa dan kualitas inilah, harga telur asin aneka rasa juga beda dengan telur asin biasa. Per butir telur asin aneka rasa ini, harganya dipatok Rp 2.500. Sedangkan telur asin biasa harganya antara Rp 1.600-Rp 1.800 per butir.

“Namun biasanya kami menjual dengan kemasan berisi 4 butir, sehingga harganya menjadi Rp 10.000,” ucap Nur, panggilan karib Nur Hidayat, yang membuka depot dengan menu utama serba bebek, seperti bebek goreng atau bebek rames.

Saat ini, ada sekitar 15 perajin yang menggeluti usaha pembuatan telur asin yang juga diantaranya memproduksi telur asin aneka rasa. Belasan warga ini tinggal di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi. Sedangkan peternak itik, jumlahnya mencapai 37 orang. “Makanya selain dikenal sebagai kampung bebek, Kebonsari juga disebut kampung telur asin,” katanya.

Nur menjelaskan, produk telur asin aneka rasa ini dipasarkan ke luar Jawa melalui beberapa warga yang khusus menjadi agen pemasaran. Tetapi tidak menutup kemungkinan, produk telur asin aneka rasa ini langsung dikulak para pedagang besar dengan cara datang langsung ke Desa Kebonsari. “Biasanya mereka orang Jakarta, yang juga kulakan produk lain ke Surabaya,” pungkasnya.

Selasa, 22 Maret 2011

Berita Pertanian : Ternak Unggas di Langkat Terserang Tetelo

Stabat. Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Langkat melalui Tim Participatory Diseases Surveillance and Response (PDSR) dan Petugas Kesehatan hewan (Keswan), tidak menemukan adanya virus flu burung pada ternak unggas yang ada di Desa Pematang Tengah, maupun di desa lainnya, di Kecamatan Tanjung Pura. Kematian ratusan unggas milik masyarakat tersebut diakibatkan serangan penyakit ND (tetelo) ataupun penyakit ayanan.

Kepala Dinas Peternakan M Tambeng, melaui Kabid Keswan Rahman, Senin (21/3) di ruang kerjanya di Stabat, mengatakan, kematian ternak unggas di Kecamatan Tanjung Pura itu bukan disebabkan virus flu burung melainkan penyakit ayam biasa (tetelo).

Begitupun, kata dia, petugas PDSR dan Keswan sudah memberikan obat pencegahan terhadap ayam yang masih sehat melalui penyemprotan desinfektan “Glucosep”. Obat itu di semprotkan di setiap kandang maupun pekarangan rumah (halaman) yang ada unggasnya. “Obat itu untuk membasmi virus, bakteri dan jamur,” ungkap Rahman.

Kepala Desa Pematang Tengah, Khaidar, mengaku dirinya kurang mengetahui persis ciri-ciri serangan virus flu burung. “Namun setelah dijelaskan dan berdasarkan hasil uji rapid tes, baru kita ketahui, ternyata ternak masyarakat yang mati tidak terjangkit virus flu blurung melainkan hanya penyakit ayam biasa,” kata Khaidar. (MB)

Jumat, 18 Maret 2011

Peluang Usaha Pertanian : Gurihnya laba telur asin dengan beragam rasa


Bukan hanya asin, kini telur asin juga memiliki beragam pilihan rasa, seperti rasa bawang, kepiting, ikan salmon dan lainnya. Penjualan telur asin berasa ini lumayan kencang, bahkan mencapai pasar ekspor. Seorang produsennya bisa meraup omzet Rp 57 juta per bulan.

Selain rasanya yang khas, telur asin memiliki kandungan gizi yang tinggi. Tak heran, telur asin punya banyak penggemar. Apalagi, sebagai salah satu pilihan lauk, harga telur asin terjangkau banyak kalangan masyarakat.

Inilah yang menciptakan peluang bagi Sudarmaji. Berbeda dengan produsen telur asin pada umumnya, warga Masangan Waetan, Sidoarjo, Jawa Timur ini membuat telur asin dalam berbagai rasa.

