BLOG Ricky Untuk Pertanian. Blog ini memuat tentang pertanian secara umum dan ada tambahan dari berita pertanian, tips ampuh berhubungan dengan pertanian, lowongan kerja bidang pertanian dan resep makanan-minuman dari hasil pertanian. Yang pasti Pertanian Untuk Negeriku Tercinta Indonesia.
Selasa, 10 Mei 2011
Berita Pertanian : Ratusan ayam di Siabu mati mendadak
Salah seorang pemilik ayam, Jamal ,38, warga Desa Bonan Dolok mengatakan, dalam kurun waktu satu minggu terakhir ini sudah lebih dari 60 ekor ayamnya yang mati mendadak.
“Sore harinya kita masih memasukkan ayam ke dalam kandangnya, namun pagi harinya ayam sudah mati, karena khawatir penyebab matinya ayam ini akibat flu burung kita segera melapor ke instansi terkait “ katanya.
Kepala Desa Bonan Dolok, Kecamatan Siabu Arham Rangkuti yang dihubungi mengatakan, pihaknya benar telah mendapatkan laporan di desanya sekira 500 lebih ekor ayam yang mati mendadak. “Laporan ini kita lanjuti ke pihak kecamatan dan kemudian ke Dinas Pertanian dan Peternakan Madina,” ujarnya.
Kadis Pertanian dan Peternakan Madina, Taufik Zulhandra, yang dihubungi melalui Franki di Dinas Pertanian dan Peternakan Madina mengatakan, pihaknya sudah langsung turun ke lapangan untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap ayam yang mati dan berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan. ‘’Penyebab matinya ayam warga ini akibat penyakit Ende,” jelasnya.
Hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap ayam yang mati dan yang masih hidup penyakit yang dialami hewan ternak adalah Ende ganas bukan flu burung. Sedangkan ciri-ciri penyakitnya adalah ayam mati secara mendadak dan merambat ke ayam lainnya yang satu kandang sehingga bisa saja seluruh ayam yang sekandang mati bersama.
Dikatakan, pihaknya telah melakukan penanggulangan dengan melakukan penyemprotan terhadap kandang-kandang ayam, hal ini untuk mengantisifasi penyakit Ende yang diperkirakan masih ada pada tubuh ayam yang lain.
Jumat, 29 April 2011
Berita Pertanian : Tercemar Flu Burung, Ribuan Ayam Potong Dimusnahkan

TENGGARONG. Dinas Peternakan Kabupaten Katai Kartanegara (Kukar) memusnahkan ribuan ayam potong yang diduga terinfeksi flu burung di Desa Makarti Kecamatan Marang Kayu, Kalimantan Timur.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Kukar Sumarji mengatakan, pemusnahan yang dilakukan untuk mencegah penularan virus flu burung terhadap unggas lainnya, dan sudah disetujui oleh para pemilik ternak.
"Ini dilakukan untuk mencegah penularan virus flu burung,"katanya, Jumat (29/4).
Menurutnya, berdasarkan hasil tes cepat yang dilakukan pihaknya terhadap ayam yang mati mendadak, diketahui ada kemungkinan terkena virus flu burung.
Terkait pemusnahan itu, Ayam ayam milik warga tersebut tidak akan dilakukan ganti rugi, karena para peternak sudah menyetujui pemusnahan tersebut.
Sementara itu, hingga saat ini sudah ada 2 warga di Desa tersebut diduga terkena suspect flu burung. Kendati pihaknya masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, terhadap kedua warga tersebut.
"Desa Makarti tergolong rawan suspect flu burung, sebab daerah tersebut merupakan penghasil ayam potong dengan total produksi hingga 20 ribu ekor per bulan," ungkapnya.
