Tampilkan postingan dengan label bibit lele. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bibit lele. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

Berita pertanian : Ikan Lele Santun di Medan Mulai Dikembangkan

Medan. Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan (Distanla) telah mengembangkan pengujian peningkatan kualitas benih lele dengan varietas ikan baru yakni lele santun. Ikan tersebut merupakan hasil hibridisasi atau perkawinan silang antara ikan lele dumbo UPT Budidaya dengan ikan lele sangkuriang yang didatangkan dari BBPBAT Sukabumi.

Kepala Distanla, Wahid melalui Plt Kepala UPT Budidaya, R Gatot Pahlawan, mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali melakukan uji coba perkawinan antara lele sangkuriang dengan lele sangkuriang, lele dumbo dengan lele dumbo serta lele sangkuriang dengan lele dumbo. Untuk hasilnya, didapatkan pertumbuhan benih hasil perkawinan silang antara lele sangkuriang dan lele dumbo tuntungan lebih baik dari yang lain.

"Jika lele sangkuriang untuk mencapai ukuran 3-5 cm dan 5-8 cm masing-masing membutuhkan waktu 35 dan 45 hari, maka lele sangkuriang disilangkan dengan lele dumbo hanya membutuhkan waktu 28 dan 38 hari, dan nilai tersebut lulus SNI benih ikan lele dumbo di mana umur maksimum lele dengan ukuran 3-5 dan 5-8 masing-masing 40 dan 54 hari," jelasnya, Jumat (18/3).

Memang sudah diketahui, lele sangkuriang merupakan lele unggul yang terletak pada pertumbuhan, keseragaman ukuran dan daya tahan terhadap serangan penyakit yang lebih baik. "Sebenarnya lele sangkuriang sudah dimiliki oleh UPT Budidaya sejak tahun 2007 yang didatangkan dari BBPBAT Sukabumi juga, namun hasilnya belum memuaskan. UPT Budidaya yang memiliki salah satu tugas pokok dan fungsi untuk melakukan uji coba kaji traf, terus melakukan uji coba dan penerapan teknik/prosedur pembenihan sesuai yang dianjurkan BBPBAT Sukabumi, namun belum juga menunjukkan perkembangan yang baik," katanya.

Adanya varietas baru ini kata dia, untuk meningkatkan produksi lele, produksi benih maupun pembesaran yang saat ini Kota Medan kekurangan pasokan benih lele berkualitas. "Umumnya benih yang diperdagangkan berukuran 5 hingga 8 cm, namun karena keterbatasan jumlah benih, maka pembudidaya pembesar memilih membeli benih lele dengan ukuran 3 - 5 cm karena khawatir tidak kebagian benih jika mengambil ukuran besar," ungkapnya.

Sementara harga ikan lele konsumsi di pasar tradisional beranjak naik dari yang tahun lalu hanya berharga dikisaran Rp 13.000 per kg menjadi Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per kg. Bahkan pada bulan lalu harga lele di pasar tradisional Pancur Batu, ikan lele dijual dengan harga Rp 19.000 perkg.

Ditambahkannya, saat ini belum mampu untuk memproduksi benih lele santun dalam jumlah besar, hal tersebut berhubungan dengan sarana dan prasarana yang sekarang sudah terbatas. "Seluruh wadah budidaya sudah digunakan, baik untuk uji coba maupun produksi yang dititik beratkan pada peningkatan mutu benih ikan lele dumbo dan ikan nila," pungkasnya. (MB)

Senin, 14 Maret 2011

Peluang Usaha Pertanian : Sukses Beternak Bibit Lele, Omzet Rp. 62 Juta Per Bulan

PEMBIBITAN - Wahyu Tejo menunjukan anakan lele usia 3 minggu yang siap dijual di kolam miliknya, Desa Maguan, Ngajum, Kabupaten Malang, Kamis (10/3). Di Desa Maguan terdapat 50 petani pembibitan lele dengan omzet jualnya 61,5 juta per bulan.

NGAJUM. Meski terdengar remeh, beternak bibit lele membawa untung berlipat. Hal ini dibuktikan oleh para peternak bibit lele di Desa Maguwan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Omzet perbulan usaha ini, tak kurang dari Rp 62,5 Juta. Menarik bukan?

Di Desa Maguan, memang dikenal sebagai sentra bibit lele di Kabupaten Malang.

Kenapa bukan lele konsumsi? Wahyu Tejo, salah satu petani lele beralasan lebih menguntungkan menjual bibit lele dibandingkan jika menjual lele konsumsi. “Sebab bibit lele berusia sebulan yang memiliki ukuran 3-5 cm sudah bisa dijual dengan harga lumayan,” jelas Wahyu sambil memperlihatkan bibit-bibit lele di kolam miliknya.

Dijelaskan, bibit lele ukuran 3 cm per 1.000 ekor dijual Rp 50.000. Sementara ukuran 4 cm, bisa laku Rp 60.000 per 1.000 ekor, dan ukuran 5 cm, dijual Rp 80.000 per 1.000 ekor.

Ia membandingkan jika menjual lele konsumsi, memerlukan waktu lebih lama untuk pemeliharaan dan ongkos besar untuk pakan, harga laku dijual Rp 10.000 per kg-nya.

Dijelaskan Wahyu, menjual bibit lele lebih menguntungkan karena indukan lele sangat produktif. Satu lele indukan, lanjutnya, mampu melahirkan 80.000 hingga 120.000 anakan. Indukan tersebut, rutin bertelur 3-4 bulan sekali. Keuntungan akan menjadi sangat berlipat jika seorang petani memiliki puluhan indukan.

Pembibitan lele ini pun sebenarnya bukan hal sulit. Untuk membiakan, hanya membutuhan kolam-kolam pembiakan. Kolam dilapisi plastik terpal untuk memudahkan sterilisasi dan pengaturan sirkulasi udara. “Biasanya, induk lele kami beri makan ikan mujair atau percil (anak kodok) dan cacing untuk makanan bibit lele,” ujar Wahyu yang memiliki 50 indukan lele dan lima lele pejantan ini.

Meski mengantungi laba besar, peternak bibit lele harus waspada dengan kemungkinan tiba-tiba merugi. Sebab, pertumbuhan bibit lele sangat rentan dengan perubahan cuaca. Saat cuaca tak menentu tersebut, jamur bisa menyerang, dan menyebabkan bibit lele mati. Untuk itu, ketika jamur yang muncul belum banyak, sebaiknya segera diobati.

Pasar bibit lele, selain Malang juga Blitar, Gorontalo, Kalimantan dan Pekanbaru. Omzet petani lele menurut Wahyu diperkirakannya mencapai Rp 62,5 juta per bulan. (surya)