Telur asin buatan Sudarmaji antara lain rasa telur kepiting, rasa ikan salmon, kepiting goreng, kepiting rebus, dan rasa bawang. Selain rasa, Sudarmaji juga membedakan pembuatan telur asin ini, yakni dengan cara dipresto, digoreng maupun dibakar.

Ia menuturkan, usaha pembuatan telur asin ini berawal sejak tahun 2005. Saat itu, ia mempunyai banyak telur bebek dari hasil beternak bebek. Lantas, ia membuat telur asin biasa yang dijualnya ke warung sekitar dan kantin sekolah.

Setelah mendapat respon cukup baik, Sudarmaji mengembangkan usaha dengan membuat telur asin aneka rasa. Ia menambahkan berbagai rempah-rempah saat membumbui telur asin itu. "Butuhkan waktu 10 hari untuk membuat telur asin aneka rasa," ujarnya.

Saat ini, ia bisa melayani permintaan 700 butir telur asin aneka rasa tiap hari. Tak hanya pesanan lokal, Sudarmaji mengirim telur asin ke Malaysia dan Singapura. Dengan mematok harga Rp 2.350 hingga Rp 2.760 per butir, ia pun bisa meraup omzet Rp 57 juta per bulan.

Selain Sudarmaji, Chandra Reza Permana juga memproduksi telur asin aneka rasa. Produsen telur asin yang juga berasal dari Sidoarjo ini membuat telur asin rasa bawang, asap bawang, buah-buahan dan jahe. "Tapi, rasa buah tak bertahan lama. Setelah dicicipi beberapa teman mereka bilang rasanya aneh," kata Chandra.

Di antara berbagai rasa itu, telur asin rasa asap bawang menuai pesanan paling banyak. Dalam sebulan, Chandra mendapat pesanan telur asin rasa ini hingga 1.000 butir.

Pesanan telur asin rasa bawang mencapai 500 butir. "Sedangkan pembuatan telur asin rasa jahe tergantung pesanan," ujar Chandra. Ia menjual telur asin ini dengan harga berkisar Rp 2.000 hingga Rp 2.200 per butir.

Chandra memasarkan produknya di Sidoarjo dan Madura. Ia mengaku kewalahan memenuhi pesanan ini lantaran pasokan telur tak cukup untuk memenuhi banyaknya pesanan.

Padahal, permintaan telur asin aneka rasa ini juga datang dari Kalimantan, Batam dan Medan. "Namun, saya belum bisa kirim tester ke sana karena kewalahan memasok pedagang di Sidoarjo," ujarnya.

Sayang, Chandra enggan membeberkan rahasia dapur alias formula proses pembuatan telur asin aneka rasa. "Yang pasti saya tidak menyuntikkan rasa ke telur asin," kata Chandra yang berniat mulai memasarkan telur asin ini ke luar Pulau Jawa bulan depan. (kontan)

Berita pertanian : Ikan Lele Santun di Medan Mulai Dikembangkan

Medan. Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan (Distanla) telah mengembangkan pengujian peningkatan kualitas benih lele dengan varietas ikan baru yakni lele santun. Ikan tersebut merupakan hasil hibridisasi atau perkawinan silang antara ikan lele dumbo UPT Budidaya dengan ikan lele sangkuriang yang didatangkan dari BBPBAT Sukabumi.

Kepala Distanla, Wahid melalui Plt Kepala UPT Budidaya, R Gatot Pahlawan, mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali melakukan uji coba perkawinan antara lele sangkuriang dengan lele sangkuriang, lele dumbo dengan lele dumbo serta lele sangkuriang dengan lele dumbo. Untuk hasilnya, didapatkan pertumbuhan benih hasil perkawinan silang antara lele sangkuriang dan lele dumbo tuntungan lebih baik dari yang lain.