Rabu, 06 April 2011
Berita Pertanian : Peternak Diingatkan Waspadai Munculnya Kembali Flu Burung
Bayu mengatakan, selama 2011 terjadi kasus flu burung pada unggas, Januari mencapai 136 kasus, kemudian meningkat menjadi 156 kasus pada Februari dan Maret kembali naik menjadi 307 kasus. Dari kasus flu burung tersebut, tambahnya, tercatat kematian unggas pada Januari sebanyak 8.315 ekor, Februari sempat turun menjadi 6.310 ekor dan Maret naik menjadi 17.471 ekor. "Serangan flu burung ini terbesar terjadi pada usaha peternakan sektor II dan III karena pengembangannya skala besar," katanya.
Selama periode yang sama pada 2010, menurut dia, kasus flu burung di Tanah Air terjadi sebanyak 284 pada Januari, kemudian naik menjadi 362 kasus pada Februari dan 159 kasus pada Maret. Selama tiga bulan pertama 2009, lanjutnya, untuk Januari sebanyak 195 kasus pada unggas, Februari 331 kasus dan Maret 337 kasus.
Pendorong kembali munculnya flu burung di Tanah Air, menurut Bayu, antara lain cuaca yang basah serta banjir di sejumlah daerah dan ketidaksempurnaan vaksinasi unggas. Meskipun demikian Wamentan menyatakan, munculnya virus flu burung pada unggas tersebut masih bersifat musiman atau terjadi pada saat-saat tertentu.
Untuk mengatasi merebaknya virus flu burung pada unggas, pihaknya melakukan berbagai upaya antara lain pertemuan rutin dengan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian untuk mendapatkan laporan perkembangan peternakan. "Selain itu juga melakukan kerja sama dengan jaringan dokter hewan seluruh Indonesia," katanya.
Bayu mengatakan, selama Maret 2011 kasus flu burung pada unggas terbanyak terjadi di Sumatera Barat, Riau, dan Jambi. "Namun demikian bukan berarti daerah yang tertinggi kasusnya adalah buruk, bisa jadi itu menunjukkan kegiatan survailansnya jalan," katanya. (ant)
Senin, 28 Maret 2011
Berita Pertanian : Di Bangka Flu Burung Mulai Menyebar
KOBA. Kasus flu burung di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Banga Belitung, menyebar ke Kelurahan Berok dan Padang Mulya, mengakibatkan puluhan ternak ayam mati setelah sebelumnya kasus yang sama terjadi di Kelurahan Dul.
Zainab, warga Kelurahan Berok, Kecamatan Koba, Minggu (27/3/2011) pagi, menjelaskan, dalam tiga hari terakhir sebanyak 15 ekor ternak ayam mati mendadak.
“Pada Jumat sebanyak sembilan ekor ayam mati mendadak kemudian Sabtu enam ekor menyusul mati mendadak pada pagi hari dan diharapkan penyebaran virus flu burung ini tidak semakin parah yang bisa merugikan perekonomian masyarakat kecil,” katanya.
Sebelumnya Kelurahan Dul (Kampung Dul), Kecamatan Pangkalan Baru juga dilanda kasus flu burung, mengakibatkan puluhan ayam mati mendadak di kelurahan perbatasan antara Bangka Tengah dengan Pangkalpinang itu.
Petugas ‘Participatory Disease Surveillance and Response’ (PDSR) atau Partisipasi Pelacakan dan Respon Penyakit Flu Burung, Drh Sigit Winarno, menyatakan Kelurahan Berok dan Padang Mulya serta Kelurahan Dul positif dijangkiti flu burung.
Sigit menjelaskan, ketiga kelurahan dimaksud positif dijangkiti virus H5N1 atau flu burung, berdasarkan hasil pemeriksaan tes cepat terhadap virus tersebut.
“Pendeteksian kami lakukan setelah mendapatkan laporan warga tentang kematian ayam secara mendadak dengan total puluhan ekor dalam satu minggu terakhir,” ungkap Sigit.
Berdasarkan laporan tersebut, lanjut Sigit, ia dibantu dokter hewan lainnya dan perawat hewan, dilakukan pendeteksian ayam yang mati dan hasilnya dipastikan karena virus flu burung.