"Jika lele sangkuriang untuk mencapai ukuran 3-5 cm dan 5-8 cm masing-masing membutuhkan waktu 35 dan 45 hari, maka lele sangkuriang disilangkan dengan lele dumbo hanya membutuhkan waktu 28 dan 38 hari, dan nilai tersebut lulus SNI benih ikan lele dumbo di mana umur maksimum lele dengan ukuran 3-5 dan 5-8 masing-masing 40 dan 54 hari," jelasnya, Jumat (18/3).

Memang sudah diketahui, lele sangkuriang merupakan lele unggul yang terletak pada pertumbuhan, keseragaman ukuran dan daya tahan terhadap serangan penyakit yang lebih baik. "Sebenarnya lele sangkuriang sudah dimiliki oleh UPT Budidaya sejak tahun 2007 yang didatangkan dari BBPBAT Sukabumi juga, namun hasilnya belum memuaskan. UPT Budidaya yang memiliki salah satu tugas pokok dan fungsi untuk melakukan uji coba kaji traf, terus melakukan uji coba dan penerapan teknik/prosedur pembenihan sesuai yang dianjurkan BBPBAT Sukabumi, namun belum juga menunjukkan perkembangan yang baik," katanya.

Adanya varietas baru ini kata dia, untuk meningkatkan produksi lele, produksi benih maupun pembesaran yang saat ini Kota Medan kekurangan pasokan benih lele berkualitas. "Umumnya benih yang diperdagangkan berukuran 5 hingga 8 cm, namun karena keterbatasan jumlah benih, maka pembudidaya pembesar memilih membeli benih lele dengan ukuran 3 - 5 cm karena khawatir tidak kebagian benih jika mengambil ukuran besar," ungkapnya.

Sementara harga ikan lele konsumsi di pasar tradisional beranjak naik dari yang tahun lalu hanya berharga dikisaran Rp 13.000 per kg menjadi Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per kg. Bahkan pada bulan lalu harga lele di pasar tradisional Pancur Batu, ikan lele dijual dengan harga Rp 19.000 perkg.

Ditambahkannya, saat ini belum mampu untuk memproduksi benih lele santun dalam jumlah besar, hal tersebut berhubungan dengan sarana dan prasarana yang sekarang sudah terbatas. "Seluruh wadah budidaya sudah digunakan, baik untuk uji coba maupun produksi yang dititik beratkan pada peningkatan mutu benih ikan lele dumbo dan ikan nila," pungkasnya. (MB)

Kamis, 17 Maret 2011

Berita Pertanian : Impor Daging Sapi Beku Dibiarkan, Swasembada Sapi Sulit Tercapai



JAKARTA. Daging beku impor masuk ke pasar tradisional dan ditengarai daging ini diusung secara ilegal ke Indonesia. Jika volume daging impor terus bertambah lantaran tingginya permintaan, maka akan merusak harga daging sapi lokal dan peternak dalam negeri juga tidak akan melirik pemeliharaan sapi karena tidak ada jaminan harga. Ujung-ujungnya, swasembada pun akan sulit tercapai.

“Ketentuan pelarangan daging beku masuk ke pasar tradisional tidak ada. Mestinya pemerintah memperketat standar; hanya daging-daging berkualitas tinggi dan tidak diporduksi di dalam negeri saja yang diimpor, sisanya dipenuhi sapi lokal,” kata Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana. Daging-daging impor itu, imbuh Teguh, sebaiknya hanya untuk memenuhi kebutuan restoran dan hotel-hotel saja.

Teguh juga mengingatkan agar pemerintah lebih jeli mencermati impor daging beku ini. Soalnya, peredaran daging sapi ilegal ini sangat terbuka lebar dengan modus yang beragam.

“Sangat mungkin daging sapi itu ditebengi dengan impor ikan yang melalui jalur hijau, karena tidak ada ketentuan yang ketat dalam impor ikan,” tandasnya.

Asal tahu saja, impor daging sapi setiap tahun terus meningkat. Menurut data yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian, impor daging sapi tahun 2009 mencapai 75.171 ton, 57.089 ton dalam bentuk daging, 18.082 ton adalah jeroan.

Volume itu lebih tinggi dibanding tahun 2008 yang hanya 70.039 ton, 49.185 ton merupakan daging nya dan 20.854 ton jeroan.

Sementara itu hingga Mei 2010 realisasi impor daging sapi mencapai 7.095 ton. Tahun ini, impor daging ditargetkan turun 5% dibanding tahun lalu.

Senin, 14 Maret 2011

Berita Pertanian : Tersedia 20 Hektare Relokasi Ternak Babi Kota Medan

Medan. Investor mulai melirik budidaya ternak babi di Medan Denai dengan lahan seluas 20 hektare yang berada di kawasan STM Hilir Kabupaten Deliserdang. Dengan lahan seluas itu dinilai dapat menampung 2.500 KK dari 16 kecamatan di Medan.

Hal itu terungkap saat Anggota Fraksi Medan Bersatu DPRD Medan Goldfried Effendy Lubis usai mempertemukan investor dan pemelihara ternak babi dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Medan Syaiful Bahri Lubis, Senin (14/3), di Kantor Walikota Medan.

Mendengar ketertarikan investor untuk melakukan pembinaan budidaya ternak babi dengan membangun areal relokasi tersebut, Pemko mendukungnya dan siap membantu dari sisi administrasi. Salah satunya, meyakinkan perbankan untuk memberikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

"Ada sekitar 1.500 KK di Medan Denai yang menggantungkan hidupnya dari memelihara ternak babi. Dan, Pemko pun tidak pernah berniat menzolimi warganya sehingga akan mengupayakan solusi yang terbaik," ujar anggota dewan asal daerah pemilihan (Dapil) Medan I ini.

Apalagi, lanjutnya, warga Medan Denai khususnya yang berdomisili di Kelurahan Tegal Sari Mandala I tersebut telah memelihara ternak babi sejak tahun 1960-an. "Warga pun sudah meminta Sekda agar penertiban ditunda sampai ada investor yang bersedia membangun areal relokasi," ujarnya.

Meski setuju menunda penertiban ternak kaki empat tersebut, namun Pemko akan membatasi masuknya ternak babi ke Medan. Caranya, kata Godfried, Pemko akan membuat pos-pos untuk mengawasi keluar masuknya ternak kaki empat ke Medan.

Ketua Koperasi Peternak Indonesia Sumatera Utara (Koppinsu) Charles Marpaung menambahkan investor telah menyiapkan lahan seluas 20 hektare di STM Hilir Kabupaten Deliserdang untuk menampung para pemelihara ternak kaki empat di Medan yang jumlahnya diperkirakan mencapai 2.500 KK dari 16 kecamatan.

Di areal yang saat ini sudah diratakan tersebut akan dibangun perumahan Rumah Susun Sederhana (RSH) yang dilengkapi kandang ternak. Sehingga selain bisa memelihara ternaknya dengan aman, warga juga bisa memiliki rumah melalui KPR. "Untuk bisa memperoleh KPR itu, warga harus masuk menjadi anggota Koppindo. Melalui koperasi inilah nanti warga akan memperoleh KPR," terangnya.

Charles juga mengatakan, areal relokasi yang disiapkan telah mendapat lampu hijau dari Pemkab Deliserdang. Lahan tersebut, menurutnya, telah bersertifikat dan termasuk kawasan yang diizinkan untuk beternak. "Sesuai RTRW Kabupaten Deliserdang, daerah STM Hilir merupakan satu dari tiga daerah yang diizinkan untuk beternak. Jadi, tidak ada masalah lagi hanya tinggal sosialisasi ke pemelihara ternak. Tapi, kalau warga lambat, tidak tertutup kemungkinan akan kami tawarkan ke warga bukan pemelihara ternak," tegasnya.