Menurut Sigit, untuk mengantisipasi penyebaran virus H5N1, pihaknya segera memberikan cairan desifektan kepada ketua RT setempat agar dibagikan kepada warga yang beternak ayam.
“Kami juga akan terus memonitor tiga kelurahan tersebut sampai kami tetapkan sebagai daerah yang aman dari flu burung,” kata Sigit.
Untuk dua kelurahan yang terjangkit virus tersebut, Sigit mengimbau warga yang memiliki ternak ayam, segera menyemprotkan cairan desinfektan pada kandang ayam beserta ayam ternak yang masih hidup.
“Selain itu ternak ayam jangan dibiarkan berkeliaran bebas di perkampungan, namun hendaknya dikandangkan meminimalisir terjadinya penyebaran virus tersebut,” katanya.
Sigit juga meminta, untuk sementara waktu warga di dua kelurahan tidak melakukan aktivitas jual beli ayam, sampai dinyatakan daerah itu dinyatakan ayam milik warga bebas dari virus flu burung.
“Kami juga akan melakukan pendeteksian selama satu bulan untuk mendeteksi apakah ayam ternak warga pada dua kelurahan telah aman dari serangan virus flu burung atau belum, ” ujar Sigit.
Drh Sigit Winarno menambahkan, ayam ternak warga yang mati secara mendadak harus segera dikuburkan ataupun dibakar sebelum dikuburkan.
“Selain itu kepada warga di Bangka Tengah agar dapat segera melaporkan kepada aparat desa maupun dokter hewan di tiap kecamatan apabila di desa atau kelurahan tempat tinggal terjadi peristiwa kematian ayam yang banyak secara mendadak,” katanya.
Rabu, 23 Maret 2011
Berita Pertanian : Flu Burung Mewabah Lagi di Kerinci
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Kabupaten Kerinci, Ariyan di Jambi, Rabu (23/3) mengatakan bulan sebelumnya wabah flu burung menyerang lima desa pada dua kecamatan yang menyebabkan lebih 4.164 ekor ayam mati.
"Kondisi lima desa itu sudah mulai aman dari serangan wabah flu burung, kendati masih diisolasi, namun muncul kasus baru atau ditemukan ayam mati di Desa Koto Tuo, Kecamatan Keliling Danau," katanya.
Ia mengakui, kasus baru atau ayam yang mati di Desa koto Tuo itu jumlahnya relatif kecil, atau tidak mencapai puluhan ekor, namun dikhawatirkan bila tidak segara diatasi akan meluas. Hasil pemeriksaan, ayam yang mati itu positif terkena flu burung, dan merupakan ayam kampung yang berkeliaran bebas.
Guna mencegah jangan sampai kasus yang baru muncul itu meluas, penuyuluhan kesehatan hewan gencar melakukan sosialisasi pada warga setempat. Dua hari sekali warga diberi penyuluhan supaya segera melaporkan dan memusnahkan ayam yang mati, serta hindari bersentuhan dengan ayam tersebut.
Selain secepatnya melapor pada petugas Dinas Peternakan setempat, warga juga diimbau giat melakukan pembersihan dan penyemrotan kandang. Ia mengatakan, Kabupaten Kerinci merupakan daerah pertama kali terserang flu burung awal 2011, dan kini juga berjangkit ke Kota sungai Penuh dan kabupaten tetangga.