Kamis, 10 Maret 2011

Berita Pertanian : Penertiban Babi di Medan Ricuh, Lurah dan Satpol PP Luka-luka

Medan. Penertiban babi di Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Denai berakhir ricuh, Kamis (10/3).

Ribuan warga dengan peralatan seadanya seperti batu, kayu memberikan perlawanan untuk melindungi hewan peliharaannya yang hendak ditertibkan. Warga juga memblokir jalan dengan bebatuan dan kayu-kayu untuk menghambat tim penertiban yang berkuatan 550 personil gabungan Brimobda Sumut dan Satpol PP.

Akibat peristiwa ini, Lurah Denai Drs Suangkupon Siregar dan dua anggota Satpol PP Supriyadi (22), dan Pontius (30) menderita luka di bagian kepala terkena lemparan batu. Keduanya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah untuk mendapatkan perawatan intensif.

Sebelum penertiban dilakukan, seluruh personil yang melibatkan SKPD terkait seperti Satpol PP, Dinas Perikanan dan Kelautan, Kecamatan Medan Denai serta lurah dan kepala lingkungan se-Kecamatan Medan Denai dibantu aparat Polsekta Medan Area, Koramil, Brimob dan Denpom berkumpul di halaman Kantor Camat Medan Denai.

Aspem Drs Daudta P Sinurat kemudian memberikan arahan. "Hindari terjadinya bentrok fisik dengan warga dalam melakukan penertiban. Apabila ada warga yang bertindak anarkis, serahkan kepada aparat keamanan untuk menanganinya. Penertiban harus berlangsung dengan damai," kata Daudta mengingatkan.

Usai menerima arahan, seluruh personil bergerak menuju kawasan Tegal sari Mandala II. Begitu berada di Jalan Ahmad Taher (Mandala By Pass), ribuan warga baik anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua berhamburan keluar dari Jalan Tangguk Bongkar X menghadang tim.

Mereka kemudian memaksa truk yang mengangkut personel Brimob berhenti melarang masuk Jalan Tangguk Bongkar X. Begitu truk menepi, personel Brimob turun dan langsung membuat pagar betis. Tindakan itu menyebabkan truk pengangkut petugas Satpol PP yang berada di belakangnya tidak bisa jalan.

Petugas Satpol PP pun langsung turun. Setelah membentuk pagar betis, mereka pun bergerak maju dengan berjalan kaki menuju Jalan Tangguk Bongkar. Namun langkah mereka dihentikan warga dengan mendorong cara petugas yang berada di posisi terdepan. Petugas coba bertahan namun gagal setelah warga terus mendesak sambil memukul dan menendang. Ditambah lagi dengan hujanan batu menyebabkan petugas Satpol PP kewalahan.

Akibatnya tembakan peringatan ke udara dilepaskan beberapa kali oleh aparat keamanan disertai gas air mata berhasil menghentikan aksi warga dan memaksa mereka mundur dan menyebabkan delapan orang warga yang luka-luka akibat aksi ini.

Masyarakat yang terintimidasi pun mulai menyanyikan Indonesia Raya. "Kami belum merdeka. Berdagang kami digusur,beternak pun kami dilarang. Mana janji Rahudman yang mau memberikan tempat yang layak bagi kami,"kata M.Siburian (45), warga Tangguk Bongkar VI.

Kesempatan itu digunakan seluruh personel memasuki kawasan Jalan Tangguk Bongkar X. Begitu memasuki Jalan Tangguk Bongkar XI, ratusan warga tampak berkumpul di pintu masuk Jalan tangguk Bongkar IX, Jalan Tangguk Bongkar VIII, Jalan Tangguk Bongkar VII dan Jalan Tangguk Bongkar VI.

Meski demikian suasana tetap kondusif, sebab tokoh masyarakat mengingatkan warga lainnya untuk tidak melakukan pelemparan dan tindakan anarkis. Namun suasana kondusif tak berlangsung lama, sebab begitu petugas hendak melakukan penertiban hewan kaki empat di Jalan Tangguk Bongkar VI, perlawanan kembali diberikan disertai hujan batu.