Dua kecamatan dan lima desa yang terserang wabah flu burung sebelumnya meliputi, desa Sleman di Kecamtan Danau Kerinci, serta desa Sebukar, Semerah, Tanjung Muda, Koto Baru Hiang dan Pendung Tengah di kecamatan Sitinjau Laut. "Kerja keras berbagai pihak untuk mengatasi wabah flu burung itu terus dilakukan, dan jangan sampai menulas atau menyerang manusia, yang juga bisa menimbulkan kematian," kata Ariyan. (Ant)
Selasa, 08 Maret 2011
Berita Pertanian : Flu Burung Menyerang Inderalaya
Mereka adalah Kamalauddin yang memiliki 20 ekor ayam, Syamsuddin (2), Muis (7), Nurhasanah (3), Mulyani (2), Murni (3), Syamsul (7), dan Nawawi.Namun sayangnya, warga tidak melakukan tindakan yang tepat mengatasi persoalan ini. Ayam yang mati tidak dibakar atau dikubur melainkan dibuang di rawa belakang desa.Kamaluddin (38), warga Dusun I Desa Tanjung Pring yang ayamnya mati paling banyak mengatakan, ayamnya mati dengan diawali gejala ayam mengalami kedinginan dalam waktu dua jam. “Ayam sebelum mati, diawali dengan gejala kedinginan dan dalam hitungan dua jam, langsung mati.
Padahal sebelumnya ayam dalam keadaan sehat,” katanya, kepada koran ini kemarin. Pada 2008 lalu, ayam milik warga Desa Tanjung Pring pernah terserang flu burung. Namun saat itu ayam Kamaludin tidak ada yang terserang. “Saat wabah flu burung terjadi pada 2008 lalu, tidak satu pun ayam saya yang terserang karena langsung saya asapi dengan cara membakar sabut kelapa atau ban bekas. Kali ini saya terlambat melakukan antisipasi tersebut,” sesal Kamaluddin.
Bagaimana tanggapan Dinas Peternakan dan Perikanan Ogan Ilir? Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Ogan Ilir Ir Noorman Yussalwan melalui Kasi Keswan dan Kesmavet Drh Chalikul Bahri menambahkan, pihaknya sudah mengecek ke lapangan atas laporan adanya ayam yang mati mendadak di Dusun I Desa Tanjung Pring. “Melihat dari ciri fisik, daging ayam membiru saat mati, dapat dipastikan ayam terserang virus flu burung,” katanya. Kukul-begitu sapaan akrabnya- mengaku telah melakukan antisipasi penyebaran dengan penyemprotan menggunakan cairan desinfektan terhadap kandang ayam milik warga. “Warga yang ayamnya mati mendadak hendaknya jangan membuang bangkai ayam sembarang. Ayam yang mati harus dibakar atau dikubur,” pungkasnya.(sumeks)
Jumat, 14 Januari 2011
Berita Pertanian : Ilmuwan Kembangkan Ayam Antiflu Burung
Para ilmuwan dari Universitas Cambridge dan Edinburgh mengatakan bahwa untuk sementara anak ayam transgenik itu masih bisa terkena sakit dan mati jika mereka terkena flu burung H5N1, namun ayam-ayam ini taka akan menularkan virus ke ayam lainnya.
"Mencegah menyebarnya virus ke anak ayam semesetinya n eengurangi dampak ekonomi dari penyakit itu dan mengurangi risiko yang ditimbulkan kepada manusia," kata Laurence Tiley dari Departemen Kedokteran Hewan Universitas Cambridge, yang mengetuai penelitian itu.
Flu burung H5N1 telah menyebar di Asia dan Timur Tengah, serta pernah menjadi wabah besar di Eropa, sejak 2003 dan telah membunuh atau memaksa pemusnahan ratusan juta burung, demikian organisasi dunia untuk kesehatan hewan OIE.
Virus ini jarang menginfeksi orang tetapi manakala menginfeksi dampaknya akan sangat mematikan. Organisasi Kesehatan Dunia sendiri telah mendokumentasikan 516 kasus virus ini pada manusia sejak 2003 dan virus itu telah menewaskan 306 orang.
Para ahli mengatakan bahayanya adalah virus ini bisa berkembang menjadi satu bentuk yang dapat merasuk ke manusia untuk kemudian ditularkan ke manusia lainnya. Kecenderungan ini menyebabkan laju penyebaran virus melonjak dan menciptakan pandemi di mana jutaan orang bisa mati karenanya.(antaranews)