Peristiwa ini menyebabkan Supriyadi, salah seorang petugas Satpol PP menderita luka di pelipis kanan akibat lemparan batu. Begitu juga dengan Lurah Denai Drs Suangkupon Siregar, menderita luka koyak di bibir atas kanan. Keduanya, langsung dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah yang lokasinya tak jauh dari lokasi kejadian. Kembali tembakan peringatan kembali diletuskan disertai dengan gas air mata.

Tujuh Ekor Babi

Setelah itu aksi pelemparan terhenti dan suasana kembali kondusif. Petugas Satpol PP dibantu aparat keamanan kemudian merangsek maju memasuki Jalan Tangguk Bongkar VI. Dari rumah salah seorang warga bermarga Pandiangan/Br Sihombing, petugas Satpol PP mengamankan 7 ekor babi. ( 3 ekor dewasa, 4 ekor lagi kecil). Begitu mau diangkut dalam truk, puluhan warga berusaha menghalangi namun tetap gagal termasuk Sabar Sihombing yang sedang menjaga rumah.

Ketika truk hendak meninggalkan Jalan Tangguk Bongkar VI, beberapa warga menaiki truk dan berusaha menurunkan ketujuh ekor hewan kaki empat tersebut. Namun aksi mereka berhasil digagalkan petugas Satpol PP. Setelah itu kondisi semakin memanas sehingga penertiban dihentikan sementara.

Kemudian dilakukan negoisasi di Kantor Lurah Tegal Sari Mandala I. Kasatpol PP Kriswan, Kadis Pertanian dan Keluatan Ir Wahid MSi, Kabag Hukum Iwan Habibi SH, Kapolsekta Medan Area, Kabag Ops Polresta Medan, pihak Kecamatan Medan Denai dan perwakilan warga. Dari negoisasi yang dilakukan, penertiban dihentikan sementara.

Menurut Kasatpol PP Kriswan, penertiban untuk sementara dihentikan dan akan dilakukan pembicaraan lebih lanjut untuk menyelesaikan masalah penertiban hewan kaki empat tersebut. "Dari pertemuan yang kita lakukan tadi, penertiban yang kita lakukan hari ini dihentikan sementara. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Kabag Ops dari Polresta Medan, penertiban untuk sementara ditunda dulu," jelas Kriswan.

Mengenai 7 ekor hewan kaki empat yang berhasil diamankan, Kriswan mengatakan ketujuh hewan itu dibawa ke PD Rumah Potong.

Kriswan menjelaskan, jumlah personel yang diturunkan untuk menertibkan hewan kaki empat di Kelurahan Tegal Sari Keluharan Mandala II, Kecamatan Medan Denai sebanyak 550 orang berasal dari petugas Satpol PP, Lurah dan kepling se-Kecamatan Medan Denai dibantu aparat keamanan dari Brimob, Polsekta Medan Area, Koramil dan Denpom.

Di tempat terpisah, Sekda Medan Ir Syaiful Bahri mengatakan, Medan sebagai kota metropolitan tak layak lagi dipenuhi oleh peternak."Bahkan dalam Perda RTRW yang dulu hingga Ranperda RTRW yang sekarang dibahas ini pun tak ada dasar yang menyebutkan di Medan ada lokasi ternak. Memang sudah tak pantas,"ujarnya. Syaiful pun menekankan bahwa penertiban akan dilanjutkan, namun akan dilakukan kajian dan sosialisasi yang lebih matang.

Buntut penggusuran Pemko Medan terhadap para peternak babi di kawasan Mandala Tangguk Bongkar Kecamatan Medan Denai, Kamis (10/3), lima warga Tangguk Bongkar mendatangi Sat Reskrim Polresta Medan melaporkan tindakan para petugas Satpol PP yang memukuli dan melempari warga hingga luka-luka.

Kelima warga Tangguk Bongkar masing-masing Alloisius Sinurat(40), Freddy Kurniawan(26), Mastaria Pasaribu(42), Samsir Parulian Samosir (35) dan Hasudungan Silaen(30) terlihat mengalami luka-luka dibagian kepala dengan wajah terkoyak benda tajam seperti batu dan balok.

Kasat Reskrim Polresta Medan Kompol Fadillah Zulkarnaen SH melalui Wakasat Reskrim AKP Ruruh Wicaksono saat dikonfirmasi Analisa menyampaikan,kepolisian telah menerima laporan pengaduan masyarakat.

"Kami masih terus memeriksa kasus tersebut," trukasnya.

Sementara dalam penertiban ternak babi yang memakan korban. Setidaknya 8 korban luka dalam kericuhan tersebut. Dua korban dari Satpol PP, seorang Lurah dan 5 lainnya warga, Kamis (10/3) siang.

Sebagian besar korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan Kelima warga, Mastaria Pasaribu (45), Freddy Kurniawan (24), Aloisius Sinurat (54), Hasudungan Silaen (24), Samsir Parulian (34). Mereka menderita luka ringan seperti Hasudungan Silaen yang mengalami koyak di pelipis mata kanan.

Manfaat Telur Bebek Mengatasi Lemah Syahwat



MANFAAT lain telur adalah membentuk dan memperkuat hormon seks. Terutama telur bebek. Dr. Bambang Sukamto, DMSH dari On Clinic, Jakarta membernarkan hal tersebut. Menurut dia, telur bebek banyak mengandung lemak dan protein yang kandungannya membantu pertumbuhan sperma dan hormon testosteron.

“Ya, telur bebek memang banyak mengandung lemak dan protein, yang kandungannya membantu pertumbuhan sperma dan hormon testosteron, dan tentu menjadi bagus guna meningkatkan kinerja seks,” ujarnya sebagaimana dilansir dari konsultasi online On Clinic.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, secara medis, telur bebek malah bisa dijadikan alat bantu untuk penyembuhan lemah syahwat dengan mengonsumsi dua butir sehari. Dan, alangkah baiknya diminum dengan madu atau jamu, disertai dengan sayuran dan makanan mengandung zinc seperti kerang dan tirem. Makanan yang mengandung zinc membantu pertumbuhan hormon testosteron dan sperma.

“Tetapi bila gairah sudah kembali normal, konsumsi telur bebek cukup satu butir sehari atau empat butir dalam satu minggu. Sebaiknya pilih telur bebek kampung karena masih alami, belum terkontaminasi oleh zat kimia seperti telur yang diproduksi oleh pabrik,” kata dokter Bambang.

Selasa, 08 Maret 2011

Berita Pertanian : Flu Burung Menyerang Inderalaya

Inderalaya. Wabah diduga flu burung menyerang ayam warga Kecamatan Inderalaya Utara, Ogan Ilir. Puluhan ayam milik warga Dusun I Desa Tanjung Pring, mati secara mendadak. Peristiwa ini sudah terjadi sejak pekan lalu. Ayam kampung yang diduga terserang flu burung tersebut milik delapan warga Dusun I.

Mereka adalah Kamalauddin yang memiliki 20 ekor ayam, Syamsuddin (2), Muis (7), Nurhasanah (3), Mulyani (2), Murni (3), Syamsul (7), dan Nawawi.Namun sayangnya, warga tidak melakukan tindakan yang tepat mengatasi persoalan ini. Ayam yang mati tidak dibakar atau dikubur melainkan dibuang di rawa belakang desa.Kamaluddin (38), warga Dusun I Desa Tanjung Pring yang ayamnya mati paling banyak mengatakan, ayamnya mati dengan diawali gejala ayam mengalami kedinginan dalam waktu dua jam. “Ayam sebelum mati, diawali dengan gejala kedinginan dan dalam hitungan dua jam, langsung mati.

Padahal sebelumnya ayam dalam keadaan sehat,” katanya, kepada koran ini kemarin. Pada 2008 lalu, ayam milik warga Desa Tanjung Pring pernah terserang flu burung. Namun saat itu ayam Kamaludin tidak ada yang terserang. “Saat wabah flu burung terjadi pada 2008 lalu, tidak satu pun ayam saya yang terserang karena langsung saya asapi dengan cara membakar sabut kelapa atau ban bekas. Kali ini saya terlambat melakukan antisipasi tersebut,” sesal Kamaluddin.

Bagaimana tanggapan Dinas Peternakan dan Perikanan Ogan Ilir? Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Ogan Ilir Ir Noorman Yussalwan melalui Kasi Keswan dan Kesmavet Drh Chalikul Bahri menambahkan, pihaknya sudah mengecek ke lapangan atas laporan adanya ayam yang mati mendadak di Dusun I Desa Tanjung Pring. “Melihat dari ciri fisik, daging ayam membiru saat mati, dapat dipastikan ayam terserang virus flu burung,” katanya. Kukul-begitu sapaan akrabnya- mengaku telah melakukan antisipasi penyebaran dengan penyemprotan menggunakan cairan desinfektan terhadap kandang ayam milik warga. “Warga yang ayamnya mati mendadak hendaknya jangan membuang bangkai ayam sembarang. Ayam yang mati harus dibakar atau dikubur,” pungkasnya.(sumeks)

Minggu, 06 Maret 2011

Berita Pertanian : 10 Ribu Anak Sulbar Ikut Gemar Makan Telur

Mamuju. Sebanyak 10 ribu anak di Sulawesi Barat, dikerahkan untuk ikut makan telur dalam kegiatan gerakan makan telur yang dilaksanakan di lapangan Ahmad Kirang Mamuju.

Ketua Tim Penggerak PKK Sulawesi Barat, Anggraeni Anwar di Mamuju, Jumat, mengatakan, pihaknya menyelenggarakan gerakan makan telur ini untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di Sulbar.

"Pada kegiatan gerakan makan telur, sebanyak 10 ribu siswa anak Sekolah Dasar (SD) di Mamuju dikerahkan untuk menikmati telur untuk mebiasakan para anak-anak Sulbar untuk gemar makan telur," ucapnya.

Menurutnya, kegiatan gerakan makan telur ini dalam rangka merayakan pelaksanakan kegiatan peringatan hari ulang tahun (HUT) PKK ke-XI yang acara puncaknya diperingati setiap 4 Maret.

Ia mengatakan, pada kegiatan ini setiap anak diberikan masing-masing satu butir telur yang memiliki protein dan nilai gizi yang tinggi dan itu juga bahagian untuk memasyarakatkan anak di Sulbar semakin gemar makan telur.

Angraeni yang juga istri gubernur Sulbar ini mengemukakan, gerakan makan telur sangat penting dilaksanakan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat di Sulbar karena telur merupakan makanan yang berprotein tinggi agar derajat kesehatan juga menjadi meningkat di daerah ini.

Dia mengatakan, selama ini anak-anak cenderung tidak gemar makan telur sehingga even yang baru saja dilaksanakan tersebut memberikan manfaat bagi peningkatan kesehatan anak dengan giat memakan telur dalam setiap harinya.

"Minimal anak-anak kita bisa memakan telur satu butir dalam sehari. Jika ini dilakukan maka anak-anak kita akan memiliki gizi yang baik," paparnya.

Selain itu, lanjut Angraeni, dalam kegiatan temu kader PKK yang berlangsung selama empat hari telah melaksanakan berbagai kegiatan, termasuk lomba antarkeder PKK.

"Temu kader PKK dirangkaikan dengan sejumlah kegiatan pelatihan untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan kader PKK di Sulbar yang nantinya para kader mampu diimplementasikan setelah kembali ke daerahnya," katanya.(ant)